Hati yang Terkunci karena Lalai dari Allah
Ceramah: Hati yang Terkunci karena Lalai dari Allah
Mukadimah
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْقُلُوْبَ مَحَلَّ الْإِيْمَانِ وَالْهُدَى، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ عَيْنٍ لَا تَدْمَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Amma ba’du.
Jamaah rahimakumullah…
Mari kita bersyukur kepada Allah atas nikmat iman dan hidayah. Karena hati manusia bisa berubah. Hari ini lembut, besok keras. Hari ini dekat dengan Allah, besok lalai karena dosa dan cinta dunia.
Ayat Pokok Ceramah
Al-Qur’an Surah An-Naḥl Ayat 108
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَاَبْصَارِهِمْۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
Artinya:
“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci oleh Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang lalai.”
(QS. An-Naḥl: 108)
1. Hati Bisa Terkunci Karena Dosa dan Kekufuran
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Ayat ini menjelaskan bahaya terbesar dalam hidup: bukan miskin harta… tetapi hati yang terkunci dari hidayah.
Orang yang hatinya terkunci:
- mendengar ayat tetapi tidak tersentuh,
- melihat kebesaran Allah tetapi tidak sadar,
- dinasihati tetapi marah,
- diingatkan malah menghina.
Dalil Al-Qur’an
Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 7
خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ
Artinya:
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka tertutup.”
(QS. Al-Baqarah: 7)
Penjelasan Ulama
Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir: Penutupan hati terjadi karena mereka terus-menerus menolak kebenaran hingga akhirnya hati mereka tidak mampu menerima petunjuk.
Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka sendiri yang memilih jalan kesesatan sehingga Allah membiarkan hati mereka tertutup.
Humor
Kadang manusia sekarang aneh…
Kalau HP error: langsung dibawa ke service center.
Kalau motor bunyi sedikit: langsung ke bengkel.
Tapi kalau hati error:
- shalat malas,
- Qur’an tidak dibaca,
- maksiat tiap hari…
Malah bilang: “Kayaknya saya baik-baik saja.”
(beri jeda jamaah tertawa)
Padahal hati lebih penting daripada baterai HP.
HP lowbat masih bisa dicas… kalau iman lowbat? Belum tentu sadar.
2. Lalai adalah Penyakit Berbahaya
Jamaah rahimakumullah…
Allah menyebut mereka:
وَأُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Lalai artinya: hidup tanpa mengingat Allah.
- makan lupa bersyukur,
- sehat lupa ibadah,
- kaya lupa sedekah,
- muda lupa kematian.
Dalil Al-Qur’an
Al-Qur’an Surah Al-Hashr Ayat 19
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْ
Artinya:
“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Hashr: 19)
Penjelasan
Kalau manusia lupa Allah: akhirnya lupa tujuan hidup.
Hidup hanya:
- kerja,
- makan,
- tidur,
- scrolling,
- lalu mati.
Tidak pernah memikirkan akhirat.
Hadis Tentang Hati yang Lalai
HR. Tirmidzi
لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ
Artinya:
“Jangan terlalu banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena banyak bicara tanpa zikir membuat hati menjadi keras.”
(HR. Jami At-Tirmidzi)
Humor
Sekarang banyak orang: hafal lirik lagu 200 bait…
Tetapi surat Al-Ikhlas kadang masih terbata-bata.
Kalau dengar notifikasi HP: langsung respon cepat.
Tetapi kalau dengar adzan: “Sebentar lagi…”
Padahal malaikat pencatat amal: tidak pernah bilang “sebentar lagi.”
3. Dosa yang Terus Dilakukan Akan Menghitamkan Hati
Al-Qur’an Surah Al-Muthaffifin Ayat 14
كَلَّا بَلْۜ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya:
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Hadis Nabi ﷺ
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِيْ قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
Artinya:
“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, maka muncul titik hitam di dalam hatinya.”
(HR. Jami At-Tirmidzi)
Penjelasan Ulama
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan: Dosa yang terus dilakukan tanpa taubat akan menjadikan hati keras seperti batu.
Akibatnya:
- sulit menangis,
- sulit khusyuk,
- sulit menerima nasihat.
4. Cara Membuka Hati yang Terkunci
a. Banyak membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an Surah Az-Zumar Ayat 23
اللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ
Artinya:
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu Al-Qur’an).”
(QS. Az-Zumar: 23)
b. Banyak zikir dan istighfar
Hadis Nabi ﷺ
إِنِّيْ لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً
Artinya:
“Sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 70 kali sehari.”
(HR. Sahih Bukhari)
c. Berkumpul dengan orang saleh
Karena hati mudah terpengaruh lingkungan.
Humor
Ada orang: kalau kaca mobil kotor langsung dicuci.
Tetapi hati penuh iri, sombong, dan dengki… tidak pernah dibersihkan.
Ada juga: rajin update status: “Self healing.”
Padahal yang paling butuh healing itu: hatinya yang jauh dari Allah.
Pesan Inti Ceramah
1. Hati bisa terkunci karena dosa dan kekufuran
2. Lalai dari Allah adalah awal kehancuran
3. Dosa yang terus dilakukan mengeraskan hati
4. Obat hati adalah Al-Qur’an, zikir, dan taubat
Jangan tunggu hati benar-benar keras baru mencari Allah.
Karena belum tentu kita diberi waktu.
Doa
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ قُلُوْبَنَا قَاسِيَةً وَلَا مَخْتُوْمًا عَلَيْهَا.
اللّٰهُمَّ نَوِّرْ قُلُوْبَنَا بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالْإِيْمَانِ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ وَالْغَفْلَةِ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الَّذِيْنَ تَلِيْنُ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِكَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Post a Comment