Bahaya Kesombongan dan Keutamaan Tawadhu': Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah"

Materi Ceramah

Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 37

"Bahaya Kesombongan dan Keutamaan Tawadhu': Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah"

Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah kesombongan (الكِبْر). Kesombongan adalah sifat pertama yang menyebabkan makhluk durhaka kepada Allah, yaitu ketika Iblis menolak sujud kepada Nabi Adam `alaihis salam. Karena itu, Al-Qur'an dan Sunnah memberikan peringatan keras agar seorang mukmin menjauhi sikap angkuh dan menghiasi dirinya dengan tawadhu' (rendah hati).

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Isrā' ayat 37:


Dalil Utama

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 37

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Artinya:

"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."


Tafsir Ayat

Allah melarang manusia:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا

"Jangan berjalan di bumi dengan penuh kesombongan."

Kata مَرَحًا menunjukkan sikap angkuh, membanggakan diri, merasa lebih tinggi daripada orang lain, dan memperlihatkan kesombongan dalam gaya berjalan, perkataan, penampilan, maupun perilaku.

Kemudian Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah:

إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ

"Engkau tidak akan mampu membelah bumi."

Dan:

وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

"Engkau tidak akan mampu menyamai tinggi gunung."

Maksudnya, sebesar apa pun manusia menyombongkan diri, ia tetap makhluk yang lemah. Langkahnya tidak mampu menembus bumi dan tubuhnya tidak akan pernah lebih tinggi daripada gunung.


Penjelasan Para Ulama

1. Imam Ath-Ṭabari

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini melarang setiap bentuk kesombongan dalam ucapan, penampilan, maupun perbuatan. Allah mengingatkan manusia agar menyadari kelemahan dirinya.

Rujukan: Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān.


2. Imam Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini merupakan larangan berlaku angkuh sebagaimana kebiasaan orang-orang zalim. Allah mengingatkan bahwa manusia tetaplah makhluk kecil dibandingkan ciptaan-Nya.

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.


3. Imam Al-Qurṭubi

Beliau menjelaskan bahwa kesombongan dapat tampak dalam cara berjalan, berpakaian, berbicara, maupun memperlakukan orang lain. Semua bentuk takabur tercela menurut syariat.

Rujukan: Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān.


Dalil Al-Qur'an Tentang Tawadhu'

1. Surah Luqmān Ayat 18

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya:

"Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."


2. Surah Al-Furqān Ayat 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

Artinya:

"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati."

Pelajaran

Salah satu ciri 'Ibādur-Raḥmān adalah tawadhu', bukan kesombongan.


3. Surah An-Naḥl Ayat 23

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri."


Hadis-Hadis Rasulullah ﷺ

1. Kesombongan Menghalangi Masuk Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi."

Lalu seseorang bertanya:

"Sesungguhnya seseorang senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus."

Beliau menjawab:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya:

"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia."

HR. Muslim no. 91.

Penjelasan

Hadis ini menjelaskan bahwa berpakaian rapi dan indah bukanlah kesombongan. Yang disebut sombong adalah:

  • menolak kebenaran setelah mengetahuinya;
  • meremehkan atau menghina orang lain.

2. Tawadhu' Mengangkat Derajat

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya:

"Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya."

HR. Muslim no. 2588.

Hikmah

Kemuliaan sejati bukan karena jabatan, harta, atau keturunan, tetapi karena tawadhu' di hadapan Allah dan sesama manusia.


3. Ancaman bagi Orang yang Sombong

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ

Artinya:

"Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Mereka diliputi kehinaan dari segala penjuru."

HR. At-Tirmidzi no. 2492; dinilai hasan.


Kisah Iblis: Awal Mula Kesombongan

Allah ﷻ berfirman:

أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya:

"Ia (Iblis) enggan dan menyombongkan diri, lalu ia termasuk golongan orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34)

Iblis berkata:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

"Aku lebih baik daripada dia." (QS. Al-A'rāf: 12)

Ucapan inilah yang menjadi asal kesombongan: merasa lebih baik daripada orang lain karena asal-usul, ilmu, harta, kedudukan, atau ibadahnya.


Ulasan Para Ulama

Imam An-Nawawi

Beliau menjelaskan bahwa definisi kesombongan telah dijelaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia, bukan sekadar memakai pakaian yang bagus.

Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.


Imam Ibn Rajab Al-Ḥanbali

Beliau menerangkan bahwa tawadhu' lahir dari pengenalan seorang hamba terhadap kebesaran Allah dan kelemahan dirinya. Semakin mengenal Allah, semakin rendah hati seseorang.

Rujukan: Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam.


Imam Ibnul Qayyim

Beliau menjelaskan bahwa kesombongan merupakan penyakit hati yang menghalangi seseorang menerima nasihat, bertobat, dan memperoleh hidayah.

Rujukan: Madārij as-Sālikīn.


Imam As-Sa'di

Beliau menafsirkan bahwa ayat ini mendidik manusia agar bersikap sederhana dalam berjalan, berbicara, dan bergaul. Tawadhu' adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh.

Rujukan: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān.


Bentuk Kesombongan di Zaman Sekarang

Kesombongan tidak hanya tampak dalam cara berjalan, tetapi juga dalam berbagai perilaku, seperti:

  • merasa paling benar dan menolak nasihat;
  • meremehkan orang miskin atau yang kurang berpendidikan;
  • membanggakan jabatan, kekayaan, keturunan, atau gelar;
  • memamerkan harta agar dipuji;
  • menghina orang lain di media sosial;
  • enggan meminta maaf karena merasa lebih tinggi.

Cara Menumbuhkan Tawadhu'

  1. Mengingat bahwa kita berasal dari setetes air yang hina dan akan kembali menjadi tanah.
  2. Menyadari semua nikmat berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil usaha sendiri.
  3. Menerima nasihat dan kritik dengan lapang dada.
  4. Menghormati semua orang tanpa memandang status sosial.
  5. Meneladani akhlak Rasulullah ﷺ yang tetap rendah hati meskipun beliau adalah manusia terbaik.

Hikmah Ayat

  1. Kesombongan merupakan dosa yang sangat dibenci Allah.
  2. Manusia tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri karena hakikatnya lemah.
  3. Tawadhu' adalah ciri orang beriman dan hamba Allah yang dicintai-Nya.
  4. Keindahan lahir boleh dimiliki, tetapi hati harus tetap rendah.
  5. Kemuliaan sejati diperoleh dengan ketakwaan, bukan dengan kesombongan.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Isrā' ayat 37 mengingatkan bahwa manusia tidak layak menyombongkan diri. Sebesar apa pun kekuatan, kekayaan, ilmu, atau kedudukannya, ia tetap hamba yang lemah di hadapan Allah. Orang yang rendah hati akan dicintai manusia dan dimuliakan Allah, sedangkan kesombongan hanya akan mendatangkan kehinaan di dunia dan akhirat.

Marilah kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari penyakit hati yang berbahaya ini dan dihiasi dengan akhlak tawadhu' sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَزَيِّنَّا بِالتَّوَاضُعِ وَالْإِخْلَاصِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Tidak ada komentar