Ketika Ulama Yahudi Mengenali Nabi Terakhir… Tetapi Hati Mereka Menolak
“Ketika Ulama Yahudi Mengenali Nabi Terakhir… Tetapi Hati Mereka Menolak”
Pembukaan
Alhamdulillāh…
Segala puji bagi Allah yang menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para nabi-Nya.
Shalawat dan salam kepada Nabi terakhir, Nabi yang telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu.
Allah berfirman:
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”
(QS. Al-Baqarah: 146)
Ayat ini mengguncang hati…
Bagaimana mungkin seseorang mengenali kebenaran sejelas mengenali anaknya, tetapi tetap menolaknya?
Inilah tragedi hati manusia.
Adegan Dramatis
Bayangkan suasana Madinah sebelum hijrah Nabi.
Di rumah-rumah batu kaum Yahudi…
Di sinagoga mereka…
Para rabbi dan ulama Taurat sedang membaca kitab mereka.
Lampu minyak menyala redup.
Kitab Taurat terbuka.
Seorang ulama tua berkata dengan suara berat:
Rabbi pertama:
“Waktunya sudah dekat…”
Ulama lain menoleh.
Rabbi kedua:
“Apa maksudmu?”
Rabbi pertama membuka lembar Taurat dan membaca.
“Akan datang seorang nabi dari saudara-saudara Bani Israil…”
Dia berhenti.
Lalu berkata perlahan:
“Tanda-tandanya sudah muncul…”
Dialog Para Ulama Yahudi
Seorang murid bertanya:
Murid:
“Wahai guru… dari mana nabi itu akan muncul?”
Rabbi menjawab:
“Dari tanah Arab.”
Murid lain bertanya:
“Apakah dia dari Bani Israil?”
Rabbi menggeleng.
“Tidak… dari keturunan Ismail.”
Suasana menjadi hening.
Seorang rabbi lain berkata dengan suara gelisah:
“Jika dia muncul… apakah kita harus mengikutinya?”
Rabbi tua menjawab dengan tegas:
“Ya… karena Taurat memerintahkan kita mengikuti nabi terakhir.”
Tetapi tiba-tiba seorang rabbi lain berkata dengan nada marah:
“Bagaimana mungkin kita mengikuti nabi dari bangsa Arab?!”
Dia membanting kitab.
“Kenabian seharusnya tetap pada Bani Israil!”
Ketika Nabi Muhammad ﷺ Datang
Tahun-tahun berlalu.
Di Makkah lahirlah seorang anak yatim.
Muhammad ﷺ.
Berita tentangnya sampai ke Madinah.
Para rabbi kembali berkumpul.
Seorang rabbi berkata:
“Dia sudah muncul…”
Semua terdiam.
Seorang murid bertanya dengan gemetar:
“Apakah tanda-tandanya sama dengan yang ada dalam Taurat?”
Rabbi menjawab:
“Ya…”
Dia menyebutkan satu per satu:
- Nabi dari tanah Arab
- Tidak bisa membaca dan menulis
- Akan hijrah ke kota dengan pohon kurma
- Di antara bahunya ada tanda kenabian
Semua cocok.
Semua sama.
Dialog Ketika Mereka Bertemu Nabi
Dikisahkan sebagian ulama Yahudi diam-diam datang melihat Nabi.
Mereka memperhatikan wajah beliau.
Seorang rabbi berkata pelan:
“Demi Allah… ini bukan wajah pendusta.”
Rabbi lain berbisik:
“Aku mengenalnya… sebagaimana aku mengenal anakku sendiri.”
Tetapi kemudian suara lain muncul.
Suara kesombongan.
“Jika kita mengikuti dia… bangsa Arab akan memimpin kita.”
“Kita akan kehilangan kedudukan.”
“Kita akan kehilangan kekuasaan.”
Maka hati mereka memilih kedudukan daripada kebenaran.
Tragedi Hati Manusia
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Masalah mereka bukan tidak tahu.
Masalah mereka adalah tidak mau tunduk.
Inilah penyakit hati yang paling berbahaya:
Bukan kebodohan.
Tetapi kesombongan terhadap kebenaran.
Analogi Kehidupan Modern
Saudaraku…
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Bani Israil.
Ini juga bisa terjadi pada kita.
Ada orang yang tahu:
- shalat itu wajib
- riba itu haram
- ghibah itu dosa
- aurat harus dijaga
Dia tahu semuanya.
Tetapi dia berkata dalam hatinya:
“Nanti saja…”
“Belum siap…”
“Masih muda…”
Padahal hati kecilnya tahu:
Ini kebenaran.
Pesan Keras Ceramah
Hari ini banyak orang tahu Islam itu benar.
Tetapi hawa nafsu berkata:
- “Karier dulu.”
- “Uang dulu.”
- “Dunia dulu.”
Sama seperti rabbi-rabbi yang berkata:
“Kita tahu dia nabi…
tapi kita tidak akan mengikutinya.”
Na’udzubillah.
Puncak Emosi
Bayangkan…
Jika para rabbi itu beriman…
Mereka akan menjadi sahabat Nabi.
Mereka akan masuk surga bersama Rasulullah.
Tetapi mereka menolak…
Karena kesombongan hati.
Munajat
Mari kita tundukkan kepala…
Bayangkan kita berdiri di hadapan Allah…
Ya Allah…
Kami sering mengetahui kebenaran
tetapi kami menunda melakukannya.
Ya Allah…
Kami tahu shalat itu wajib
tetapi kami sering menundanya.
Kami tahu dosa itu haram
tetapi kami tetap melakukannya.
Ya Allah…
Jangan jadikan kami seperti kaum yang
mengenal nabi mereka
tetapi menolaknya karena kesombongan.
Ya Allah…
Jika hati kami keras
lembutkanlah.
Jika hati kami sombong
hancurkanlah kesombongan itu.
Jika hati kami jauh
dekatkanlah kepada-Mu.
Ya Allah…
Sebelum datang hari
ketika penyesalan tidak lagi berguna.
Ampuni kami ya Rabb…
Ampuni dosa kami…
Ampuni kelalaian kami…
Ampuni hati kami yang sering memilih dunia
daripada kebenaran-Mu.
Ya Allah…
Jadikan kami hamba yang tunduk kepada kebenaran
meskipun berat bagi hawa nafsu kami.
Ya Allah…
Jangan Engkau cabut iman dari hati kami
ketika kami mati.
Masukkan kami ke dalam surga bersama Nabi-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Post a Comment