Dunia Hanya Tempat Tinggal Sementara, Semua Akan Dikumpulkan di Akhirat

Materi Ceramah Surah Al-Isrā’ Ayat 104

“Dunia Hanya Tempat Tinggal Sementara, Semua Akan Dikumpulkan di Akhirat”

Pembukaan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini kita melanjutkan tadabbur Surah Al-Isrā’ ayat 104. Ayat ini berbicara tentang Bani Israil setelah diselamatkan Allah dari Fir‘aun. Mereka diperintahkan untuk tinggal di suatu negeri sampai datang ketetapan Allah.

Namun ayat ini kemudian mengingatkan kita kepada sesuatu yang jauh lebih besar:

وَعْدُ الْآخِرَةِ

janji tentang kehidupan akhirat, yaitu hari ketika seluruh manusia akan dikumpulkan.

Pesan utamanya adalah:

Kita boleh tinggal di dunia, tetapi jangan sampai merasa dunia adalah tempat tinggal kita selamanya.


1. Ayat Al-Qur'an

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَّقُلْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ لِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اسْكُنُوا الْاَرْضَ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيْفًا ۗ

Artinya:

“Dan setelah itu Kami berfirman kepada Bani Israil, ‘Tinggallah di negeri ini, tetapi apabila masa berbangkit datang, niscaya Kami kumpulkan kamu dalam keadaan bercampur baur.’”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 104)

Ada dua bagian penting dalam ayat ini:

اسْكُنُوا الْأَرْضَ

Tinggallah di negeri ini.

dan:

جِئْنَا بِكُمْ لَفِيْفًا

Kami kumpulkan kamu dalam keadaan bercampur baur.

Dunia adalah tempat manusia tinggal untuk sementara.

Akhirat adalah tempat manusia dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan kehidupan dunia.


2. Dunia Adalah Tempat Tinggal Sementara

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 64)

Dunia bukan berarti tidak penting.

Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat menerima hasil amal.

Karena itu Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan agar dunia berada di tangan, bukan di hati.


3. Dunia adalah Jembatan Menuju Akhirat

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 77)

Ayat ini memberikan keseimbangan.

Kita boleh:

  • bekerja,
  • memiliki rumah,
  • memiliki kendaraan,
  • mencari nafkah,
  • membangun sekolah,
  • mengembangkan usaha,
  • mendidik anak,
  • menikmati rezeki Allah.

Tetapi semuanya harus diarahkan menjadi bekal menuju akhirat.


4. Semua Manusia Akan Dikumpulkan

Ayat 104 menggunakan ungkapan:

جِئْنَا بِكُمْ لَفِيْفًا

Allah akan mengumpulkan manusia dalam jumlah yang sangat banyak.

Allah juga berfirman:

قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَ ۙ لَمَجْمُوْعُوْنَ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, pasti akan dikumpulkan pada waktu tertentu pada hari yang telah diketahui.’”
(QS. Al-Wāqi‘ah [56]: 49–50)

Tidak ada yang bisa melarikan diri.

Raja akan dikumpulkan.

Rakyat akan dikumpulkan.

Orang kaya akan dikumpulkan.

Orang miskin akan dikumpulkan.

Guru dan murid akan dikumpulkan.

Pemimpin dan rakyat akan dikumpulkan.

Orang yang terkenal dan orang yang tidak dikenal akan dikumpulkan.

Semua akan berdiri di hadapan Allah.


5. Tidak Ada yang Bisa Bersembunyi

Allah berfirman:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفٰى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

Artinya:

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).”
(QS. Al-Ḥāqqah [69]: 18)

Di dunia seseorang mungkin bisa menyembunyikan:

  • dosa,
  • kebohongan,
  • pengkhianatan,
  • manipulasi,
  • kezaliman.

Tetapi di akhirat semuanya terbuka.

Allah Maha Mengetahui apa yang dilakukan secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.


6. Rasulullah ﷺ Menggambarkan Dahsyatnya Hari Kiamat

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا

“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.”

Aisyah رضي الله عنها bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟

“Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan semuanya berkumpul, sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lain?”

Nabi ﷺ menjawab:

يَا عَائِشَةُ، الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ

“Wahai Aisyah, keadaan pada saat itu terlalu dahsyat untuk membuat mereka sempat saling memperhatikan.”

(HR. Al-Bukhārī dan Muslim)

Pelajarannya

Pada hari itu manusia tidak sibuk memikirkan:

“Apa yang orang lain pikirkan tentang saya?”

Mereka sibuk memikirkan:

“Apa yang akan terjadi pada diriku di hadapan Allah?”


7. Setiap Orang Akan Mempertanggungjawabkan Amal

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۖ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Artinya:

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8)

Tidak ada amal yang sia-sia.

Senyuman yang ikhlas.

Sedekah yang kecil.

Mengajar seorang anak membaca Al-Qur'an.

Membantu orang tua.

Menolong tetangga.

Menahan amarah.

Semuanya tercatat.

Sebaliknya:

  • perkataan yang menyakiti,
  • fitnah,
  • ghibah,
  • kezaliman,
  • pengkhianatan,

semuanya juga akan dipertanggungjawabkan.


8. Rasulullah ﷺ: Jangan Meremehkan Amal Kecil

Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا

“Janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan sedikit pun.”

(HR. Muslim)

Mengapa?

Karena kita tidak tahu amal mana yang menjadi sebab Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.

Bisa jadi amal yang kita anggap kecil ternyata sangat besar di sisi Allah karena dilakukan dengan ikhlas.


9. Makna “Lafīfan”

Allah menggunakan kata:

لَفِيْفًا

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kata ini menunjukkan berkumpulnya manusia dalam jumlah besar, bercampur dan dihimpun bersama-sama.

Ibn ‘Āsyūr dalam At-Taḥrīr wa at-Tanwīr menjelaskan bahwa ungkapan tersebut menggambarkan penghimpunan manusia dalam jumlah besar dari berbagai kelompok.

Dahulu mereka:

  • hidup di tempat berbeda,
  • berbeda zaman,
  • berbeda bangsa,
  • berbeda kedudukan.

Tetapi pada hari kiamat:

Semua berkumpul di satu tempat untuk menghadapi keputusan Allah.


10. Tidak Ada Lagi Perbedaan Status Dunia

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13)

Di dunia seseorang bisa dihormati karena:

  • jabatan,
  • kekayaan,
  • gelar,
  • popularitas,
  • keturunan.

Tetapi di akhirat ukuran kemuliaan adalah iman dan ketakwaan.


11. Hadis tentang Empat Pertanyaan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

Artinya:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.”

(HR. At-Tirmidzi)

Renungkan empat pertanyaan ini:

Umur:
Untuk apa waktu kita habiskan?

Ilmu:
Apa yang kita lakukan dengan ilmu?

Harta:
Dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan?

Tubuh:
Untuk apa tenaga dan kesehatan digunakan?


12. Dunia Boleh di Tangan, Jangan di Hati

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

(HR. Al-Bukhārī)

Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما kemudian berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

“Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore.”

Ini bukan berarti kita tidak boleh merencanakan masa depan.

Maksudnya adalah:

Jangan menunda kebaikan.

Kalau ingin:

  • bertaubat, lakukan sekarang;
  • bersedekah, lakukan sekarang;
  • meminta maaf, lakukan sekarang;
  • membaca Al-Qur'an, lakukan sekarang;
  • memperbaiki salat, lakukan sekarang.

Karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih memiliki kesempatan esok hari.


13. Pelajaran dari Kisah Bani Israil

Ayat 104 datang setelah kisah panjang tentang Musa dan Fir‘aun.

Fir‘aun merasa memiliki kekuasaan.

Ia memiliki kerajaan.

Ia memiliki tentara.

Ia memiliki pengikut.

Namun semuanya tidak mampu menyelamatkannya ketika ketetapan Allah datang.

Allah berfirman:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۚ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

Artinya:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Tetapi sesungguhnya kebanyakan manusia tidak memperhatikan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”
(QS. Yūnus [10]: 92)

Fir‘aun yang dahulu berkata:

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

Akhirnya menjadi pelajaran bagi manusia.

Inilah pesan besarnya:

Kekuasaan manusia terbatas. Kekuasaan Allah mutlak.


14. Jangan Tertipu oleh Dunia

Allah memperingatkan:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ

Artinya:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan serta anak keturunan...”
(QS. Al-Ḥadīd [57]: 20)

Ayat ini bukan melarang manusia menikmati dunia.

Tetapi Allah mengingatkan:

Jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lupa kepada kehidupan yang kekal.


15. Nasihat Praktis

Agar ayat ini benar-benar masuk ke dalam kehidupan kita, mari lakukan lima hal:

1. Perbaiki hubungan dengan Allah

Jaga salat, baca Al-Qur'an dan perbanyak dzikir.

2. Segera bertaubat

Jangan menunggu tua.

3. Gunakan harta untuk bekal akhirat

Sedekah, wakaf, membantu keluarga dan orang yang membutuhkan.

4. Jadikan ilmu sebagai amal

Ilmu yang tidak diamalkan dapat menjadi hujjah atas diri kita.

5. Perbanyak amal yang pahalanya terus mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)


Penutup Ceramah

Hadirin yang dirahmati Allah,

Surah Al-Isrā’ ayat 104 mengajarkan kepada kita bahwa manusia boleh tinggal di dunia, tetapi dunia bukan tempat tinggal yang abadi.

Bani Israil diperintahkan:

اسْكُنُوا الْأَرْضَ

Tinggallah di bumi.

Tetapi kemudian Allah mengatakan:

فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيْفًا

Apabila janji akhirat datang, Kami kumpulkan kalian semuanya.

Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Jika malam ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita menghadap-Nya?

Rumah akan kita tinggalkan.

Kendaraan akan kita tinggalkan.

Jabatan akan kita tinggalkan.

Harta akan kita tinggalkan.

Bahkan orang-orang yang kita cintai akan mengantarkan kita sampai ke kuburan, kemudian mereka kembali.

Yang tinggal bersama kita adalah:

iman, amal saleh, dan rahmat Allah.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang ketika dikumpulkan pada hari kiamat mendapatkan keselamatan, bukan penyesalan.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ هِيَ هَمَّنَا وَمَصِيرَنَا.

“Ya Allah, jadikanlah dunia berada di tangan kami dan jangan Engkau jadikan dunia berada di hati kami. Jadikanlah akhirat sebagai tujuan dan tempat kembali kami.”

اللَّهُمَّ حَاسِبْنَا حِسَابًا يَسِيرًا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمَهَا.

“Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah, wafatkan kami dalam iman dan Islam, dan jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah amal-amal penutup kehidupan kami.”

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


📚 Rujukan Tafsir dan Hadis

  1. Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 104.
  2. Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Isrā’: 104.
  3. Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 104.
  4. Fakhruddīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb.
  5. Ibnu ‘Āsyūr, At-Taḥrīr wa at-Tanwīr.
  6. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang manusia dikumpulkan pada hari Kiamat dan hadis “jadilah di dunia seperti orang asing”.
  7. Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang keadaan manusia pada hari Kiamat dan hadis amal yang terputus setelah kematian.
  8. Sunan at-Tirmidzī, hadis tentang pertanyaan mengenai umur, ilmu, harta dan tubuh pada hari Kiamat.

Tidak ada komentar