MENGENAL ALLAH MELALUI ASMAUL HUSNA DAN BERDOA DENGAN PENUH KEKHUSYUKAN

MATERI CERAMAH

“MENGENAL ALLAH MELALUI ASMAUL HUSNA DAN BERDOA DENGAN PENUH KEKHUSYUKAN”

Tafsir QS. Al-Isrā’ [17]: 110

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini kita membahas firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 110. Ayat ini mengajarkan dua perkara besar: mengenal Allah melalui nama-nama-Nya yang indah (Asmā’ul Ḥusnā) dan beribadah serta berdoa dengan sikap yang seimbang dan penuh kekhusyukan.


1. AYAT UTAMA: QS. AL-ISRĀ’ AYAT 110

Firman Allah ﷻ

قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmā’ul Ḥusnā) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.’”

Pokok kandungan ayat

Ayat ini mempunyai dua bagian utama:

  1. Allah memiliki nama-nama yang paling indah dan sempurna.
  2. Dalam membaca Al-Qur’an dan berdoa dalam salat, kita diperintahkan mengambil jalan pertengahan.

2. “ALLAH” DAN “AR-RAḤMĀN” ADALAH TUHAN YANG SAMA

Allah berfirman:

قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى

“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu menyeru, maka milik-Nyalah nama-nama yang terbaik.”

Allah menjelaskan bahwa Allah dan Ar-Raḥmān bukan dua Tuhan, tetapi dua nama bagi Dzat Yang Maha Esa.

Hal ini ditegaskan dalam ayat berikutnya:

QS. Al-Isrā’ ayat 111

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا

Artinya:

“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong dari kehinaan.’ Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”

Pelajaran

Jangan sampai seorang Muslim memahami nama-nama Allah sebagai Tuhan yang berbeda-beda.

Allah adalah satu-satunya Tuhan.

Nama-Nya banyak, tetapi Dzat-Nya satu.


3. ALLAH MEMILIKI AL-ASMĀ’UL ḤUSNĀ

Allah berfirman:

QS. Al-A‘rāf ayat 180

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya:

“Dan Allah memiliki Asmā’ul Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmā’ul Ḥusnā itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahgunakan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Ulasan

Ayat ini menunjukkan bahwa mengenal nama-nama Allah bukan sekadar menghafal daftar 99 nama.

Yang lebih penting adalah:

mengetahui maknanya → meyakininya → berdoa dengannya → beribadah berdasarkan konsekuensinya.

Misalnya:

  • Mengetahui Allah الرَّحْمٰنُ (Ar-Raḥmān) → kita berharap kepada rahmat-Nya.
  • Mengetahui Allah الْغَفُوْرُ (Al-Ghafūr) → kita tidak putus asa dari ampunan-Nya.
  • Mengetahui Allah السَّمِيْعُ (As-Samī‘) → kita menjaga ucapan.
  • Mengetahui Allah الْبَصِيْرُ (Al-Baṣīr) → kita menjaga perbuatan.
  • Mengetahui Allah الْعَلِيْمُ (Al-‘Alīm) → kita sadar Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati.

4. HADIS TENTANG 99 NAMA ALLAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa meng-ihshā’-nya, maka ia masuk surga.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Apa arti “أَحْصَاهَا”?

Para ulama menjelaskan bahwa makna أحصاها tidak sekadar menghitung atau menghafalnya.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama memberikan beberapa makna, di antaranya menghafal, memahami, menjaga, dan mengamalkan konsekuensi dari nama-nama tersebut.

Pesan penting

Jangan hanya berkata:

“Saya hafal Asmā’ul Ḥusnā.”

Tetapi tanyakan:

“Apakah saya sudah mengenal Allah melalui Asmā’ul Ḥusnā?”

Orang yang benar-benar mengenal Allah akan semakin:

  • takut kepada-Nya,
  • berharap kepada-Nya,
  • mencintai-Nya,
  • tawakal kepada-Nya,
  • malu bermaksiat kepada-Nya.

5. BERDOALAH DENGAN NAMA-NAMA ALLAH

Allah berfirman:

QS. Al-A‘rāf: 180

فَادْعُوْهُ بِهَا

“Berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya.”

Ini merupakan salah satu adab doa.

Misalnya:

Memohon ampun

يَا غَفُوْرُ اغْفِرْ لِي

“Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku.”

Memohon rahmat

يَا رَحْمٰنُ ارْحَمْنِي

“Wahai Yang Maha Pengasih, rahmatilah aku.”

Memohon rezeki

يَا رَزَّاقُ ارْزُقْنِي

“Wahai Maha Pemberi Rezeki, berilah aku rezeki.”

Namun tentu doa tidak cukup hanya dengan lafaz. Hati harus benar-benar bergantung kepada Allah.


6. DOA YANG DIPUJI RASULULLAH ﷺ

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd, at-Tirmiżī dan lainnya, terdapat doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، الْأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kesaksianku bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Rasulullah ﷺ kemudian memuji doa tersebut dan menjelaskan bahwa orang itu telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung.

HR. Abū Dāwūd, at-Tirmiżī, dan Ibnu Mājah.

Pelajaran

Doa yang paling kuat bukanlah doa yang panjang, tetapi doa yang lahir dari:

tauhid + keyakinan + ketundukan + kebutuhan kepada Allah.


7. ALLAH MAHA PENGASIH: AR-RAḤMĀN

Allah berfirman:

QS. Al-Fātiḥah ayat 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Perhatikan, salah satu nama Allah yang paling sering kita baca adalah:

الرَّحْمٰنُ — Ar-Raḥmān

dan

الرَّحِيْمُ — Ar-Raḥīm.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa hubungan seorang hamba dengan Allah harus dibangun di atas harap kepada rahmat Allah, bukan hanya rasa takut.

Allah berfirman:

QS. Az-Zumar ayat 53

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”


8. JANGAN BERLEBIHAN DALAM MENGERASKAN SUARA

Allah berfirman:

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

“Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah.”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam ibadah.

Islam tidak mengajarkan:

  • berlebihan,
  • berteriak-teriak,
  • mengganggu orang lain,

tetapi juga tidak mengajarkan ibadah yang dilakukan dengan sikap malas dan tanpa kesungguhan.


9. DALIL DARI SUNNAH: JANGAN BERLEBIHAN DALAM BERDOA

Rasulullah ﷺ pernah mendengar para sahabat berdoa dengan suara keras.

Beliau bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

Artinya:

“Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Tuhan yang tuli dan tidak pula kepada Tuhan yang tidak ada. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Ulasan

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan anjuran merendahkan suara dalam doa apabila tidak ada kebutuhan untuk mengeraskannya, karena Allah Maha Mendengar dan tidak membutuhkan suara keras.

Jadi, Allah tidak semakin mendengar karena suara kita semakin keras.

Yang Allah lihat adalah ketundukan hati.


10. KHUSYUK ADALAH RUH DALAM IBADAH

Allah berfirman:

QS. Al-Mu’minūn ayat 1–2

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ ۝١ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ ۝٢

Artinya:

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam salatnya.”

Khusyuk bukan berarti harus selalu menangis.

Khusyuk adalah ketika:

hati hadir, tunduk, takut, berharap, dan mengagungkan Allah.


11. JANGAN TERLALU KERAS, JANGAN PULA TERLALU PELAN

Allah memberikan prinsip:

وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

“Carilah jalan tengah di antara keduanya.”

Ini merupakan prinsip Islam yang sangat luas:

Dalam ibadah:

Tidak berlebihan dan tidak meremehkan.

Dalam berbicara:

Tidak kasar dan tidak pula pengecut.

Dalam menggunakan harta:

Tidak boros dan tidak kikir.

Dalam berpakaian:

Tidak berlebihan dan tidak pula mengabaikan kepantasan.

Dalam berdakwah:

Tidak kasar sehingga manusia lari, tetapi juga tidak mengorbankan prinsip agama.


12. ISLAM MENGAJARKAN KESEIMBANGAN

Allah berfirman:

QS. Al-Furqān ayat 67

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

Artinya:

“Dan orang-orang yang apabila menginfakkan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di antara keduanya secara wajar.”

Inilah karakter seorang Muslim:

seimbang, tidak ekstrem, tetapi juga tidak lalai.


13. BELAJAR MENGENAL ALLAH

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ayat ini sebenarnya mengajak kita kepada pertanyaan yang sangat mendasar:

“Seberapa jauh kita mengenal Allah?”

Kita mengenal Allah melalui:

1. Al-Qur'an

Membaca dan mentadabburinya.

2. As-Sunnah

Mempelajari bagaimana Rasulullah ﷺ mengenalkan Rabb-nya kepada umat.

3. Asmā’ul Ḥusnā

Mengenal nama dan sifat Allah sesuai Al-Qur'an dan Sunnah.

4. Merenungi ciptaan Allah

Langit, bumi, manusia, kehidupan, kematian, pergantian siang dan malam.

Allah berfirman:

اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

Artinya:

“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”
QS. Al-Mulk: 14


14. PERBEDAAN ORANG YANG MENGENAL ALLAH DAN YANG TIDAK

Orang yang mengenal Al-Ghafūr tidak mudah berputus asa.

Orang yang mengenal Ar-Razzāq tidak terlalu takut kehilangan rezeki.

Orang yang mengenal Al-‘Alīm tidak berani melakukan maksiat secara sembunyi-sembunyi.

Orang yang mengenal As-Samī‘ menjaga lisannya.

Orang yang mengenal Al-Baṣīr menjaga pandangannya.

Orang yang mengenal Al-Ḥakīm percaya bahwa ketetapan Allah pasti mengandung hikmah.

Orang yang mengenal Ar-Raḥmān belajar menjadi manusia yang penuh kasih sayang.


15. PERKATAAN PARA ULAMA

A. Imam Ibnul Qayyim رحمه الله

Dalam Madārij as-Sālikīn, beliau menjelaskan pentingnya mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya. Di antara makna yang beliau tekankan adalah bahwa ma‘rifatullah merupakan dasar perjalanan hati menuju Allah.

Beliau berkata:

وَأَصْلُ الْخَيْرِ كُلِّهِ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ مَا شَاءَ اللّٰهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

“Pokok seluruh kebaikan adalah engkau mengetahui bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.”

Rujukan: Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn.

Maknanya bagi kita: semakin mengenal Allah, semakin kuat tawakal kita.


B. Imam Ibn Kathīr رحمه الله

Dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Isrā’: 110, Ibn Kathīr menjelaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang diseru, sedangkan Allah dan Ar-Raḥmān merupakan nama bagi Dzat yang sama.

Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Isrā’: 110.


C. Imam ath-Ṭabarī رحمه الله

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, beliau menjelaskan makna ayat:

أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

bahwa dengan nama Allah atau Ar-Raḥmān, yang diseru tetap satu, yaitu Allah سبحانه وتعالى.

Rujukan: ath-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 110.


16. PELAJARAN PRAKTIS UNTUK KEHIDUPAN

Jamaah sekalian,

Mari kita jadikan ayat ini sebagai pedoman sehari-hari.

Ketika mendapat masalah:

Jangan berkata:

“Saya tidak punya jalan keluar.”

Tetapi katakan:

اللّٰهُ رَبِّي، وَهُوَ أَعْلَمُ بِحَالِي

“Allah adalah Rabbku dan Dia paling mengetahui keadaanku.”

Ketika melakukan dosa:

Jangan berkata:

“Saya sudah terlalu banyak dosa.”

Tetapi ingat:

الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Ketika kehilangan sesuatu:

Ingat:

الرَّزَّاقُ

Allah adalah Ar-Razzāq, Yang Maha Memberi Rezeki.

Ketika takut:

Ingat:

الْحَفِيْظُ

Allah adalah Yang Maha Menjaga.

Ketika berdoa:

Jangan hanya menggerakkan lisan.

Hadirkan hati.


17. INTI CERAMAH

Dari QS. Al-Isrā’: 110 kita memperoleh lima pelajaran besar:

1. Allah itu Esa

Allah dan Ar-Raḥmān adalah nama bagi Tuhan Yang Maha Esa.

2. Allah memiliki Asmā’ul Ḥusnā

Nama-nama Allah menunjukkan kesempurnaan dan keagungan-Nya.

3. Berdoalah dengan mengenal Allah

Gunakan nama-nama Allah yang sesuai dengan permohonan kita.

4. Ibadah membutuhkan keseimbangan

Jangan berlebihan dan jangan meremehkan.

5. Yang paling penting bukan kerasnya suara, tetapi hadirnya hati

Allah Maha Mendengar.

Yang Allah kehendaki dari kita adalah ketundukan dan keikhlasan.


PENUTUP CERAMAH

Jamaah yang dirahmati Allah,

Jangan sampai kita mengenal banyak nama manusia tetapi tidak mengenal nama-nama Allah.

Jangan sampai kita hafal nama-nama tokoh dunia tetapi tidak memahami siapa Ar-Raḥmān, Ar-Raḥīm, Al-Ghafūr, Ar-Razzāq, Al-‘Alīm, As-Samī‘ dan Al-Baṣīr.

Karena semakin seseorang mengenal Allah, semakin tunduk hatinya.

Semakin mengenal rahmat Allah, semakin besar harapannya.

Semakin mengenal kekuasaan Allah, semakin kecil kesombongannya.

Dan semakin mengenal bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, semakin hati-hati hidupnya.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita hamba yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap hanya kepada-Nya, dan senantiasa berdoa dengan nama-nama-Nya yang indah.

Doa

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَصِفَاتِكَ الْعُلْيَا أَنْ تُحْيِيَ قُلُوْبَنَا بِالْإِيْمَانِ، وَتَزَيِّنَ أَخْلَاقَنَا بِالْإِحْسَانِ، وَتَجْعَلَنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِيْنَ.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah dan sifat-sifat-Mu yang tinggi, hidupkanlah hati kami dengan iman, hiasilah akhlak kami dengan ihsan, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.”

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَإِيْمَانًا وَخُشُوْعًا.

“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah manfaat kepada kami dengan ilmu yang Engkau ajarkan, dan tambahkanlah kepada kami ilmu, iman, dan kekhusyukan.”

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar