Allah yang Menciptakan Langit dan Bumi, Pasti Mampu Membangkitkan Manusia
🌿 Materi Ceramah QS. Al-Isrā’ Ayat 99
“Allah yang Menciptakan Langit dan Bumi, Pasti Mampu Membangkitkan Manusia”
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan ini kita melanjutkan tadabbur Surah Al-Isrā’, khususnya ayat ke-99. Ayat ini masih berkaitan erat dengan ayat 98 yang membicarakan orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan.
1. Ayat Utama: QS. Al-Isrā’ [17]: 99
اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ قَادِرٌ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ اَجَلًا لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ فَاَبَى الظّٰلِمُوْنَ اِلَّا كُفُوْرًا
Artinya:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Mahakuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan Dia telah menetapkan waktu tertentu (mati atau dibangkitkan) bagi mereka, yang tidak diragukan lagi? Maka orang zalim itu tidak menolaknya kecuali dengan kekafiran.”
Inti kandungan ayat
Ayat ini mengajak manusia berpikir menggunakan akal dan memperhatikan ciptaan Allah.
Allah memberikan argumentasi yang sangat sederhana:
Allah menciptakan langit dan bumi yang begitu besar dan luar biasa. Maka apakah Allah tidak mampu menciptakan kembali manusia setelah kematiannya?
Tentu sangat mampu.
2. Allah Menggunakan Penciptaan Langit dan Bumi sebagai Bukti Kebangkitan
Allah berfirman:
QS. Ghāfir [40]: 57
لَخَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Renungan
Manusia terkadang merasa dirinya sangat hebat.
Kita mampu membuat gedung tinggi, pesawat, kapal, komputer, dan teknologi canggih.
Tetapi siapa yang menciptakan:
- langit yang luas?
- matahari?
- bulan?
- jutaan bahkan miliaran bintang?
- bumi?
- air?
- tumbuhan?
- tubuh manusia?
- sistem kehidupan?
Allah سبحانه وتعالى.
Maka jangan sampai manusia merasa bahwa kebangkitan terlalu sulit bagi Allah.
3. Allah Menjawab Orang yang Meragukan Kebangkitan
Allah berfirman:
QS. Yāsīn [36]: 78–79
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ
Artinya:
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?’ Katakanlah, ‘Yang akan menghidupkannya ialah Dia yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.’”
Pelajaran
Orang yang mengingkari kebangkitan sering melihat akhir kehidupan, tetapi lupa melihat awal penciptaan.
Allah seakan-akan bertanya:
“Sebelum menjadi tulang, bukankah kamu pernah tidak ada?”
Kemudian Allah menciptakanmu.
Maka jangan menganggap kebangkitan sebagai sesuatu yang mustahil bagi Allah.
4. Penciptaan Manusia Lebih Menakjubkan daripada yang Kita Sadari
Allah berfirman:
QS. Al-Mu’minūn [23]: 12–14
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۖ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ ۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ
Artinya:
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Subḥānallāh!
Manusia yang dahulu tidak memiliki bentuk, tidak memiliki nama, tidak memiliki kekuatan, akhirnya menjadi makhluk yang dapat berpikir, berbicara dan mengenal Tuhannya.
Kalau penciptaan pertama saja luar biasa, mengapa kita meragukan kekuasaan Allah untuk membangkitkan kembali?
5. Hadis tentang Tahapan Penciptaan Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ...
Artinya:
“Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula, kemudian menjadi mudghah selama itu pula, kemudian diutus kepadanya malaikat…”
HR. al-Bukhārī dan Muslim.
Hadis ini mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia sejak awal berada dalam ilmu, kehendak dan ketetapan Allah.
6. Allah Menetapkan “Ajal” bagi Manusia
Dalam ayat ini Allah berfirman:
وَجَعَلَ لَهُمْ اَجَلًا لَّا رَيْبَ فِيْهِ
“Dan Dia telah menetapkan waktu tertentu bagi mereka, yang tidak diragukan lagi.”
Kata أَجَل (ajal) menunjukkan adanya batas waktu yang telah Allah tetapkan.
Allah berfirman:
QS. Āli ‘Imrān [3]: 145
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا
Artinya:
“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.”
Pesannya
Tidak ada manusia yang mengetahui dengan pasti:
“Kapan saya akan meninggal?”
Karena itu jangan menunda taubat.
Jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya akan berubah.”
Kita tidak pernah mendapatkan jaminan bahwa kita akan sampai usia tua.
7. Setiap Jiwa Akan Merasakan Kematian
Allah berfirman:
QS. Āli ‘Imrān [3]: 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Perhatikan kalimat terakhir:
فَقَدْ فَازَ
“Sungguh, dia memperoleh kemenangan.”
Allah tidak mengatakan bahwa orang yang memiliki harta paling banyak adalah pemenang.
Bukan pula yang paling terkenal.
Bukan yang paling tinggi jabatannya.
Pemenang sejati adalah orang yang selamat dari neraka dan masuk surga.
8. Jangan Tertipu oleh Kehidupan Dunia
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Artinya:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
HR. al-Bukhārī.
Ulasan Ibn Hajar
Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibn Hajar menjelaskan makna hadis ini sebagai dorongan agar seorang mukmin tidak menggantungkan seluruh harapannya kepada dunia, karena dunia bukan tempat tinggal yang kekal.
Seorang musafir akan menggunakan tempat persinggahan secukupnya karena ia tahu bahwa perjalanannya masih panjang.
Demikian pula seorang mukmin.
Dunia adalah tempat singgah. Akhirat adalah tempat menetap.
9. Mengapa Orang yang Zalim Tetap Mengingkari?
Allah berfirman:
فَاَبَى الظّٰلِمُوْنَ اِلَّا كُفُوْرًا
“Maka orang-orang zalim itu tidak menolaknya kecuali dengan kekafiran.”
Masalah mereka bukan karena Allah tidak memberikan bukti.
Bukti telah banyak.
Masalahnya adalah menolak kebenaran setelah datangnya petunjuk.
Allah berfirman:
QS. Al-Mulk [67]: 10
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ
Artinya:
“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’”
Ini merupakan penyesalan yang sangat besar.
Mereka memiliki telinga, tetapi tidak mau mendengarkan kebenaran.
Mereka memiliki akal, tetapi tidak mau menggunakannya untuk mencari kebenaran.
10. Penjelasan Para Ulama
📖 Imam ath-Thabari
Dalam Jāmi‘ al-Bayān, ayat ini dipahami sebagai hujjah Allah terhadap orang-orang yang mengingkari kebangkitan.
Jika Allah mampu menciptakan langit dan bumi, yang jauh lebih besar daripada manusia, maka tidak ada alasan rasional untuk menganggap Allah tidak mampu menciptakan manusia kembali.
📖 Imam Ibn Katsir
Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibn Katsir menghubungkan ayat ini dengan berbagai ayat tentang penciptaan langit dan bumi sebagai bukti kesempurnaan qudrah Allah.
Penciptaan pertama merupakan bukti bahwa kebangkitan bukan sesuatu yang mustahil.
📖 Imam al-Qurthubi
Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, pembahasan tentang ayat-ayat kebangkitan menunjukkan bahwa al-ba‘ts adalah perkara yang pasti, bukan sekadar kemungkinan.
Allah telah menetapkan ajal dan waktu yang akan membawa manusia menuju kehidupan akhirat.
📖 Syaikh as-Sa‘di
Dalam Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menjelaskan bahwa Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan ciptaan-Nya sebagai bukti kekuasaan-Nya.
Barang siapa merenungkan penciptaan langit dan bumi, akan semakin mudah baginya memahami kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia.
11. Pelajaran Penting untuk Kehidupan
🌱 Pertama: Gunakan akal untuk mengenal Allah
Islam tidak melarang manusia berpikir.
Justru Al-Qur'an berkali-kali mengajak:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kamu menggunakan akal?”
Tetapi akal harus digunakan untuk mencari kebenaran, bukan untuk membenarkan hawa nafsu.
🌱 Kedua: Jangan sombong karena ilmu
Semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin sadar bahwa ilmu kita terbatas.
Allah berfirman:
QS. Al-Isrā’ [17]: 85
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya:
“Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Ilmu manusia sangat terbatas dibandingkan ilmu Allah.
🌱 Ketiga: Persiapkan hari yang pasti
Allah tidak mengatakan:
“Jika hari Kiamat terjadi.”
Tetapi Allah menjelaskan bahwa ada أَجَلًا لَا رَيْبَ فِيهِ — waktu yang tidak diragukan.
Karena itu, yang harus kita siapkan bukan pertanyaan:
“Apakah saya akan mati?”
Tetapi:
“Sudahkah saya siap ketika kematian datang?”
12. Cara Menghidupkan Iman kepada Hari Akhir
Ada beberapa latihan sederhana:
1. Ingat kematian setiap hari
Bukan agar menjadi pesimis, tetapi agar hidup lebih bertanggung jawab.
2. Evaluasi amal
Tanyakan kepada diri:
“Jika malam ini saya meninggal, apakah saya siap bertemu Allah?”
3. Segera bertaubat
Jangan menunggu tua.
4. Perbanyak amal yang pahalanya terus mengalir
Misalnya:
- mengajarkan ilmu,
- membantu pendidikan,
- sedekah,
- wakaf,
- mendidik anak menjadi saleh.
5. Tinggalkan kezaliman
Sebab pada hari akhirat tidak ada kezaliman yang akan hilang begitu saja.
13. Renungan untuk Jamaah
Jamaah yang dirahmati Allah...
Kita sering takut kehilangan:
rumah, kendaraan, pekerjaan, jabatan, uang dan harta.
Tetapi ada satu kehilangan yang jauh lebih besar:
kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan akhirat.
Rumah akan kita tinggalkan.
Kendaraan akan kita tinggalkan.
Harta akan kita tinggalkan.
Jabatan akan kita tinggalkan.
Tetapi amal akan menemani kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya:
“Ada tiga perkara yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya dan amalnya. Dua akan kembali dan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
HR. al-Bukhārī dan Muslim.
🌹 Penutup
QS. Al-Isrā’ ayat 99 memberikan kepada kita sebuah argumentasi yang sangat kuat:
Allah menciptakan langit dan bumi.
Allah menciptakan manusia pertama kali.
Allah menetapkan ajal.
Allah pasti membangkitkan manusia.
Maka jangan sampai kita menjadi seperti orang yang baru sadar setelah kematian datang.
Jangan menunggu tua untuk bertaubat.
Jangan menunggu sakit untuk memperbaiki ibadah.
Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.
Jangan menunggu kematian untuk memikirkan akhirat.
Karena kematian tidak menunggu kita siap.
Mari kita hidup dengan keyakinan:
“Aku berasal dari Allah, hidup dengan pertolongan Allah, akan kembali kepada Allah, dan akan mempertanggungjawabkan kehidupanku di hadapan Allah.”
🤲 Doa
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا صَادِقًا، وَيَقِينًا رَاسِخًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang benar, keyakinan yang kokoh, hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan husnul khatimah.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرَ مَصِيرِنَا.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jadikan akhirat sebagai sebaik-baik tempat kembali kami.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
📚 Rujukan
- Jāmi‘ al-Bayān — ath-Thabari.
- Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Ibn Katsir.
- Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — al-Qurthubi.
- Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — Abdurrahman as-Sa‘di.
- Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī — Ibn Hajar al-‘Asqalani.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
- Ṣaḥīḥ Muslim.
🌿 Pesan utama:
Jika kita yakin Allah mampu menciptakan langit dan bumi yang begitu besar, maka jangan pernah meragukan bahwa Allah mampu membangkitkan kita setelah kematian. Yang harus kita lakukan sekarang bukan memperdebatkan apakah kita akan dibangkitkan, tetapi mempersiapkan diri untuk hari ketika kita benar-benar dibangkitkan.
Post a Comment