KAJIAN KHUSUS TARAWIH DAN JUMLAH RAKAAT MENURUT EMPAT MAZHAB
📚 KAJIAN KHUSUS TARAWIH DAN JUMLAH RAKAAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Studi Fiqh Perbandingan dan Analisis Dalil
I. Definisi dan Status Hukum Tarawih
Definisi
Tarawih adalah qiyam Ramadhan yang dilakukan secara berjamaah pada malam hari setelah shalat Isya.
Disebut tarawih karena dahulu para sahabat beristirahat setiap selesai empat rakaat (tarwihah).
II. Landasan Normatif
1️⃣ Dalil Sunnah
Hadis dari Ummul Mukminin:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Terjemahan:
"Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah (shalat malam) di bulan Ramadhan dan selainnya lebih dari sebelas rakaat."
2️⃣ Praktik Sahabat
Pada masa Umar ibn al-Khattab, beliau mengumpulkan kaum Muslimin dan menetapkan 20 rakaat.
Riwayat dalam Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas menyebutkan:
أنهم كانوا يقومون في زمن عمر بن الخطاب بعشرين ركعة
III. Status Hukum Tarawih
| Mazhab | Status |
|---|---|
| Hanafi | Sunnah muakkadah |
| Maliki | Sunnah |
| Syafi’i | Sunnah muakkadah |
| Hanbali | Sunnah muakkadah |
Menurut Ibn Qudamah dalam Al-Mughni, tarawih adalah syiar Islam yang tampak di bulan Ramadhan.
IV. JUMLAH RAKAAT TARAWIH MENURUT EMPAT MAZHAB
1️⃣ Mazhab Hanafi
Tokohnya: Abu Hanifa
Jumlah: 20 rakaat (tidak termasuk witir)
Dalil:
- Praktik Umar
- Ijma’ sahabat setelahnya
Dalam Bada’i as-Shana’i karya Al-Kasani ditegaskan bahwa 20 rakaat menjadi amalan kaum Muslimin secara turun-temurun.
2️⃣ Mazhab Maliki
Tokohnya: Malik ibn Anas
Pendapat dalam mazhab:
- Riwayat masyhur: 20 rakaat
- Riwayat Madinah: 36 rakaat
Alasan 36 rakaat: Penduduk Madinah menambah 16 rakaat sebagai pengganti thawaf yang dilakukan penduduk Makkah setelah setiap empat rakaat.
Disebut dalam Al-Mudawwanah al-Kubra.
3️⃣ Mazhab Syafi’i
Tokohnya: Muhammad ibn Idris al-Shafi'i
Jumlah: 20 rakaat
Dalam Al-Umm, beliau berkata bahwa beliau mendapati manusia di Makkah shalat 20 rakaat.
Menurut Al-Nawawi dalam Al-Majmu’, 20 rakaat adalah pendapat jumhur ulama.
4️⃣ Mazhab Hanbali
Tokohnya: Ahmad ibn Hanbal
Riwayat dari Imam Ahmad:
- 20 rakaat
- 36 rakaat
- 11 rakaat
Beliau menyatakan:
"Semua baik, tergantung panjang atau pendeknya bacaan."
Dalam Al-Mughni, disebutkan tidak ada batasan baku yang mengikat secara qath’i.
V. Perbandingan Jumlah Rakaat
| Mazhab | Jumlah Dominan | Catatan |
|---|---|---|
| Hanafi | 20 rakaat | Ijma’ sahabat |
| Maliki | 20 / 36 rakaat | Praktik Madinah |
| Syafi’i | 20 rakaat | Pendapat jumhur |
| Hanbali | 20 rakaat (fleksibel) | Riwayat beragam |
VI. Bagaimana dengan 8 atau 11 Rakaat?
Kelompok yang berpendapat 8 atau 11 rakaat berdalil pada hadis Aisyah:
إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Mayoritas ulama empat mazhab menjelaskan:
Hadis tersebut berbicara tentang qiyamullail Nabi secara umum, bukan pembatasan jumlah tarawih berjamaah.
Menurut Ibn Taymiyyah: Jumlah rakaat fleksibel; yang utama adalah kekhusyukan dan panjang bacaan.
VII. Analisis Ushul Fiqh atas Perbedaan
Perbedaan jumlah terjadi karena:
- Perbedaan memahami apakah hadis Aisyah bersifat pembatasan atau deskriptif.
- Pertimbangan ijma’ sahabat pada masa Umar.
- Kaidah:
العبرة بالهيئة لا بالعدد
(Yang utama adalah kualitas, bukan sekadar jumlah)
Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i menekankan praktik kolektif sahabat (ijma’ sukuti).
Hanbali lebih fleksibel berdasarkan banyak riwayat.
VIII. Dimensi Maqashid
Tarawih bertujuan:
- Menghidupkan malam Ramadhan
- Menguatkan ikatan sosial jamaah
- Menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(HR. Muhammad al-Bukhari)
IX. Kesimpulan Ilmiah
- Tarawih hukumnya sunnah muakkadah menurut empat mazhab.
- Jumlah rakaat tidak bersifat qath’i.
- 20 rakaat adalah pendapat jumhur dan praktik mayoritas sahabat.
- 8 atau 11 rakaat memiliki dasar hadis, namun bukan pembatasan mutlak.
- Perbedaan ini adalah ranah ijtihad yang sah.
🌙 Penutup Reflektif
Tarawih bukan ajang lomba matematika rakaat.
Ia adalah perjalanan hati.
Mau 8, mau 20, mau 36 —
Jika hati tidak hadir, semuanya kosong.
Tetapi jika hati hidup,
Satu rakaat pun bisa mengubah takdir.
Post a Comment