Al-Qur’an Menjelaskan Segalanya, tetapi Tidak Semua Orang Mau Menerima Kebenaran

Materi Ceramah:

“Al-Qur’an Menjelaskan Segalanya, tetapi Tidak Semua Orang Mau Menerima Kebenaran”

Tafsir Surah Al-Isrā’ Ayat 89

1. Muqaddimah

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Isrā’ ayat 89 mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat penting: Allah telah menjelaskan kebenaran dengan berbagai cara, tetapi hidayah tidak cukup hanya dengan banyaknya penjelasan. Hati juga harus mau tunduk kepada kebenaran.


2. Firman Allah: Al-Qur’an Menjelaskan Berbagai Perumpamaan

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍۖ فَاَبٰىٓ اَكْثَرُ النَّاسِ اِلَّا كُفُوْرًا

Artinya:

“Dan sungguh, Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai bahkan mengingkari(nya).”

Makna penting ayat

Ada beberapa kata yang perlu diperhatikan.

Pertama, صَرَّفْنَا (ṣarrafnā) berarti Kami menjelaskan, mengulang, memvariasikan, dan menyampaikan dalam berbagai bentuk.

Artinya, Allah tidak hanya memberikan satu bentuk penjelasan. Al-Qur’an menggunakan:

  • perintah dan larangan;
  • berita tentang akhirat;
  • kisah para nabi;
  • perumpamaan;
  • janji dan ancaman;
  • argumentasi;
  • kabar gembira;
  • peringatan;
  • penjelasan tentang manusia dan alam;
  • hukum-hukum kehidupan.

Semua itu bertujuan agar manusia memahami, mengambil pelajaran, lalu beriman dan beramal.


3. Al-Qur’an Adalah Petunjuk, Bukan Sekadar Bacaan

Allah berfirman:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 2)

Perhatikan, Allah menyebut Al-Qur’an sebagai هُدًى — hudan, yaitu petunjuk.

Maka hubungan kita dengan Al-Qur’an jangan berhenti pada:

“Saya sudah membaca Al-Qur’an.”

Tetapi harus meningkat menjadi:

Saya memahami Al-Qur’an, meyakininya, mengamalkannya, dan menjadikannya pedoman hidup.

Ulasan Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang memiliki ketakwaan. Mereka menerima kebenaran, membenarkan berita Allah, menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Jadi, masalahnya bukan semata-mata apakah Al-Qur’an telah memberikan petunjuk, tetapi apakah manusia mau menerima petunjuk tersebut.


4. Allah Menggunakan Berbagai Perumpamaan Agar Manusia Berpikir

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

Artinya:

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu.”

(QS. Al-‘Ankabūt: 43)

Al-Qur’an menggunakan perumpamaan karena manusia mempunyai kemampuan memahami sesuatu melalui contoh.

Misalnya Allah menggambarkan kehidupan dunia seperti tumbuhan yang tumbuh subur, kemudian mengering dan akhirnya hancur.

Allah berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا تَذْرُوْهُ الرِّيٰحُ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

Artinya:

“Dan buatlah perumpamaan kehidupan dunia bagi mereka seperti air yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

(QS. Al-Kahf: 45)

Pelajarannya

Harta, jabatan, kecantikan, kesehatan dan kekuasaan semuanya seperti tumbuhan:

tumbuh → berkembang → indah → kemudian layu.

Karena itu orang beriman tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.


5. Al-Qur’an Menjelaskan Kebenaran dengan Berbagai Metode

Allah berfirman:

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Dan sungguh, Kami telah menjelaskan kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan berbagai perumpamaan agar mereka mendapat pelajaran.”

(QS. Az-Zumar: 27)

Perhatikan tujuan perumpamaan itu:

لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ — agar mereka mendapat pelajaran.

Jadi Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca dengan lisan, tetapi untuk menghidupkan hati.


6. Mengapa Ada Orang yang Sudah Mendengar Kebenaran tetapi Tetap Menolak?

Inilah bagian penting dari ayat 89:

فَاَبٰىٓ اَكْثَرُ النَّاسِ اِلَّا كُفُوْرًا

“Tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai bahkan mengingkari(nya).”

Allah telah menjelaskan.

Allah telah memberikan bukti.

Allah telah memberikan perumpamaan.

Allah telah mengutus para rasul.

Tetapi sebagian manusia tetap menolak.

Mengapa?

Karena mengetahui kebenaran berbeda dengan mau tunduk kepada kebenaran.

Ada orang yang tidak mengetahui → kemudian belajar → menerima kebenaran.

Tetapi ada pula orang yang mengetahui → namun hawa nafsunya menghalangi → akhirnya menolak.


7. Penyakit yang Menghalangi Manusia dari Kebenaran

Allah berfirman:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?”

(QS. Al-Jāṡiyah: 23)

Pelajaran

Kadang-kadang persoalannya bukan karena seseorang tidak mempunyai dalil, tetapi karena dia terlalu mencintai:

  • hawa nafsu;
  • kepentingan pribadi;
  • kedudukan;
  • harta;
  • popularitas;
  • tradisi yang salah;
  • pendapat kelompoknya.

Akibatnya, ketika dalil datang, bukan dirinya yang mengikuti dalil, tetapi dalil yang ingin disesuaikan dengan keinginannya.


8. Sunnah Nabi ﷺ: Al-Qur’an Harus Menjadi Pedoman

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللّٰهَ يَرْفَعُ بِهٰذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan merendahkan kaum yang lain dengannya.”

(HR. Muslim)

Ulasan ulama

Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan bahwa orang yang mengamalkan Al-Qur’an, memuliakannya, membenarkan kandungannya dan menjalankan petunjuknya akan memperoleh kemuliaan.

Sebaliknya, orang yang meninggalkan petunjuk Al-Qur’an akan mendapatkan kehinaan sesuai dengan kadar penyimpangannya.

Maka ukuran kemuliaan bukan sekadar berapa banyak kita memiliki mushaf, tetapi berapa jauh Al-Qur’an hidup dalam diri kita.


9. Al-Qur’an Harus Dipelajari dan Diamalkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR. al-Bukhārī)

Hadis ini menunjukkan dua tahap:

1. تَعَلَّمَ — belajar

Kita harus mempelajari Al-Qur’an.

2. عَلَّمَهُ — mengajarkan

Setelah belajar, kita menyampaikan dan mengajarkannya kepada orang lain.

Namun tentu belajar Al-Qur’an bukan hanya belajar membaca huruf Arab. Kita juga perlu mempelajari:

  • makna;
  • tafsir;
  • hukum;
  • akhlak;
  • petunjuk;
  • cara mengamalkannya.

10. Rasulullah ﷺ Menjelaskan Bahwa Al-Qur’an Akan Menjadi Hujjah

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Artinya:

“Al-Qur’an adalah hujah yang membelamu atau hujah yang memberatkanmu.”

(HR. Muslim)

Ini adalah peringatan yang sangat dalam.

Al-Qur’an dapat menjadi pembela kita, apabila kita membaca, memahami dan mengamalkannya.

Tetapi Al-Qur’an juga dapat menjadi hujah terhadap kita, apabila kita mengetahui perintahnya tetapi sengaja meninggalkannya.


11. Jangan Hanya Membaca, Tetapi Tadabbur

Allah berfirman:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Artinya:

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

(QS. Muḥammad: 24)

Kata يَتَدَبَّرُوْنَ — yatadabbarūn menunjukkan aktivitas merenungkan dan memahami secara mendalam.

Karena itu, setelah membaca ayat, biasakan bertanya:

“Apa yang Allah ingin saya lakukan setelah membaca ayat ini?”

Misalnya membaca ayat tentang sabar.

Jangan hanya berkata:

“Ayatnya bagus.”

Tetapi tanyakan:

“Dalam masalah apa saya harus bersabar?”

Membaca ayat tentang sedekah:

“Apa yang bisa saya sedekahkan?”

Membaca ayat tentang menjaga lisan:

“Apa yang harus saya hentikan dari ucapan saya?”

Inilah tadabbur yang melahirkan amal.


12. Al-Qur’an Menjadi Petunjuk bagi Orang yang Mau Menerima

Allah berfirman:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ

Artinya:

“Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.”

(QS. Al-Isrā’: 9)

Ayat ini sangat erat dengan ayat 89.

Ayat 9 menjelaskan:

Al-Qur’an memberi petunjuk.

Ayat 89 menjelaskan:

Allah telah menjelaskan berbagai perumpamaan, tetapi sebagian manusia tetap mengingkari.

Berarti problem manusia bukan karena Allah tidak memberikan petunjuk.

Problemnya adalah apakah manusia mau menerima petunjuk itu.


13. Jangan Menjadi Orang yang Mengetahui tetapi Tidak Mengamalkan

Allah memberikan peringatan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS. Aṣ-Ṣaff: 2–3)

Ini menjadi evaluasi bagi kita.

Jangan sampai:

Al-Qur’an di lisan, tetapi tidak di hati.

Al-Qur’an di rumah, tetapi tidak dalam kehidupan.

Al-Qur’an diajarkan kepada anak, tetapi tidak dicontohkan oleh orang tua.

Al-Qur’an diajarkan kepada siswa, tetapi guru tidak berusaha mengamalkannya.


14. Peran Orang Tua dan Guru

Ayat ini juga memberikan pelajaran penting bagi para pendidik.

Jangan bosan menjelaskan kebenaran.

Allah sendiri mengatakan:

صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ ... مِنْ كُلِّ مَثَلٍ

Allah menjelaskan dengan berbagai macam cara.

Maka dalam mendidik anak dan peserta didik:

  • kadang gunakan nasihat;
  • kadang gunakan kisah;
  • kadang gunakan dialog;
  • kadang gunakan contoh nyata;
  • kadang gunakan perumpamaan;
  • kadang gunakan motivasi;
  • kadang gunakan peringatan;
  • dan yang paling penting: berikan keteladanan.

Sebab pendidikan yang paling kuat bukan hanya apa yang didengar anak, tetapi apa yang mereka lihat dari orang yang mendidiknya.


15. Komentar Para Ulama

A. Imam ath-Thabari

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah telah mengemukakan berbagai hujah dan perumpamaan dalam Al-Qur’an agar manusia mendapatkan pelajaran dan mengambil hujah tersebut sebagai jalan menuju kebenaran.

Namun sebagian manusia tetap kufur dan mengingkari nikmat Allah.

Pelajarannya:
Banyaknya penjelasan tidak otomatis membuat seseorang beriman. Hidayah harus disambut dengan kerendahan hati.


B. Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah telah memberikan berbagai macam argumentasi, bukti dan perumpamaan yang menjelaskan kebenaran kepada manusia.

Tetapi mayoritas manusia justru berpaling dan mengingkari.

Pelajarannya:
Seorang mukmin hendaknya tidak merasa cukup dengan mengetahui dalil, tetapi harus berusaha tunduk kepada dalil.


C. Imam al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, al-Qurthubi memberikan perhatian besar terhadap metode Al-Qur’an dalam menyampaikan petunjuk melalui berbagai perumpamaan dan penjelasan.

Perumpamaan dalam Al-Qur’an bukan sekadar hiasan bahasa, tetapi sarana pendidikan dan penyadaran manusia.


D. Fakhruddin ar-Razi

Dalam Mafātiḥ al-Ghaib, ar-Razi menekankan keluasan argumentasi Al-Qur’an dan banyaknya cara Al-Qur’an menjelaskan kebenaran.

Manusia yang sehat akalnya seharusnya mengambil pelajaran dari variasi argumentasi tersebut.


16. Mengapa Al-Qur’an Tidak Membosankan?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur’an dibaca berulang kali.

Surah Al-Fatihah kita baca berkali-kali dalam sehari.

Surah-surah pendek kita baca berulang-ulang.

Tetapi semakin dibaca, semakin banyak makna yang kita temukan.

Mengapa?

Karena Al-Qur’an bukan perkataan manusia.

Allah berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.”

(QS. Fāṭir: 29)


17. Empat Sikap Kita terhadap Al-Qur’an

Dari Surah Al-Isrā’ ayat 89, kita dapat mengambil empat kewajiban.

1. Membaca

Jadikan Al-Qur’an bagian dari rutinitas harian.

2. Memahami

Pelajari terjemah, tafsir, dan kandungannya.

3. Mengamalkan

Setiap ayat harus berusaha diterjemahkan menjadi amal.

4. Mengajarkan

Sampaikan kepada keluarga, anak, siswa dan masyarakat dengan cara yang bijaksana.


18. Jangan Sampai Al-Qur’an Menjadi Saksi yang Memberatkan

Bayangkan ketika seseorang berdiri di hadapan Allah.

Dia pernah memiliki mushaf.

Dia pernah mendengar ayat.

Dia pernah mengikuti kajian.

Dia pernah mengetahui perintah Allah.

Tetapi semuanya tidak mengubah perilakunya.

Maka marilah kita berdoa agar Al-Qur’an menjadi syafaat dan pembela, bukan hujah yang memberatkan kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Artinya:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada orang-orang yang menjadi sahabatnya.”

(HR. Muslim)

Ulasan

Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an dan bahwa Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya dan berpegang teguh dengannya.

Maka istilah أَصْحَابُ الْقُرْآنِ — aṣḥābul-Qur’ān tidak selayaknya dipahami hanya sebagai orang yang sering membacanya, tetapi juga orang yang memiliki hubungan erat dengan Al-Qur’an.


19. Renungan untuk Kita

Jamaah rahimakumullah,

Surah Al-Isrā’ ayat 89 seakan-akan bertanya kepada kita:

Allah sudah menjelaskan, apakah kita mau mendengar?

Allah sudah memberikan petunjuk, apakah kita mau mengikuti?

Allah sudah memberikan peringatan, apakah kita mau berhenti dari maksiat?

Allah sudah memberikan janji, apakah kita percaya?

Allah sudah memberikan Al-Qur’an, apakah kita menjadikannya pedoman hidup?

Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi:

📖 kitab yang kita simpan,
🎙️ bacaan yang kita lantunkan,
📱 aplikasi yang kita buka,

tetapi tidak menjadi petunjuk yang kita jalankan.


20. Kesimpulan Ceramah

Ada lima pesan utama dari ayat ini:

Pertama: Allah telah menjelaskan kebenaran dengan berbagai metode.

Kedua: Al-Qur’an berisi petunjuk, peringatan, kabar gembira, hukum, kisah dan perumpamaan.

Ketiga: Banyaknya penjelasan tidak otomatis membuat manusia beriman karena hati manusia harus mau menerima kebenaran.

Keempat: Tugas seorang mukmin bukan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi memahami dan mengamalkannya.

Kelima: Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup agar kelak ia menjadi pembela kita di hadapan Allah.


Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan Ramadan, bukan sekadar hiasan rumah, dan bukan sekadar materi ceramah.

Tetapi jadikan Al-Qur’an sebagai:

pedoman ketika memilih,

petunjuk ketika bingung,

penghibur ketika sedih,

peringatan ketika lalai,

pembimbing ketika mendidik keluarga,

dan jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Semoga Allah menjadikan kita Ahlul-Qur’an, orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an, membaca, memahami, mengamalkan dan mengajarkannya.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.

“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan kami dan penghapus kegelisahan kami.”

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Kitab rujukan utama

  1. Al-Qur’ān al-Karīm
  2. Jāmi‘ al-Bayān — Imam ath-Thabari
  3. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Ibnu Katsir
  4. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — Imam al-Qurthubi
  5. Mafātiḥ al-Ghaib — Fakhruddin ar-Razi
  6. Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — Abdurrahman as-Sa‘di
  7. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
  8. Ṣaḥīḥ Muslim dan Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim — Imam an-Nawawi.

Tidak ada komentar