Hanya Allah Yang Mampu Menghilangkan Bahaya
Materi Ceramah
Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 56
"Hanya Allah Yang Mampu Menghilangkan Bahaya"
Khutbatul Hājah
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد،
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal terbaik menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Isrā' ayat 56, yang mengajarkan tentang kemurnian tauhid dan bahwa hanya Allah semata yang mampu menghilangkan segala kesulitan dan musibah.
Dalil Utama
Firman Allah ﷻ
Surah Al-Isrā' Ayat 56
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا
Artinya:
"Katakanlah (Muhammad), 'Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah. Mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.'"
(QS. Al-Isrā': 56)
Asbābun Nuzūl
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa sebagian orang Arab menyembah jin. Kemudian jin yang mereka sembah itu masuk Islam dan beribadah kepada Allah, sedangkan para penyembahnya tetap menyembah mereka. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai bantahan terhadap keyakinan mereka.
Rujukan:
- Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir Al-Qur'an.
- Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-Isrā': 56.
Kandungan Ayat
Ayat ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Larangan menyembah selain Allah.
- Tidak ada makhluk yang mampu menghilangkan musibah kecuali Allah.
- Semua makhluk adalah hamba Allah yang lemah.
- Tauhid merupakan inti dakwah seluruh nabi dan rasul.
- Syirik adalah dosa terbesar.
Pembahasan Pertama
Hanya Allah yang Berkuasa Menghilangkan Musibah
Allah mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ agar menantang kaum musyrikin.
Jika berhala, jin, manusia, malaikat atau makhluk lainnya benar-benar memiliki kekuasaan, maka mintalah mereka menghilangkan musibah.
Namun kenyataannya, mereka tidak mampu sedikit pun.
Dalil Al-Qur'an
Allah berfirman:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ
Artinya:
"Jika Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya."
(QS. Yunus: 107)
Allah juga berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
Artinya:
"Bukankah Dia yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?"
(QS. An-Naml: 62)
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa seluruh makhluk tidak memiliki kemampuan mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat kecuali dengan izin Allah. Karena itu seluruh bentuk ibadah wajib ditujukan hanya kepada Allah.
Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Ibnu Katsir.
Pembahasan Kedua
Bahaya Syirik
Syirik adalah memberikan sebagian ibadah kepada selain Allah.
Misalnya:
- berdoa kepada orang yang telah meninggal,
- meminta pertolongan kepada berhala,
- menggantungkan hati kepada benda-benda keramat,
- meyakini makhluk dapat memberi manfaat atau menolak mudarat secara mandiri.
Dalil Al-Qur'an
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki."
(QS. An-Nisā': 48)
Allah juga berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Artinya:
"Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya."
(QS. Al-Mā'idah: 72)
Hadis Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya:
"Hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."
(HR. Al-Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30)
Penjelasan Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi menjelaskan:
Tauhid merupakan hak Allah yang paling agung atas seluruh makhluk. Semua bentuk ibadah seperti doa, istighatsah, nadzar, tawakal, dan penyembelihan wajib ditujukan hanya kepada Allah.
Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.
Pembahasan Ketiga
Doa Adalah Ibadah
Banyak manusia ketika tertimpa musibah justru meminta kepada selain Allah.
Padahal doa merupakan ibadah yang paling agung.
Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
Artinya:
"Doa itu adalah ibadah."
(HR. Abu Dawud no. 1479, At-Tirmidzi no. 2969; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya:
"Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu.'"
(QS. Ghāfir: 60)
Pembahasan Keempat
Rasulullah ﷺ Sendiri Tidak Memiliki Kekuasaan Tanpa Izin Allah
Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Artinya:
"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak mudarat kecuali apa yang Allah kehendaki.'"
(QS. Al-A'rāf: 188)
Jika Rasulullah ﷺ sendiri tidak memiliki kekuasaan secara mandiri, maka tentu makhluk lain lebih tidak memilikinya.
Ulasan Para Ulama
1. Imam Ath-Thabari
Dalam Jāmi' al-Bayān, beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bantahan terhadap setiap orang yang meminta pertolongan kepada selain Allah. Semua makhluk berada di bawah kekuasaan-Nya dan tidak memiliki kemampuan menghilangkan bahaya kecuali jika Allah menghendaki.
2. Imam Al-Qurthubi
Dalam Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, beliau menerangkan bahwa ayat ini menjadi dalil wajibnya memurnikan doa hanya kepada Allah, karena doa adalah inti ibadah. Memalingkan doa kepada selain Allah termasuk bentuk kesyirikan.
3. Imam Ibnu Katsir
Beliau menjelaskan bahwa makhluk yang disembah kaum musyrikin, baik malaikat, nabi, jin maupun orang saleh, semuanya adalah hamba Allah yang membutuhkan rahmat-Nya. Mereka tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya bagi diri mereka sendiri, apalagi bagi orang lain.
Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.
4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
Dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menegaskan bahwa tauhid yang benar adalah mengesakan Allah dalam ibadah, doa, rasa takut, harapan, tawakal, dan seluruh bentuk penghambaan. Ayat ini membatalkan semua bentuk ketergantungan kepada selain Allah.
Hikmah yang Dapat Diambil
- Hanya Allah yang mampu menghilangkan musibah.
- Semua makhluk adalah hamba yang lemah dan bergantung kepada Allah.
- Doa merupakan ibadah yang hanya boleh dipersembahkan kepada Allah.
- Syirik adalah dosa yang paling besar dan wajib dijauhi.
- Seorang mukmin hendaknya bertawakal hanya kepada Allah dalam setiap keadaan.
- Ketika menghadapi kesulitan, jalan pertama yang ditempuh adalah memperbanyak doa, istighfar, dan kembali kepada Allah.
Penutup
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Surah Al-Isrā' ayat 56 mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu menghilangkan musibah atau mendatangkan manfaat secara mandiri. Oleh karena itu, janganlah hati kita bergantung kepada makhluk, benda, jabatan, atau selain Allah. Gantungkanlah seluruh harapan, doa, dan tawakal hanya kepada Allah ﷻ, karena Dialah satu-satunya Dzat Yang Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari segala bentuk syirik, mengokohkan tauhid kita, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertawakal dengan sebenar-benarnya.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Post a Comment