Ketika Suami Bersumpah Menjauhi Istrinya


Ketika Suami Bersumpah Menjauhi Istrinya

Tafsir QS Al-Baqarah 226–227


1. Pembukaan: Realitas Rumah Tangga Manusia

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… 🤲

Tidak ada rumah tangga yang selalu tenang tanpa ujian.

Dalam kehidupan suami istri pasti ada:

perbedaan pendapat
pertengkaran
kekecewaan
dan emosi yang kadang meluap.

Namun Islam tidak membiarkan manusia tenggelam dalam emosi.

Islam memberikan aturan yang menjaga keadilan dan kehormatan kedua belah pihak.

Allah berfirman:

لِّلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِن نِّسَائِهِمْ

“Bagi orang-orang yang bersumpah untuk menjauhi istri mereka…”

(QS Al-Baqarah:226)


2. Apa Itu Ila’?

Saudara-saudaraku…

dalam masyarakat Arab dahulu, ada kebiasaan ketika suami marah kepada istrinya.

Ia berkata:

“Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu lagi.”

Atau:

“Aku bersumpah tidak akan hidup sebagai suamimu.”

Sumpah seperti ini disebut ila’.

Sumpah yang membuat seorang istri terkatung-katung.

Ia tidak diperlakukan sebagai istri…

namun juga tidak dicerai.


3. Kezaliman yang Terjadi pada Masa Jahiliyah

Pada masa sebelum Islam, seorang wanita bisa hidup bertahun-tahun dalam keadaan seperti itu.

Suaminya tidak mendekatinya.

Namun juga tidak menceraikannya.

Akibatnya ia hidup dalam penderitaan.

Tidak memiliki suami.

Namun juga tidak bebas untuk membangun kehidupan baru.


4. Keadilan Islam yang Luar Biasa

Kemudian Islam datang membawa keadilan.

Allah menetapkan batas waktu yang sangat jelas.

Allah berfirman:

تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ

“Masa menunggu itu adalah empat bulan.”

Empat bulan.

Tidak lebih.

Tidak kurang.


5. Hikmah Batas Empat Bulan

Mengapa empat bulan?

Karena Islam memahami bahwa manusia bisa marah.

Manusia bisa terluka.

Manusia bisa membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Namun emosi tidak boleh dibiarkan menghancurkan kehidupan orang lain.

Empat bulan adalah waktu untuk berpikir.

Waktu untuk menenangkan hati.

Waktu untuk memperbaiki hubungan.


6. Pilihan Pertama: Kembali kepada Keluarga

Allah berfirman:

فَإِن فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Jika mereka kembali, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jika setelah masa itu suami menyadari kesalahannya…

lalu kembali kepada istrinya…

maka Allah membuka pintu ampunan.

Betapa indahnya Islam.

Ia selalu membuka pintu rekonsiliasi.


7. Pilihan Kedua: Berpisah dengan Baik

Namun jika suami tetap ingin berpisah…

Allah berfirman:

وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ
فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Jika mereka bertekad untuk bercerai, maka Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Artinya perceraian bukan dosa jika dilakukan dengan cara yang benar.

Namun perceraian harus dilakukan dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Bukan dengan menyiksa pasangan dalam ketidakpastian.


8. Pelajaran Besar bagi Para Suami

Saudara-saudaraku…

ayat ini adalah peringatan besar bagi para suami.

Seorang suami tidak boleh mempermainkan perasaan istrinya.

Tidak boleh menggunakan sumpah atau emosi untuk menekan atau menyiksa pasangan.

Karena rumah tangga bukan tempat ego.

Rumah tangga adalah tempat aman bagi dua jiwa yang saling melindungi.


9. Rahasia Keutuhan Rumah Tangga

Rumah tangga bisa bertahan bukan karena tidak ada konflik.

Namun karena ada:

kesabaran
kerendahan hati
kemauan untuk memaafkan.

Dan yang paling penting…

takut kepada Allah dalam memperlakukan pasangan.


10. Penutup 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Islam sangat menjaga kehormatan perempuan.

Islam juga mengingatkan laki-laki tentang tanggung jawab mereka.

Karena seorang suami kelak akan ditanya oleh Allah:

bagaimana ia memperlakukan istrinya.

Dan rumah tangga yang dibangun dengan keadilan dan kasih sayang…

akan menjadi jalan menuju surga.


Doa 

Ya Allah…

perbaiki hubungan di antara suami dan istri kami.

Ya Allah…

hilangkan kemarahan dan kesombongan dari hati kami.

Ya Allah…

jadikan rumah tangga kami rumah tangga yang penuh kasih sayang dan keberkahan.

Dan kumpulkan kami bersama keluarga kami di surga-Mu.

آمين يا رب العالمين 🤲



Tidak ada komentar