Hari Pemisahan: Ketika Semua Kepalsuan Runtuh

Hari Pemisahan: Ketika Semua Kepalsuan Runtuh
(Tadabbur Surah Al-Mursalat)

🔥 PEMBUKAAN 

Bismillahirrahmanirrahim…

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Pernahkah kita membayangkan…
Hari di mana semua kepalsuan runtuh?
Hari di mana jabatan tidak berarti?
Hari di mana uang tak bisa menyelamatkan?
Hari di mana hanya iman yang berdiri?

Allah membuka Surah ini dengan sumpah yang mengguncang:

وَالْمُرْسَلَاتِ عُرْفًا

“Demi (angin) yang diutus…”

Allah bersumpah dengan makhluk-Nya.
Angin yang tak terlihat…
Namun menghancurkan kota.
Tak terlihat… namun menggugurkan daun.
Tak terlihat… namun mematikan manusia.

Begitulah azab Allah…
Tak terlihat…
Namun nyata.

Dan Allah tegaskan:

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَوَاقِعٌ

“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.”

Bukan mungkin.
Bukan nanti kalau sempat.
PASTI.

Nada suara perlahan naik…

Bukan hanya orang kafir yang akan melihat hari itu…
Kita juga.


🌪 BAGIAN 1 – HARI KIAMAT DIGUNCANG 

Allah gambarkan hari itu:

  • Bintang-bintang dipadamkan
  • Langit dibelah
  • Gunung dihancurkan
  • Rasul-rasul dikumpulkan

Semua sistem kosmos yang kita anggap kokoh…
Hancur.

Yang selama ini kita kira stabil…
Runtuh.

Dan Allah bertanya:

لِأَيِّ يَوْمٍ أُجِّلَتْ
“Untuk hari apakah itu ditangguhkan?”

Jawabannya:

لِيَوْمِ الْفَصْلِ

Hari keputusan.

Hari pemisahan.

Dipisahkan yang jujur dan yang munafik.
Dipisahkan yang shalat dan yang meninggalkan.
Dipisahkan yang menangis malam hari dan yang tertawa dalam maksiat.

Saudara-saudaraku…
Hari itu bukan dongeng.
Bukan film.
Bukan simbol.

Itu REALITA yang mendekat setiap detik.


⚡ BAGIAN 2 – “WAILUN YAUMA’IDZIN LIL MUKADZIBIN” 

Kalimat ini diulang 10 kali dalam Surah ini.

Celakalah pada hari itu bagi para pendusta.

Celaka…
Bukan sekadar rugi.
Bukan sekadar menyesal.
Tapi kehancuran total.

Pendusta siapa?

Bukan hanya yang berkata “Al-Qur’an tidak benar.”

Tapi yang tahu benar…
namun hidupnya mendustakan.

  • Tahu shalat wajib, tapi malas.
  • Tahu riba haram, tapi tetap ambil.
  • Tahu zina dosa, tapi tetap buka pintu maksiat.

🎙 (Nada pelan, menusuk)

Kita tidak mengatakan “kiamat tidak ada”…
Tapi gaya hidup kita seolah berkata:
“Aku tidak peduli.”

Wailun yauma’idzin lil mukadzdzibin…


🌊 BAGIAN 3 – Allah Ingatkan Umat-Umat yang Dihancurkan 

Allah bertanya:

Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang terdahulu?

Kaum Nabi Nuh…
Kaum ‘Ad…
Kaum Tsamud…
Kaum Fir’aun…

Mereka kuat.
Mereka berkuasa.
Mereka maju.

Tapi satu kesamaan mereka:
MENDUSTAKAN.

Allah tidak butuh lama.

Air saja cukup menenggelamkan.
Angin saja cukup menghancurkan.
Gempa saja cukup meratakan.

🎙 (Nada naik keras)

Kalau Allah mau…
Tidak perlu pandemi.
Tidak perlu gempa besar.
Satu sel rusak di tubuh kita… cukup!

Lalu kenapa kita masih sombong?


🌱 BAGIAN 4 – Asal Kejadian Manusia

Allah bertanya:

“Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina?”

Air mani.

Dari situ Allah bentuk mata, jantung, otak, wajah.

Yang sekarang selfie tiap hari…
Awalnya cairan hina.

Yang sekarang merasa paling benar…
Awalnya tidak berdaya.

🎙 (Pelan, menusuk hati)

Kalau awal kita hina…
Akhir kita tanah…
Lalu di mana tempatnya kesombongan?


🔥 BAGIAN 5 – Gambaran Neraka 

Allah berfirman:

“Pergilah kalian menuju apa yang dahulu kalian dustakan.”

Bayangan neraka digambarkan seperti istana api.

Bukan api kecil.
Bukan bara kompor.

Tapi api yang menyambar seperti gedung tinggi.

Dan dikatakan:

“Ini hari kalian tidak bisa berbicara.”

Tidak bisa membela diri.
Tidak bisa beralasan.

🎙 (Diam 5 detik…)

Bayangkan…
Hari itu kita ingin bicara…
Tapi mulut terkunci.

Mata menangis.
Jantung bergetar.
Dan tidak ada lagi kesempatan.


🌿 BAGIAN 6 – Kontras Surga 

Tiba-tiba suasana berubah.

“Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada dalam naungan dan mata air…”

Ada kesejukan.
Ada buah-buahan.
Ada kedamaian.

Allah katakan:

“Makan dan minumlah dengan nikmat karena apa yang dahulu kalian kerjakan.”

Bukan karena wajah.
Bukan karena keturunan.
Bukan karena status.

Karena amal.

Yang menangis di tahajud…
Yang menjaga pandangan…
Yang sabar dalam ujian…
Allah tidak lupa.


🎯 PENUTUP 

Surah ini ditutup dengan kalimat yang menghantam:

“Maka dengan perkataan apa lagi mereka akan beriman setelah ini?”

Kalau ayat ini saja tidak menggugah…
Lalu apa yang bisa menggugah?

Hadirin…
Malam ini jangan pulang dengan hati yang sama.

Kalau kita belum berubah…
Berarti kita belum benar-benar mendengar.


🤲 DOA 

Ya Allah…
Ya Rabb kami…

Engkau yang bersumpah dengan angin…
Engkau yang mengguncang langit…
Engkau yang menghidupkan dan mematikan…

Kami ini lemah ya Allah…
Lemah iman…
Lemah istiqamah…
Lemah melawan hawa nafsu…

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang yang Engkau katakan:

“Celaka bagi para pendusta…”

Ya Allah…
Kalau selama ini hidup kami mendustakan ayat-Mu…
Ampuni…

Kalau shalat kami lalai…
Ampuni…

Kalau mata kami liar…
Ampuni…

Kalau lisan kami menyakiti…
Ampuni…

Ya Allah…
Jangan Engkau tutup mulut kami di hari kiamat karena dosa…
Jangan Engkau kumpulkan kami bersama orang-orang yang mendustakan…

Ya Allah…
Kami takut neraka-Mu…
Kami takut hari pemisahan…
Kami takut ketika tidak ada lagi kesempatan kembali…

Tapi kami juga berharap…
Pada rahmat-Mu…
Pada ampunan-Mu…
Pada kasih sayang-Mu…

Ya Allah…
Selamatkan keluarga kami…
Anak-anak kami…
Pasangan kami…
Orang tua kami…

Jangan Engkau biarkan rumah kami jauh dari Al-Qur’an…
Jangan Engkau biarkan generasi kami tumbuh tanpa iman…

Ya Allah…
Jika Engkau tak ampuni kami malam ini…
Kepada siapa lagi kami meminta?

Jika Engkau tak selamatkan kami…
Siapa lagi yang mampu?

Ya Allah…
Jadikan kami termasuk ahli Surah Al-Mursalat…
Yang membaca lalu berubah…
Yang mendengar lalu bertaubat…
Yang takut lalu kembali…

Ya Allah…
Tutup hidup kami dengan husnul khatimah…
Kumpulkan kami di bawah naungan surga…
Bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang shalih…

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin…



Tidak ada komentar