MENANGIS KARENA AL-QUR’AN DAN BERTAMBAH KHUSYUK KEPADA ALLAH

MATERI CERAMAH

“MENANGIS KARENA AL-QUR’AN DAN BERTAMBAH KHUSYUK KEPADA ALLAH”

Tafsir dan Tadabbur QS. Al-Isrā’ Ayat 109

Muqaddimah

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan salah satu gambaran manusia yang paling indah di dalam Al-Qur'an: orang berilmu yang ketika mendengar ayat-ayat Allah, hatinya tunduk, matanya menangis, dan kekhusyukannya semakin bertambah.

Allah berfirman:

QS. Al-Isrā’ [17]: 109

وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩

Artinya:

“Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.”

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat 107–108. Allah menggambarkan orang-orang yang memiliki ilmu dan mengenali kebenaran Al-Qur'an. Ketika Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak sekadar mendengar dengan telinga, tetapi memahami dengan akal, merasakan dengan hati, kemudian tunduk dengan anggota badan.


1. Ilmu yang benar melahirkan khusyuk

Ayat ini sangat menarik karena Allah tidak hanya mengatakan bahwa mereka menangis. Allah menutup ayat dengan:

وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا

“Dan mereka bertambah khusyuk.”

Artinya, ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya bertambahnya informasi, tetapi bertambahnya ketundukan kepada Allah.

Seseorang bisa mengetahui banyak ayat, banyak hadis, banyak kitab, bahkan mampu menjelaskan agama kepada orang lain. Tetapi apabila ilmunya tidak membuat hatinya semakin takut kepada Allah dan semakin taat kepada-Nya, maka ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Allah berfirman:

QS. Fāṭir [35]: 28

إِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا ۗ إِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Artinya:

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”

Pelajaran

Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin besar khasy-yah-nya kepada Allah.

Bukan semakin sombong.

Bukan semakin merasa paling benar.

Bukan semakin mudah merendahkan orang lain.

Tetapi semakin merasa:

“Ya Allah, betapa kecilnya aku di hadapan kebesaran-Mu.”


2. Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk mengubah hati

Allah menggambarkan keadaan orang-orang beriman:

QS. Al-Anfāl [8]: 2

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”

Perhatikan urutannya:

Al-Qur'an dibaca → hati tersentuh → iman bertambah → tawakal semakin kuat.

Inilah Al-Qur'an yang hidup di dalam hati.


3. Menangis karena takut kepada Allah adalah kemuliaan

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ ... وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللّٰهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya:

“Ada tujuh golongan yang akan Allah beri naungan pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya … (di antaranya) seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu kedua matanya bercucuran air mata.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Komentar ulama

Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa menangis karena takut kepada Allah merupakan tanda khasy-yah dan keikhlasan hati, terutama ketika seseorang mengingat kebesaran Allah dan dosa-dosanya.

Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, karya Imam an-Nawawi, pembahasan hadis tujuh golongan yang mendapat naungan Allah.


4. Rasulullah ﷺ sendiri menangis ketika membaca Al-Qur'an

Ini adalah teladan yang sangat penting.

Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه pernah membaca Al-Qur'an di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika sampai pada ayat:

QS. An-Nisā’ [4]: 41

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًا

Artinya:

“Bagaimanakah keadaan orang-orang kafir ketika Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?”

Ibnu Mas‘ud berkata bahwa ketika sampai ayat tersebut:

فَقَالَ لِي: حَسْبُكَ الآنَ، فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Artinya:

“Beliau berkata kepadaku, ‘Cukup sampai di sini.’ Aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau bercucuran air mata.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Pelajaran

Rasulullah ﷺ bukan hanya mengajarkan Al-Qur'an dengan lisan.

Beliau hidup bersama Al-Qur'an.

Ketika ayat tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah dibaca, hati beliau tersentuh.


5. Menangis karena Al-Qur'an bukan kelemahan

Sebagian orang mungkin menganggap menangis sebagai tanda kelemahan.

Islam justru mengajarkan bahwa hati yang lembut adalah kemuliaan.

Allah berfirman:

QS. Az-Zumar [39]: 23

اللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ

Artinya:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Kitab (Al-Qur'an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Karena itu, gemetar kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah.”

Perhatikan prosesnya:

takut → tersentuh → hati luluh → kembali kepada Allah.


6. Jangan memaksakan tangisan, tetapi latihlah hati

Dalam materi yang disampaikan terdapat hadis:

اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَابْكُوا، فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

Artinya:

“Bacalah Al-Qur'an dan menangislah. Jika kalian tidak dapat menangis, maka berusahalah untuk menangis.”

Riwayat ini disebutkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunan-nya.

Namun yang perlu dipahami: “berusaha menangis” bukan berarti berpura-pura untuk mendapatkan pujian manusia.

Maksudnya adalah melatih hati agar tersentuh dengan ayat-ayat Allah.

Misalnya ketika membaca ayat tentang neraka, kita mengingat dosa.

Ketika membaca ayat tentang surga, kita berharap rahmat Allah.

Ketika membaca ayat tentang ampunan, kita berharap Allah mengampuni.

Ketika membaca kisah para nabi, kita mengambil pelajaran.


7. Kunci menangis ketika membaca Al-Qur'an adalah memahami maknanya

Allah berfirman:

QS. Muḥammad [47]: 24

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Artinya:

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Ayat ini mengajarkan pentingnya tadabbur.

Membaca Al-Qur'an dengan cepat mungkin membuat kita mendapatkan banyak huruf dan pahala bacaan.

Tetapi membaca perlahan sambil memahami makna dapat membuka pintu penghayatan dan perubahan hati.

Karena itu, ketika membaca:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman…”

berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apa yang Allah perintahkan kepadaku?”

Ketika membaca:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ

“Wahai manusia…”

tanyakan:

“Apa pesan Allah untuk kehidupanku?”


8. Khusyuk bukan hanya menangis

Ini sangat penting.

Tidak semua orang yang menangis berarti paling khusyuk.

Dan orang yang tidak menangis bukan berarti tidak khusyuk.

Khusyuk adalah ketundukan hati kepada Allah yang kemudian terlihat pada perilaku.

Allah berfirman:

QS. Al-Mu’minūn [23]: 1–2

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ ۝ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ ۙ

Artinya:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya.”

Penjelasan Imam Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa khusyuk pada hakikatnya adalah ketundukan hati kepada Allah, yang kemudian berpengaruh kepada anggota badan.

Dalam Madārij as-Sālikīn, beliau banyak menjelaskan hubungan antara hati, rasa takut kepada Allah, kecintaan kepada-Nya, dan ketundukan.

Jadi, jangan menjadikan air mata sebagai tujuan utama.

Tujuannya adalah:

HATI YANG TUNDUK.

Air mata hanyalah salah satu buahnya.


9. Orang yang benar-benar memahami Al-Qur'an akan berubah

Allah berfirman:

QS. Al-Ḥadīd [57]: 16

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

Artinya:

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan?”

Ayat ini merupakan teguran yang sangat dalam:

“Belum tibakah waktunya hati kita tunduk?”

Sudah berapa tahun kita membaca Al-Qur'an?

Sudah berapa kali kita khatam?

Tetapi apakah akhlak kita semakin baik?

Apakah salat kita semakin terjaga?

Apakah lisan kita semakin terjaga?

Apakah kita semakin mudah memaafkan?

Apakah kecintaan kita kepada dunia semakin berkurang?

Jika jawabannya belum, maka mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah Al-Qur'an baru sampai di lisan, atau sudah sampai ke hati?


10. Tiga tingkatan interaksi dengan Al-Qur'an

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kita bisa melihat hubungan manusia dengan Al-Qur'an dalam tiga tingkatan:

Pertama: Al-Qur'an dibaca

Lisan membaca:

الحمد لله رب العالمين

Tetapi hati belum tentu memahami.

Kedua: Al-Qur'an dipahami

Kita mengetahui:

الحمد لله رب العالمين

berarti segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam.

Ketiga: Al-Qur'an dihayati dan diamalkan

Ketika mendapat nikmat, kita berkata:

الحمد لله

Ketika mendapat ujian, kita tetap memuji Allah.

Ketika mendapatkan keberhasilan, kita tidak sombong.

Ketika kehilangan sesuatu, kita tidak berputus asa.

Inilah ketika Al-Qur'an telah hidup dalam diri kita.


11. Mengapa hati kita sulit menangis ketika membaca Al-Qur'an?

Ada beberapa hal yang perlu kita evaluasi.

1. Banyak dosa

Dosa dapat mengeraskan hati.

Allah berfirman:

QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14

كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya:

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”

2. Terlalu mencintai dunia

Hati yang penuh dengan dunia sulit merasakan kedahsyatan akhirat.

3. Membaca tanpa memahami

Lidah bergerak, tetapi pikiran ke mana-mana.

4. Kurang menghadirkan kebesaran Allah

Kita membaca seolah-olah hanya membaca teks, bukan sedang mendengarkan firman Rabbul ‘Alamin.

5. Kurang berdoa

Kita harus meminta kepada Allah agar diberi hati yang lembut.


12. Doa agar hati dilembutkan

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْمَعُ لَهَا

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan doa yang tidak didengar.”

HR. Muslim.

Perhatikan:

Rasulullah ﷺ menggabungkan ilmu dengan hati yang khusyuk.

Sebab ilmu tanpa khusyuk dapat menjadi sekadar pengetahuan.


13. Menangis yang paling mulia adalah menangis yang melahirkan perubahan

Hadirin sekalian,

Jangan sampai kita menangis ketika mendengar ceramah, tetapi setelah keluar dari masjid kembali melakukan dosa yang sama.

Jangan sampai mata menangis ketika membaca ayat tentang neraka, tetapi tangan tetap mengambil sesuatu yang haram.

Jangan sampai menangis ketika mendengar ayat tentang berbakti kepada orang tua, tetapi setelah itu kita menyakiti mereka.

Jangan sampai menangis ketika mendengar tentang ukhuwah, tetapi kita masih senang menghina saudara.

Tangisan yang benar melahirkan perubahan.

Allah berfirman:

QS. Maryam [19]: 58

اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُ الرَّحْمٰنِ خَرُّوْا سُجَّدًا وَّبُكِيًّا ۩

Artinya:

“Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan Yang Maha Pengasih, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keadaan para hamba Allah yang benar ketika mendengar ayat-ayat-Nya: mereka tunduk, merendahkan diri dan menangis karena pengaruh iman yang ada di dalam hati.

Rujukan: Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir, tafsir QS. Maryam: 58.


14. Buah khusyuk dalam kehidupan sehari-hari

Jika Al-Qur'an benar-benar membuat kita khusyuk, maka akan terlihat dalam:

Di rumah:
lebih lembut kepada pasangan dan anak.

Di sekolah:
lebih sabar mendidik siswa.

Di tempat kerja:
lebih amanah.

Dalam bermasyarakat:
tidak mudah merendahkan orang lain.

Dalam ibadah:
lebih menjaga salat.

Dalam dosa:
lebih cepat bertaubat.

Dalam mendapat nikmat:
lebih banyak bersyukur.

Dalam mendapat musibah:
lebih sabar.

Inilah tanda bahwa Al-Qur'an telah menyentuh hati.


15. Renungan untuk kita semua

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Ketika membaca ayat tentang surga, apakah kita rindu kepadanya?

Ketika membaca ayat tentang neraka, apakah kita takut?

Ketika membaca ayat tentang dosa, apakah kita segera bertaubat?

Ketika membaca ayat tentang orang tua, apakah kita ingin berbakti?

Ketika membaca ayat tentang sedekah, apakah kita ingin memberi?

Ketika membaca ayat tentang salat, apakah kita memperbaiki salat kita?

Kalau Al-Qur'an dibaca tetapi kehidupan tidak berubah, mungkin bukan Al-Qur'annya yang bermasalah.

Mungkin hati kita yang perlu diperbaiki.


Penutup

Hadirin yang dimuliakan Allah,

QS. Al-Isrā’ ayat 109 mengajarkan kepada kita sebuah potret manusia berilmu:

يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ

“Mereka menyungkurkan wajah sambil menangis.”

Kemudian:

وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا

“Dan bertambah khusyuk.”

Maka mari kita jadikan Al-Qur'an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk kehidupan.

Bukan hanya kita baca dengan lisan.

Tetapi kita pahami dengan akal.

Kita rasakan dengan hati.

Kita buktikan dengan amal.

Dan kita sebarkan dengan akhlak.

Doa

اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا.

“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan kami, dan penghilang kegelisahan kami.”

اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوْبًا خَاشِعَةً، وَأَعْيُنًا دَامِعَةً مِنْ خَشْيَتِكَ، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً تُرْضِيْكَ.

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang khusyuk, mata yang menangis karena takut kepada-Mu, dan amal-amal saleh yang Engkau ridhai.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Rujukan utama

  1. Al-Qur’an al-Karim — QS. Al-Isrā’: 109 dan ayat-ayat terkait.
  2. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī — hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah dan tangisan Rasulullah ﷺ ketika dibacakan Al-Qur'an.
  3. Ṣaḥīḥ Muslim — hadis-hadis tentang membaca Al-Qur'an, tangisan karena khasy-yah, serta doa berlindung dari hati yang tidak khusyuk.
  4. Sunan at-Tirmiżī — hadis tentang membaca Al-Qur'an dan berusaha menangis.
  5. Tafsīr aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān — tafsir QS. Al-Isrā’: 107–109.
  6. Tafsīr Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — tafsir QS. Al-Isrā’: 109 dan QS. Maryam: 58.
  7. Tafsīr al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — pembahasan sujud, tangisan dan kekhusyukan.
  8. Tafsīr as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — tafsir QS. Al-Isrā’: 109.
  9. Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn — pembahasan khusyuk, khasy-yah, kelembutan hati dan perjalanan hati menuju Allah.
  10. An-Nawawi, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim — penjelasan hadis-hadis tentang khusyuk, tangisan dan ibadah Rasulullah ﷺ.

Tidak ada komentar