Bahaya Berbicara tentang Allah Tanpa Ilmu dan Pentingnya Kembali kepada Tauhid

MATERI CERAMAH

“Bahaya Berbicara tentang Allah Tanpa Ilmu dan Pentingnya Kembali kepada Tauhid”

Tafsir dan Tadabbur QS. Al-Kahf Ayat 5

Pembukaan

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk mempelajari firman-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.

Pada kesempatan ini kita mentadabburi QS. Al-Kahf ayat 5, yang memberikan peringatan sangat keras tentang berbicara mengenai Allah tanpa ilmu, mengikuti keyakinan tanpa dalil, dan bahaya taklid terhadap tradisi yang bertentangan dengan wahyu.


1. QS. AL-KAHF AYAT 5

Firman Allah سبحانه وتعالى:

مَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

Artinya:

“Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.”

Pesan utama ayat

Ada tiga kecaman besar dalam ayat ini:

  1. Mereka tidak mempunyai ilmu tentang apa yang mereka katakan.
  2. Mereka hanya mengikuti perkataan nenek moyang yang juga tidak mempunyai ilmu.
  3. Perkataan tersebut merupakan kebohongan besar terhadap Allah.

Dengan demikian, ayat ini bukan hanya membantah keyakinan tentang Allah memiliki anak, tetapi juga mengajarkan metode berpikir seorang Muslim: setiap keyakinan agama harus dikembalikan kepada wahyu dan ilmu.


2. BERBICARA TENTANG ALLAH HARUS DENGAN ILMU

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, serta (mengharamkan) kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”
(QS. Al-A‘rāf: 33)

Perhatikan bagaimana Allah menempatkan “berkata tentang Allah tanpa ilmu” sebagai perkara yang sangat berbahaya.

Pelajaran

Tidak semua perkataan yang terdengar indah adalah benar.

Tidak semua yang dilakukan nenek moyang otomatis menjadi benar.

Tidak semua yang banyak dilakukan masyarakat otomatis sesuai dengan syariat.

Ukuran kebenaran adalah wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ.


3. JANGAN MENGIKUTI SESUATU TANPA ILMU

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isrā’: 36)

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang.

Sebelum menyampaikan sebuah berita agama, kita perlu bertanya:

  • Dari mana sumbernya?
  • Apakah ada ayat Al-Qur'an?
  • Apakah ada hadis yang sahih?
  • Bagaimana penjelasan para ulama?
  • Apakah hadis tersebut benar-benar berasal dari Rasulullah ﷺ?

Sebab lisan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


4. JANGAN MENJADIKAN TRADISI SEBAGAI UKURAN KEBENARAN

QS. Al-Kahf ayat 5 juga mengkritik sikap:

“Kami melakukan ini karena nenek moyang kami juga melakukannya.”

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Artinya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Pelajaran penting

Islam tidak mengajarkan kita merendahkan orang tua atau nenek moyang.

Namun Islam mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang lebih dahulu melakukannya.

Jika tradisi sesuai dengan syariat, kita boleh mempertahankannya.

Jika bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka yang didahulukan adalah wahyu.


5. TAUHID: ALLAH TIDAK MEMPUNYAI ANAK

Ayat sebelumnya menjelaskan orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak.

Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat tegas:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ ۝١
اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ ۝٢
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ ۝٣
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ۝٤

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’”
(QS. Al-Ikhlāṣ: 1–4)

Inilah inti tauhid:

الله واحد — Allah itu Esa.

Dia tidak mempunyai anak.

Dia tidak dilahirkan.

Dia tidak membutuhkan pasangan.

Dia tidak membutuhkan penolong.

Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.


6. ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN ANAK

Allah berfirman:

مَا اتَّخَذَ اللّٰهُ مِنْ وَّلَدٍ وَّمَا كَانَ مَعَهٗ مِنْ اِلٰهٍ ۚ اِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ اِلٰهٍۢ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ

Artinya:

“Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya. Jika demikian, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.”
(QS. Al-Mu’minūn: 91)

Ulasan

Allah adalah Al-Ghaniyy, Yang Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk.

Makhluk membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk.

Karena itu, menyandarkan sifat anak kepada Allah berarti menyandarkan kepada Allah sesuatu yang bertentangan dengan kesempurnaan-Nya.


7. ALLAH TIDAK MENYERUPAI MAKHLUK

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syūrā: 11)

Imam aṭ-Ṭabarī menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang setara atau menyerupai Allah dalam zat maupun sifat kesempurnaan-Nya.[^1]

Intinya

Ketika berbicara tentang Allah, kita harus berhenti pada batas yang ditetapkan wahyu.

Kita mengenal Allah melalui nama dan sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dan yang Rasulullah ﷺ jelaskan, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.


8. DALIL DARI SUNNAH: ILMU SEBELUM BERKATA

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللّٰهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya:

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.”

(HR. al-Bukhārī dan Muslim)[^2]

Ulasan Imam an-Nawawi

Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan memahami agama dan bahwa pemahaman agama merupakan tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi seorang hamba.[^3]

Maka salah satu tanda kebaikan bukanlah banyak berbicara tentang agama, tetapi mau belajar agama dengan benar.


9. BAHAYA BERBICARA DENGAN HADIS PALSU

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya:

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

(HR. al-Bukhārī dan Muslim)[^4]

Pelajaran

Jangan mudah mengatakan:

“Rasulullah bersabda…”

jika kita belum mengetahui sumbernya.

Begitu pula jangan mudah menyebarkan:

  • hadis viral,
  • kisah keutamaan yang tidak jelas,
  • ancaman dan janji pahala yang tidak memiliki dasar,
  • perkataan ulama yang tidak diketahui sumbernya.

Agama harus dibangun di atas ilmu, bukan sekadar cerita yang menarik.


10. JANGAN TAKLID BUTA

Allah berfirman:

وَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Artinya:

“Walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk.”

(QS. Al-Baqarah: 170)

Penjelasan para ulama

Ibn Kathīr رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini mencela orang yang meninggalkan petunjuk wahyu hanya karena mengikuti tradisi nenek moyang tanpa mempertimbangkan kebenaran yang dibawa Rasul.[^5]

Namun perlu dipahami dengan adil:

Mengikuti ulama bukanlah taklid tercela.

Orang awam memang diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu.

Allah berfirman:

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

(QS. An-Naḥl: 43)

Jadi yang tercela adalah mengikuti kebatilan hanya karena tradisi, sementara kebenaran telah jelas.


11. QS. ĀLI ‘IMRĀN AYAT 64: KEMBALI KEPADA TAUHID

Allah berfirman:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.’”

(QS. Āli ‘Imrān: 64)

Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah para nabi pada hakikatnya mengajak manusia kepada tauhidullah: hanya Allah yang disembah.


12. PENJELASAN IMAM ATH-THABARI

Dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Kahf: 5, Imam aṭ-Ṭabarī menjelaskan makna:

مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ

Yakni mereka tidak mempunyai pengetahuan mengenai perkataan mereka bahwa Allah mempunyai anak.

Beliau juga menjelaskan:

إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

Maksudnya, perkataan tersebut hanyalah dusta dan kebohongan yang mereka nisbatkan kepada Allah.[^6]

Pelajaran

Jika seseorang tidak memiliki ilmu tentang perkara akidah, sikap yang benar bukanlah membuat-buat jawaban.

Tetapi mengatakan:

اللّٰهُ أَعْلَمُ

“Allah lebih mengetahui.”

Mengatakan “saya tidak tahu” ketika memang tidak tahu adalah bagian dari amanah ilmiah.


13. PENJELASAN IBNU KATSĪR

Ibn Kathīr رحمه الله ketika menjelaskan ayat ini menerangkan bahwa Allah membantah perkataan orang-orang yang menyandarkan anak kepada-Nya karena perkataan tersebut tidak berdasarkan ilmu maupun bukti.

Kemudian Allah mencela perkataan itu:

كَبُرَتْ كَلِمَةً

yakni betapa besar dan buruknya perkataan tersebut.[^7]

Ini menunjukkan bahwa persoalan akidah bukan perkara ringan.

Seseorang tidak boleh berbicara:

“Menurut saya Allah begini…”

“Saya rasa sifat Allah seperti itu…”

tanpa dasar dari Al-Qur'an dan Sunnah.


14. TIGA PENYAKIT YANG DIKOREKSI QS. AL-KAHF: 5

① الجهل — Al-Jahl

Berbicara tanpa ilmu.

Obatnya:

التعلُّم — belajar.


② التقليد الأعمى — Taklid buta

Mengikuti tradisi tanpa mempertimbangkan kebenaran.

Obatnya:

الرجوع إلى الوحي — kembali kepada wahyu.


③ الكذب على الله — Berdusta atas nama Allah

Menyandarkan keyakinan atau hukum kepada Allah tanpa dalil.

Obatnya:

التحقق والتثبت — memeriksa dan memastikan.


15. IMPLEMENTASI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita.

Dalam berbicara

Sebelum mengatakan sesuatu tentang agama:

“Benarkah?”

Dalam menerima informasi

Jangan langsung percaya hanya karena:

  • dikirim ustadz,
  • dikirim grup WhatsApp,
  • ada tulisan “HR. Bukhari”,
  • banyak orang membagikannya.

Dalam mengajarkan anak

Ajarkan:

“Kalau belum tahu, kita belajar.”

Bukan:

“Pokoknya dari dulu memang begitu.”

Dalam berdakwah

Jangan menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran.

Dalil lebih penting daripada viral.


16. RENUNGAN: EMPAT PERTANYAAN SEBELUM BERBICARA

Sebelum menyampaikan sesuatu tentang agama, tanyakan:

1. Apakah saya mempunyai ilmu?

هَلْ عِنْدِي عِلْمٌ؟

2. Apa dalilnya?

أَيْنَ الدَّلِيلُ؟

3. Apakah pemahaman saya benar?

هَلْ فَهْمِي صَحِيْحٌ؟

4. Apakah perkataan saya bermanfaat?

هَلْ كَلَامِي مُفِيْدٌ؟

Jika tidak yakin, lebih selamat mengatakan:

لَا أَدْرِي — Saya tidak tahu.


17. KHATIMAH

Jamaah yang dirahmati Allah,

QS. Al-Kahf ayat 5 mengajarkan kepada kita bahwa masalah terbesar manusia bukan sekadar tidak mengetahui kebenaran, tetapi berani berbicara tanpa ilmu tentang kebenaran.

Allah berfirman:

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْ ۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.”

Maka mari kita menjaga lisan.

Jika mengetahui, sampaikan dengan benar.

Jika belum mengetahui, belajarlah.

Jika ragu, bertanyalah kepada ahlinya.

Jika salah, jangan malu untuk memperbaiki.

Dan dalam perkara akidah, jangan mendahulukan tradisi, perasaan, atau pendapat manusia di atas Al-Qur'an dan Sunnah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang berilmu sebelum berbicara, bertauhid sebelum beramal, dan tunduk kepada kebenaran ketika kebenaran itu datang.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Catatan kaki dan kitab rujukan

[1] Muḥammad bin Jarīr aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Asy-Syūrā: 11. Makna yang ditekankan adalah bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.

[2] Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Ilm, hadis tentang man yuridi Allāhu bihi khayran yufaqqihhu fī ad-dīn; Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zakāh.

[3] Yaḥyā bin Syaraf an-Nawawī, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, pembahasan hadis man yuridi Allāhu bihi khayran yufaqqihhu fī ad-dīn. An-Nawawi menjelaskan keutamaan memahami agama sebagai tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi seorang hamba.

[4] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Ilm; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, bagian pendahuluan (Muqaddimah), tentang larangan berdusta atas nama Rasulullah ﷺ.

[5] Ismā‘īl bin Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Baqarah: 170.

[6] Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Al-Kahf: 5.

[7] Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 5.

Inti pesan ceramah

لَا تَقُلْ فِي دِينِ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُ

“Janganlah engkau berbicara tentang agama Allah terhadap sesuatu yang tidak engkau ketahui.”

Karena lisan yang tidak berilmu dapat menyesatkan diri sendiri dan orang lain, sedangkan ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah akan membawa manusia kembali kepada tauhid dan jalan yang lurus.

Tidak ada komentar