Menyambut Tamu Agung dengan Jiwa yang Lapang dan Hati yang Bergelora

🌙 MARHABAN YĀ RAMADHĀN

Menyambut Tamu Agung dengan Jiwa yang Lapang dan Hati yang Bergelora


I. Makna “Marhaban” dan Spirit Penyambutan

Kata marhaban berasal dari akar kata رَحْبٌ (rahb) yang berarti luas, lapang, terbuka. Maka ketika kita mengucap:

مَرْحَبًا يَا رَمَضَانُ
Selamat datang wahai Ramadhan

Itu bukan sekadar ucapan seremoni. Itu adalah deklarasi jiwa:
Kami menerimamu dengan dada yang luas, hati yang lapang, dan cinta yang mengembang.

Sebagaimana para sahabat dahulu menyambut Ramadhan dengan doa enam bulan sebelum datangnya, dan enam bulan setelahnya berdoa agar amal mereka diterima.


II. Kabar Gembira dari Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ النَّارِ، وَتُصَفَّدُ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya:
"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan)."
(HR. Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad)

📖 Komentar Ulama

  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathā’if al-Ma‘ārif menjelaskan bahwa pembukaan pintu surga adalah isyarat dibukanya peluang amal dan taufik.
  • Al-Qurtubi menyebut bahwa pembelengguan setan bukan berarti hilang total gangguan, tetapi melemah drastis kekuatannya.

III. Dalil Al-Qur’an Tentang Puasa

📖 Surah Al-Baqarah Ayat 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Tafsir Ulama:

  • Ibn Kathir: Puasa adalah madrasah taqwa.
  • Al-Tabari: Kata la‘allakum tattaqūn menunjukkan tujuan utama puasa adalah pengendalian diri total.

IV. Ramadhan Sebagai Perjalanan Mendaki Gunung Nafsu

Para ulama salaf menggambarkan perjalanan menuju Allah seperti mendaki gunung terjal.

Dalilnya:

📖 Surah Al-‘Ankabut Ayat 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Artinya:
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."

Komentar:

  • Ibn al-Qayyim dalam Madarij as-Salikin: Nafsu adalah gunung pertama yang harus ditaklukkan sebelum musuh di luar diri.

V. Malam Lailatul Qadar

📖 Surah Al-Qadr Ayat 3

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

Menurut Al-Nawawi dalam Al-Majmu’, seribu bulan berarti 83 tahun lebih tanpa jeda — satu malam bisa mengalahkan umur panjang!


VI. Bekal Perjalanan: Amal dan Keikhlasan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Artinya:
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."


VII.  Humor 

Hadirin…

Kadang kita menyambut Ramadhan seperti menyambut tamu agung…
Hari pertama semangat!

Tarawih penuh.
Hari kedua masih depan.
Hari ketiga mulai geser.
Hari keempat sudah dekat sandal.
Hari kelima?
"Pak, titip absen ya…"

Ada juga yang sebelum Ramadhan rajin doa:
"Ya Allah, sampaikan aku ke Ramadhan…"
Begitu sampai Ramadhan:
"Ya Allah, kapan Lebaran?"

Ramadhan itu bukan ajang lomba siapa paling banyak menu buka puasa.
Kadang yang lebih sibuk bukan hati — tapi blender dan kompor!

Kalau setan dibelenggu tapi kita masih maksiat…
Berarti…
Setannya freelance dari dalam diri kita sendiri 😅


VIII. Refleksi Mendalam

Ramadhan adalah bengkel jiwa.
Ia mengasah hati yang tumpul.
Ia membakar karat dosa.
Ia memoles iman yang kusam.

Menurut Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, puasa memiliki tiga tingkatan:

  1. Puasa umum (menahan makan dan minum)
  2. Puasa khusus (menahan anggota badan dari dosa)
  3. Puasa khususul-khusus (menahan hati dari selain Allah)

IX. Penutup Menggetarkan

Bayangkan…
Jika ini Ramadhan terakhir kita?

Berapa banyak Ramadhan yang telah lewat?
Berapa banyak yang sungguh-sungguh kita hidupkan?

Jangan sampai kita menjadi orang yang disebut Nabi:

رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
(HR. Al-Tirmidhi)

Artinya:
"Celakalah seseorang yang masuk Ramadhan lalu berlalu sebelum diampuni dosanya."


🌙 KESIMPULAN BESAR

Ramadhan bukan sekadar bulan.
Ia adalah undangan Ilahi.
Ia adalah pelukan kasih sayang Allah.
Ia adalah kendaraan Ar-Rahman menuju surga.

Marhaban Ya Ramadhan…
Datanglah…
Asah jiwa kami…
Bersihkan hati kami…
Bakar dosa kami…
Dan antarkan kami menjadi hamba yang bertakwa.



Tidak ada komentar