Kebun Kenikmatan dan Ujian Keimanan
Materi Ceramah: “Kebun Kenikmatan dan Ujian Keimanan”
Tafsir Surah Al-Isrā’ Ayat 91
1. Pembukaan
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, waktu, dan kesempatan untuk terus belajar serta mendekatkan diri kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.
Pada kesempatan ini kita mengambil pelajaran dari QS. Al-Isrā’ ayat 91, yang merupakan bagian dari rangkaian ayat 90–93. Ayat ini menggambarkan tuntutan orang-orang musyrik Quraisy kepada Rasulullah ﷺ. Mereka tidak sekadar meminta bukti, tetapi menjadikan permintaan-permintaan tersebut sebagai alasan untuk menolak kebenaran.
2. Firman Allah dalam QS. Al-Isrā’: 91
Arab
وَاَوْ تَكُوْنَ لَكَ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْاَنْهٰرَ خِلٰلَهَا تَفْجِيْرًا ۙ
Terjemahan
“Atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan di celah-celahnya sungai yang deras alirannya.”
Ayat ini harus dipahami bersama ayat sebelumnya. Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah ﷺ:
“Kami tidak akan percaya kepadamu sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.”
Kemudian mereka melanjutkan tuntutannya: kalau tidak, setidaknya Muhammad ﷺ harus mempunyai kebun kurma dan anggur yang luar biasa, kemudian sungai-sungai dialirkan di tengah-tengahnya.
3. Mengapa Mereka Meminta Kebun dan Sungai?
Permintaan tersebut bukan semata-mata karena mereka membutuhkan kebun.
Masalah sebenarnya adalah kesombongan dan penolakan terhadap risalah.
Mereka memiliki cara berpikir:
“Kalau engkau benar-benar utusan Allah, mengapa engkau tidak mempunyai kekayaan luar biasa?”
Ini merupakan pola pikir yang keliru: mengukur kebenaran berdasarkan kekayaan dan kekuasaan.
Padahal seorang rasul tidak dinilai dari banyaknya harta, rumah mewah, kebun, kendaraan, atau kedudukan duniawi.
Allah berfirman:
QS. Al-Furqān: 7
وَقَالُوا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًا ۙ
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan seorang malaikat kepadanya agar malaikat itu memberikan peringatan bersama dia?’”
Pelajarannya: orang yang hatinya telah tertutup sering kali tidak mencari kebenaran, tetapi mencari alasan untuk menolak kebenaran.
4. Kekayaan Bukan Ukuran Kemuliaan
Al-Qur'an membantah ukuran kemuliaan yang hanya berdasarkan kekayaan.
Allah berfirman:
QS. Al-Hujurāt: 13
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
Hadis
إِنَّ اللّٰهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2564.
Penjelasan ulama
Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bahwa hadis ini menunjukkan bahwa ukuran penilaian Allah bukanlah bentuk fisik dan banyaknya harta, tetapi hati dan amal.
Jadi seseorang bisa miskin secara duniawi tetapi mulia di sisi Allah karena ketakwaannya. Sebaliknya, seseorang bisa kaya raya tetapi hina apabila kekayaan tersebut menjadikannya sombong dan durhaka.
5. Kebun dan Sungai adalah Nikmat, Bukan Tujuan Kehidupan
Menariknya, Al-Qur'an tidak mengajarkan bahwa kebun, sungai, buah-buahan, dan kekayaan adalah sesuatu yang buruk.
Justru semuanya adalah nikmat Allah.
Allah berfirman:
QS. An-Naḥl: 10–11
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ يُنْۢبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُوْنَ وَالنَّخِيْلَ وَالْاَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dialah yang telah menurunkan air dari langit untukmu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang dengan itu Dia menumbuhkan untukmu tanaman-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir.”
Pelajaran penting:
Yang menjadi masalah bukan memiliki harta, tetapi ketika harta memiliki hati manusia.
6. Orang Beriman Melihat Nikmat sebagai Amanah
Ketika Allah memberikan rezeki, seorang mukmin berkata:
“Ini adalah nikmat dari Allah yang harus saya syukuri.”
Allah berfirman:
QS. Ibrāhīm: 7
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
Syukur bukan sekadar mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
tetapi juga:
- Mengakui nikmat berasal dari Allah.
- Menggunakan nikmat untuk kebaikan.
- Tidak menyombongkan diri.
- Tidak menggunakan nikmat untuk maksiat.
- Menunaikan hak orang lain dari harta yang diberikan Allah.
7. Kekayaan Bisa Menjadi Ujian
Allah berfirman:
QS. Al-Anbiyā’: 35
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
Perhatikan: kebaikan juga ujian.
Kesehatan adalah ujian.
Kekayaan adalah ujian.
Jabatan adalah ujian.
Anak adalah ujian.
Kepandaian adalah ujian.
Bahkan popularitas juga merupakan ujian.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa banyak yang Allah berikan kepadaku?”
Tetapi:
“Untuk apa aku menggunakan apa yang Allah berikan?”
8. Kisah Qarun: Ketika Harta Melahirkan Kesombongan
Allah memberikan kepada Qarun kekayaan yang sangat besar.
Allah berfirman:
QS. Al-Qaṣaṣ: 76
اِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْۖ وَاٰتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَآ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَتَنُوْۤءُ بِالْعُصْبَةِ اُولِي الْقُوَّةِ ۗ اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ
“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.’”
Kemudian Qarun berkata:
QS. Al-Qaṣaṣ: 78
قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ
“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’”
Inilah penyakit yang sangat berbahaya:
Nikmat Allah → dilupakan Allah → merasa semua karena kemampuan sendiri → lahirlah kesombongan.
9. Jangan Menjadikan Mukjizat sebagai Syarat Beriman
Orang-orang Quraisy meminta:
- mata air,
- kebun kurma dan anggur,
- sungai,
- langit dijatuhkan,
- Allah dan malaikat diperlihatkan,
- rumah dari emas,
- naik ke langit dan membawa kitab.
Namun Allah menjelaskan bahwa problem mereka bukan kurangnya bukti.
QS. Al-An‘ām: 111
وَلَوْ اَنَّنَا نَزَّلْنَآ اِلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْٓا اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ
“Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan pula di hadapan mereka segala sesuatu yang mereka inginkan, mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
Pelajaran
Ada orang yang berkata:
“Kalau saya melihat bukti, baru saya beriman.”
Padahal bagi orang yang keras hati, setelah satu bukti datang akan muncul permintaan bukti berikutnya.
Masalahnya bukan kurang bukti, tetapi hati yang tidak mau tunduk kepada kebenaran.
10. Sikap Rasulullah ﷺ terhadap Tuntutan Mereka
Allah menegaskan:
QS. Al-Kahf: 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’”
Rasulullah ﷺ tidak datang untuk memuaskan tuntutan kesombongan manusia.
Beliau datang membawa wahyu, tauhid, petunjuk, dan keselamatan.
11. Pelajaran Besar: Jangan Menilai Kebenaran dari Penampilan Dunia
Ini sangat relevan dalam kehidupan kita.
Kadang-kadang seseorang berkata:
“Dia kan cuma guru.”
“Dia tidak kaya.”
“Dia tidak punya jabatan.”
“Dia bukan orang terkenal.”
“Apa hebatnya?”
Islam mengajarkan agar kita menilai seseorang berdasarkan iman, ilmu, ketakwaan, akhlak, dan amalnya, bukan semata-mata berdasarkan status sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Betapa banyak orang yang rambutnya kusut dan berdebu, diusir dari pintu-pintu, namun seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”
HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.
Ulasan
Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tampak pada penampilan duniawinya.
Ada manusia yang tidak terkenal di bumi, tetapi sangat dikenal dan dimuliakan di sisi Allah.
12. Kebun Dunia vs Kebun Akhirat
Ada sesuatu yang jauh lebih indah daripada kebun kurma dan anggur yang diminta orang Quraisy.
Yaitu surga.
Allah berfirman:
QS. At-Tawbah: 72
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”
Perhatikan:
Kebun dunia → sementara.
Kebun akhirat → kekal.
Sungai dunia → suatu saat berhenti mengalir.
Sungai surga → kenikmatan yang tidak berakhir.
Maka jangan sampai manusia sibuk mengejar kebun dunia tetapi kehilangan jalan menuju kebun akhirat.
13. Ujian yang Sesungguhnya: Ketika Allah Memberikan Apa yang Kita Inginkan
Terkadang kita berpikir:
“Kalau saya kaya, pasti bahagia.”
Belum tentu.
“Kalau saya mendapatkan jabatan, pasti bahagia.”
Belum tentu.
“Kalau usaha saya berhasil, pasti bahagia.”
Belum tentu.
Kebahagiaan yang hakiki bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada keberkahan dan ketenangan hati.
Allah berfirman:
QS. Ar-Ra‘d: 28
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
14. Tiga Sikap Seorang Mukmin terhadap Harta
Pertama: Ketika belum memiliki
Ia bersabar.
Kedua: Ketika mendapatkan
Ia bersyukur.
Ketiga: Ketika kehilangan
Ia tetap beriman dan tidak berputus asa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”
HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2999.
15. Pelajaran untuk Orang Tua dan Guru
Ayat ini juga sangat relevan dalam pendidikan.
Jangan mengajarkan anak bahwa ukuran kesuksesan adalah:
- rumah besar,
- kendaraan mahal,
- pekerjaan bergengsi,
- jabatan tinggi,
- banyak pengikut,
- terkenal di media sosial.
Ajarkan:
“Jadilah orang yang Allah ridai.”
Anak harus memahami bahwa ilmu adalah nikmat.
Kesehatan adalah nikmat.
Kecerdasan adalah nikmat.
Harta adalah nikmat.
Jabatan adalah amanah.
Dan semua itu akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”
HR. at-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī, no. 2417.
16. Inti Tafsir Ayat 91
Dari penjelasan para mufasir, terdapat beberapa pesan utama:
① Kebenaran tidak bergantung pada tuntutan manusia
Allah tidak harus memenuhi semua permintaan manusia agar kebenaran menjadi benar.
② Mukjizat bukan permainan
Mukjizat diberikan sesuai hikmah Allah, bukan untuk memenuhi tantangan orang yang keras kepala.
③ Harta bukan bukti seseorang benar
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi kehidupan beliau sangat sederhana.
④ Kekayaan merupakan amanah
Semakin banyak nikmat, semakin besar pula tanggung jawab.
⑤ Orang yang mencari alasan tidak akan pernah puas
Jika satu bukti diberikan, dia meminta bukti kedua. Jika bukti kedua datang, dia meminta bukti ketiga.
⑥ Kebenaran membutuhkan hati yang tunduk
Ilmu yang banyak tidak otomatis membuat seseorang beriman apabila kesombongan menghalangi hati.
17. Komentar Para Ulama
Imam Ibn Kathīr رحمه الله
Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, beliau menjelaskan rangkaian ayat 90–93 sebagai gambaran keras kepala kaum musyrikin dalam meminta berbagai tanda kepada Rasulullah ﷺ. Permintaan mereka bukan semata-mata mencari petunjuk, tetapi merupakan bentuk penentangan terhadap risalah.
Imam ath-Ṭabarī رحمه الله
Dalam Jāmi‘ al-Bayān, rangkaian ayat tersebut dijelaskan sebagai permintaan kaum Quraisy terhadap tanda-tanda luar biasa yang mereka jadikan syarat untuk beriman. Padahal Allah lebih mengetahui bahwa tanda-tanda tersebut tidak akan menghilangkan kekufuran mereka apabila hati mereka tetap menolak.
Imam al-Qurṭubī رحمه الله
Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, ayat-ayat ini menunjukkan kebodohan dan kesombongan orang-orang yang menuntut tanda berdasarkan hawa nafsu. Seorang rasul tidak mempunyai kewenangan mendatangkan mukjizat sesuai keinginan manusia; semuanya berada di bawah kehendak Allah.
Imam Fakhruddīn ar-Rāzī رحمه الله
Dalam Mafātīḥ al-Ghayb, pembahasan ayat ini berkaitan dengan persoalan bahwa kekuasaan Allah tidak berarti setiap permintaan manusia harus diwujudkan. Allah melakukan sesuatu berdasarkan hikmah dan kehendak-Nya, bukan berdasarkan tuntutan makhluk.
18. Renungan Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah,
Orang-orang Quraisy berkata:
“Kami tidak akan beriman sampai engkau membuat mata air.”
Kemudian:
“Buatkan kebun kurma dan anggur.”
Kemudian:
“Alirkan sungai.”
Kemudian permintaan demi permintaan lainnya.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang tidak mau tunduk kepada kebenaran akan selalu menemukan alasan untuk menolaknya.
Maka janganlah kita menjadi seperti mereka.
Jangan berkata:
“Saya akan taat kalau kehidupan saya sudah mudah.”
Jangan berkata:
“Saya akan bersyukur kalau harta saya sudah banyak.”
Jangan berkata:
“Saya akan dekat dengan Allah kalau semua masalah saya selesai.”
Justru seorang mukmin berkata:
“Dalam keadaan apa pun, saya tetap membutuhkan Allah.”
Ketika diberi nikmat → bersyukur.
Ketika diuji → bersabar.
Ketika berdosa → bertaubat.
Ketika berhasil → tidak sombong.
Ketika gagal → tidak berputus asa.
Dan ketika memperoleh harta → menjadikannya sarana menuju ridha Allah.
Doa Penutup
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا شَاكِرِينَ، وَاجْعَلْنَا عِبَادًا صَابِرِينَ، وَاجْعَلْنَا عِبَادًا مُخْلِصِينَ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْ مَا أَعْطَيْتَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَعْرَضُوا وَاسْتَكْبَرُوا، وَلَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا مَسَّهُمُ الضُّرُّ يَئِسُوا، وَلَكِنْ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ الصَّابِرِينَ.
“Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bersyukur, sabar, dan ikhlas. Jangan jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami. Berkahilah rezeki, umur, dan keluarga kami, serta jadikan semua yang Engkau berikan sebagai sarana untuk taat kepada-Mu.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Rujukan utama
- Tafsīr ath-Ṭabarī — Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān
- Tafsīr Ibn Kathīr — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
- Tafsīr al-Qurṭubī — Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
- Fakhruddīn ar-Rāzī — Mafātīḥ al-Ghayb
- An-Nawawī — Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
- Ṣaḥīḥ Muslim
- Sunan at-Tirmiżī
Pesan utama QS. Al-Isrā’: 91:
Jangan ukur kebenaran dengan kekayaan, jangan ukur kemuliaan dengan kemewahan, dan jangan jadikan nikmat dunia sebagai syarat untuk beriman. Gunakan setiap nikmat sebagai jalan menuju ridha Allah.
Post a Comment