Jangan Menjadi Manusia yang Kikir: Memahami Rahmat Allah dan Hakikat Harta

MATERI CERAMAH

“Jangan Menjadi Manusia yang Kikir: Memahami Rahmat Allah dan Hakikat Harta”

Tafsir Surah Al-Isrā’ Ayat 100

A. Pembukaan

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ،

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 100. Ayat ini berbicara tentang salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kikir, takut kehilangan harta, dan terlalu mencintai dunia.


1. Firman Allah: Surah Al-Isrā’ Ayat 100

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

قُلْ لَّوْ اَنْتُمْ تَمْلِكُوْنَ خَزَاۤىِٕنَ رَحْمَةِ رَبِّيْٓ اِذًا لَّاَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْاِنْفَاقِۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ قَتُوْرًا

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.’ Dan manusia itu memang sangat kikir.”

Pesan utama ayat

Ayat ini menggambarkan kelemahan manusia ketika tidak dididik dengan iman.

Manusia sering berpikir:

  • “Kalau saya memberi, nanti harta saya berkurang.”
  • “Kalau saya sedekah, bagaimana kebutuhan saya nanti?”
  • “Kalau saya membantu orang lain, siapa yang menjamin saya?”
  • “Lebih baik disimpan untuk diri sendiri.”

Padahal Allah-lah pemilik seluruh perbendaharaan.

Allah tidak kehabisan rahmat karena memberikan rahmat kepada seorang hamba.


2. Apa Makna “Khazā’inu Raḥmati Rabbī”?

Allah berfirman:

خَزَاۤىِٕنَ رَحْمَةِ رَبِّي

“Perbendaharaan rahmat Tuhanku.”

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan luasnya karunia dan kekuasaan Allah.

Manusia memiliki keterbatasan. Kalau seseorang mempunyai uang Rp10 juta, ketika diberikan Rp1 juta kepada orang lain, uangnya berkurang.

Tetapi Allah memiliki kekayaan yang tidak terbatas.

Allah berfirman:

QS. Fāṭir: 2

مَا يَفْتَحِ اللّٰهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۚ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Artinya:

“Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang dapat melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Pelajaran

Rezeki kita bukan berada di tangan manusia.

Bukan atasan yang menentukan rezeki secara mutlak.

Bukan pelanggan.

Bukan pemerintah.

Bukan jabatan.

Allah-lah Ar-Razzāq, Yang Maha Pemberi Rezeki.

Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menjadi budak harta.


3. Manusia Memiliki Sifat “Qatūr”

Allah menutup ayat dengan:

وَكَانَ الْاِنْسَانُ قَتُوْرًا

“Dan manusia itu memang sangat kikir.”

Qatūr berasal dari makna yang menunjukkan sikap menahan, membatasi dan enggan mengeluarkan sesuatu, khususnya harta.

Namun ayat ini bukan berarti setiap manusia pasti menjadi orang kikir dan tidak mungkin berubah.

Islam justru datang untuk mendidik manusia agar mengendalikan sifat tersebut.

Allah berfirman:

QS. Al-Fajr: 20

وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Artinya:

“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”

Harta bukanlah sesuatu yang haram.

Yang berbahaya adalah ketika harta masuk ke hati dan menguasai hati.


4. Cinta Harta Bukan Masalah, Tetapi Diperbudak Harta adalah Masalah

Allah berfirman:

QS. Al-‘Ādiyāt: 8

وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ

Artinya:

“Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.”

Islam tidak memerintahkan kita menjadi miskin.

Islam juga tidak melarang seseorang menjadi kaya.

Yang dilarang adalah ketika kekayaan menyebabkan seseorang:

  • meninggalkan salat,
  • melupakan zakat,
  • enggan bersedekah,
  • meremehkan orang miskin,
  • mengejar harta dengan cara haram,
  • dan merasa dirinya tidak membutuhkan Allah.

Allah bahkan memuji orang beriman yang memiliki harta tetapi menggunakan hartanya di jalan Allah.


5. Allah Menjamin: Sedekah Tidak Mengurangi Harta

Ini merupakan salah satu prinsip penting dalam memahami Al-Isrā’ ayat 100.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya:

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”

HR. Muslim.

Secara hitungan manusia, ketika kita mengeluarkan Rp100.000, uang kita memang berkurang Rp100.000.

Tetapi secara barakah, pahala, perlindungan Allah, ketenangan hati, dan balasan akhirat, sedekah bukan kerugian.

Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan

Dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, hadis ini menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan dalam sedekah tidak akan menjadi sebab berkurangnya keberkahan harta. Kekurangan secara lahiriah dapat diganti dengan keberkahan atau balasan yang Allah berikan.

Jadi:

Secara matematika mungkin berkurang, tetapi secara syariat dan keberkahan justru bertambah.


6. Allah Menjanjikan Pengganti bagi Orang yang Berinfak

Allah berfirman:

QS. Saba’: 39

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗوَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasinya. Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.’”

Perhatikan janji Allah:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ

“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”

Bentuk penggantian Allah tidak harus selalu berupa uang yang kembali dengan jumlah yang sama.

Bisa berupa:

  • kesehatan,
  • keluarga yang harmonis,
  • anak yang saleh,
  • kemudahan urusan,
  • terhindar dari musibah,
  • ketenangan hati,
  • keberkahan rezeki,
  • atau pahala yang disimpan untuk akhirat.

7. Setan Menakut-nakuti Kita dengan Kemiskinan

Allah mengungkap sumber lain dari sifat kikir:

QS. Al-Baqarah: 268

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Inilah pertarungan yang terjadi di dalam hati:

Setan berkata:

“Jangan bersedekah! Nanti miskin.”

Allah berkata:

“Infakkanlah, Aku akan memberikan ampunan dan karunia.”

Maka orang beriman memilih percaya kepada janji Allah, bukan bisikan setan.


8. Sedekah Justru Menjadi Sebab Bertambahnya Kebaikan

Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah:

QS. Al-Baqarah: 261

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Satu menjadi 700.

Dan Allah masih mengatakan:

وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

“Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”


9. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Keutamaan Kedermawanan

Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Artinya:

“Tidaklah para hamba memasuki pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lain berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang menahan (hartanya dari infak).’”

HR. Al-Bukhārī dan Muslim.

Perhatikan doa malaikat:

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

“Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.”

Ini sangat sesuai dengan firman Allah:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ


10. Orang yang Dermawan Lebih Dekat dengan Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللهِ، قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنَ اللهِ، بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ

Artinya:

“Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka.”

HR. At-Tirmidzi.

Ini menunjukkan bahwa kedermawanan bukan sekadar persoalan sosial, tetapi persoalan kedekatan seorang hamba dengan Allah.


11. Komentar Para Ulama tentang Kikir

A. Imam Ibnul Qayyim رحمه الله

Ibnul Qayyim menjelaskan dalam ‘Uddat aṣ-Ṣābirīn dan pembahasan tentang penyakit hati bahwa manusia memiliki kecenderungan mencintai apa yang mendatangkan manfaat baginya. Syariat datang untuk mendidik kecenderungan tersebut, sehingga harta tidak menjadi tujuan akhir, tetapi sarana menuju keridaan Allah.

Dengan demikian, persoalannya bukan:

“Apakah kita memiliki harta?”

Tetapi:

“Apakah harta memiliki kita?”


B. Imam Al-Ghazālī رحمه الله

Dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, Al-Ghazālī membahas penyakit al-bukhl (kikir) sebagai penyakit hati yang berkaitan erat dengan kecintaan berlebihan terhadap harta.

Menurut beliau, obat penyakit kikir adalah:

  1. menyadari bahwa harta hanyalah titipan;
  2. mengingat kematian;
  3. mengingat pertanggungjawaban di akhirat;
  4. membiasakan diri memberi;
  5. memahami bahwa kenikmatan dunia tidak kekal.

Orang yang terlalu mencintai harta akan takut kehilangan harta.

Sedangkan orang yang mencintai Allah akan melihat harta sebagai alat untuk mendapatkan pahala.


12. Ibnul Qayyim: Harta adalah Sarana, Bukan Tujuan

Dalam pembahasan tentang zuhud dan kecintaan kepada dunia, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa dunia tidak tercela pada zatnya. Yang tercela adalah ketika dunia menjadi tujuan utama dan membuat seseorang lalai dari Allah.

Maka seorang Muslim boleh memiliki:

  • rumah yang baik,
  • kendaraan yang baik,
  • pekerjaan yang baik,
  • usaha yang maju,
  • tabungan,
  • harta yang banyak,

selama semuanya tidak menguasai hati dan tidak menghalangi kewajiban kepada Allah.


13. Contoh Kikir dalam Kehidupan Sehari-hari

Jamaah sekalian,

Kikir bukan hanya tidak mau memberi uang kepada orang miskin.

Kikir bisa muncul dalam berbagai bentuk.

1. Kikir terhadap Allah

Memiliki harta tetapi berat membayar zakat.

2. Kikir kepada keluarga

Mampu memenuhi kebutuhan keluarga tetapi sengaja mengabaikannya.

3. Kikir kepada tetangga

Mengetahui tetangga membutuhkan bantuan tetapi pura-pura tidak tahu.

4. Kikir terhadap masjid dan dakwah

Mampu membeli sesuatu yang tidak penting tetapi sangat berat ketika diminta membantu kegiatan kebaikan.

5. Kikir terhadap ilmu

Sudah mengetahui ilmu yang bermanfaat tetapi tidak mau mengajarkannya.

6. Kikir terhadap waktu

Tidak mau meluangkan waktu untuk membantu orang lain.

Jadi, kedermawanan bukan hanya dengan uang.

Kita dapat bersedekah dengan:

  • ilmu,
  • tenaga,
  • waktu,
  • perhatian,
  • senyuman,
  • nasihat,
  • bahkan sekadar membantu orang membawa barang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

“Setiap kebaikan adalah sedekah.”

HR. Al-Bukhārī dan Muslim.


14. Jangan Takut Harta Berkurang

Allah berfirman:

QS. Al-Hadīd: 7

وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ ۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌ

Artinya:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang Dia telah menjadikan kamu sebagai pengelolanya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan hartanya memperoleh pahala yang besar.”

Perhatikan kata:

مُسْتَخْلَفِيْنَ

Kita sebenarnya bukan pemilik mutlak.

Kita hanya diberi amanah untuk mengelola.

Ketika Allah mengambilnya, kita tidak bisa berkata:

“Ya Allah, ini hartaku!”

Karena sejak awal semuanya milik Allah.


15. Harta Akan Dipertanggungjawabkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

Artinya:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.”

HR. At-Tirmidzi.

Jadi ada dua pertanyaan tentang harta:

مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟

Dari mana mendapatkannya?

Dan:

فِيمَا أَنْفَقَهُ؟

Untuk apa membelanjakannya?

Bukan hanya:

“Berapa banyak hartamu?”

Tetapi:

“Dari mana hartamu dan ke mana hartamu digunakan?”


16. Kekayaan Sejati Menurut Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya:

“Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”

HR. Al-Bukhārī dan Muslim.

Orang kaya bukan hanya orang yang mempunyai banyak uang.

Orang kaya adalah orang yang hatinya merasa cukup dengan pemberian Allah.

Sebaliknya, orang yang mempunyai miliaran rupiah tetapi selalu takut kehilangan, selalu iri, selalu merasa kurang, dan tidak pernah bersyukur, sebenarnya hatinya miskin.


17. Jangan Menjadi Orang yang Takut Berinfak

Mari kita renungkan:

Ketika membeli makanan seharga Rp50.000, kita tidak terlalu berpikir.

Ketika membeli barang yang kita sukai, kita bisa mengeluarkan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.

Tetapi ketika seorang fakir datang:

“Pak, Bu, mohon bantuannya.”

Kita tiba-tiba berpikir panjang:

“Kalau saya kasih, nanti uang saya habis.”

Inilah yang Allah ingatkan:

لَّاَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْاِنْفَاقِ

“Niscaya kamu tahan karena takut membelanjakannya.”


18. Cara Mengobati Sifat Kikir

Pertama: Tanamkan keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا

“Tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”

QS. Hūd: 6

Kedua: Biasakan bersedekah

Tidak perlu menunggu kaya.

Sedekah sedikit tetapi rutin lebih baik daripada banyak tetapi hanya sekali karena ingin dipuji.

Ketiga: Mulai dari orang terdekat

Keluarga, orang tua, saudara, tetangga dan orang yang membutuhkan.

Keempat: Ingat kematian

Harta yang kita kumpulkan pada akhirnya akan ditinggalkan.

Yang menemani kita adalah amal.

Kelima: Jangan takut miskin karena sedekah

Pegang janji Allah:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ

“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”


19. Inti Hubungan Al-Isrā’ Ayat 100 dengan Ayat-Ayat Sebelumnya

Jika kita memperhatikan rangkaian Surah Al-Isrā’ ayat 82–100, terdapat sebuah alur pendidikan yang sangat indah:

  • Ayat 82: Al-Qur'an adalah penyembuh dan rahmat.
  • Ayat 83: manusia bisa sombong ketika mendapatkan nikmat dan putus asa ketika mendapat kesulitan.
  • Ayat 84: manusia memiliki kecenderungan dan karakter yang berbeda.
  • Ayat 85: manusia harus menyadari keterbatasan ilmu.
  • Ayat 86–87: Al-Qur'an adalah karunia dan rahmat Allah.
  • Ayat 88–89: Al-Qur'an adalah mukjizat yang tidak tertandingi.
  • Ayat 90–96: orang yang keras hati terus mencari alasan untuk menolak kebenaran.
  • Ayat 97–99: mereka menolak kebangkitan walaupun bukti kekuasaan Allah sangat jelas.
  • Ayat 100: akhirnya Allah mengungkap salah satu kelemahan manusia: kikir dan takut kehilangan apa yang dimiliki.

Seakan-akan Allah sedang mengajarkan:

Jangan sombong ketika diberi nikmat, jangan putus asa ketika diuji, jangan merasa paling tahu, jangan menolak kebenaran, dan jangan menjadi hamba harta.


20. Penutup Ceramah

Jamaah yang dirahmati Allah,

Allah tidak melarang kita menjadi kaya.

Tetapi Allah tidak ingin harta menjadi Tuhan di dalam hati kita.

Harta boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai berada di hati kita.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Ketika Allah memberi saya rezeki, apakah saya semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh?

Ketika memiliki uang, apakah saya semakin dermawan atau semakin kikir?

Ketika mendapatkan nikmat, apakah saya bersyukur atau justru sombong?

Ingatlah firman Allah:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ

“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”

Dan sabda Rasulullah ﷺ:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”

Maka jangan takut memberi.

Jangan takut berbagi.

Jangan takut menolong.

Karena yang kita keluarkan di jalan Allah tidak pernah benar-benar hilang.

Ia berubah menjadi pahala.

Ia berubah menjadi keberkahan.

Ia berubah menjadi pertolongan Allah.

Dan kelak, ia akan kita temukan kembali di akhirat.


Doa Penutup

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْبُخْلِ وَالشُّحِّ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا سَخِيَّةً، وَنُفُوسًا قَانِعَةً، وَأَمْوَالًا حَلَالًا طَيِّبَةً مُبَارَكَةً.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْ أَمْوَالَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِغَفْلَتِنَا عَنْكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُنْفِقِينَ فِي سَبِيلِكَ، وَمِنَ الْمُتَصَدِّقِينَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، وَمِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Kitab Rujukan

  1. Al-Qur’an al-Karīm, khususnya QS. Al-Isrā’: 100; Al-Baqarah: 261, 268; Saba’: 39; Fāṭir: 2; Al-Hadīd: 7; Al-Fajr: 20; Al-‘Ādiyāt: 8.
  2. Tafsīr aṭ-Ṭabarī – Jāmi‘ al-Bayān, pembahasan QS. Al-Isrā’: 100.
  3. Tafsīr Ibn Kathīr – Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, pembahasan QS. Al-Isrā’: 100.
  4. Tafsīr al-Qurṭubī – Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, pembahasan tentang sifat manusia dan infak.
  5. Tafsīr Fakhruddīn ar-Rāzī – Mafātīḥ al-Ghayb, pembahasan QS. Al-Isrā’: 100 dan makna khazā’in raḥmatillāh.
  6. Tafsīr as-Sa‘dī – Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, pembahasan ayat-ayat tentang infak dan sifat manusia.
  7. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb az-Zakāh dan Kitāb ar-Riqāq.
  8. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zakāh dan Kitāb al-Birr waṣ-Ṣilah.
  9. Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, Imam an-Nawawī, bab tentang sedekah, kedermawanan dan zuhud.
  10. Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, Imam al-Ghazālī, pembahasan penyakit hati, cinta dunia, kikir dan sedekah.
  11. Madārij as-Sālikīn, Ibnul Qayyim, pembahasan zuhud, cinta dunia dan penyakit hati.
  12. ‘Uddat aṣ-Ṣābirīn wa Dhakhīrat ash-Shākirīn, Ibnul Qayyim, pembahasan kesabaran dan syukur.

🌿 Kalimat inti untuk disampaikan kepada jamaah

“Jangan takut harta berkurang karena memberi. Takutlah jika harta banyak tetapi hati menjadi kikir, karena harta yang kita tahan belum tentu menjadi milik kita selamanya, sedangkan harta yang kita infakkan di jalan Allah akan menjadi bekal yang kita temukan di akhirat.”

Tidak ada komentar