Sunnatullah: Kehancuran Negeri-Negeri yang Durhaka dan Kepastian Takdir Allah
Materi Ceramah
Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 58
"Sunnatullah: Kehancuran Negeri-Negeri yang Durhaka dan Kepastian Takdir Allah"
Khutbatul Hājah
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد،
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Takwa bukan sekadar ucapan, tetapi diwujudkan dalam keimanan yang kokoh, amal saleh, dan menjauhi kemaksiatan. Salah satu pelajaran besar dalam Al-Qur'an adalah bahwa Allah memiliki sunnatullah (ketetapan) terhadap umat-umat yang durhaka. Tidak ada satu pun kaum yang mampu menghindari keputusan Allah apabila mereka terus-menerus mengingkari kebenaran.
Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Isrā' ayat 58.
Dalil Utama
Firman Allah ﷻ
Surah Al-Isrā' Ayat 58
وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
Artinya:
"Dan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuz)."
(QS. Al-Isrā': 58)
Kandungan Ayat
Ayat ini menjelaskan beberapa pokok ajaran:
- Allah memiliki sunnatullah terhadap umat-umat yang durhaka.
- Azab Allah dapat datang di dunia sebelum azab akhirat.
- Semua ketentuan Allah telah tertulis di Lauh Mahfuz.
- Kehancuran suatu bangsa disebabkan oleh kekufuran, kezaliman, dan kemaksiatan.
- Ayat ini menjadi peringatan agar manusia segera bertaubat.
Pembahasan Pertama
Sunnatullah Terhadap Negeri-Negeri yang Durhaka
Allah mengabarkan bahwa tidak ada negeri yang terus-menerus durhaka kepada Allah dan para rasul-Nya melainkan akan menerima hukuman sesuai hikmah-Nya. Hukuman itu dapat berupa kehancuran, peperangan, kelaparan, wabah, hilangnya keberkahan, atau bentuk azab lainnya.
Ayat ini tidak berarti setiap bencana pasti merupakan azab. Dalam syariat, musibah bisa menjadi:
- azab bagi orang kafir yang membangkang,
- peringatan bagi orang yang lalai,
- ujian untuk meninggikan derajat orang beriman.
Karena itu, kita tidak boleh memastikan bahwa suatu bencana tertentu adalah azab Allah kepada kelompok tertentu tanpa dalil yang jelas.
Dalil Al-Qur'an
Allah berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا
Artinya:
"Betapa banyak negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya. Maka Kami menghisab mereka dengan hisab yang sangat keras dan Kami mengazab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat buruk dari perbuatannya, dan akibat urusan mereka adalah kerugian."
(QS. Aṭ-Ṭalāq: 8–9)
Allah juga berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
Artinya:
"Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri secara zalim, selama penduduknya adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan."
(QS. Hūd: 117)
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman bagi setiap negeri yang mendustakan para rasul. Allah terkadang membinasakan mereka secara total sebagaimana kaum 'Ad dan Tsamud, atau mengazab mereka dengan berbagai musibah sesuai kehendak-Nya.
Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Ibnu Katsir.
Pembahasan Kedua
Semua Takdir Telah Ditulis di Lauh Mahfuz
Allah menutup ayat ini dengan firman:
كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
"Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuz)."
Ini menunjukkan bahwa seluruh ketetapan Allah telah diketahui dan ditulis sebelum makhluk diciptakan.
Hadis Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، فَقَالَ: رَبِّ وَمَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
Artinya:
"Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Allah berfirman kepadanya, 'Tulislah.' Pena berkata, 'Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?' Allah berfirman, 'Tulislah seluruh ketetapan segala sesuatu hingga Hari Kiamat.'"
(HR. At-Tirmidzi no. 2155; Abu Dawud no. 4700, dinilai sahih)
Hadis Tentang Takdir
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Artinya:
"Allah telah menetapkan seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi."
(HR. Muslim no. 2653)
Penjelasan Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini merupakan dalil pokok tentang wajibnya mengimani takdir. Allah telah mengetahui, menulis, menghendaki, dan menciptakan seluruh kejadian dengan ilmu-Nya yang sempurna.
Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Imam An-Nawawi.
Pembahasan Ketiga
Mengapa Allah Membinasakan Suatu Kaum?
Al-Qur'an menjelaskan bahwa penyebab kehancuran suatu umat adalah:
- Syirik.
- Mendustakan para rasul.
- Kezaliman.
- Kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan.
- Menolak nasihat dan enggan bertaubat.
Dalil Al-Qur'an
Allah berfirman:
وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ
Artinya:
"Dan Kami tidak pernah membinasakan suatu negeri melainkan penduduknya adalah orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Qaṣaṣ: 59)
Allah juga berfirman:
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ
Artinya:
"Masing-masing Kami siksa karena dosa-dosanya."
(QS. Al-'Ankabūt: 40)
Ulasan Para Ulama
1. Imam Ath-Thabari
Dalam Jāmi' al-Bayān, beliau menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan sejak azali nasib setiap umat. Apabila mereka tetap membangkang setelah datangnya hujah dan peringatan, maka mereka pantas menerima hukuman sesuai dengan keadilan Allah.
2. Imam Al-Qurthubi
Dalam Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, beliau menerangkan bahwa kehancuran suatu negeri bukanlah kezaliman dari Allah, melainkan akibat dari dosa yang dilakukan penduduknya. Allah tidak mengazab sebelum menyampaikan risalah melalui para rasul.
Dalilnya:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
"Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."
(QS. Al-Isrā': 15)
3. Imam Ibnu Katsir
Beliau menegaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman bagi seluruh umat agar mengambil pelajaran dari kehancuran umat-umat terdahulu seperti kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, Madyan, dan kaum Luth.
Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.
4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
Dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menjelaskan bahwa ketetapan Allah yang tertulis di Lauh Mahfuz menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Semua berlangsung sesuai hikmah dan keadilan-Nya.
Hikmah yang Dapat Diambil
- Setiap umat hendaknya mengambil pelajaran dari sejarah kaum-kaum terdahulu.
- Kemaksiatan yang terus-menerus dapat menghilangkan keberkahan dan mengundang hukuman Allah.
- Beriman kepada takdir merupakan bagian dari rukun iman.
- Allah Maha Adil; Dia tidak mengazab suatu kaum sebelum tegak hujah kepada mereka.
- Musibah hendaknya menjadi sarana muhasabah dan memperbanyak taubat, bukan ajang memastikan bahwa orang lain sedang diazab.
- Keselamatan suatu masyarakat bergantung pada iman, ketakwaan, amar ma'ruf, nahi mungkar, dan upaya memperbaiki keadaan.
Penutup
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Surah Al-Isrā' ayat 58 mengingatkan kita bahwa sejarah kehancuran umat-umat terdahulu bukan sekadar kisah, tetapi pelajaran bagi setiap generasi. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia tidak menzalimi hamba-Nya, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri dengan kekufuran dan kemaksiatan.
Marilah kita memperkuat tauhid, memperbanyak taubat, menjaga amal saleh, serta mengajak keluarga dan masyarakat kepada kebaikan agar kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan rahmat dan perlindungan Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ menjaga negeri-negeri kaum muslimin dari fitnah, bencana, dan azab, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Post a Comment