Mencari Wasilah yang Benar Menuju Allah ﷻ
Materi Ceramah
"Mencari Wasilah yang Benar Menuju Allah ﷻ"
Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 57
Pembukaan
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba'du.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ayat yang Dibahas
Firman Allah ﷻ
سورة الإسراء: ٥٧
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗۗ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا
Artinya:
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang harus ditakuti." (QS. Al-Isrā': 57)
Tafsir Ayat
Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap kaum musyrikin yang menjadikan malaikat, jin, Nabi Isa عليه السلام, dan Uzair sebagai sesembahan.
Allah menjelaskan bahwa makhluk-makhluk mulia tersebut justru:
- beribadah kepada Allah,
- berlomba mendekat kepada Allah,
- berharap rahmat Allah,
- takut kepada azab Allah.
Kalau mereka sendiri adalah hamba Allah, bagaimana mungkin mereka dijadikan tuhan?
Inilah dalil yang sangat kuat bahwa seluruh bentuk ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata.
Makna Al-Wasilah
Kata الوسيلة secara bahasa berarti:
القربة والطاعة
"Segala sesuatu yang mendekatkan kepada Allah berupa amal ketaatan."
Bukan berarti menjadikan makhluk sebagai tempat meminta.
Karena itu para ulama tafsir menjelaskan bahwa wasilah adalah:
- iman
- tauhid
- amal saleh
- doa
- dzikir
- taubat
- jihad
- seluruh bentuk ketaatan.
Dalil Al-Qur'an tentang Wasilah
1. QS Al-Mā'idah ayat 35
Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya serta berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung."
Tafsir Ibnu Katsir
Beliau berkata:
الوسيلة هي ما يتوصل به إلى تحصيل المقصود
"Wasilah adalah segala sesuatu yang mengantarkan seseorang kepada keridaan Allah."
(Tafsir Ibnu Katsir, QS Al-Mā'idah:35)
2. QS Az-Zumar ayat 3
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
Artinya:
"Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni. Adapun orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata: 'Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa alasan kaum musyrik dahulu sama seperti sebagian manusia sekarang:
"Mereka hanya perantara."
Namun Allah tetap menyebutnya sebagai kesyirikan.
3. QS Fāṭir ayat 13–14
إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ
Artinya:
"Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar doamu. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu."
Hadis tentang Wasilah
Dalam riwayat yang disebutkan oleh Imam At-Tirmiżi dan Ibnu Mardawaih, Rasulullah ﷺ bersabda:
سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ
"Mintalah kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepadaku al-Wasilah."
Ketika para sahabat bertanya:
"Apa itu al-Wasilah?"
Beliau menjawab:
الْقُرْبُ مِنَ اللَّهِ
"Kedekatan kepada Allah."
Kemudian beliau membaca ayat ini.
(Riwayat At-Tirmiżi dan Ibnu Mardawaih; para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad riwayat ini.)
Hadis Shahih tentang doa setelah azan
Rasulullah ﷺ bersabda
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ... ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ...
Artinya:
"Apabila kalian mendengar muazin maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, lalu mintalah kepada Allah untukku al-Wasilah...."
(HR. Muslim no. 384)
Yang dimaksud Al-Wasilah dalam hadis ini adalah kedudukan yang sangat tinggi di surga yang Allah khususkan bagi Nabi Muhammad ﷺ.
Penjelasan Para Ulama
1. Imam Ath-Thabari
Beliau menjelaskan:
Makna ayat ini adalah seluruh makhluk yang dijadikan sesembahan itu sendiri berlomba-lomba mencari kedekatan kepada Allah dengan amal saleh.
Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān.
2. Imam Ibnu Katsir
Beliau berkata:
Makhluk yang disembah selain Allah tidak memiliki sedikit pun kekuasaan. Mereka sendiri adalah hamba yang beribadah kepada Allah.
Rujukan: Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
3. Imam Al-Qurthubi
Beliau berkata:
الوسيلة هي القربة إلى الله بالطاعات
"Wasilah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai bentuk ketaatan."
Rujukan: Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān.
4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
Beliau menjelaskan:
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang paling dekat kepada Allah adalah orang yang paling banyak ibadahnya, paling besar rasa takutnya kepada Allah, dan paling besar harapannya kepada rahmat-Nya.
Rujukan: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān.
Pelajaran Penting dari Ayat Ini
1. Semua makhluk adalah hamba Allah.
Malaikat, para nabi, orang-orang saleh, bahkan makhluk yang paling mulia sekalipun tetap membutuhkan Allah.
2. Wasilah yang benar adalah amal saleh.
Bukan meminta kepada makhluk, tetapi memperbanyak:
- shalat,
- doa,
- sedekah,
- dzikir,
- membaca Al-Qur'an,
- puasa,
- birrul walidain,
- silaturahmi.
3. Seorang mukmin hidup di antara harapan dan rasa takut.
Allah menggambarkan hamba-hamba-Nya dengan dua sifat:
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ
"Mereka mengharap rahmat-Nya."
dan
وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
"Mereka takut terhadap azab-Nya."
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati seorang mukmin dalam beribadah bagaikan seekor burung: cinta kepada Allah adalah kepalanya, sedangkan harapan (rajā') dan rasa takut (khauf) adalah kedua sayapnya. Keduanya harus seimbang agar seorang hamba tetap istiqamah.
Rujukan: Madārij as-Sālikīn.
4. Tauhid adalah jalan keselamatan.
Semua doa, ibadah, permohonan, penyembelihan, nazar, tawakal, dan istighatsah hanya ditujukan kepada Allah.
Penutup
Saudaraku,
Ayat ini mengajarkan bahwa makhluk yang paling mulia sekalipun tidak layak disembah. Mereka sendiri tunduk kepada Allah, mengharap rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Maka, sudah sepantasnya kita memurnikan tauhid, memperbanyak amal saleh sebagai wasilah untuk mendekat kepada Allah, serta menjaga keseimbangan antara rasa takut kepada azab-Nya dan harapan akan rahmat-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah, istiqamah di atas tauhid, dan memperoleh rahmat serta keridaan-Nya.
اللهم اجعلنا من عبادك المخلصين، وارزقنا حبك وحب من يحبك والعمل الذي يقربنا إلى حبك، واجعل خير أعمالنا خواتيمها، وخير أيامنا يوم نلقاك.
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas. Anugerahkan kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada orang yang mencintai-Mu, dan amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Jadikanlah penutup amal kami sebagai amal yang terbaik dan hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu."
Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
Post a Comment