KETIKA ADAM MENANGIS: DRAMA DOSA, TOBAT, DAN RAHMAT ALLAH

KETIKA ADAM MENANGIS: DRAMA DOSA, TOBAT, DAN RAHMAT ALLAH

Analisis Tahlili, Balaghah, dan Pendapat Para Mufassir


I. Teks Ayat dan Terjemah

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 37:

فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini merupakan klimaks dari rangkaian kisah penciptaan, pengajaran nama-nama, ujian larangan pohon, dan turunnya Adam ke bumi. Secara struktur naratif, ayat ini berfungsi sebagai restorative closure—penutup yang memulihkan hubungan hamba dan Tuhan.


II. Analisis Kebahasaan dan Balaghah

1️⃣ Huruf Fa’ (فَتَلَقّٰٓى)

Huruf fa’ menunjukkan ta‘qīb (urutan langsung). Artinya, setelah peristiwa kejatuhan, tidak ada jeda panjang sebelum rahmat Allah turun.

Dalam ilmu ma‘ani, ini memberi isyarat kecepatan rahmat mendahului murka.

Sebagaimana hadis qudsi:

إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
“Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)


2️⃣ Kata “تَلَقّٰى” (Talaqqā)

Berasal dari wazan tafa‘‘ul yang memberi makna penerimaan dengan kesiapan dan kesungguhan.

Menurut Al-Raghib al-Asfahani dalam Mufradat Alfaz al-Qur’an, talaqqi mengandung makna penerimaan yang aktif dan penuh kesadaran, bukan pasif.

Maknanya: Adam tidak sekadar diberi kalimat, tetapi menyambutnya dengan kesiapan hati.


3️⃣ “مِنْ رَبِّهِ”

Penggunaan kata Rabb (bukan Allah) menunjukkan dimensi tarbiyah (pendidikan dan pemeliharaan).

Dalam balaghah, pemilihan nama ini menunjukkan bahwa peristiwa dosa adalah bagian dari proses pendidikan ilahi.

Menurut Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, penggunaan “Rabb” mengisyaratkan bahwa Allah mendidik Adam melalui pengalaman salah dan tobat.


4️⃣ “كَلِمَاتٍ” dalam Bentuk Jamak Nakirah

Bentuk jamak nakirah menunjukkan:

  • Keagungan kalimat tersebut
  • Bisa bermakna lebih dari satu doa
  • Memberi kesan keluasan rahmat

Mayoritas mufassir menyatakan bahwa kalimat itu adalah doa dalam Surah Al-A‘raf ayat 23:

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا...

Namun menurut riwayat yang dinukil oleh Al-Tabari, ada pendapat bahwa kalimat itu termasuk pengakuan dosa, penyesalan, dan permohonan rahmat.


5️⃣ “فَتَابَ عَلَيْهِ”

Secara bahasa, “tāba” jika dinisbahkan kepada Allah berarti “kembali dengan rahmat”.

Dalam teologi Ahlus Sunnah, tobat Allah kepada hamba bermakna:

  1. Memberi taufik untuk bertobat
  2. Menerima tobat itu

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Kathir dalam tafsirnya.

Urutannya penting:

  • Allah memberi ilham
  • Adam bertobat
  • Allah menerima

Ini menunjukkan konsep divine initiative dalam hidayah.


6️⃣ Penegasan dengan “إِنَّهُ هُوَ”

Struktur innahu huwa adalah bentuk hasr (pembatasan eksklusif).

Maknanya: hanya Dia satu-satunya yang benar-benar Maha Penerima tobat.

Secara balaghah ini disebut qasr bi al-dhamir al-fasl.


7️⃣ “التَّوَّابُ” dalam Wazan Fa‘‘āl

Wazan fa‘‘āl menunjukkan intensitas dan pengulangan.

Artinya: Allah berulang-ulang menerima tobat, meskipun hamba berulang kali salah.

Menurut Al-Ghazali dalam Al-Maqshad al-Asna, At-Tawwab adalah Dzat yang membuka pintu kembali tanpa bosan.


III. Pendapat Para Mufassir

1️⃣ Tafsir al-Tabari

Menekankan bahwa kalimat itu adalah doa pengakuan dosa. Tobat Adam diterima karena memenuhi unsur:

  • Pengakuan
  • Penyesalan
  • Permohonan

(Jāmi‘ al-Bayān, Juz 1)


2️⃣ Tafsir Ibn Kathir

Menambahkan riwayat bahwa Adam menangis lama dan terus memohon ampun hingga Allah menerima tobatnya.

Beliau juga mengutip hadis tentang kegembiraan Allah menerima tobat hamba lebih besar dari kegembiraan orang yang menemukan untanya yang hilang (HR. Muslim).


3️⃣ Tafsir al-Razi

Al-Razi membahas aspek teologis:
Apakah dosa nabi bertentangan dengan ‘ishmah?

Beliau menjelaskan bahwa yang terjadi adalah zallah (kekeliruan kecil) bukan dosa besar, dan itu bagian dari hikmah ilahi untuk menegaskan konsep tobat bagi umat manusia.


4️⃣ Tafsir al-Qurtubi

Menekankan bahwa ayat ini menjadi dalil diterimanya tobat selama:

  • Dilakukan sebelum sakaratul maut
  • Tidak dalam kondisi terpaksa

IV. Integrasi dengan Ayat dan Hadis Lain

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ
“Wahai hamba-Ku yang melampaui batas, jangan berputus asa dari rahmat Allah.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ
“Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya…”
(HR. Muslim)


V. Dimensi Teologis dan Spiritualitas

Ayat ini menegaskan beberapa prinsip akidah:

  1. Hidayah berasal dari Allah
  2. Dosa bukan akhir perjalanan
  3. Rahmat lebih dominan daripada murka
  4. Pintu tobat terbuka sebelum ajal

VI. Kesimpulan

QS Al-Baqarah ayat 37 adalah fondasi teologi tobat dalam Islam.

Struktur balaghahnya menegaskan:

  • Kecepatan rahmat (fa’)
  • Inisiatif ilahi (talaqqa)
  • Pendidikan rabbani (Rabb)
  • Intensitas penerimaan (Tawwab)
  • Eksklusivitas sifat (innahu huwa)

Secara makna, ayat ini menggeser narasi dosa dari tragedi menjadi pendidikan ilahi.

Adam bukan simbol kegagalan manusia.
Adam adalah simbol harapan manusia.



Tidak ada komentar