AL-QUR’AN, MUKJIZAT YANG TAK MUNGKIN DITANDINGI

CERAMAH:

 AL-QUR’AN, MUKJIZAT YANG TAK MUNGKIN DITANDINGI

Tafsir dan Tadabbur Surah Al-Isrā’ Ayat 88

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

A. Pembukaan

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Amma ba‘du.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat manusia adalah Al-Qur’an. Ia bukan sekadar kitab bacaan, bukan pula sekadar kumpulan nasihat, tetapi kalamullah, wahyu Allah, petunjuk kehidupan, pembeda antara hak dan batil, sekaligus mukjizat terbesar yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ.

Allah menegaskan bahwa seluruh manusia dan jin tidak akan mampu membuat sesuatu yang sebanding dengan Al-Qur’an, sekalipun mereka bekerja sama.


B. Firman Allah: Tantangan kepada Manusia dan Jin

Allah SWT berfirman:

QS. Al-Isrā’: 88

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.’”

Pesan utama ayat

Ayat ini merupakan tantangan terbuka dari Allah.

Yang ditantang bukan hanya satu orang, satu bangsa, atau satu generasi, tetapi:

  • seluruh manusia,
  • seluruh jin,
  • semua ahli bahasa,
  • semua sastrawan,
  • semua ilmuwan,
  • dan seluruh kemampuan yang mereka miliki.

Namun Allah memastikan:

لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ

“Mereka tidak akan mampu membuat yang semisal dengannya.”

Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hasil karya manusia.


C. Al-Qur’an Sendiri Mengajukan Tantangan

Tantangan Al-Qur’an bahkan diberikan dalam beberapa tingkatan.

1. Tantangan membuat seluruh Al-Qur’an

Allah berfirman:

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.”


2. Tantangan membuat sepuluh surah

Allah berfirman:

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهٖ مُفْتَرَيٰتٍ وَّادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Bahkan apakah mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) telah membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘Buatlah sepuluh surah yang semisal dengannya dan ajaklah siapa saja yang kamu sanggup (mengajak) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.’”

(QS. Hūd: 13)


3. Tantangan membuat satu surah

Allah berfirman:

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Kemudian Allah berfirman:

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ

“Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan pasti kamu tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

(QS. Al-Baqarah: 23–24)

Perhatikan kalimat:

وَلَنْ تَفْعَلُوا

“Dan kamu pasti tidak akan mampu melakukannya.”

Ini bukan sekadar tantangan, tetapi pernyataan pasti dari Allah tentang ketidakmampuan manusia untuk menandingi Al-Qur’an.


D. Mengapa Al-Qur’an Tidak Mungkin Ditandingi?

Para ulama menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada satu sisi.

1. Keindahan dan kekuatan bahasanya

Al-Qur’an turun kepada bangsa Arab yang terkenal dengan kemampuan bahasa dan sastra.

Mereka memiliki:

  • penyair,
  • ahli pidato,
  • ahli syair,
  • ahli bahasa,
  • dan para orator terkenal.

Namun ketika Al-Qur’an datang, mereka tidak mampu membuat tandingannya.

Keindahan Al-Qur’an bukan sekadar keindahan kata, tetapi perpaduan antara:

lafaz yang tepat + makna yang dalam + susunan yang kuat + pengaruh terhadap jiwa + petunjuk kehidupan.

Penjelasan Imam Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim menjelaskan berbagai sisi keistimewaan Al-Qur’an dalam karya-karyanya tentang keutamaan ilmu dan Al-Qur’an. Al-Qur’an menyatukan petunjuk bagi hati, akal, amal dan kehidupan manusia.

Salah satu kitab yang dapat dirujuk:

Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah karya Ibnul Qayyim.


E. Al-Qur’an adalah Kalamullah

Allah berfirman:

وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ

“Dan jika di antara kaum musyrik ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia sempat mendengar firman Allah.”

(QS. At-Taubah: 6)

Perhatikan:

Allah menyebut Al-Qur’an sebagai:

كَلَامَ اللَّهِ

“Firman Allah.”

Maka ketika seorang Muslim membaca Al-Qur’an, sesungguhnya ia sedang membaca wahyu dari Rabb semesta alam.


F. Al-Qur’an Tidak Berasal dari Nabi Muhammad ﷺ

Allah berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ۝ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى

“Dan dia tidak berbicara menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

(QS. An-Najm: 3–4)

Rasulullah ﷺ adalah penerima dan penyampai wahyu, bukan pencipta Al-Qur’an.

Karena itu, tuduhan bahwa Al-Qur’an merupakan karya Muhammad ﷺ bertentangan dengan karakter wahyu itu sendiri.


G. Al-Qur’an Tidak Berisi Pertentangan

Allah berfirman:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pasti mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.”

(QS. An-Nisā’: 82)

Ini merupakan salah satu argumentasi penting Al-Qur’an.

Al-Qur’an turun secara bertahap selama sekitar 23 tahun, dalam keadaan dan peristiwa yang sangat beragam.

Namun pesan pokoknya tetap konsisten:

Tauhid – ibadah – akhlak – keadilan – pertanggungjawaban – akhirat.


H. Al-Qur’an Terjaga Sampai Hari Kiamat

Allah berfirman:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.”

(QS. Al-Ḥijr: 9)

Ini merupakan janji Allah tentang penjagaan Al-Qur’an.

Penjagaan itu tampak melalui:

  1. hafalan para huffaz,
  2. penulisan mushaf,
  3. pengajaran dari generasi ke generasi,
  4. sanad qira’ah,
  5. dan pemeliharaan bacaan yang bersumber dari Rasulullah ﷺ.

I. Hadis tentang Keutamaan Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR. al-Bukhārī)

Pelajaran

Kemuliaan seorang Muslim bukan hanya karena ia memiliki mushaf di rumah.

Kemuliaan itu muncul ketika ia:

membaca → memahami → mengamalkan → mengajarkan.

Karena itu guru Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia.


J. Al-Qur’an Akan Menjadi Pembela bagi Pembacanya

Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada para sahabatnya.”

(HR. Muslim)

Kata أَصْحَابِهِ berarti orang-orang yang benar-benar menjadi “sahabat” Al-Qur’an.

Bukan sekadar orang yang memiliki Al-Qur’an.

Tetapi orang yang:

  • dekat dengannya,
  • membacanya,
  • mentadabburinya,
  • mengamalkannya,
  • dan menjadikannya pedoman hidup.

K. Al-Qur’an adalah Petunjuk dan Rahmat

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Isrā’: 82)

Al-Qur’an menyembuhkan terutama penyakit hati:

  • syirik,
  • keraguan,
  • kesombongan,
  • kemunafikan,
  • kebodohan,
  • kecintaan berlebihan kepada dunia,
  • dan penyimpangan dari kebenaran.

Imam Ibnul Qayyim

Dalam Zād al-Ma‘ād dan ad-Dā’ wa ad-Dawā’, Ibnul Qayyim menjelaskan kedudukan wahyu sebagai obat bagi penyakit hati dan sumber kehidupan bagi hati.

Karena itu, penyakit hati tidak cukup disembuhkan hanya dengan kesenangan dunia.

Hati membutuhkan:

Al-Qur’an + iman + dzikir + amal saleh.


L. Al-Qur’an dan Kehidupan

Hadirin yang dirahmati Allah,

Persoalan kita hari ini bukan apakah Al-Qur’an masih ada.

Al-Qur’an masih ada.

Persoalan kita adalah:

Apakah Al-Qur’an masih hidup dalam diri kita?

Mushaf mungkin ada di rumah.

Tetapi apakah ia dibaca?

Ayat mungkin kita hafal.

Tetapi apakah ia diamalkan?

Kita mungkin mampu membaca dengan tajwid.

Tetapi apakah akhlak kita mencerminkan Al-Qur’an?

Allah berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

(QS. Ṣād: 29)

Tujuan Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca.

Tetapi:

لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

“agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”


M. Kemukjizatan Al-Qur’an Harus Melahirkan Ketundukan

Jangan sampai kita kagum kepada Al-Qur’an tetapi tidak tunduk kepadanya.

Allah berfirman:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Maka orang yang benar-benar dekat dengan Al-Qur’an akan semakin:

  • takut kepada Allah,
  • rendah hati,
  • jujur,
  • sabar,
  • pemaaf,
  • menjaga lisannya,
  • menjaga shalatnya,
  • dan menjauhi maksiat.

N. Pandangan Para Ulama tentang I‘jāz Al-Qur’an

1. Imam al-Bāqillānī

Imam Abū Bakr al-Bāqillānī merupakan salah satu ulama penting yang membahas I‘jāz al-Qur’ān secara khusus.

Beliau menjelaskan berbagai sisi kemukjizatan Al-Qur’an, termasuk susunan bahasa, kandungan makna, dan ketidakmampuan manusia menghadirkan tandingannya.

Rujukan: I‘jāz al-Qur’ān, karya al-Bāqillānī.

2. Imam az-Zarkasyī

Dalam:

Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān

az-Zarkasyī membahas berbagai aspek ilmu Al-Qur’an dan kemukjizatannya.

3. Imam as-Suyūṭī

Dalam:

Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān

as-Suyūṭī menghimpun pembahasan luas mengenai ilmu-ilmu Al-Qur’an, termasuk aspek kemukjizatan dan karakteristik wahyu.

4. Fakhruddin ar-Rāzī

Dalam Mafātīḥ al-Ghaib (Tafsīr ar-Rāzī), ar-Rāzī banyak menjelaskan sisi argumentasi, bahasa, susunan, dan kandungan Al-Qur’an sebagai wahyu Allah.

5. Ibn ‘Āsyūr

Dalam At-Taḥrīr wa at-Tanwīr, Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa tantangan Al-Qur’an berkaitan erat dengan keistimewaan susunan dan gaya bahasa yang tidak mampu dicapai manusia.


O. Kisah Musailamah al-Każżāb

Dalam sejarah, terdapat orang-orang yang mencoba membuat sesuatu yang menyerupai Al-Qur’an.

Salah satunya adalah Musailamah al-Każżāb.

Ia membuat ungkapan-ungkapan yang diklaim sebagai wahyu.

Namun karya tersebut justru menjadi bahan celaan para ahli bahasa.

Hal ini menunjukkan satu pelajaran:

Meniru bentuk luar Al-Qur’an tidak berarti mampu menghadirkan hakikat kemukjizatannya.

Al-Qur’an bukan sekadar rangkaian kata berbahasa Arab.

Ia adalah wahyu Allah.


P. Apa Sikap Kita terhadap Al-Qur’an?

Setelah memahami bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat, maka sikap kita harus berubah.

1. Meyakininya

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِكِتَابِهِ

Kita meyakini Al-Qur’an sebagai wahyu Allah.

2. Membacanya

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”

(HR. at-Tirmiżī)

3. Memahaminya

Jangan berhenti pada membaca.

Belajar tafsir.

Belajar bahasa Arab.

Belajar hadis.

Belajar bagaimana para sahabat memahami Al-Qur’an.

4. Mengamalkannya

Inilah tujuan terbesar.

Al-Qur’an harus terlihat dalam:

  • shalat kita,
  • keluarga kita,
  • pendidikan kita,
  • pekerjaan kita,
  • perdagangan kita,
  • kepemimpinan kita,
  • dan akhlak kita.

5. Mengajarkannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”


Q. Renungan untuk Kita

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Allah tidak membutuhkan Al-Qur’an.

Kitalah yang membutuhkan Al-Qur’an.

Allah tidak membutuhkan bacaan kita.

Kitalah yang membutuhkan petunjuknya.

Allah tidak membutuhkan hafalan kita.

Kitalah yang membutuhkan cahaya wahyu untuk menerangi kehidupan kita.

Karena itu jangan sampai:

mushaf kita bersih, tetapi hati kita kotor;

bacaan kita lancar, tetapi akhlak kita buruk;

hafalan kita banyak, tetapi amal kita sedikit;

kita sering berbicara tentang Al-Qur’an, tetapi jarang hidup dengan Al-Qur’an.


R. Kesimpulan

Dari Surah Al-Isrā’ ayat 88 kita dapat mengambil beberapa pelajaran besar:

1. Al-Qur’an adalah wahyu Allah

Ia bukan karya manusia.

2. Al-Qur’an adalah mukjizat

Manusia dan jin tidak mampu membuat tandingannya.

3. Kemukjizatan Al-Qur’an memiliki banyak sisi

Di antaranya bahasa, susunan, kandungan, petunjuk, dan pengaruhnya terhadap manusia.

4. Al-Qur’an harus dipelajari

Bukan sekadar dibaca.

5. Al-Qur’an harus diamalkan

Karena ukuran keberhasilan bukan hanya banyaknya ayat yang kita hafal, tetapi seberapa jauh ayat itu mengubah kehidupan kita.

6. Al-Qur’an harus diwariskan kepada generasi berikutnya

Orang tua mengajarkan kepada anak.

Guru mengajarkan kepada murid.

Ulama mengajarkan kepada umat.


S. Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Sudahkah Al-Qur’an menjadi sahabat hidup kita?

Sudahkah kita menjadikannya pedoman ketika memilih?

Sudahkah kita kembali kepadanya ketika menghadapi masalah?

Sudahkah akhlak kita mencerminkan ayat-ayat yang kita baca?

Semoga Allah menjadikan kita Ahlul Qur’an, orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an, mencintainya, membacanya, memahami, mengamalkan, dan mengajarkannya.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.

“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, penghilang kesedihan kami, dan penghapus kegelisahan kami.”

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا الْقُرْآنَ، وَفَقِّهْنَا فِي الْقُرْآنِ، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ وَالْعَمَلَ بِهِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ.

“Ya Allah, ajarkanlah kami Al-Qur’an, pahamkanlah kami terhadap Al-Qur’an, rezekikanlah kepada kami kemampuan membacanya dan mengamalkannya, serta jadikanlah kami termasuk Ahlul Qur’an.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

والله أعلم بالصواب

Kitab rujukan utama

Untuk memperdalam materi di atas, rujukan yang dapat digunakan antara lain:

  1. Tafsīr aṭ-Ṭabarī — Jāmi‘ al-Bayān, khususnya tafsir QS. Al-Isrā’: 88.
  2. Tafsīr Ibn Kathīr — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, QS. Al-Isrā’: 88.
  3. Mafātīḥ al-Ghaib — Fakhruddīn ar-Rāzī, pembahasan i‘jāz dan kandungan ayat.
  4. Al-Kashshāf — az-Zamakhsyarī, pembahasan aspek bahasa dan balāghah Al-Qur’an.
  5. I‘jāz al-Qur’ān — al-Bāqillānī, karya khusus tentang kemukjizatan Al-Qur’an.
  6. Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān — az-Zarkasyī.
  7. Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān — as-Suyūṭī.
  8. At-Taḥrīr wa at-Tanwīr — Ibn ‘Āsyūr, tafsir dan analisis bahasa Al-Qur’an.
  9. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.
  10. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn dan pembahasan keutamaan membaca Al-Qur’an.
  11. Sunan at-Tirmiżī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.
  12. Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah dan ad-Dā’ wa ad-Dawā’ — Ibnul Qayyim, untuk pembahasan kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan obat bagi hati.

Inti ceramah:

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang harus kita baca, tetapi wahyu yang harus kita percaya, pahami, cintai, amalkan, dan perjuangkan dalam kehidupan. Karena manusia dan jin tidak mampu membuat tandingannya, maka tugas seorang mukmin bukan menandingi Al-Qur’an, tetapi tunduk kepada Al-Qur’an.

Tidak ada komentar