IMAN DI ANTARA KILAT DAN KEGELAPAN
🌩️ IMAN DI ANTARA KILAT DAN KEGELAPAN
Tafsir Mendalam QS Al-Baqarah Ayat 20
📖 AYAT POKOK
Al-Qur'an – Surah Al-Baqarah: 20
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ ۙ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:
“Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawahnya. Apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
I. PENJELASAN TAFSIR KLASIK (MENDALAM)
1️⃣ Tafsir Riwayat dari Ath-Thabari
Dalam Jāmi’ al-Bayān, beliau meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid bahwa:
البرق هو ما يلوح لهم من نور الإيمان
“Kilat adalah cahaya iman yang sesekali tampak bagi mereka.”
Ath-Thabari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menggambarkan ketidakkonsistenan hati orang munafik. Mereka melihat bukti kebenaran, tetapi tidak mau menyerahkan diri sepenuhnya.
Beliau menegaskan:
“إذا لاح لهم الحق اتبعوه، وإذا عرضت لهم الشبهات وقفوا متحيرين”
“Jika kebenaran tampak jelas, mereka mengikutinya. Namun ketika syubhat datang, mereka berhenti dalam kebingungan.”
📚 Rujukan: Jāmi’ al-Bayān, jilid 1, hlm. 318–320.
2️⃣ Tafsir Ibnu Katsir
Beliau menyatakan bahwa kilat menggambarkan:
“شدة خوفهم واضطرابهم”
“Ketakutan dan keguncangan batin mereka.”
Munafik bukan tidak tahu kebenaran.
Mereka tahu… tapi takut kehilangan posisi, harta, pengaruh.
3️⃣ Tafsir Al-Qurtubi
Al-Qurtubi menambahkan bahwa ayat ini juga mengisyaratkan:
- Cahaya = wahyu
- Gelap = ujian dan tekanan sosial
Munafik mengikuti agama selama aman.
Begitu berisiko — berhenti.
II. ANALISA PSIKOLOGI KEMUNAFIKAN MODERN
Sekarang kita lihat dari perspektif psikologi.
1️⃣ Cognitive Dissonance (Disonansi Kognitif)
Teori Leon Festinger menjelaskan:
Ketika keyakinan bertabrakan dengan kepentingan, manusia cenderung menyesuaikan keyakinannya agar nyaman.
Contoh:
- Tahu riba haram.
- Tapi tetap ambil karena “darurat”.
- Lalu membenarkan diri: “Kan semua orang juga begitu.”
Itulah kilat:
Cahaya datang… tapi tidak cukup kuat mengalahkan ego.
2️⃣ Social Conformity (Tekanan Sosial)
Munafik sangat sensitif terhadap opini publik.
Kalau lingkungan religius → tampak religius.
Kalau lingkungan hedon → ikut hedon.
Dalam psikologi, ini disebut normative conformity — takut ditolak.
📖 Allah sudah menyebutnya:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا ۖ وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ
(Al-Baqarah: 14)
“Jika bertemu orang beriman mereka berkata: kami beriman. Jika kembali kepada kelompoknya, mereka berkata: kami bersama kalian.”
3️⃣ Moral Licensing
Fenomena psikologi modern: Orang merasa setelah berbuat baik → boleh berbuat salah.
Contoh: “Sudah sedekah kemarin, jadi nonton yang begitu sedikit nggak apa-apa.”
Itu iman kilat.
III. PUNCAK ANCAMAN DALAM AYAT
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ
Ath-Thabari menjelaskan bahwa ini bukan hanya fisik.
Ini simbol:
- Hati tidak peka
- Tidak tersentuh nasihat
- Tidak lagi takut
Dan ini sejalan dengan:
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ
(Al-Baqarah: 7)
“Allah mengunci hati mereka.”
IV. ANALISA SPIRITUAL-HUMAN BEHAVIOR
Iman kilat muncul karena:
- Iman tidak ditanam → hanya emosi sesaat.
- Agama dipelajari sebagai budaya, bukan keyakinan.
- Ibadah tanpa pemahaman.
Humor ringan:
Ada orang nangis waktu umrah…
Pulangnya langsung update story:
“Balik ke dunia nyata lagi yaa 😌✨”
Padahal yang nyata itu akhirat, bukan timeline.
V. SOLUSI AGAR IMAN TIDAK JADI KILAT
1️⃣ Perbarui Iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَجَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ
“Iman itu bisa usang seperti pakaian, maka perbaruilah iman kalian.”
Bagaimana memperbarui?
- Tadabbur Qur’an
- Lingkungan shalih
- Muhasabah harian
2️⃣ Konsistensi Kecil Lebih Baik
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling Allah cintai adalah yang kontinu walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari-Muslim)
VI. RENUNGAN PENUTUP
Saudaraku…
Masalah munafik bukan tidak tahu.
Masalahnya: tidak mau tunduk.
Kilat itu terang.
Tapi tidak cukup lama untuk menghangatkan.
Iman sejati bukan kilat.
Ia matahari.
Pelan.
Stabil.
Terus menyinari.
DOA PENUTUP SINGKAT (Versi Ilmiah-Reflektif)
Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami mengerti kebenaran tapi tidak mengikutinya.
Jangan Engkau jadikan kami melihat cahaya tapi memilih gelap.
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati…
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
Tetapkan hati kami di atas agama-Mu.
Post a Comment