Telaah Akademik: Analisis Fiqh Empat Mazhab tentang Puasa Ramadhan

📚 MARHABAN YĀ RAMADHĀN

Telaah Akademik: Analisis Fiqh Empat Mazhab tentang Puasa Ramadhan


I. Landasan Normatif Kewajiban Puasa

1️⃣ Dalil Al-Qur’an

📖 Surah Al-Baqarah Ayat 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Terjemahan:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa."

📖 Surah Al-Baqarah Ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ... فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Terjemahan:
"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an... Maka barangsiapa menyaksikan bulan itu hendaklah ia berpuasa."


2️⃣ Dalil As-Sunnah

Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ... وَصَوْمِ رَمَضَانَ
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Terjemahan:
"Islam dibangun di atas lima perkara... dan puasa Ramadhan."


II. Definisi Puasa Menurut Empat Mazhab

1️⃣ Mazhab Hanafi

Tokohnya: Abu Hanifa

Definisi:
Menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa sejak terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari dengan niat tertentu.

Dalam Al-Hidayah disebutkan bahwa hakikat puasa adalah الإمساك المخصوص.

Karakteristik Hanafi:

  • Niat boleh dilakukan sampai sebelum zawal (untuk puasa wajib tertentu seperti Ramadhan jika belum makan/minum).
  • Penekanan pada aspek waktu niat.

2️⃣ Mazhab Maliki

Tokohnya: Malik ibn Anas

Definisi:
Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan niat ibadah sejak malam hari.

Dalam Al-Mudawwanah al-Kubra dijelaskan: niat Ramadhan cukup sekali di awal bulan untuk seluruh bulan.

Karakteristik Maliki:

  • Satu niat mencakup satu bulan penuh (selama tidak terputus oleh safar atau uzur).
  • Memasukkan niat sebagai rukun esensial.

3️⃣ Mazhab Syafi’i

Tokohnya: Muhammad ibn Idris al-Shafi'i

Dalam Al-Umm, beliau menegaskan:

Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan jimak serta segala yang membatalkan, dengan niat setiap malam sebelum fajar.

Karakteristik Syafi’i:

  • Wajib niat setiap malam.
  • Jika lupa niat malam, puasa tidak sah (untuk wajib).
  • Sangat ketat dalam pembahasan niat (tabyit an-niyyah).

4️⃣ Mazhab Hanbali

Tokohnya: Ahmad ibn Hanbal

Dalam Al-Mughni karya Ibn Qudamah disebutkan:

Puasa Ramadhan wajib diniatkan setiap malam sebelum fajar.

Karakteristik Hanbali:

  • Sejalan dengan Syafi’i dalam kewajiban niat harian.
  • Lebih luas dalam pembahasan pembatal puasa.

III. Analisis Perbandingan: Niat Puasa

Mazhab Niat Harian Boleh Satu Bulan?
Hanafi Tidak harus tiap malam (boleh sebelum zawal) Tidak eksplisit satu bulan
Maliki Cukup sekali untuk sebulan Ya
Syafi’i Wajib tiap malam Tidak
Hanbali Wajib tiap malam Tidak

Dalil Hadis:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
(HR. Abu Dawud)

Syafi’iyah dan Hanabilah memahami hadis ini secara literal (wajib tabyit niat tiap malam).
Malikiyah memahaminya sebagai niat awal Ramadhan.


IV. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa (Ikhtilaf Mazhab)

1️⃣ Makan dan Minum Lupa

Hadis:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ
(HR. Muhammad al-Bukhari)

Semua mazhab sepakat:
Tidak batal jika lupa.


2️⃣ Suntikan & Obat

  • Hanafi & Hanbali klasik: yang masuk ke rongga tubuh membatalkan.
  • Syafi’i klasik: yang masuk melalui manfadz terbuka membatalkan.
  • Maliki: fokus pada makna تغذية (nutrisi).

Dalam fatwa kontemporer, mayoritas ulama modern membedakan suntikan nutrisi dan non-nutrisi.


V. Kaffarah Hubungan Suami-Istri di Siang Ramadhan

Hadis tentang seorang sahabat yang berjima’:

هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟ ...
(HR. Muhammad al-Bukhari)

Urutan kaffarah:

  1. Memerdekakan budak
  2. Puasa dua bulan berturut-turut
  3. Memberi makan 60 miskin

Empat mazhab sepakat wajib kaffarah berat untuk jimak sengaja.


VI. Tujuan Puasa Menurut Ulama Empat Mazhab

📖 Surah Al-Baqarah 183

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Menurut:

  • Al-Jassas: Taqwa adalah pengendalian syahwat.
  • Al-Qurtubi: Puasa melemahkan sumber dosa.
  • Al-Nawawi: Puasa mendidik muraqabah.
  • Ibn Taymiyyah: Puasa melahirkan kekuatan ruhiyah.

VII. Dimensi Spiritual dalam Perspektif Tasawuf Fiqhi

Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa:

  1. Puasa awam
  2. Puasa khawash
  3. Puasa khawashul khawash

Beliau mengharmonikan fiqh zahir dan batin.


VIII. Kesimpulan Akademik

  1. Kewajiban puasa bersifat qath’i (pasti) berdasarkan Qur’an dan Sunnah.
  2. Perbedaan mazhab terletak pada:
    • Teknis niat
    • Detail pembatal
    • Interpretasi hadis
  3. Ikhtilaf adalah rahmat dan menunjukkan keluasan syariat.
  4. Substansi utama: mencapai taqwa.

Penutup Ilmiah

Ramadhan bukan hanya kewajiban legal-formal, tetapi proyek transformasi ruhani.

Empat mazhab mengajarkan bahwa syariat memiliki struktur hukum yang kokoh, namun tetap memberi ruang keluasan dan rahmat.

Marhaban ya Ramadhan
Datanglah sebagai madrasah taqwa,
Datanglah sebagai laboratorium pengendalian diri,
Datanglah sebagai jalan menuju maqam ihsan.



Tidak ada komentar