AL-QUR’AN: RAHMAT TERBESAR DARI ALLAH

🌿 MATERI CERAMAH

AL-QUR’AN: RAHMAT TERBESAR DARI ALLAH

Kajian QS. Al-Isrā’ Ayat 87

Pembukaan

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan sebuah ayat yang sangat indah tentang rahmat dan karunia Allah kepada Rasulullah ﷺ dan seluruh umat manusia, yaitu QS. Al-Isrā’ ayat 87.


1. Allah Menegaskan Besarnya Rahmat-Nya

Allah SWT berfirman:

QS. Al-Isrā’: 87

اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۗ اِنَّ فَضْلَهٗ كَانَ عَلَيْكَ كَبِيْرًا

Artinya:

“Kecuali karena rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, karunia-Nya atasmu (Muhammad) sangat besar.”

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya.

Pada ayat 86 Allah berfirman bahwa jika Dia menghendaki, Dia mampu mengambil kembali wahyu yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ.

Kemudian ayat 87 memberikan penjelasan:

إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Kecuali karena rahmat dari Tuhanmu.”

Artinya, tetap terpeliharanya wahyu yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ merupakan rahmat Allah yang sangat besar.


2. Al-Qur’an Adalah Rahmat Terbesar bagi Manusia

Allah berfirman:

QS. Yūnus: 57

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Perhatikan empat fungsi Al-Qur’an:

مَوْعِظَةٌ
Nasihat dan pelajaran.

شِفَاءٌ
Penyembuh.

هُدًى
Petunjuk.

رَحْمَةٌ
Rahmat.

Maka Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca ketika ada acara keagamaan.

Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan.


3. Karunia Allah kepada Nabi ﷺ Sangat Besar

Allah berfirman:

QS. Aḍ-Ḍuḥā: 6–8

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰى ۖ ٦
وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰى ۖ ٧
وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰى ۗ ٨

Artinya:

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang belum mendapat petunjuk, lalu Dia memberi petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”

Allah mengingatkan Rasulullah ﷺ tentang berbagai bentuk karunia-Nya.

Karena itu, ketika seseorang menyadari nikmat Allah, sikap yang benar bukanlah kesombongan, tetapi syukur.


4. Nikmat Terbesar Bukan Hanya Harta

Hadirin rahimakumullah,

Sering kali manusia mengukur nikmat dengan:

  • banyaknya uang,
  • rumah yang besar,
  • kendaraan,
  • jabatan,
  • popularitas,
  • bisnis yang berkembang.

Padahal ada nikmat yang jauh lebih besar:

Nikmat iman.

Dan di antara sarana terbesar untuk mendapatkan dan menjaga iman adalah:

Al-Qur’an.

Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah: 2

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Maka memiliki Al-Qur’an berarti memiliki petunjuk.

Tetapi jangan berhenti pada memiliki mushaf.

Yang lebih penting adalah:

memiliki hubungan dengan Al-Qur’an.


5. Al-Qur’an adalah Rahmat bagi Orang Beriman

Allah berfirman:

QS. Al-Isrā’: 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

Artinya:

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Ayat 82 dan 87 memiliki hubungan yang sangat kuat.

Al-Qur’an adalah rahmat.

Tetapi rahmat itu akan dirasakan oleh orang yang:

  • beriman,
  • membaca,
  • memahami,
  • menerima,
  • dan mengamalkan petunjuknya.

6. Al-Qur’an Menyembuhkan Penyakit Hati

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit tubuh.

Penyakit tubuh menyebabkan seseorang kehilangan kesehatan.

Tetapi penyakit hati dapat menyebabkan seseorang kehilangan akhirat.

Di antara penyakit hati:

  • syirik,
  • nifak,
  • sombong,
  • hasad,
  • riya,
  • cinta dunia berlebihan,
  • dendam,
  • buruk sangka,
  • dan keras hati.

Al-Qur’an datang sebagai penyembuh.

Allah berfirman:

QS. Fuṣṣilat: 44

قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌ ۗ وَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۗ اُولٰۤىِٕكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan dan Al-Qur’an itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu seperti orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.’”

Masalahnya bukan pada Al-Qur’an.

Masalahnya adalah hati manusia dalam menerima Al-Qur’an.


7. Ilmu adalah Karunia yang Harus Disyukuri

Ar-Rāzī menjelaskan bahwa di antara karunia besar Allah kepada orang-orang berilmu terdapat dua hal:

  1. Allah memudahkan seseorang memperoleh ilmu.
  2. Allah membuat ilmu itu tetap berada dalam ingatan dan pemahamannya.

Ini pelajaran yang sangat penting bagi guru, ustaz, santri dan para penuntut ilmu.

Jangan pernah berkata:

“Saya pintar karena kemampuan saya sendiri.”

Tetapi katakan:

“Allah yang memberikan saya kemampuan untuk memahami.”

Allah berfirman:

QS. Al-‘Alaq: 1–5

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ ١
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۚ ٢
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ ۙ ٣
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۙ ٤
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ۗ ٥

Artinya:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Perhatikan:

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Jadi ilmu adalah pemberian Allah.


8. Karena Ilmu Adalah Karunia, Maka Harus Diamalkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

HR. al-Bukhārī.

Hadis ini tidak hanya berbicara tentang belajar.

Tetapi juga:

تَعَلَّمَ — belajar

dan

عَلَّمَهُ — mengajarkan.

Maka seorang guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada muridnya sedang berada di atas jalan kemuliaan yang sangat besar.


9. Ilmu yang Tidak Diamalkan Bisa Menjadi Hujah atas Diri Sendiri

Allah memberikan ilmu agar manusia semakin dekat kepada-Nya.

Allah berfirman:

QS. Muḥammad: 24

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Artinya:

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Ayat ini mengajarkan bahwa membaca saja belum cukup.

Ada tingkatan:

Tilāwah → Tadabbur → Tathbīq → Da‘wah

Membaca → memahami → mengamalkan → mengajarkan.


10. Nabi ﷺ Sangat Mensyukuri Nikmat Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Artinya:

“Tidakkah aku boleh menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Hadis ini muncul ketika ‘Aisyah r.a. melihat Nabi ﷺ melakukan salat malam hingga kedua kaki beliau bengkak.

Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut padahal Allah telah mengampuni dosa-dosanya, Nabi ﷺ menjawab:

“Tidakkah aku boleh menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Pelajarannya:

Semakin banyak nikmat yang Allah berikan, seharusnya semakin banyak syukur kita.

Bukan semakin banyak kesombongan.


11. Syukur terhadap Al-Qur’an Memiliki Empat Bentuk

Pertama: Syukur dengan membaca

Rasulullah ﷺ bersabda:

اِقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Artinya:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada orang-orang yang menjadi sahabatnya.”

HR. Muslim.


Kedua: Syukur dengan memahami

Allah berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ

Artinya:

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya.”

QS. Ṣād: 29.


Ketiga: Syukur dengan mengamalkan

Al-Qur’an bukan hanya untuk memperindah suara.

Tetapi untuk memperindah kehidupan.

Jika Al-Qur’an memerintahkan jujur, maka kita jujur.

Jika memerintahkan berbakti kepada orang tua, kita berbakti.

Jika melarang ghibah, kita menjaga lisan.

Jika memerintahkan amanah, kita menjaga amanah.


Keempat: Syukur dengan mengajarkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”


12. Jangan Takut Berbagi Ilmu Al-Qur’an

Kadang seseorang berkata:

“Saya belum sempurna, bagaimana mungkin mengajarkan?”

Kesempurnaan memang tidak kita miliki.

Tetapi selama ilmu yang disampaikan benar dan bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka jangan berhenti mengajarkan kebaikan.

Allah berfirman:

QS. An-Naḥl: 43

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Ini juga mengajarkan etika ilmiah:

Jika tidak tahu, bertanya.

Jangan berbicara tentang agama tanpa ilmu.


13. Rahmat Allah Harus Melahirkan Harapan

Allah berfirman:

QS. Az-Zumar: 53

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Al-Qur’an membawa manusia:

dari dosa menuju taubat,

dari kesesatan menuju hidayah,

dari kegelapan menuju cahaya,

dari keputusasaan menuju harapan.

Itulah rahmat Allah.


14. Rahmat Allah Tidak Berarti Kita Boleh Bermalas-malasan

Ada orang yang berkata:

“Allah Maha Pengampun.”

Lalu terus melakukan dosa.

Ini bukan pemahaman yang benar tentang rahmat Allah.

Rahmat Allah seharusnya membuat kita:

  • semakin takut kepada-Nya,
  • semakin cinta kepada-Nya,
  • semakin banyak beribadah,
  • semakin cepat bertaubat,
  • semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Allah berfirman:

QS. Al-A‘rāf: 56

اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya:

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Perhatikan:

رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

Rahmat Allah dekat.

Kepada siapa?

مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Kepada orang-orang yang berbuat ihsan.”


15. Karunia Terbesar Adalah Hidayah

Hadirin rahimakumullah,

Harta bisa hilang.

Jabatan bisa hilang.

Kesehatan bisa berkurang.

Usia terus berjalan.

Tetapi jika seseorang mendapatkan hidayah Allah, ia memiliki bekal terbesar menuju akhirat.

Allah berfirman:

QS. Al-Qaṣaṣ: 56

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya:

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Karena itu, jangan pernah berhenti berdoa:

“Ya Allah, jangan cabut hidayah dari hati kami.”


16. Tiga Pertanyaan untuk Diri Kita

Setelah memahami QS. Al-Isrā’: 87, mari kita bertanya:

❓ Pertama

Apakah saya sudah mensyukuri nikmat Al-Qur’an?

❓ Kedua

Apakah Al-Qur’an sudah mengubah akhlak saya?

❓ Ketiga

Apakah saya sudah mewariskan kecintaan kepada Al-Qur’an kepada anak dan murid saya?

Jangan sampai anak-anak kita hafal banyak surat, tetapi tidak mengenal akhlak Al-Qur’an.

Jangan sampai mereka lancar membaca Al-Qur’an tetapi tidak memahami maknanya.

Target pendidikan Al-Qur’an bukan hanya:

anak bisa membaca Al-Qur’an.

Tetapi:

anak mencintai Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an, mengamalkan Al-Qur’an dan hidup bersama Al-Qur’an.


🌹 Penutup

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah,

QS. Al-Isrā’ ayat 87 mengingatkan kita:

اِنَّ فَضْلَهٗ كَانَ عَلَيْكَ كَبِيْرًا

“Sungguh, karunia-Nya atasmu sangat besar.”

Maka marilah kita menyadari bahwa Al-Qur’an adalah karunia yang sangat besar.

Jangan hanya bersyukur ketika mendapatkan harta.

Bersyukurlah ketika Allah membuat kita:

  • senang membaca Al-Qur’an,
  • senang mendengarkan Al-Qur’an,
  • senang mempelajari tafsir,
  • senang mengajarkan Al-Qur’an,
  • senang mengamalkan Al-Qur’an,
  • dan senang mendidik generasi dengan Al-Qur’an.

Sebab tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah ia diberi kemampuan untuk memahami agama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya:

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya tentang agama.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Maka mari kita berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا، وَذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّيْنَا، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ وَتَدَبُّرَهُ وَالْعَمَلَ بِهِ.

اللَّهُمَّ لَا تَسْلُبْ مِنَّا نِعْمَةَ الْإِيْمَانِ، وَلَا نِعْمَةَ الْقُرْآنِ، وَلَا نِعْمَةَ الْهِدَايَةِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Rujukan Tafsir dan Hadis

Untuk pendalaman materi, rujukan utama yang sangat baik digunakan:

  1. Tafsīr aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān — tafsir QS. Al-Isrā’: 86–87.
  2. Tafsīr Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — QS. Al-Isrā’: 87, QS. Yūnus: 57 dan QS. Al-Ḥijr: 9.
  3. Tafsīr Fakhruddīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb — pembahasan karunia Allah berupa ilmu dan pemahaman.
  4. Tafsīr al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.
  5. Tafsīr as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān.
  6. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.
  7. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn dan hadis keutamaan Al-Qur’an.
  8. Ibnul Qayyim, Al-Fawā’id — pembahasan kehidupan hati dengan Al-Qur’an.
  9. Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn — kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penyembuh.
  10. Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn karya Imam an-Nawawī — bab tentang membaca Al-Qur’an, ilmu, ikhlas, dan amal.

🌱 Inti pesan ceramah

Al-Qur’an adalah rahmat Allah yang sangat besar. Mensyukurinya bukan sekadar menyimpan mushaf di rumah, tetapi menjadikan Al-Qur’an hidup di dalam hati, lisan, akhlak, keluarga, sekolah, dan seluruh kehidupan kita.

Tidak ada komentar