SAAT PERINGATAN TIDAK LAGI DIDENGAR

“SAAT PERINGATAN TIDAK LAGI DIDENGAR”

(Tadabbur QS An-Naml: 81–93)


I. PENDAHULUAN: TUGAS DA’I, BUKAN PEMAKSA HATI

Allah berfirman:

وَمَا أَنتَ بِهَادِ الْعُمْيِ عَن ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ 
“Dan engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang-orang buta dari kesesatan mereka. Engkau hanya dapat menjadikan orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami saja yang mau mendengar, lalu mereka berserah diri.”
(QS An-Naml: 81)

🧠 Makna & Hikmah

  • Hidayah bukan di tangan manusia, bahkan Nabi ﷺ.
  • Ada buta mata, ada buta hati.
  • Yang bisa menerima kebenaran hanyalah hati yang mau tunduk.

📖 Ibnu Katsir menjelaskan:

“Orang kafir diserupakan dengan orang buta, karena hatinya tidak melihat kebenaran meskipun matanya melihat.”
(Tafsir Ibnu Katsir, QS 27:81)

📖 At-Thabari:

“Mendengar di sini bukan sekadar suara, tapi menerima dan tunduk.”

😄 Humor ringan

“Kalau telinga dengar ceramah tapi hati tetap keras, itu seperti Wi-Fi penuh sinyal tapi mode pesawat masih aktif.”


II. SAAT PENYESALAN SUDAH TERLAMBAT: KELUARNYA DABBATUL ARDH

Allah berfirman:

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِّنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ 
“Dan apabila perkataan (azab) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan bagi mereka binatang dari bumi yang akan berbicara kepada mereka, bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.”
(QS An-Naml: 82)

🧠 Makna & Hikmah

  • Dabbatul Ardh adalah tanda besar kiamat.
  • Ketika ia keluar:
    • Taubat tidak diterima
    • Amar ma’ruf nahi mungkar terhenti

📖 Al-Qurthubi:

“Keluarnya dabbah menandai tertutupnya pintu taubat.”
(Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an)

📖 Hadis Nabi ﷺ:

« إِنَّ أَوَّلَ الْآيَاتِ خُرُوجًا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ »
“Tanda kiamat besar pertama adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang melata.”
(HR. Muslim)

😄 Humor reflektif:

“Sekarang HP saja kalau sudah ‘expired’, tidak bisa diperpanjang. Apalagi umur dan taubat.”


III. PENGADILAN AKBAR: TIDAK ADA JAWABAN, TIDAK ADA ALASAN

Allah berfirman:

 وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِّمَّن يُكَذِّبُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ 

(QS An-Naml: 83)

أَكَذَّبْتُمْ بِآيَاتِي وَلَمْ تُحِيطُوا بِهَا عِلْمًا أَمَّاذَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ 
(QS An-Naml: 84)

فَهُمْ لَا يَنطِقُونَ 
(QS An-Naml: 85)

🧠 Makna & Hikmah

  • Yang dikumpulkan lebih dulu: para pemimpin kesesatan.
  • Mulut terkunci karena tidak ada hujjah.

📖 Hasan Al-Basri:

“Siapa yang banyak bicara di dunia dengan kebatilan, akan banyak diam di akhirat.”

😄 Humor pahit:

“Di dunia jago debat, di akhirat mute permanen.”


IV. TANDA KEKUASAAN ALLAH YANG DIABAIKAN

Allah berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا 
(QS An-Naml: 86)

Hikmah

  • Malam = istirahat
  • Siang = usaha
  • Keseimbangan hidup adalah tanda iman

📖 Fakhruddin Ar-Razi:

“Siapa yang merenungi siang dan malam, akan sampai kepada tauhid.”

😄 Humor halus:

“Allah bikin malam buat tidur, bukan buat scroll sampai subuh.”


V. KIAMAT: SEMUA TUNDUK, TAK ADA YANG SOMBONG

Allah berfirman:

وَيَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ 
(QS An-Naml: 87)

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ 

(QS An-Naml: 88)

📖 Ibnu Katsir:

“Gunung yang paling kokoh pun hancur, maka kesombongan manusia lebih pantas runtuh.”


VI. HASIL AKHIR: TAUHID ATAU SYIRIK

Allah berfirman:

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا 
(QS An-Naml: 89)

📖 Ibnu Abbas:

“Al-hasanah di sini adalah Laa ilaaha illallah.”

وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ 

(QS An-Naml: 90)

😄 Humor refleksi:

“Di dunia kita jaga wajah pakai skincare, di akhirat wajah dijaga dengan tauhid.”


VII. MISI RASUL: SAMPAIKAN, BUKAN MEMAKSA

Allah berfirman:

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ 
(QS An-Naml: 91)

 وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ 
(QS An-Naml: 92)


VIII. PENUTUP: ALLAH TIDAK PERNAH LALAI

Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ 
(QS An-Naml: 93)

📖 Al-Qurthubi:

“Allah menunda, bukan lalai. Mengakhirkan, bukan melupakan.”


📚 KITAB RUJUKAN

  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Tafsir Al-Qurthubi
  3. Jami’ Al-Bayan – At-Thabari
  4. Mafātih al-Ghaib – Fakhruddin Ar-Razi
  5. Shahih Muslim & Shahih Bukhari


Tidak ada komentar