HUKUM MELAGUKAN AL-QUR’AN. Antara Memperindah Bacaan dan Menjaga Kesucian Kalamullah

HUKUM MELAGUKAN AL-QUR’AN

Antara Memperindah Bacaan dan Menjaga Kesucian Kalamullah


🕌 MUKADIMAH

الحمد لله الذي أنزل القرآن هدىً ورحمةً للمؤمنين…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Al-Qur’an itu dibaca, dipahami, dan diamalkan.
Bukan dinyanyikan, bukan dipamerkan, dan bukan dilombakan suaranya sampai lupa maknanya.

😄 Kadang ada yang baca Al-Qur’an… nadanya MasyaAllah,
tapi makhrajnya minta ampun—huruf “ض” jadi “د”,
yang dengar terharu… malaikatnya bingung.


📖 1️⃣ PERINTAH MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TARTIL

🔹 Dalil Al-Qur’an

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan, jelas, dan benar).”
(QS. Al-Muzzammil: 4)

📌 Makna tartil menurut Ibnu Abbas:

“Membaca dengan tenang, memperjelas huruf-hurufnya.”
📚 (Tafsir Ibnu Katsir)

❗ Tartil bukan berarti bernyanyi,
tapi benar tajwidnya, jelas maknanya, hadir hatinya.


🎤 2️⃣ HADITS: MEMPERINDAH SUARA, BUKAN MELAGUKAN

🔹 Hadits Nabi ﷺ

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i – shahih)

📌 Maksudnya:

  • Suara alami
  • Penuh khusyu’
  • Bukan aturan musik
  • Bukan nada-nada lagu dunia

😄 Humor mimbar:
“Memperindah suara itu sunnah,
tapi kalau sampai nadanya bisa ditebak:
‘Oh ini lagu dangdut koplo’—nah itu sudah bahaya.”


⚠️ 3️⃣ BAHAYA MELAGUKAN AL-QUR’AN

Jordan sudah mengutip pernyataan ulama besar—dan ini penting sekali.

🔸 Imam Ahmad رحمه الله

Beliau melarang talḥīn (melagukan bacaan Al-Qur’an).

قال: هو بدعة
“Itu bid‘ah.”

📌 Maksud talḥīn:
membaca Al-Qur’an menyerupai lagu,
mengikuti irama musik,
bukan mengikuti kaidah tajwid.

📚 (Dinukil dalam Fadhaa’ilul Qur’an)


🔸 Ibnu Katsir رحمه الله

Dalam Fadhaa’ilul Qur’an:

“Yang dituntut syariat adalah memperindah suara yang mendorong tadabbur, khusyu’, dan pemahaman.
Adapun irama-irama buatan, nada dan aturan musikal yang melalaikan, maka Al-Qur’an suci dari hal itu.”

📚 (Fadhaa’ilul Qur’an, hlm. 125–126)

📌 Artinya:

  • Kalau suara indah → membuat hati tunduk → baik
  • Kalau suara indah → membuat makna rusak → tercela

🔸 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله

“Irama yang dilarang adalah yang memendekkan huruf panjang, memanjangkan yang pendek, menghidupkan yang mati, dan mematikan yang hidup demi mengikuti lagu.”

📚 (Hasyiyatu Muqaddimatit Tafsir, hlm. 107)

❗ Jika sampai:

  • Harakat jadi huruf
  • Huruf jadi hilang
  • Tajwid rusak

➡️ HARAM HUKUMNYA

😄 Humor ringan:
“Kalau Al-Qur’an dibaca sampai ‘الضالين’ terdengar seperti ‘dangdutin’,
itu bukan tilawah—itu audisi.”


🧠 4️⃣ DAMPAK MELAGUKAN AL-QUR’AN PADA HATI

Jordan, ini poin ruhiyahnya:

Pembaca dan pendengar yang disibukkan dengan lagu,
hatinya terhalang dari maksud Allah dalam firman-Nya.

📖 Firman Allah:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Kitab yang Kami turunkan agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Shad: 29)

📌 Tadabbur butuh tenang,
bukan fokus ke nada tinggi-rendah.

😢 Banyak orang:

  • Menangis karena lagu
  • Bukan karena ayat

Padahal yang seharusnya menggetarkan hati adalah makna, bukan melodi.


🧭 5️⃣ SIKAP TENGAH YANG BENAR (WASATHIYYAH)

Islam itu adil:

❌ Tidak kaku: baca seperti robot
❌ Tidak berlebihan: baca seperti konser

Benar tajwidnya
Indah suara alaminya
Hadir hatinya

📜 Hadits Nabi ﷺ

مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا
(HR. Bukhari)

📌 Makna “yataghanna” menurut para ulama:

Membaguskan suara secara alami, bukan bernyanyi.

📚 (Syarh Ibnu Hajar – Fathul Bari)


🏁 PENUTUP 

Ma’asyiral muslimin…

Al-Qur’an itu:

  • Kalam Allah
  • Bukan lirik lagu
  • Bukan alat pamer suara

Bacalah agar Allah ridha,
bukan agar manusia terpesona.


🤲 DOA 

اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا،
ونور صدورنا،
وذهاب همومنا وأحزاننا…

Ya Allah…
hiasilah bacaan kami dengan keikhlasan,
bukan dengan riya’,
lembutkan suara kami dengan khusyu’,
bukan dengan kesombongan…

آمين يا رب العالمين…



Tidak ada komentar