Makanan Haram, Keadaan Darurat, dan Kaidah Kemudahan dalam Syariat

Kajian Fiqih Surah An-Naḥl Ayat 115

Tema: Makanan Haram, Keadaan Darurat, dan Kaidah Kemudahan dalam Syariat

Teks Ayat

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Terjemah

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa, bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(QS. An-Naḥl: 115)


Pendahuluan

Ayat ini merupakan salah satu landasan utama dalam fikih makanan dan minuman. Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil pokok tentang:

  1. Jenis makanan yang haram.
  2. Keharusan menjaga tauhid dalam penyembelihan.
  3. Kaidah darurat dalam syariat Islam.
  4. Kemudahan (التيسير) yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

Tafsir Ulama

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan:

"Allah menyebutkan pokok-pokok makanan yang diharamkan dan menjelaskan keluasan rahmat-Nya dengan memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang berada dalam keadaan darurat."


Fikih Pertama: Hukum Bangkai (الميتة)

Dalil Al-Qur'an

Surah Al-Mā'idah Ayat 3

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ

Terjemah

"Diharamkan bagimu bangkai, darah dan daging babi."

(QS. Al-Mā'idah: 3)


Pengertian Bangkai

Menurut para fuqaha:

الميتة هي كل حيوان مات بغير ذكاة شرعية

"Bangkai adalah setiap hewan yang mati tanpa penyembelihan syar'i."

Contoh Bangkai

  • Mati karena sakit
  • Mati karena tua
  • Mati tercekik
  • Mati dipukul
  • Mati jatuh
  • Mati ditanduk
  • Mati diterkam binatang buas

Pengecualian Bangkai yang Halal

Hadis Nabi ﷺ

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ

Terjemah

"Dihalalkan bagi kita dua bangkai, yaitu ikan dan belalang."

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


Penjelasan Ulama

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan:

Seluruh ulama sepakat bahwa bangkai ikan halal dimakan walaupun ditemukan telah mati di laut.


Fikih Kedua: Hukum Darah

Dalil Al-Qur'an

Surah Al-An'am Ayat 145

اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا

Terjemah

"Atau darah yang mengalir."

(QS. Al-An'am: 145)


Jenis Darah yang Haram

Mayoritas ulama berpendapat:

Yang haram adalah:

الدم المسفوح

"Darah yang mengalir keluar."

Contoh:

  • Darah sembelihan
  • Darah hewan hidup

Darah yang Halal

Hadis Nabi ﷺ

أُحِلَّتْ لَنَا دَمَانِ الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Terjemah

"Dihalalkan bagi kita dua darah, yaitu hati dan limpa."

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


Pendapat Ulama

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan:

Hati dan limpa halal berdasarkan ijma' para ulama.


Fikih Ketiga: Hukum Daging Babi

Dalil Al-Qur'an

وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ

Terjemah

"Dan daging babi."

(QS. An-Naḥl: 115)


Apakah Hanya Dagingnya?

Para ulama menjelaskan:

Tidak hanya daging.

Meliputi:

  • Lemak
  • Tulang
  • Kulit
  • Organ dalam
  • Turunan dan olahannya

Penjelasan Ulama

Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an menjelaskan:

Penyebutan daging dalam ayat merupakan kebiasaan bahasa Arab, sedangkan seluruh bagian babi haram menurut ijma' ulama.


Fikih Keempat: Larangan Menyembelih untuk Selain Allah

Dalil Al-Qur'an

وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ

Terjemah

"Dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah."

(QS. An-Naḥl: 115)


Makna Ayat

Termasuk:

  • Untuk berhala
  • Untuk dewa
  • Untuk jin
  • Untuk sesajen
  • Untuk ritual syirik

Hadis Nabi ﷺ

لَعَنَ اللّٰهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللّٰهِ

Terjemah

"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah."

(HR. Sahih Muslim)


Penjelasan Ulama

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

Apabila seseorang menyembelih sebagai bentuk ibadah dan pengagungan kepada selain Allah, maka hal itu termasuk syirik besar.


Fikih Kelima: Kaidah Darurat dalam Islam

Ayat ini mengandung salah satu kaidah fikih terbesar:

الضَّرُورَاتُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ

"Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang."


Dalil Al-Qur'an

فَمَنِ اضْطُرَّ

"Barang siapa dalam keadaan terpaksa."

(QS. An-Naḥl: 115)


Contoh Darurat

Misalnya:

  • Tersesat di hutan
  • Tidak ada makanan selain yang haram
  • Jika tidak makan akan meninggal

Dalam kondisi seperti ini diperbolehkan memakan yang haram sekadar menyelamatkan jiwa.


Syarat Darurat

1. Benar-benar darurat

Bukan sekadar ingin atau penasaran.

2. Tidak mencari-cari alasan

Allah berfirman:

غَيْرَ بَاغٍ

"Bukan karena menginginkannya."

3. Tidak berlebihan

Allah berfirman:

وَلَا عَادٍ

"Dan tidak melampaui batas."


Kaidah Fikih

ما أبيح للضرورة يقدر بقدرها

"Sesuatu yang dibolehkan karena darurat hanya boleh sesuai kadar kebutuhan."

Kitab rujukan:

  • Al-Asybah wan Nazhair karya Jalaluddin As-Suyuthi

Hikmah Pengharaman

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah:

1. Menjaga agama (حفظ الدين)

Menjauhkan manusia dari syirik.

2. Menjaga jiwa (حفظ النفس)

Melindungi kesehatan manusia.

3. Menjaga akal (حفظ العقل)

Mencegah kerusakan fisik dan mental.

4. Menjaga keturunan (حفظ النسل)

Menjaga kualitas generasi.

5. Menjaga kehormatan syariat

Agar umat tunduk kepada hukum Allah.


Kesimpulan Fikih Ayat 115

  1. Bangkai pada asalnya haram, kecuali ikan dan belalang.
  2. Darah yang mengalir haram, sedangkan hati dan limpa halal.
  3. Seluruh bagian babi haram dikonsumsi.
  4. Menyembelih untuk selain Allah termasuk dosa besar dan dapat menjadi syirik jika diniatkan sebagai ibadah.
  5. Dalam keadaan darurat, makanan haram boleh dikonsumsi sekadar untuk menyelamatkan jiwa.
  6. Ayat ini menjadi dasar kaidah fikih:

الضَّرُورَاتُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ

"Keadaan darurat membolehkan yang terlarang."

  1. Syariat Islam memadukan ketegasan hukum dengan kasih sayang dan kemudahan, sebagaimana penutup ayat:

فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.

Tidak ada komentar