Jangan Menjadikan Alasan sebagai Penghalang dari Kebenaran


MATERI CERAMAH

“Jangan Menjadikan Alasan sebagai Penghalang dari Kebenaran”

Tafsir QS. Al-Isrā’ Ayat 90

A. Pembukaan

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada kesempatan ini kita akan merenungkan QS. Al-Isrā’ ayat 90, yang menggambarkan bagaimana orang-orang musyrik Quraisy menolak kebenaran bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena mereka mencari-cari alasan untuk tidak beriman.


B. Firman Allah dalam QS. Al-Isrā’ Ayat 90

Allah SWT berfirman:

وَقَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْاَرْضِ يَنْۢبُوْعًا

Artinya:

“Dan mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’”
(QS. Al-Isrā’: 90)

Ayat ini merupakan awal dari rangkaian ayat 90–93 yang menggambarkan berbagai tuntutan luar biasa yang diajukan kaum musyrikin kepada Rasulullah ﷺ.

Mereka tidak mengatakan:

“Kami telah melihat kebenaran dan ingin mempelajarinya.”

Tetapi mereka mengatakan:

لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ
“Kami tidak akan beriman kepadamu…”

Kemudian mereka menetapkan syarat-syarat tertentu.

Ini menunjukkan persoalan mereka bukan semata-mata kurangnya bukti, tetapi adanya sikap keras kepala dan keengganan menerima kebenaran.


C. Ketika Bukti Tidak Lagi Dicari, tetapi Alasan yang Dicari

Ada perbedaan besar antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang mencari alasan untuk menolak kebenaran.

Orang yang mencari kebenaran berkata:

“Saya belum tahu. Jelaskan kepada saya.”

Sedangkan orang yang mencari alasan berkata:

“Kalau begini saya mau percaya. Kalau tidak, saya tidak akan percaya.”

Padahal setelah syarat pertama dipenuhi, bisa saja ia membuat syarat kedua, ketiga, dan seterusnya.

Inilah yang terjadi kepada sebagian kaum Quraisy.

Allah berfirman:

QS. Al-An‘ām: 111

وَلَوْ اَنَّنَا نَزَّلْنَآ اِلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْٓا اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ

Artinya:

“Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan pula di hadapan mereka segala sesuatu yang mereka inginkan, mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Ayat ini memberikan pelajaran penting:

Masalah terbesar manusia terkadang bukan kurangnya bukti, tetapi hati yang tidak mau tunduk kepada kebenaran.


D. Mereka Meminta Mukjizat, tetapi Mukjizat Bukan untuk Memuaskan Kesombongan

Kaum Quraisy mengajukan berbagai permintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Di antaranya:

  1. Memancarkan mata air dari bumi.
  2. Memiliki kebun kurma dan anggur dengan sungai-sungai yang mengalir.
  3. Menjatuhkan langit berkeping-keping.
  4. Mendatangkan Allah dan malaikat secara langsung.
  5. Memiliki rumah dari emas.
  6. Naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.

Allah mengabadikan permintaan tersebut dalam ayat-ayat berikutnya.

QS. Al-Isrā’: 93

اَوْ يَكُوْنَ لَكَ بَيْتٌ مِّنْ زُخْرُفٍ اَوْ تَرْقٰى فِى السَّمَاۤءِۗ وَلَنْ نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتّٰى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتٰبًا نَّقْرَؤُهٗۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّيْ هَلْ كُنْتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوْلًا

Artinya:

“Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami baca. Katakanlah (Muhammad), ‘Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?’”

Perhatikan jawaban Nabi ﷺ:

سُبْحَانَ رَبِّيْ

“Mahasuci Tuhanku.”

Rasulullah ﷺ tidak menjadikan mukjizat sebagai pertunjukan untuk memuaskan kesombongan manusia.


E. Mukjizat Terbesar Nabi Muhammad ﷺ adalah Al-Qur'an

Allah justru mengarahkan manusia kepada bukti terbesar kerasulan Nabi Muhammad ﷺ: Al-Qur’an.

Allah berfirman:

QS. Al-Isrā’: 88

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

Artinya:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.’”

Ini adalah tantangan Al-Qur’an kepada manusia dan jin.

Kemudian tantangan itu diperkecil:

QS. Al-Baqarah: 23

فَاْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ

Artinya:

“Maka buatlah satu surah semisal dengannya.”

Lalu Allah menegaskan:

وَلَنْ تَفْعَلُوْا

“Dan kamu pasti tidak akan mampu melakukannya.”

Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mendapatkan pahala, tetapi juga hujjah dan petunjuk kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ.


F. Kebenaran Tidak Harus Mengikuti Selera Kita

Salah satu penyakit manusia adalah:

“Saya mau menerima kebenaran jika kebenaran itu sesuai dengan keinginan saya.”

Padahal seorang mukmin justru harus belajar:

“Saya akan menyesuaikan keinginan saya dengan kebenaran.”

Allah berfirman:

QS. Al-Ahzāb: 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

Artinya:

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”

Pelajarannya

Iman menuntut kita untuk mengatakan:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Kami dengar dan kami taat.”

Bukan:

“Saya taat kalau saya setuju.”


G. Hadis: Orang Beriman Tidak Banyak Membantah Kebenaran

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya:

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.”

HR. Abu Dawud.

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak menjadikan agama sebagai arena untuk mempertontonkan ego.

Perbedaan antara mencari kebenaran dan berdebat untuk menang sangat besar.

Orang yang mencari kebenaran ketika menemukan kesalahan akan berkata:

“Saya keliru. Terima kasih telah meluruskan.”

Tetapi orang yang hanya ingin menang akan terus mencari alasan meskipun hujah telah jelas.


H. Kisah Abu Ṭālib: Mengetahui Kebenaran Tidak Selalu Berarti Mengikutinya

Salah satu pelajaran penting dari sirah adalah kisah Abu Ṭālib, paman Rasulullah ﷺ.

Ia mengetahui bahwa Muhammad ﷺ adalah orang yang jujur. Ia membela Rasulullah ﷺ dari gangguan Quraisy. Namun pada akhirnya ia tidak mengucapkan syahadat ketika ajalnya tiba.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا عَمِّ، قُلْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

Artinya:

“Wahai pamanku, ucapkanlah ‘Lā ilāha illallāh’, sebuah kalimat yang dengannya aku akan bersaksi untukmu di sisi Allah.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Namun Abu Ṭālib memilih tetap berada di atas agama kaumnya.

Pelajarannya sangat dalam:

Mengetahui kebenaran belum cukup. Kebenaran harus diterima, diyakini, dan diamalkan.


I. Jangan Menunggu Mukjizat Baru Mau Taat

Ada manusia yang berkata:

“Kalau Allah memang sayang kepada saya, mengapa masalah saya tidak selesai?”

“Kalau doa saya benar-benar didengar, mengapa belum dikabulkan?”

“Kalau agama ini benar, mengapa hidup saya masih banyak masalah?”

Cara berpikir seperti ini perlu diluruskan.

Allah tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan hidup tanpa ujian.

Allah justru berfirman:

QS. Al-‘Ankabūt: 2

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

Artinya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”

Maka ujian bukan tanda Allah meninggalkan kita.

Terkadang justru ujian menjadi sarana Allah membersihkan dosa, meningkatkan derajat dan menguatkan iman.


J. Rasulullah ﷺ Juga Mengalami Ujian yang Berat

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi kehidupannya tidak bebas dari kesulitan.

Beliau ﷺ dihina, dituduh sebagai penyihir, pendusta dan orang gila.

Beliau ﷺ dilempari batu di Ṭā’if.

Para sahabat disiksa.

Kaum Muslimin mengalami boikot.

Rasulullah ﷺ akhirnya berhijrah meninggalkan Makkah.

Namun semua itu tidak membuat beliau berkata:

“Kalau saya benar, seharusnya hidup saya mudah.”

Sebaliknya, beliau tetap yakin kepada pertolongan Allah.


K. Komentar Para Ulama

1. Imam Ibn Kathīr

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibn Kathīr menjelaskan bahwa permintaan kaum Quraisy tersebut menunjukkan keras kepala dan pembangkangan mereka terhadap Rasulullah ﷺ.

Mereka bukan sekadar meminta bukti untuk mencari kebenaran, tetapi mengajukan tuntutan yang menunjukkan keengganan menerima risalah.

Rujukan:
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Isrā’: 90–93.


2. Imam aṭ-Ṭabarī

Imam aṭ-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān menjelaskan bahwa tuntutan tersebut merupakan bentuk ta‘annut—sikap mempersulit, keras kepala dan menuntut sesuatu bukan untuk mendapatkan petunjuk, tetapi sebagai alasan untuk menolak.

Rujukan:
Muḥammad ibn Jarīr aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 90–93.


3. Imam al-Qurṭubī

Al-Qurṭubī menekankan bahwa manusia tidak seharusnya menjadikan mukjizat sebagai permainan atau permintaan berdasarkan hawa nafsu.

Mukjizat adalah hujjah dari Allah, bukan alat untuk memenuhi seluruh keinginan manusia.

Rujukan:
Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 90–93.


4. Fakhruddīn ar-Rāzī

Ar-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb mengarahkan perhatian kepada hakikat bahwa kemampuan Allah untuk melakukan sesuatu tidak berarti semua permintaan manusia harus diwujudkan.

Allah mengetahui apakah suatu tanda akan menjadi sarana menuju iman atau justru tidak memberikan manfaat karena hati telah tertutup.

Rujukan:
Fakhruddīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, tafsir QS. Al-Isrā’: 90–93.


L. Pelajaran untuk Kehidupan Kita

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kaum Quraisy.

Ia juga menjadi cermin bagi kita.

1. Jangan menjadi orang yang selalu mencari alasan

Misalnya:

“Saya belum mau salat karena belum khusyuk.”

Padahal khusyuk justru dibangun melalui salat.

“Saya belum mau membaca Al-Qur’an karena belum memahami semuanya.”

Padahal memahami Al-Qur’an dimulai dengan membacanya.

“Saya belum mau berubah karena lingkungan saya belum mendukung.”

Padahal perubahan diri bisa menjadi awal perubahan lingkungan.


2. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik

Kita tidak perlu menunggu menjadi orang yang sempurna untuk:

  • salat tepat waktu;
  • membaca Al-Qur’an;
  • bersedekah;
  • berbakti kepada orang tua;
  • meminta maaf;
  • meninggalkan maksiat;
  • menuntut ilmu;
  • memperbaiki akhlak.

Mulailah dari apa yang mampu dilakukan.


3. Bedakan antara bertanya dan membantah

Islam tidak melarang bertanya.

Bahkan Allah memerintahkan manusia menggunakan akal.

Tetapi ada perbedaan antara:

“Saya bertanya karena ingin memahami.”

dengan:

“Saya bertanya hanya untuk mencari celah agar tidak perlu taat.”

Yang pertama adalah thālib al-ḥaqq—pencari kebenaran.

Yang kedua dapat menjadi mujādil bil-bāṭil—orang yang menggunakan perdebatan untuk menolak kebenaran.


M. Jangan Mengukur Kebenaran dengan Banyaknya Pengikut

Kaum Quraisy adalah masyarakat mayoritas pada masa itu.

Namun mayoritas bukan ukuran kebenaran.

Allah berfirman:

QS. Al-An‘ām: 116

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

Artinya:

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”

Karena itu, standar kita bukan:

“Apa kata mayoritas?”

Tetapi:

“Apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan?”


N. Prinsip Penting dalam Menyikapi Kebenaran

Dari QS. Al-Isrā’: 90 kita dapat mengambil 7 prinsip:

1. Jangan menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai keinginan.

2. Jangan menjadikan syarat-syarat buatan sebagai alasan untuk tidak taat.

3. Gunakan akal untuk mencari kebenaran, bukan untuk membenarkan hawa nafsu.

4. Ketika dalil telah jelas, sikap seorang mukmin adalah tunduk.

5. Jangan mengukur kebenaran berdasarkan popularitas.

6. Ujian kehidupan bukan bukti bahwa Allah meninggalkan kita.

7. Mintalah kepada Allah hati yang mampu menerima kebenaran.


O. Doa agar Hati Tidak Menyimpang

Allah mengajarkan doa:

QS. Āli ‘Imrān: 8

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

Doa ini sangat penting karena hidayah bukan hanya perlu dicari, tetapi juga perlu dipertahankan.


P. Penutup Ceramah

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

QS. Al-Isrā’ ayat 90 mengajarkan kepada kita sebuah penyakit yang sangat berbahaya:

Menolak kebenaran bukan karena tidak memiliki bukti, tetapi karena hati tidak mau tunduk.

Kaum Quraisy berkata:

لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ

“Kami tidak akan beriman kepadamu…”

Lalu mereka membuat berbagai persyaratan.

Jangan sampai sikap seperti ini ada dalam diri kita.

Ketika Allah memerintahkan salat, jangan kita mencari alasan.

Ketika Allah memerintahkan menutup aurat, jangan mencari pembenaran untuk melanggarnya.

Ketika Allah melarang riba, jangan mencari celah agar riba menjadi halal.

Ketika Rasulullah ﷺ mengajarkan sunnah, jangan menolaknya hanya karena tidak sesuai kebiasaan kita.

Orang beriman bukanlah orang yang hanya menerima kebenaran ketika kebenaran itu sesuai dengan keinginannya.

Tetapi orang beriman adalah orang yang berkata:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Kami dengar dan kami taat.”

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mencintai kebenaran, menerima kebenaran, mengikuti kebenaran dan istiqamah di atas kebenaran sampai akhir hayat.

اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Kitab rujukan utama

  • Al-Qur’an al-Karīm
  • Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
  • Ṣaḥīḥ Muslim
  • Sunan Abī Dāwud
  • Jāmi‘ al-Bayān — Imam aṭ-Ṭabarī
  • Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Imam Ibn Kathīr
  • Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — Imam al-Qurṭubī
  • Mafātīḥ al-Ghayb — Fakhruddīn ar-Rāzī
  • Asbāb an-Nuzūl — al-Wāḥidī
  • Lubāb an-Nuqūl fī Asbāb an-Nuzūl — as-Suyūṭī

Catatan penting: beberapa riwayat tentang sebab turunnya QS. Al-Isrā’: 90–93 diperselisihkan sanad dan konteksnya, sehingga sebaiknya diposisikan sebagai riwayat tafsir/sejarah, bukan sebagai hadis sahih yang pasti.

Tidak ada komentar