Jangan Jual Ayat dengan Harga Murah


“Jangan Jual Ayat dengan Harga Murah”

Pembukaan 

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn…
Kita memuji Allah yang masih memberi kita iman.
Kita bersaksi tiada Tuhan selain Allah.
Kita bersaksi Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Malam ini kita akan duduk bersama satu ayat yang sangat tajam.
Satu ayat yang bukan hanya untuk Bani Israil…
Tapi untuk kita.

Allah berfirman:

وَاٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُوْنُوْٓا اَوَّلَ كَافِرٍۢ بِهٖ ۖ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۖ وَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ

Artinya:
“Berimanlah kepada apa yang Aku turunkan (Al-Qur’an) sebagai pembenar bagi apa yang ada padamu. Janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Dan hanya kepada-Ku bertakwalah.”

Ayat ini seperti petir di langit hati kita.


BAGIAN I

“Berimanlah kepada apa yang Aku turunkan” 

Allah memerintahkan iman kepada Al-Qur’an.

Bukan sekadar percaya…
Tapi tunduk.

Banyak orang percaya Al-Qur’an benar.
Tapi ketika ayat berbicara tentang riba — dia berkata, “Zaman sudah berubah.”
Ketika ayat berbicara tentang aurat — dia berkata, “Yang penting hati.”

Itu bukan iman.
Itu seleksi ayat.

Allah tidak berkata:
“Ambil yang cocok, buang yang berat.”

Allah berkata:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Kami dengar dan kami taat.” (QS 2:285)

Iman itu bukan cocok logika.
Iman itu tunduk walau berat.


BAGIAN II

“Jangan jadi yang pertama kafir” 

Allah berkata:

وَلَا تَكُوْنُوْا اَوَّلَ كَافِرٍۢ بِهٖ

Mengapa disebut “yang pertama”?

Karena orang yang tahu kebenaran tapi menolaknya — dosanya lebih berat.

Orang awam mungkin tidak tahu.
Tapi orang yang paham dalil… yang belajar… yang mengerti…
Lalu menolak demi gengsi…

Itu bahaya.

Kadang kita seperti itu.

Kita tahu shalat Subuh itu wajib.
Tapi alarm bunyi — kita pencet snooze.
Snooze itu bahasa Arabnya apa?
“Ta’khīrul taubah” — menunda taubat!

Kita tahu riba haram.
Tapi kita berkata, “Semua orang juga begitu.”

Jamaah…

Jangan sampai kita tahu kebenaran, tapi jadi yang pertama menolaknya di lingkungan kita.


BAGIAN III

“Jangan jual ayat dengan harga murah!” 

Allah berfirman:

وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا

Jangan tukar ayat-Ku dengan harga sedikit.

Apa maksudnya?

Menukar kebenaran dengan dunia.

Dulu ada ulama yang takut kehilangan jabatan, lalu membenarkan penguasa yang zalim.

Sekarang?

Orang takut kehilangan followers.
Takut kehilangan sponsor.
Takut kehilangan jabatan.

Lalu ayat dilunakkan.
Fatwa disesuaikan pasar.

Padahal Allah menyebut dunia:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS 3:185)

Harga sedikit itu apa?

Gaji.
Jabatan.
Popularitas.
Pujian.

Bandingkan dengan akhirat yang kekal.

Lucunya manusia…
Diskon 20% di mal rela antre dua jam.
Surga diskon? Tidak tertarik!

(beri jeda, jamaah tersenyum)

Tapi ini bukan lucu. Ini sedih.


BAGIAN IV

Reflektif 

Mari kita jujur.

Apakah kita pernah:

  • Diam melihat kemungkaran karena takut?
  • Mengubah prinsip karena tekanan?
  • Menggadaikan integritas demi kenyamanan?

Itulah “menjual ayat”.

Kadang bukan di mimbar.
Tapi di meja kerja.
Di kantor.
Di bisnis.

Ayat kejujuran ditukar dengan target.

Ayat amanah ditukar dengan keuntungan.


BAGIAN V

“Hanya kepada-Ku bertakwalah” 

Allah menutup ayat dengan:

وَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ

Kenapa?

Karena sumber semua ketakutan kita bukan manusia.
Bukan atasan.
Bukan klien.

Takutlah hanya kepada Allah.

Jika kita takut kepada Allah —
kita tidak akan takut kehilangan dunia.

Jika kita takut kehilangan dunia —
berarti takut kita bukan kepada Allah.

Jamaah…

Rezeki bukan dari manusia.
Jabatan bukan dari manusia.
Popularitas bukan dari manusia.

Semua dari Allah.


PENUTUP

Bayangkan…

Saat kita berdiri di hadapan Allah.
Tidak ada followers.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada uang.

Yang ada hanya amal.

Allah bertanya:
“Ayat-Ku kau jual untuk apa?”

Mau jawab apa?

Heningkan hati.


MUNAJAT PENUTUP 

Ya Allah…
Kami sering tahu yang benar…
Tapi hati kami lemah.

Kami takut kehilangan dunia…
Padahal dunia tidak pernah setia.

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami orang yang tahu ayat-Mu
tapi menjualnya demi pujian.

Jangan Engkau jadikan kami beriman di lisan
tapi kafir dalam keputusan.

Teguhkan kami ya Allah…

Jika kebenaran membuat kami kehilangan dunia,
gantikan dengan keberkahan.

Jika kejujuran membuat kami disingkirkan,
angkat derajat kami di sisi-Mu.

Jadikan kami orang yang ketika membaca ayat-Mu
tidak menawar,
tidak memilih,
tidak mengedit.

Ya Allah…
Saat kami lemah, kuatkan.
Saat kami takut, yakinkan.
Saat kami tergoda, ingatkan akhirat.

Ampuni kami ya Allah…
Ampuni kami…
Ampuni kami…

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



Tidak ada komentar