Keutamaan Shalat Sunnah: Ketika Hamba Dipeluk Langit


Keutamaan Shalat Sunnah: Ketika Hamba Dipeluk Langit


I. PEMBUKAAN 

الحمد لله رب العالمين
نحمده ونستعينه ونستغفره
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
kepada keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya sampai hari kiamat.

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Malam ini…
kita tidak bicara tentang kehebatan manusia,
kita tidak bicara tentang pangkat dan dunia.

Malam ini…
kita bicara tentang seorang hamba yang berdiri sendirian di hadapan Rabb-nya.
Tanpa sorotan kamera.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa saksi… kecuali langit dan malaikat.

Inilah shalat sunnah
ibadah orang yang mencintai Allah lebih dari sekadar kewajiban.


II. SHALAT: SAAT LANGIT TURUN KE BUMI 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bagi orang yang shalat ada tiga keutamaan:
malaikat mengelilinginya dari kakinya sampai ke langit,
kebaikan turun dari langit ke atas kepalanya,
dan ada malaikat yang berseru:
‘Seandainya orang ini tahu dengan siapa ia bermunajat, niscaya ia tidak berpaling.’”

Hadirin…

Bayangkan…
saat kita berdiri dalam shalat sunnah,
mungkin di sudut rumah yang sepi,
mungkin di mushalla kecil yang lampunya redup…

Langit sedang sibuk dengan kita.

Malaikat turun.
Rahmat turun.
Dan Allah… mendengarkan.

Lalu kita bertanya pada diri sendiri…
“Kenapa shalat sunnahku sering terburu-buru?”
“Kenapa hatiku masih sibuk dengan dunia?”

Padahal…
kita sedang berdiri di hadapan Raja segala raja.


III. SHALAT SUNNAH: GHANIMAH TANPA PEDANG 

Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang-orang yang shalat Subuh,
lalu duduk berdzikir hingga matahari terbit,
lalu shalat dua rakaat.

Beliau bersabda:

“Mereka itulah yang paling cepat kembali
dan paling besar ghanimahnya.”

Hadirin…

Mereka tidak mengangkat pedang.
Tidak menunggang kuda.
Tidak menumpahkan darah.

Tapi mereka pulang dengan ghanimah langit.

Lalu kita…
pagi-pagi sibuk mengejar dunia,
sementara rezeki ruhani kita tinggalkan.

Berapa banyak pagi yang kita lalui…
tanpa satu pun shalat sunnah?


IV. SHALAT DHUHA: SEDERHANA TAPI MEMBANGUN SURGA 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap persendian anak Adam ada kewajiban sedekah.”

Lalu beliau menutup semua itu dengan kalimat lembut:

“Dan semua itu dicukupi dengan dua rakaat shalat Dhuha.”

Hadirin…

Dua rakaat…
tapi menutup puluhan tuntutan amal.

Allah tidak memberatkan…
kitalah yang sering mengabaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa shalat Dhuha dua rakaat, ia tidak dicatat sebagai orang lalai…”
hingga:
“dua belas rakaat, dibangunkan baginya rumah di surga.”

Apakah kita tidak rindu…
punya rumah di surga?


V. SHALAT DI RUMAH: CAHAYA DALAM KEHENINGAN 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat sunnah seseorang di rumahnya adalah cahaya.”

Hadirin…

Rumah yang jarang shalat sunnah…
perlahan gelap.

Bukan gelap lampu…
tapi gelap keberkahan.

Anak sulit taat.
Hati mudah marah.
Masalah datang bertubi-tubi.

Bukan karena Allah jauh…
tapi karena kita jarang memanggil-Nya di rumah kita.


VI. SHALAT MALAM: KEMULIAAN ORANG BERIMAN 

Para ulama berkata:

“Kemuliaan seorang mukmin adalah bangun malam.”

Saat semua tidur…
saat dunia senyap…
ada hamba yang bangun,
mengusap wajahnya,
dan berkata:
“Ya Allah… aku datang.”

Mungkin shalatnya pendek…
tapi tangisnya jujur.

Dan Allah…
tidak pernah menolak hamba yang datang di malam sunyi.


VII. Penutup 

Hadirin…
berapa banyak shalat sunnah yang kita tinggalkan?
berapa banyak panggilan Allah yang kita abaikan?

Malam ini…
jangan pulang sebagai orang yang sama.


DOA 

اللهم يا الله…
Jika malam ini kami datang dengan dosa…
jangan Engkau tolak kami karena dosa itu.

Ya Allah…
kami lemah…
kami sering lalai…
kami sering hanya mengejar dunia…

Tapi malam ini…
kami ingin kembali.

Ya Allah…
hidupkan hati kami dengan shalat sunnah,
hias rumah kami dengan cahaya ibadah,
bangunkan kami di sepertiga malam terakhir…

Ya Allah…
jangan jadikan kami hamba yang hanya mengenal-Mu di waktu sempit.

Ampuni dosa kami, dosa orang tua kami,
dosa pasangan kami,
dosa anak-anak kami…

Ya Allah…
terimalah dua rakaat kami yang lemah,
terimalah air mata kami yang sedikit,
dan jangan Kau usir kami dari pintu-Mu…

Rabbana taqabbal minna…
innaka Antas-Sami‘ul ‘Alim....



Tidak ada komentar