Istri Nabi Pun Tidak Selamat Bila Menentang Allah

Materi Ceramah Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ḥijr Ayat 60

“Istri Nabi Pun Tidak Selamat Bila Menentang Allah”

Pembukaan

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

أما بعد...

Jamaah yang dimuliakan Allah…
Ayat ini sangat mengguncang hati. Karena ternyata… menjadi keluarga nabi tidak otomatis masuk surga. Yang menyelamatkan bukan nasab, bukan kedekatan keluarga, bukan titel, tapi iman dan ketaatan kepada Allah.

Hari ini banyak orang merasa aman karena:

  • “Saya anak kyai.”
  • “Saya cucu ustaz.”
  • “Saya keturunan orang saleh.”
  • “Saya sering ikut pengajian.”

Padahal istri Nabi Luth saja tidak selamat ketika membangkang kepada Allah.

Ayat yang Dibahas

Al-Qur’an Surah Al-Ḥijr Ayat 60

اِلَّا امْرَاَتَهٗ قَدَّرْنَآ اِنَّهَا لَمِنَ الْغٰبِرِيْنَ

Artinya:
“kecuali istrinya, kami telah menentukan bahwa dia termasuk orang yang tertinggal (bersama orang-orang kafir lainnya).”


1. Istri Nabi Luth Tidak Selamat Karena Memihak Orang Durhaka

Para malaikat menjelaskan kepada Nabi Ibrahim bahwa keluarga Nabi Luth akan diselamatkan… kecuali istrinya.

Kenapa?

Karena hatinya berpihak kepada kaum maksiat.

Dalil Pendukung

Al-Qur’an Surah At-Taḥrīm Ayat 10

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Artinya:
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada keduanya, maka kedua nabi itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun dari azab Allah. Dan dikatakan kepada keduanya: ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.’”


Penjelasan Ulama

Imam Ibnu Katsir

dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan:

Pengkhianatan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth bukan zina, tetapi pengkhianatan dalam agama dan dakwah.

Istri Nabi Luth membantu kaum pendosa dengan memberi tahu kedatangan tamu laki-laki tampan kepada kaumnya.

Imam Al-Qurthubi

dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan:

Ayat ini adalah dalil bahwa hubungan keluarga tidak berguna tanpa iman.


2. Jangan Bergantung Pada Keluarga Saleh

Jamaah…

Kadang ada orang santai maksiat karena merasa: “Tenang… bapak saya rajin tahajud.”

Lho… itu pahala bapaknya, bukan transfer kuota pahala keluarga!

Kalau pahala bisa diwariskan otomatis… mungkin ada yang bilang:

“Ya Allah, saya memang jarang shalat… tapi kakek saya pengurus masjid…”

Malaikat jawab:

“Masjidnya iya… kamu mah pengurus warung kopi!” 😄


Dalil: Tiap Orang Memikul Dosanya Sendiri

Al-Qur’an Surah Al-An‘ām Ayat 164

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى

Artinya:
“Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.”


Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، سَلِينِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتِ، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Artinya:
“Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah hartaku sesukamu, tetapi aku tidak dapat menyelamatkanmu dari azab Allah sedikit pun.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Pelajaran Besar

Kalau putri Nabi Muhammad ﷺ saja diperingatkan… apalagi kita yang foto profil WA saja kadang masih pakai filter kucing 😄


3. Bahaya Mendukung Kemaksiatan

Istri Nabi Luth tidak ikut berbuat keji secara langsung… tetapi dia ridha dan membantu pelaku maksiat.

Ini pelajaran penting.

Hari ini banyak orang berkata:

  • “Saya sih nggak ikut maksiat…”
  • “Saya cuma upload aja…”
  • “Saya cuma promosiin…”
  • “Saya cuma nonton…”

Padahal mendukung kemaksiatan juga dosa.

Dalil Al-Qur’an

Surah Al-Mā’idah Ayat 2

وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya:
“Dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”


Ulasan Ulama

Imam An-Nawawi

dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

Ridha terhadap kemaksiatan termasuk dosa walaupun tidak melakukannya secara langsung.


4. Jangan Putus Asa Bila Keluarga Kita Belum Baik

Ayat ini juga memberi pelajaran lain:

Nabi saja diuji dengan pasangan yang tidak taat.

Maka jangan langsung putus asa bila:

  • suami belum berubah,
  • istri belum hijrah,
  • anak masih sulit diatur.

Tugas kita:

  • mendoakan,
  • menasihati,
  • memberi contoh baik,
  • sabar dalam dakwah keluarga.

Hadis Nabi ﷺ

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Humor Segar Pengajian 😄

Ada suami berkata:

“Ustaz… istri saya susah diajak ngaji.”

Saya tanya:

“Bapak ngajaknya gimana?”

Dia jawab:

“Saya bilang: ‘Ngaji yuk!’”

“Lalu?”

“Pas istri ngaji… saya malah nonton bola…”

Ya pantes… 😄
Istri mikir:

“Ini ngajak ke surga apa ngajak jadi panitia pengajian?” 😄


5. Kesimpulan Ceramah

Pelajaran dari Surah Al-Ḥijr Ayat 60

1. Kedekatan dengan orang saleh tidak otomatis menyelamatkan

Istri nabi pun bisa celaka bila menolak kebenaran.

2. Yang menyelamatkan adalah iman dan amal saleh

Bukan keturunan, jabatan, atau status keluarga.

3. Jangan mendukung kemaksiatan

Walau hanya dengan hati, media, atau komentar.

4. Tetap berdakwah kepada keluarga

Karena hidayah milik Allah.

5. Jangan pernah merasa aman dari azab Allah

Dan jangan pula putus asa dari rahmat-Nya.


Penutup Menyentuh

Jamaah…

Nabi Luth sedih melihat istrinya memilih jalan kebinasaan.

Maka malam ini mari kita berdoa:

“Ya Allah… selamatkan kami dan keluarga kami dari api neraka. Jadikan rumah kami rumah yang penuh iman, dzikir, dan kasih sayang.”

Doa

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa.”

(QS. Al-Furqan: 74)


Referensi Kitab

  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Tafsir Al-Qurthubi
  3. Shahih Al-Bukhari
  4. Shahih Muslim
  5. Syarah Shahih Muslim

Tidak ada komentar