Kesombongan Iblis: Awal Mula Kemaksiatan dan Bahaya Merasa Lebih Mulia dari Orang Lain

Materi Ceramah

Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 61

"Kesombongan Iblis: Awal Mula Kemaksiatan dan Bahaya Merasa Lebih Mulia dari Orang Lain"


Khutbatul Hājah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ketakwaan akan menjaga hati dari penyakit yang paling berbahaya, yaitu kesombongan. Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan di langit oleh Iblis dan menjadi sebab terusirnya ia dari rahmat Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin wajib berhati-hati agar tidak memiliki sifat yang menyerupai Iblis.

Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Isrā' ayat 61.


Dalil Utama

Firman Allah ﷻ

Surah Al-Isrā' Ayat 61

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ ۖ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

Artinya:

"Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia berkata, 'Apakah pantas aku sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?'"

(QS. Al-Isrā': 61)


Kandungan Ayat

Ayat ini mengandung pelajaran besar, yaitu:

  1. Kemuliaan Nabi Adam sebagai manusia pertama.
  2. Ketaatan mutlak para malaikat kepada Allah.
  3. Kesombongan menjadi sebab kebinasaan Iblis.
  4. Bahaya menolak perintah Allah karena mengikuti akal dan hawa nafsu.
  5. Kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan ditentukan oleh asal-usul, tetapi oleh ketakwaannya.

Pembahasan Pertama

Perintah Sujud kepada Adam

Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan, bukan sujud ibadah. Sujud ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah ﷻ.

Allah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya:

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak, menyombongkan diri, dan termasuk golongan orang-orang kafir."

(QS. Al-Baqarah: 34)

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh malaikat taat tanpa membantah sedikit pun, sedangkan Iblis menolak karena kesombongannya.


Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa sujud kepada Adam adalah sujud penghormatan (sujūd at-taḥiyyah), bukan sujud ibadah. Perintah ini merupakan ujian bagi para malaikat dan Iblis. Malaikat lulus karena taat, sedangkan Iblis gagal karena menolak perintah Allah.

Rujukan: Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān, Imam Ath-Thabari.


Pembahasan Kedua

Kesombongan Adalah Penyebab Kekafiran Iblis

Iblis berkata:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Artinya:

"Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah."

(QS. Ṣād: 76)

Iblis tidak mengingkari adanya Allah, tetapi ia menolak perintah Allah karena merasa lebih mulia.

Kesombongan membuatnya:

  • menolak kebenaran,
  • meremehkan makhluk lain,
  • dan akhirnya menjadi kafir.

Hadis Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Seorang sahabat bertanya:

"Sesungguhnya seseorang senang apabila pakaiannya bagus dan sandalnya bagus."

Beliau menjawab:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi."

"Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

(HR. Muslim no. 91)


Penjelasan Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan بَطَرُ الْحَقِّ adalah menolak kebenaran setelah mengetahuinya, sedangkan غَمْطُ النَّاسِ berarti merendahkan dan menghina orang lain.

Kesombongan seperti inilah yang menjadi sifat Iblis.

Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Imam An-Nawawi.


Pembahasan Ketiga

Kemuliaan Seseorang Diukur dengan Takwa

Iblis mengukur kemuliaan berdasarkan asal penciptaan.

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan bukan berdasarkan:

  • suku,
  • bangsa,
  • warna kulit,
  • keturunan,
  • jabatan,
  • atau kekayaan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya:

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa."

(QS. Al-Ḥujurāt: 13)


Hadis Rasulullah ﷺ

Pada Haji Wada', Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى

Artinya:

"Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang non-Arab atas orang Arab, tidak pula yang berkulit putih atas yang berkulit hitam, dan tidak pula yang berkulit hitam atas yang berkulit putih, kecuali dengan ketakwaan."

(HR. Ahmad no. 22978; dinilai hasan oleh para ulama)


Pembahasan Keempat

Bahaya Mengikuti Logika yang Menentang Wahyu

Iblis menggunakan logika:

  • Api lebih tinggi daripada tanah.
  • Berarti yang diciptakan dari api lebih mulia.

Logika ini tampak masuk akal menurutnya, tetapi bertentangan dengan perintah Allah.

Ini mengajarkan bahwa akal adalah nikmat yang besar, tetapi harus tunduk kepada wahyu. Ketika wahyu telah datang dengan jelas, seorang mukmin mendahulukan ketaatan kepada Allah daripada pendapat pribadinya.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Artinya:

"Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin maupun perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka masih mempunyai pilihan lain dalam urusan mereka."

(QS. Al-Aḥzāb: 36)


Ulasan Para Ulama

1. Imam Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dosa pertama yang dilakukan Iblis adalah kesombongan. Ia membandingkan dirinya dengan Adam menggunakan ukuran yang salah, sehingga menolak perintah Allah. Ini menjadi peringatan agar manusia tidak mendahulukan hawa nafsu daripada wahyu.


2. Imam Al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil haramnya kesombongan. Orang yang merasa lebih mulia karena nasab, ilmu, harta, atau kedudukan telah menyerupai sifat Iblis.


3. Imam Ath-Thabari

Beliau menerangkan bahwa Allah menguji Iblis dengan satu perintah. Kegagalannya bukan karena kurang ilmu, tetapi karena enggan tunduk. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa ketundukan kepada Allah tidak akan membawa keselamatan.

Rujukan: Jāmi' al-Bayān.


4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di

Dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menjelaskan bahwa asal semua keburukan adalah kesombongan, sedangkan asal semua kebaikan adalah kerendahan hati di hadapan Allah dan penerimaan terhadap kebenaran.


Hikmah yang Dapat Diambil

  1. Kesombongan adalah dosa pertama yang menyebabkan makhluk terusir dari rahmat Allah.
  2. Kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh iman dan takwa, bukan asal-usul atau kedudukan.
  3. Seorang mukmin wajib menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih miskin, atau lebih rendah kedudukannya.
  4. Akal harus digunakan dalam bingkai wahyu, bukan untuk menentangnya.
  5. Tawadhu' (rendah hati) adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh.
  6. Setiap muslim hendaknya selalu berdoa agar dijauhkan dari sifat sombong, ujub, dan meremehkan orang lain.

Penutup

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Surah Al-Isrā' ayat 61 mengingatkan kita bahwa kehancuran Iblis bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena kesombongan dan penolakannya terhadap perintah Allah. Maka marilah kita menghiasi diri dengan tawadhu', menerima kebenaran dengan lapang dada, menghormati sesama, dan menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan.

Semoga Allah ﷻ membersihkan hati kita dari kesombongan, menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tunduk kepada-Nya, serta mengumpulkan kita bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh di surga-Nya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Tidak ada komentar