Istiqamah di Atas Wahyu: Jangan Menukar Kebenaran demi Keridaan Manusia

Materi Ceramah

"Istiqamah di Atas Wahyu: Jangan Menukar Kebenaran demi Keridaan Manusia"

Tadabbur Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 73


Khutbatul Hājah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ خَيْرَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.


Muqaddimah

Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā yang telah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ yang tetap teguh menyampaikan wahyu meskipun menghadapi tekanan, ancaman, rayuan, dan berbagai kompromi yang ditawarkan oleh kaum musyrikin.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dalam perjalanan dakwah, ujian tidak selalu berupa ancaman atau kekerasan. Terkadang ujian datang dalam bentuk pujian, penghormatan, jabatan, popularitas, bahkan tawaran persahabatan. Surah Al-Isrā' ayat 73 mengajarkan bahwa seorang mukmin harus tetap berpegang teguh kepada wahyu, meskipun harus kehilangan simpati manusia.


Dalil Utama

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 73

وَاِنْ كَادُوْا لَيَفْتِنُوْنَكَ عَنِ الَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهٗۖ وَاِذًا لَّاتَّخَذُوْكَ خَلِيْلًا

Artinya:

"Dan sungguh mereka hampir memalingkan engkau (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-adakan yang lain terhadap Kami. Dan sekiranya demikian, niscaya mereka menjadikan engkau sahabat yang setia."


Asbābun Nuzūl (Latar Belakang Ayat)

Para ahli tafsir seperti Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kaum Quraisy beberapa kali berusaha mengajak Rasulullah ﷺ berkompromi.

Di antara usulan mereka:

  • Menyembah Allah dan berhala secara bergantian.
  • Mengurangi celaan terhadap berhala mereka.
  • Mengubah sebagian ajaran agar sesuai dengan tradisi mereka.

Namun Allah menjaga Rasulullah ﷺ sehingga beliau tetap teguh di atas wahyu.

Rujukan:

  • Jāmi' al-Bayān karya Ath-Thabari.
  • Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm karya Ibnu Katsir.
  • Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān karya Al-Qurthubi.

Tafsir Ayat

Allah memberitahukan bahwa orang-orang musyrik hampir berhasil memalingkan Nabi ﷺ dari wahyu yang telah diturunkan. Kata "كَادُوا" menunjukkan bahwa mereka melakukan berbagai upaya yang sangat serius.

Namun karena penjagaan Allah ('ishmah), Rasulullah ﷺ tidak pernah menyimpang dari wahyu sedikit pun.

Ayat ini sekaligus menjadi pelajaran bagi umat Islam agar tidak mengorbankan prinsip agama demi mendapatkan penerimaan dari manusia.


Tafsir Para Ulama

1. Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

"Kaum musyrikin berusaha memalingkan Rasulullah dari wahyu agar beliau mengatakan sesuatu yang bukan berasal dari Allah."

Beliau menegaskan bahwa Allah menjaga Nabi-Nya dari segala bentuk penyimpangan.

Rujukan: Jāmi' al-Bayān, tafsir QS. Al-Isrā': 73.


2. Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir berkata:

"Ini merupakan bukti penjagaan Allah kepada Rasul-Nya sehingga beliau tetap istiqamah di atas kebenaran."

Beliau mengutip beberapa riwayat tentang berbagai bentuk rayuan kaum Quraisy agar Nabi ﷺ bersedia berkompromi.

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, jilid 5.


3. Tafsir Imam Al-Qurthubi

Imam Al-Qurthubi menjelaskan:

"Ayat ini menjadi dalil bahwa seorang nabi tidak mungkin menyampaikan sesuatu atas nama Allah kecuali yang benar-benar diwahyukan kepadanya."

Rujukan: Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, juz 10.


4. Tafsir As-Sa'di

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di berkata:

"Allah mengingatkan besarnya nikmat penjagaan-Nya terhadap Rasulullah sehingga beliau tidak terpengaruh oleh rayuan musuh-musuh Islam."

Rujukan: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān.


Pelajaran Pertama

Jangan Menggadaikan Agama demi Keridaan Manusia

Allah berfirman:

Surah Al-Baqarah ayat 120

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ

Artinya:

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya.'"

Hikmah

Mengikuti hawa nafsu manusia tidak akan pernah membuat semua orang puas. Yang wajib dicari adalah keridaan Allah.


Pelajaran Kedua

Istiqamah Adalah Jalan Keselamatan

Allah berfirman:

Surah Hūd ayat 112

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ

Artinya:

"Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan demikian pula orang-orang yang telah bertobat bersamamu."

Penjelasan

Ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Surah Hūd telah membuat rambut beliau beruban karena beratnya perintah untuk istiqamah.


Pelajaran Ketiga

Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

Allah berfirman:

Surah Al-Jātsiyah ayat 23

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ

Artinya:

"Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?"

Hikmah

Kompromi terhadap kebatilan biasanya bermula dari mengikuti hawa nafsu.


Hadis-Hadis Pendukung

1. Berpegang Teguh kepada Sunnah

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Artinya:

"Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham."

HR. Abu Dawud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676; dinilai sahih.

Hikmah

Keselamatan umat terletak pada mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah, bukan pada mengikuti tekanan zaman.


2. Tidak Ada Ketaatan dalam Kemaksiatan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Artinya:

"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta."

HR. Ahmad no. 1095; sanadnya sahih.

Hikmah

Apabila manusia mengajak kepada maksiat atau penyimpangan agama, maka seorang mukmin wajib mendahulukan ketaatan kepada Allah.


3. Ridha Allah Lebih Utama daripada Ridha Manusia

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Artinya:

"Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun manusia membencinya, maka Allah akan meridai dirinya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya. Barang siapa mencari keridaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya."

HR. Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi dalam makna yang serupa; dinilai hasan oleh sejumlah ulama.


Ulasan Ulama

Imam Ibnul Qayyim (I'lām al-Muwaqqi'īn)

Beliau menjelaskan bahwa kerusakan agama sering bermula dari sikap mencari popularitas dan penerimaan manusia dengan mengorbankan prinsip-prinsip syariat.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmū' al-Fatāwā)

Beliau berkata:

"Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling kuat mengikuti wahyu, bukan yang paling banyak pengikutnya."


Imam Asy-Syāṭibi (Al-I'tiṣām)

Beliau menegaskan bahwa keselamatan agama hanya dapat diraih dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah, serta menjauhi segala bentuk penyimpangan dan kompromi terhadap kebatilan.


Relevansi dengan Kehidupan Saat Ini

Ayat ini sangat relevan pada zaman modern. Godaan untuk meninggalkan prinsip agama tidak selalu datang melalui ancaman, tetapi sering hadir dalam bentuk:

  • keinginan menjadi populer,
  • tekanan lingkungan kerja atau pergaulan,
  • budaya yang bertentangan dengan syariat,
  • konten media sosial yang menormalisasi maksiat,
  • atau ajakan menyesuaikan ajaran agama agar diterima semua pihak.

Seorang muslim hendaknya bijaksana dalam bermuamalah, tetapi tetap teguh dalam akidah, ibadah, dan nilai-nilai syariat. Islam mengajarkan kelembutan dalam berdakwah, namun tidak mengajarkan kompromi terhadap perkara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Musuh-musuh kebenaran selalu berusaha memalingkan manusia dari petunjuk Allah.
  2. Allah menjaga para nabi dari penyimpangan dalam menyampaikan wahyu.
  3. Seorang mukmin harus mendahulukan keridaan Allah daripada keridaan manusia.
  4. Istiqamah merupakan kunci keselamatan dunia dan akhirat.
  5. Al-Qur'an dan Sunnah adalah pedoman hidup yang tidak boleh ditukar dengan kepentingan dunia.
  6. Godaan terbesar sering kali datang dalam bentuk kompromi terhadap prinsip agama.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Isrā' ayat 73 mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin bukanlah ketika ia dipuji manusia, melainkan ketika ia tetap teguh di atas wahyu. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan terbaik dengan menolak seluruh rayuan kaum Quraisy demi menjaga kemurnian risalah yang beliau emban.

Marilah kita memohon kepada Allah agar dianugerahi hati yang istiqamah, lisan yang jujur, serta keberanian untuk mempertahankan kebenaran dalam setiap keadaan.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَأَعِذْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالِاسْتِقَامَةَ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا. آمِينَ

Tidak ada komentar