KEMULIAAN ANAK CUCU ADAM DAN TANGGUNG JAWABNYA
MATERI CERAMAH: KEMULIAAN ANAK CUCU ADAM DAN TANGGUNG JAWABNYA
Dasar Pokok: Surah Al-Isrā’ Ayat 70
I. PENDAHULUAN
Allah SWT menciptakan manusia dengan kedudukan yang sangat istimewa di antara seluruh makhluk-Nya. Hal ini ditegaskan secara langsung dalam firman-Nya:
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isrā’/17: 70)
II. BENTUK-BENTUK KEMULIAAN MANUSIA MENURUT PARA ULAMA
Para ulama menjelaskan makna “kemuliaan” dalam ayat ini mencakup banyak aspek:
Ulama Penjelasan Sumber Rujukan
Ibnu Abbas RA Manusia makan menggunakan tangan, memiliki akal budi yang membedakan baik dan buruk Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari[__LINK_ICON]
Adh-Dhahhak Diberi kemampuan berbicara dan membedakan sesuatu Tafsir Al-Baghawi
‘Atha’ Diciptakan dengan bentuk tubuh tegak dan proporsional Tafsir Ibnu Katsir[__LINK_ICON]
As-Sa’di Dimuliakan dengan ilmu, akal, diutusnya rasul, diturunkannya kitab, serta diserahkannya pengelolaan alam Tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman
Al-Qurthubi Diberi kuasa menguasai makhluk lain, diberi kenikmatan yang halal, dan siap menerima amal saleh serta pahala abadi Tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an
Kesimpulan Ulama: Kata “banyak makhluk” bukan berarti manusia lebih mulia dari malaikat, karena malaikat memiliki keistimewaan ketaatan mutlak, namun manusia unggul karena memiliki akal, kehendak bebas, dan kemampuan beribadah dengan pilihan sendiri.
III. DALIL PENDUKUNG DARI AL-QUR’AN
1. Kesempurnaan Bentuk Penciptaan Manusia
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤ ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ ٥ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ ٦
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.” (QS. At-Tīn/95: 4–6)
Ulasan: Keistimewaan bentuk akan sia-sia jika tidak disertai iman dan amal saleh. Tafsir As-Sa’di menjelaskan: “Kesempurnaan sejati bukan hanya fisik, melainkan kesempurnaan akhlak dan ketaatan.”
2. Pemberian Indra dan Hati Nurani
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٧٨
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Naḥl/16: 78)
Ulasan: Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ketiga anugerah ini adalah sarana utama mengenal Allah. Jika tidak digunakan, manusia lebih rendah dari hewan.
3. Manusia Sebagai Khalifah
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah/2: 30)
Ulasan: Khalifah artinya wakil Allah mengelola bumi dengan adil. Tafsir Ath-Thabari menjelaskan: “Allah tahu manusia mampu berbuat baik dan memperbaiki alam jika menjalankan syariat-Nya.”
4. Peringatan Agar Tidak Merendahkan Diri
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.” (QS. Al-A‘rāf/7: 179)
IV. DALIL DARI AL-SUNNAH
Hadis 1: Kemuliaan Manusia Di Sisi Allah
عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ بَنِي إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ»
Dari Watsilah bin Al-Asqa’ RA, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih dari keturunan Ibrahim Ismail, memilih dari keturunan Ismail Bani Kinanah, memilih dari Bani Kinanah kaum Quraisy, memilih dari kaum Quraisy Bani Hasyim, dan memilihku dari Bani Hasyim.”
(HR. Tirmidhi no. 3605, disahihkan oleh Al-Albani)
Hadis 2: Manusia Adalah Makhluk Paling Mulia
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ مِنْ بَنِي آدَمَ»
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain anak cucu Adam.”
(Kanz al-‘Ummal no. 34621, dinilai hasan)
Ulasan: Para ulama menjelaskan: Malaikat mulia karena ketaatan paksa, sedangkan manusia mulia karena bisa taat atas pilihan sendiri, berjuang melawan hawa nafsu, dan beramal saleh.
V. PESAN UTAMA DAN TANGGUNG JAWAB
1. Kemuliaan adalah amanah, bukan kesombongan. Kita diberi kelebihan untuk mengabdi kepada Allah, bukan merusak bumi.
2. Kehormatan itu tergantung ketaatan: Semakin taat kepada Allah, semakin tinggi derajat kita. Sebaliknya, menyia-nyiakan akal dan nikmat menjatuhkan derajat di bawah hewan.
3. Tugas sebagai khalifah: Mengelola alam dengan bijak, menegakkan keadilan, dan menyebarkan kebaikan.
4. Kewajiban bersyukur: Menggunakan pendengaran, penglihatan, dan akal untuk mengenal Allah dan berbuat kebajikan.
VI. KITAB RUJUKAN
1. Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an
2. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim
3. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an
4. ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman
5. Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil
6. Imam Tirmidhi, Sunan at-Tirmidhi
7. ‘Ali al-Muttaqi, Kanz al-‘Ummal
Post a Comment