Ketika Ilmu Menuntun kepada Tasbih, Sujud, dan Keyakinan kepada Janji Allah
Materi Ceramah: “Ketika Ilmu Menuntun kepada Tasbih, Sujud, dan Keyakinan kepada Janji Allah”
Tafsir dan Tadabbur QS. Al-Isrā’ [17]: 108
A. Pembukaan
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan ini kita melanjutkan tadabbur Surah Al-Isrā’ ayat 108. Ayat ini sangat indah karena menggambarkan reaksi orang berilmu ketika berhadapan dengan kebenaran Al-Qur’an.
Orang yang benar-benar mengenal Allah dan memahami wahyu tidak akan menjadi sombong. Justru ilmunya membuat ia:
- semakin mengagungkan Allah,
- semakin mudah tunduk,
- semakin banyak bertasbih,
- semakin yakin kepada janji Allah,
- dan semakin dekat kepada sujud.
Allah berfirman:
QS. Al-Isrā’ [17]: 108
وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا
Artinya:
“Dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’”
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Allah menceritakan orang-orang yang memiliki ilmu dari kalangan Ahlul Kitab yang ketika mendengar Al-Qur’an, mereka tidak mempertahankan kesombongan, tetapi tunduk dan bersujud.
B. Hubungan Ayat 107 dan 108
Allah berfirman sebelumnya:
QS. Al-Isrā’ [17]: 107
قُلْ اٰمِنُوْا بِهٖٓ اَوْ لَا تُؤْمِنُوْاۗ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud.”
Kemudian mereka berkata:
سُبْحَانَ رَبِّنَا
“Mahasuci Tuhan kami.”
Lalu:
إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا
“Sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.”
Pelajaran penting
Ilmu yang benar menghasilkan ketundukan.
Bukan:
“Saya sudah banyak membaca, maka saya paling hebat.”
Tetapi:
“Semakin saya mengetahui kebesaran Allah, semakin saya sadar betapa kecilnya diri saya.”
C. Makna “سُبْحَانَ رَبِّنَا”
1. “Subḥān” berarti menyucikan Allah
Kata:
سُبْحَانَ
berasal dari makna التَّنْزِيهُ, yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan dan sifat yang tidak layak bagi-Nya.
Allah Mahasuci dari:
- kezaliman,
- kelemahan,
- ketidaktahuan,
- kebutuhan kepada makhluk,
- mengingkari janji,
- dan segala sifat kekurangan.
Allah sendiri berfirman:
QS. An-Naḥl [16]: 1
سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Artinya:
“Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.”
D. Tasbih Bukan Sekadar Ucapan
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ketika kita mengucapkan:
سُبْحَانَ اللهِ
jangan hanya bibir yang bergerak.
Hati juga harus memahami:
“Ya Allah, Engkau Mahasuci. Tidak ada keputusan-Mu yang salah. Tidak ada janji-Mu yang dusta. Tidak ada ketetapan-Mu yang zalim.”
Inilah tasbih yang melahirkan keyakinan dan ketenangan.
E. Janji Allah Pasti Terwujud
Allah berfirman:
إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا
“Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.”
Ini adalah salah satu prinsip besar dalam aqidah Islam:
وَعْدُ اللهِ حَقٌّ
“Janji Allah adalah benar.”
Allah berfirman:
QS. Ar-Rūm [30]: 60
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ
Artinya:
“Maka bersabarlah, sungguh, janji Allah itu benar. Jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) membuat engkau tidak sabar.”
Pesannya
Ketika kehidupan terasa berat, Allah berkata:
فَاصْبِرْ
“Bersabarlah.”
Mengapa?
إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ
“Karena janji Allah pasti benar.”
F. Janji Allah Tentang Pertolongan
Allah berfirman:
QS. Ghāfir [40]: 51
إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi.”
Allah berjanji akan menolong para rasul dan orang-orang beriman.
Tetapi pertolongan Allah tidak selalu berbentuk:
- mendapatkan apa yang kita inginkan,
- kemenangan yang cepat,
- kekayaan,
- atau terbebas dari semua ujian.
Kadang pertolongan Allah berbentuk keteguhan hati ketika menghadapi ujian.
G. Janji Allah Tentang Ampunan
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Maka jangan berkata:
“Saya sudah terlalu banyak dosa, Allah pasti tidak mengampuni saya.”
Justru orang yang memahami Al-Qur’an akan berkata:
سُبْحَانَ رَبِّنَا
“Mahasuci Tuhan kami.”
Kemudian ia bertobat dan kembali kepada Allah.
H. Janji Allah Tentang Surga
Allah berfirman:
QS. At-Taubah [9]: 72
وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”
Maka orang beriman tidak hidup hanya mengejar dunia.
Ia memiliki orientasi akhirat:
“Apa pun yang hilang di dunia, jangan sampai saya kehilangan surga Allah.”
I. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Tasbih dalam Rukuk dan Sujud
‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Artinya:
“Rasulullah ﷺ banyak membaca dalam rukuk dan sujudnya: ‘Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.’”
HR. al-Bukhārī dan Muslim.
Ini sangat sesuai dengan QS. Al-Isrā’: 108.
Orang yang mengetahui kebesaran Allah akan sampai pada satu keadaan:
semakin mengenal Allah → semakin banyak tasbih → semakin mudah sujud → semakin banyak istighfar.
J. Sujud adalah Tempat Terdekat Seorang Hamba dengan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya:
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa.”
HR. Muslim, no. 482.
Perhatikan hubungan yang sangat indah:
Ilmu → mengenal Allah → mengagungkan Allah → bersujud → berdoa.
Karena itu, jangan sia-siakan sujud.
Ketika dahi menyentuh tanah, dunia seakan menjadi kecil.
Pada saat itu seorang hamba berkata:
“Ya Allah, saya tidak punya kekuatan tanpa-Mu.”
K. Tasbih Membawa Ketenangan
Allah berfirman:
QS. Ar-Ra‘d [13]: 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Tasbih adalah bagian dari dzikir.
Karena itu, ketika hati gelisah, jangan hanya mencari hiburan dunia.
Kembalilah kepada:
سُبْحَانَ اللهِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ
اللهُ أَكْبَرُ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
L. Penjelasan Para Ulama
1. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir ketika menjelaskan QS. Al-Isrā’: 108 menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab sebelumnya dan mengetahui tanda-tanda kenabian.
Ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tunduk karena mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran yang datang dari Allah.
Beliau mengaitkan ayat ini dengan sikap orang-orang berilmu yang menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang.
Rujukan: Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, karya Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-Isrā’: 107–109.
2. Tafsir As-Sa‘di
As-Sa‘di menjelaskan bahwa orang-orang yang memiliki ilmu yang benar memiliki karakter berbeda dari orang-orang yang sombong.
Ketika kebenaran sampai kepada mereka, mereka tunduk.
Intinya:
العِلْمُ النَّافِعُ يُوَرِّثُ الخُشُوعَ
“Ilmu yang bermanfaat melahirkan kekhusyukan.”
Bukan kesombongan.
Rujukan: Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Isrā’: 107–109.
M. Imam An-Nawawi tentang Dzikir dalam Rukuk dan Sujud
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa memperbanyak tasbih dan doa ketika rukuk dan sujud merupakan bagian dari tuntunan Nabi ﷺ.
Beliau juga menjelaskan bahwa rukuk merupakan tempat mengagungkan Allah, sedangkan sujud merupakan keadaan yang sangat dekat bagi seorang hamba kepada Rabb-nya.
Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Imam An-Nawawi, pembahasan Kitāb aṣ-Ṣalāh, hadis tentang rukuk dan sujud.
N. Ibnul Qayyim: Ilmu yang Benar Melahirkan Ubudiyah
Ibnul Qayyim banyak menjelaskan hubungan antara ma‘rifatullah (mengenal Allah) dan ketundukan kepada-Nya.
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia mengenal:
- kebesaran Allah,
- kesempurnaan Allah,
- kelemahan dirinya,
- ketergantungannya kepada Allah.
Karena itu ilmu yang benar tidak berhenti pada pengetahuan di kepala.
Ilmu harus turun ke:
hati → lisan → anggota badan → amal.
Rujukan: Madārij as-Sālikīn, Ibnul Qayyim, pembahasan tentang ma‘rifah, khusyuk dan ‘ubudiyyah.
O. Pelajaran Besar: Jangan Menjadi “Orang Berilmu” yang Tidak Tunduk
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ayat ini memberikan evaluasi kepada kita.
Bisa saja seseorang:
- hafal banyak ayat,
- membaca banyak kitab,
- mengetahui banyak hadis,
- memiliki banyak gelar,
- sering mengajar,
tetapi hatinya belum tunduk kepada Allah.
Itulah yang harus kita khawatirkan.
Karena ilmu yang tidak melahirkan ketundukan bisa menjadi hujjah yang memberatkan seseorang.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
HR. Muslim.
P. Ciri Ilmu yang Bermanfaat
Dari QS. Al-Isrā’: 107–108 kita dapat mengambil beberapa ciri.
1. Ilmu membuat kita semakin mengenal Allah
Bukan semakin membanggakan diri.
2. Ilmu membuat hati mudah menerima kebenaran
Ketika dalil datang, kita berkata:
“Sami‘nā wa aṭa‘nā.”
“Kami mendengar dan kami taat.”
3. Ilmu melahirkan kekhusyukan
Allah berfirman:
QS. Al-Ḥajj [22]: 54
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
Artinya:
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa (Al-Qur’an) itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya sehingga hati mereka tunduk kepada-Nya.”
Perhatikan:
العِلْمُ → الإِيمَانُ → الإِخْبَاتُ
Ilmu → iman → ketundukan hati.
Q. Jangan Meragukan Janji Allah
Ada masa ketika kita merasa:
- doa belum dikabulkan,
- rezeki terasa sempit,
- masalah belum selesai,
- perjuangan belum membuahkan hasil,
- kebaikan seakan tidak dihargai.
Saat itu ingat:
إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا
“Sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.”
Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
QS. Āli ‘Imrān [3]: 9
رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.”
R. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Ketika mendapat nikmat
Jangan hanya berkata:
“Ini karena saya hebat.”
Tetapi:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Segala puji bagi Allah.”
2. Ketika melihat kebesaran Allah
Ucapkan:
سُبْحَانَ اللهِ
3. Ketika mendapat ujian
Ingat:
وَعْدُ اللهِ حَقٌّ
“Janji Allah benar.”
Kemudian bersabar.
4. Ketika melakukan dosa
Jangan berputus asa.
Segera:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
5. Ketika sujud
Jangan terburu-buru.
Gunakan kesempatan itu untuk:
- bertasbih,
- memuji Allah,
- memohon ampun,
- berdoa,
- dan menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya.
S. Renungan untuk Para Guru, Orang Tua, dan Pendidik
Ayat ini juga sangat penting bagi para pendidik.
Tujuan pendidikan Islam bukan hanya membuat anak:
“tahu.”
Tetapi:
“tahu → beriman → tunduk → beramal.”
Anak yang mengetahui banyak ayat tetapi tidak memiliki akhlak belum mencapai tujuan pendidikan yang sempurna.
Sebaliknya, ketika ilmu membuat seorang anak:
- menghormati orang tua,
- rajin salat,
- menjaga lisannya,
- jujur,
- rendah hati,
- mudah meminta maaf,
- dan takut berbuat dosa,
maka ilmu tersebut telah memberikan buah.
T. Kesimpulan Ceramah
Jamaah rahimakumullah,
QS. Al-Isrā’: 108 mengajarkan kepada kita tiga kata kunci:
1. سُبْحَانَ رَبِّنَا
“Mahasuci Tuhan kami.”
Kenali kebesaran Allah.
2. وَعْدُ رَبِّنَا
“Janji Tuhan kami.”
Percayalah kepada janji Allah.
3. لَمَفْعُولًا
“Pasti dipenuhi.”
Yakinlah bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Maka jangan biarkan ilmu hanya memenuhi kepala.
Biarkan ilmu turun ke hati sehingga melahirkan khusyuk.
Biarkan kekhusyukan turun ke anggota badan sehingga melahirkan sujud.
Dan biarkan sujud melahirkan doa, sabar, tawakal, dan istiqamah.
U. Penutup Ceramah
Mari kita bertanya kepada diri kita:
Apakah ilmu yang saya miliki membuat saya semakin dekat kepada Allah?
Apakah semakin banyak saya membaca Al-Qur’an, semakin lembut hati saya?
Apakah ilmu membuat saya mudah tunduk ketika dalil datang?
Apakah saya yakin bahwa janji Allah pasti benar?
Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika mendengar ayat Allah, hati kita tidak keras, tetapi berkata:
سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا
“Mahasuci Tuhan kami. Sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.”
Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا سَبَبًا لِخُشُوعِ قُلُوبِنَا، وَصَلَاحِ أَعْمَالِنَا، وَقُرْبِنَا مِنْكَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً، وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً بِوَعْدِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا سَمِعُوا آيَاتِكَ آمَنُوا بِهَا وَخَرُّوا لَكَ سُجَّدًا.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat. Jadikan ilmu kami sebagai sebab kekhusyukan hati, kesalehan amal, dan kedekatan kami kepada-Mu.
Ya Allah, karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, lisan yang senantiasa berdzikir, dan jiwa yang tenteram dengan janji-Mu.
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang apabila mendengar ayat-ayat-Mu, mereka beriman kepadanya dan bersujud kepada-Mu.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Kitab rujukan utama
- Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Ibnu Katsir.
- Jāmi‘ al-Bayān — Imam aṭ-Ṭabari.
- Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — Abdurrahman as-Sa‘di.
- Ma‘ālim at-Tanzīl — Imam al-Baghawi.
- Tafsīr al-Qurṭubī — Imam al-Qurṭubi.
- Zād al-Ma‘ād dan Madārij as-Sālikīn — Ibnul Qayyim.
- Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim — Imam an-Nawawi.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim — hadis-hadis tentang dzikir, rukuk, sujud, dan doa.
Post a Comment