HARI YANG LIMA PULUH RIBU TAHUN


“HARI YANG LIMA PULUH RIBU TAHUN”


PEMBUKAAN 

الحمد لله رب العالمين…
اللهم صل وسلم على نبينا محمد…

Jamaah yang dirahmati Allah…

Pernah tidak kita merasa satu jam itu lama sekali?
Apalagi kalau menunggu transferan belum masuk…

Lima menit terasa seperti lima abad.

Tapi Allah berbicara tentang satu hari…

Bukan 24 jam.

Bukan 100 tahun.

Bukan 1.000 tahun.

Tapi…

LIMA PULUH RIBU TAHUN.


AZAB ITU NYATA 

📖 Ayat 1–2

Allah berfirman:

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ
لِّلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ

“Seorang telah meminta datangnya azab yang pasti terjadi.
Bagi orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya.”

📚 Tafsir Ibn Katsir menjelaskan: ini tentang An-Nadhr bin Al-Harith yang menantang Nabi.

Dia berkata (QS Al-Anfal 32):

اللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِندِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاءِ

“Ya Allah jika ini benar, hujani kami batu.”

💬 Imam Al-Qurthubi (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an) berkata:

Ini bentuk kesombongan yang melampaui batas.

Hari ini orang tidak lagi berkata “turunkan azab”.

Tapi mereka berkata: “Ah itu dosa kecil.” “Semua orang juga begitu.” “Zaman sudah berubah.”

Padahal azab tidak pernah berubah.


HARI 50.000 TAHUN 

📖 Ayat 4

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”

📚 Hadis (HR Ahmad – shahih):

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ لَيُخَفَّفُ عَلَى الْمُؤْمِنِ حَتَّى يَكُونَ أَخَفَّ عَلَيْهِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ يُصَلِّيهَا فِي الدُّنْيَا

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, hari itu diringankan bagi orang beriman hingga lebih ringan dari satu shalat wajib di dunia.”

📚 Tafsir Ibn Katsir

Artinya:

Orang beriman tidak merasakan panjangnya.

Orang kafir?
Seperti berdiri 50.000 tahun tanpa minum.

Bayangkan…

Tidak ada AC.

Tidak ada kursi.

Tidak ada pendingin.

Dan matahari dekat.

Hadis riwayat Muslim:

تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ

“Matahari didekatkan sejauh satu mil.”

Imam Nawawi berkata dalam Syarh Muslim:

Keringat manusia sesuai kadar amalnya.

Ada yang sampai mata kaki.
Ada yang sampai lutut.
Ada yang tenggelam.


HUMOR 

Bayangkan di dunia saja…

Kalau listrik mati 10 menit saja kita sudah update status:

“Ya Allah panas banget.”

Di akhirat…
50.000 tahun…

Tidak ada WiFi, tidak ada kipas…

Statusnya bukan lagi “panas banget”.

Statusnya:
“Ya Allah kembalikan aku ke dunia, aku mau shalat!”


KELUARGA TIDAK MENOLONG 

📖 Ayat 11–14

يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي
مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ
وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ
وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ
وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ

Orang berdosa ingin menebus dirinya dengan:

Anaknya
Istrinya
Saudaranya
Semua manusia

Imam As-Sa’di berkata:

Ini menunjukkan betapa dahsyatnya azab itu.


🎤 (Suara bergetar)

Di dunia kita bela anak mati-matian.

Di akhirat?

Anak tidak peduli.

Semua sibuk dengan dirinya.


SIFAT MANUSIA (REFLEKTIF)

📖 Ayat 19–21

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Manusia itu: Kalau susah – panik
Kalau kaya – pelit

Humor:

Kalau lagi susah: “Ya Allah hamba pasrah…”

Kalau sudah dapat proyek: “InsyaAllah nanti zakatnya…”

Nantinya? Tahun depan.


SIAPA YANG SELAMAT?

📖 Ayat 22–23

إِلَّا الْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

Kecuali orang yang menjaga shalat.

Ibn Katsir:

Shalat adalah benteng pertama.

Hadis:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
(HR Tirmidzi – shahih)


PENUTUP 

📖 Ayat 44

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ
ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

“Pandangan mereka tertunduk, diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulu diancamkan.”

Imam Al-Qurthubi:

Ini puncak kehinaan setelah kesombongan di dunia.


PENUTUP

Jamaah…

Kita semua akan ke sana.

Bukan soal cepat atau lambat.

Tapi soal siap atau tidak.



Tidak ada komentar