HARI YANG LIMA PULUH RIBU TAHUN
“HARI YANG LIMA PULUH RIBU TAHUN”
KHUTBATUL HAJAH
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه،
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا،
من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له،
وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله،
اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد،
وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد…
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian:
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Karena takwa itulah satu-satunya bekal saat semua yang kita cintai tidak lagi berguna.
BAGIAN 1
AZAB ITU BUKAN CERITA
Allah membuka Surah Al-Ma’arij dengan kalimat yang menggetarkan:
سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ
لِّلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ
“Seorang telah meminta datangnya azab yang pasti terjadi.
Bagi orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya.”
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini turun tentang orang yang menantang Nabi ﷺ dengan kesombongan.
Saudara-saudaraku…
Azab itu bukan dongeng.
Bukan cerita pengantar tidur.
Bukan sekadar motivasi agama.
Azab adalah janji Allah.
Dan janji Allah tidak pernah meleset.
Allah berfirman:
وَنَرَاهُ قَرِيبًا
“Dan Kami memandangnya dekat.”
Yang kita anggap masih lama…
Bagi Allah itu dekat.
BAGIAN 2
HARI YANG LIMA PULUH RIBU TAHUN
Allah berfirman:
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”
Lima puluh ribu tahun.
Bukan lima puluh menit.
Bukan lima puluh hari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ
(HR. Muslim)
“Matahari didekatkan sejauh satu mil.”
Imam Nawawi menjelaskan: manusia tenggelam dalam keringat sesuai kadar amalnya.
Ada yang sampai mata kaki.
Ada yang sampai lutut.
Ada yang sampai dada.
Ada yang tenggelam.
Saudaraku…
Di dunia listrik mati 10 menit saja kita sudah mengeluh.
Bagaimana dengan hari tanpa bayangan?
Tanpa air?
Tanpa perlindungan?
Kecuali satu…
Sabda Nabi ﷺ:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah.”
Di antara mereka:
Pemuda yang tumbuh dalam ibadah.
Orang yang hatinya terpaut dengan masjid.
Pertanyaannya…
Apakah kita termasuk?
BAGIAN 3
KELUARGA TIDAK MENOLONG
Allah berfirman:
يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي
مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ
وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ
Orang berdosa ingin menebus dirinya dengan anaknya.
Dengan istrinya.
Dengan saudaranya.
Di dunia kita berkata:
“Demi anak saya…”
“Demi keluarga saya…”
Tapi di akhirat…
Setiap orang berkata:
نَفْسِي… نَفْسِي… نَفْسِي
Diriku… diriku… diriku…
Saudaraku…
Jangan sampai kita sibuk membahagiakan keluarga di dunia,
tapi lupa menyelamatkan mereka di akhirat.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
(At-Tahrim: 6)
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Bukan hanya memberi makan.
Bukan hanya memberi sekolah.
Tapi menjaga dari neraka.
BAGIAN 4
SIFAT MANUSIA DAN SIAPA YANG SELAMAT
Allah berfirman:
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Manusia itu panik saat susah.
Dan pelit saat senang.
Tapi Allah memberi pengecualian:
إِلَّا الْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
Kecuali orang yang menjaga shalat.
Bukan yang shalat kalau sempat.
Bukan yang shalat kalau tidak sibuk.
Tapi yang menjaga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
(HR. Tirmidzi)
Shalat adalah garis pembatas.
Saudaraku…
Kalau shalat kita masih bolong-bolong,
bagaimana kita berharap selamat di hari 50.000 tahun?
BAGIAN 5
PENUTUP MENGGETARKAN
Allah menutup surah ini dengan gambaran:
خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ
ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
“Pandangan mereka tertunduk hina. Itulah hari yang dahulu diancamkan.”
Saudaraku…
Hari itu pasti datang.
Yang tidak pasti adalah:
Apakah kita siap?
DOA MUNAJAT
اللهم لك الحمد حتى ترضى
ولك الحمد إذا رضيت
ولك الحمد بعد الرضا
Ya Allah…
Engkaulah Rabb kami…
Tempat kami kembali…
Tidak ada tempat lari selain kepada-Mu.
Ya Allah…
Jika hari ini Engkau panggil kami,
apa yang kami bawa?
Dosa lebih banyak daripada amal.
Lalai lebih banyak daripada taat.
Ya Allah ampuni kami…
Ampuni dosa kami…
Dosa kedua orang tua kami…
Dosa pasangan kami…
Dosa anak-anak kami…
Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan rumah kami rumah yang jauh dari-Mu.
Jadikan rumah kami rumah shalat.
Rumah Al-Qur’an.
Rumah dzikir.
Rumah yang dipenuhi malaikat.
Ya Allah selamatkan anak-anak kami…
Jika mereka jauh, dekatkan.
Jika mereka lalai, bangunkan.
Jika mereka keras hati, lembutkan.
Ya Allah…
Jangan Engkau uji kami dengan anak yang durhaka.
Jangan Engkau uji kami dengan pasangan yang melalaikan akhirat.
Ya Allah satukan keluarga kami di dunia dalam ketaatan.
Dan satukan kami di surga-Mu.
Ya Allah…
Jika Engkau takdirkan kami masuk surga,
jangan pisahkan kami dari keluarga kami.
Sebagaimana firman-Mu:
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ
وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ
“Ya Rabb kami, masukkan mereka ke dalam surga ‘Adn bersama orang-orang saleh dari orang tua, pasangan, dan keturunan mereka.”
Ya Allah…
Lindungi keluarga kami dari api neraka.
Jangan Engkau jadikan anak kami bahan bakar neraka.
Jangan Engkau jadikan kami pemimpin menuju kebinasaan.
Ya Allah…
Saat hari 50.000 tahun itu datang,
naungi kami di bawah naungan-Mu.
Ringankan hisab kami.
Mudahkan pertanyaan malaikat-Mu.
Ya Allah…
Jika kaki ini gemetar di shirath,
pegangkan.
Jika amal kami ringan,
beratkan.
Jika catatan kami kotor,
bersihkan.
Ya Allah…
Jangan Engkau wafatkan kami kecuali dalam keadaan sujud.
Jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha.
Rabbana atina fid-dunya hasanah
wa fil-akhirati hasanah
wa qina ‘adzaban nar.
وصلى الله على نبينا محمد
وعلى آله وصحبه أجمعين
والحمد لله رب العالمين
Post a Comment