Mukjizat Adalah Hujah Allah, Bukan Sekadar Tontonan

Materi Ceramah

Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 59

"Mukjizat Adalah Hujah Allah, Bukan Sekadar Tontonan"


Khutbatul Hājah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu bentuk rahmat Allah kepada manusia adalah diutusnya para rasul dengan membawa mukjizat sebagai bukti kebenaran risalah. Namun sejarah menunjukkan bahwa banyak kaum yang tetap mendustakan mukjizat tersebut, sehingga mereka ditimpa azab yang pedih.

Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Isrā' ayat 59.


Dalil Utama

Firman Allah ﷻ

Surah Al-Isrā' Ayat 59

وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ ۚ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Artinya:

"Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang terdahulu. Dan telah Kami berikan kepada kaum Tsamud unta betina (sebagai mukjizat) yang nyata, tetapi mereka menzaliminya. Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti."
(QS. Al-Isrā': 59)


Asbābun Nuzūl

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa kaum Quraisy meminta Rasulullah ﷺ agar Gunung Shafa dijadikan emas dan lembah-lembah Mekah diratakan agar dapat ditanami. Allah mampu memenuhi permintaan itu, tetapi disampaikan kepada Nabi ﷺ bahwa jika mukjizat tersebut diturunkan lalu mereka tetap mendustakannya, maka mereka akan dibinasakan sebagaimana umat-umat terdahulu. Rasulullah ﷺ memilih agar permintaan itu tidak dipenuhi, karena beliau berharap masih ada keturunan mereka yang akan beriman.

Rujukan:

  • Musnad Ahmad.
  • Tafsīr Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-Isrā': 59.

Kandungan Ayat

Ayat ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Mukjizat adalah bukti kebenaran para rasul.
  2. Orang yang keras hati tidak akan beriman meskipun melihat mukjizat.
  3. Allah Maha Penyayang kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.
  4. Kisah kaum Tsamud menjadi pelajaran bagi seluruh manusia.
  5. Tanda-tanda kekuasaan Allah bertujuan membangkitkan rasa takut kepada-Nya dan mendorong taubat.

Pembahasan Pertama

Hikmah Tidak Diturunkannya Mukjizat Sesuai Permintaan Kaum Quraisy

Kaum Quraisy tidak meminta mukjizat karena ingin mencari kebenaran, tetapi untuk menguji dan menentang Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا ۚ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ

Artinya:

"Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa jika datang kepada mereka suatu mukjizat, niscaya mereka akan beriman. Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanyalah berada di sisi Allah.'"

(QS. Al-An'ām: 109)

Namun Allah mengetahui bahwa mereka tetap akan mendustakan.


Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah tidak menurunkan mukjizat yang mereka minta karena hikmah dan rahmat-Nya. Seandainya mukjizat itu diturunkan lalu mereka tetap kafir, niscaya mereka akan segera dibinasakan sebagaimana kaum-kaum terdahulu.

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.


Pembahasan Kedua

Mukjizat Unta Betina Nabi Saleh

Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Saleh 'alaihissalam berupa seekor unta betina yang keluar dari batu besar sesuai permintaan kaumnya.

Allah berfirman:

هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً

Artinya:

"Inilah unta betina Allah sebagai tanda (mukjizat) bagimu."

(QS. Al-A'rāf: 73)

Allah memerintahkan agar mereka tidak mengganggu unta tersebut.

Namun mereka justru menyembelihnya.

Allah berfirman:

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ

Artinya:

"Kemudian mereka menyembelih unta itu dan mereka berlaku sombong terhadap perintah Tuhan mereka."

(QS. Al-A'rāf: 77)

Akibatnya, Allah menurunkan azab berupa suara yang sangat keras dan gempa yang membinasakan mereka.

Allah berfirman:

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ

Artinya:

"Lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat."

(QS. Al-A'rāf: 78)


Pembahasan Ketiga

Mukjizat Tidak Akan Bermanfaat bagi Hati yang Tertutup

Keimanan bukan sekadar melihat mukjizat, tetapi menerima kebenaran dengan hati yang tunduk.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ

Artinya:

"Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti mendapat ketetapan Tuhanmu tidak akan beriman, meskipun datang kepada mereka setiap tanda (mukjizat)."

(QS. Yūnus: 96–97)

Ayat ini menunjukkan bahwa mukjizat tidak bermanfaat bagi orang yang sengaja menolak kebenaran karena kesombongan.


Hadis Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

"Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah diberi mukjizat yang menyebabkan manusia beriman kepadanya. Adapun mukjizat yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah turunkan kepadaku (Al-Qur'an). Maka aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat."

(HR. Al-Bukhari no. 4981 dan Muslim no. 152)


Penjelasan Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ adalah Al-Qur'an yang tetap terjaga sepanjang zaman. Berbeda dengan mukjizat para nabi sebelumnya yang hanya disaksikan oleh kaum pada masa mereka.

Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.


Pembahasan Keempat

Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Bertujuan Menumbuhkan Rasa Takut kepada-Nya

Allah menutup ayat dengan firman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

"Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti."

Artinya, berbagai tanda kebesaran Allah—baik mukjizat, fenomena alam, maupun peringatan lainnya—bertujuan agar manusia sadar, bertaubat, dan kembali kepada Allah.

Hadis Rasulullah ﷺ

Ketika terjadi gerhana matahari, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْكَشِفَ

Artinya:

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka apabila kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah salat hingga gerhana itu berakhir."

(HR. Al-Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 911)

Hadis ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah hendaknya mendorong manusia untuk memperbanyak ibadah dan mengingat akhirat.


Ulasan Para Ulama

1. Imam Ath-Thabari

Dalam Jāmi' al-Bayān, beliau menjelaskan bahwa Allah tidak memenuhi setiap permintaan mukjizat dari orang-orang kafir karena ilmu-Nya mengetahui bahwa mereka tetap akan mendustakannya. Penundaan azab merupakan bentuk rahmat dan kesempatan untuk bertaubat.


2. Imam Al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, beliau menerangkan bahwa mukjizat bukanlah hiburan atau pertunjukan, tetapi hujah yang mengharuskan manusia beriman. Siapa yang mendustakannya setelah jelas kebenarannya, maka ia berhak mendapatkan hukuman Allah.


3. Imam Ibnu Katsir

Beliau menjelaskan bahwa kisah kaum Tsamud menjadi peringatan bagi seluruh umat agar tidak mengulangi kesombongan mereka. Mukjizat yang paling agung bagi umat Islam adalah Al-Qur'an yang terus menjadi bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ hingga hari kiamat.

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.


4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di

Dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menjelaskan bahwa Allah mengutus para rasul dengan ayat-ayat yang cukup untuk menegakkan hujah. Orang yang mencari kebenaran akan mendapatkan petunjuk, sedangkan orang yang hanya mencari-cari alasan tidak akan mendapat manfaat meskipun melihat mukjizat yang luar biasa.


Hikmah yang Dapat Diambil

  1. Mukjizat diberikan untuk meneguhkan kebenaran, bukan memenuhi rasa ingin tahu manusia.
  2. Kesombongan adalah penghalang terbesar untuk menerima hidayah.
  3. Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ yang berlaku sepanjang zaman.
  4. Tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta hendaknya menambah keimanan dan rasa takut kepada-Nya.
  5. Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertaubat sebelum datang hukuman-Nya.
  6. Seorang mukmin tidak menunggu mukjizat untuk beriman, tetapi cukup dengan wahyu yang Allah turunkan.

Penutup

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Surah Al-Isrā' ayat 59 mengajarkan bahwa Allah telah memberikan bukti-bukti yang cukup bagi manusia untuk beriman. Sejarah kaum Tsamud menunjukkan bahwa melihat mukjizat tidak menjamin seseorang memperoleh hidayah apabila hatinya dipenuhi kesombongan. Oleh karena itu, marilah kita menjaga hati agar tetap tunduk kepada kebenaran, menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup, dan mengambil pelajaran dari kisah umat-umat terdahulu.

Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kepada kita hati yang lembut, iman yang kokoh, kemampuan untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya, serta mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh di surga-Nya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Tidak ada komentar