MENGAGUNGKAN ALLAH DENGAN TAUHID, PUJIAN, DAN KETAATAN
MATERI CERAMAH
“MENGAGUNGKAN ALLAH DENGAN TAUHID, PUJIAN, DAN KETAATAN”
Kajian Tafsir QS. Al-Isrā’ [17]: 111
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، والصلاة والسلام على رسول الله محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
أَمَّا بَعْدُ
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi QS. Al-Isrā’ ayat 111, sebuah ayat penutup Surah Al-Isrā’ yang sangat agung. Ayat ini mengajarkan kepada kita bagaimana memuji Allah, mentauhidkan-Nya, menolak segala bentuk kesyirikan, dan mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan.
A. AYAT POKOK: QS. AL-ISRĀ’ AYAT 111
Firman Allah ﷻ
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya.’”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 111)
Ayat ini mengandung empat perintah dan penegasan tauhid:
- الْحَمْدُ لِلّٰهِ — segala puji hanya bagi Allah.
- لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا — Allah tidak mempunyai anak.
- وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ — Allah tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya.
- وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا — agungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan.
B. PELAJARAN PERTAMA: SEMUA PUJIAN HANYA MILIK ALLAH
Allah memulai ayat dengan:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
“Segala puji bagi Allah.”
Perhatikan, Allah tidak sekadar mengatakan:
“Pujilah Allah.”
Tetapi:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
Segala bentuk pujian yang sempurna pada hakikatnya kembali kepada Allah.
Mengapa?
Karena Allah adalah sumber seluruh nikmat, kebaikan, kesempurnaan dan keberadaan kita.
Allah berfirman:
QS. An-Naḥl ayat 53
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَ
Artinya:
“Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya), kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”
Tadabbur
Kesehatan dari Allah.
Keluarga dari Allah.
Ilmu dari Allah.
Rezeki dari Allah.
Keselamatan dari Allah.
Kemampuan bekerja dari Allah.
Bahkan kemampuan kita untuk bersyukur juga merupakan nikmat dari Allah.
Maka jangan sampai manusia menikmati nikmat Allah tetapi melupakan Pemberi nikmatnya.
C. HADIS: ALLAH MEMILIKI PUJIAN SEBELUM DAN SESUDAH SEGALA SESUATU
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
Artinya:
“Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin kalian, berdiri di satu tempat lalu meminta kepada-Ku, kemudian Aku memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum dicelupkan ke dalamnya.”
HR. Muslim.[^1]
Pelajaran
Allah tidak membutuhkan pemberian kita.
Kitalah yang membutuhkan Allah.
Karena itu, ibadah kita tidak menambah kerajaan Allah dan maksiat kita tidak mengurangi kerajaan Allah.
D. PELAJARAN KEDUA: ALLAH TIDAK MEMPUNYAI ANAK
Allah berfirman:
الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا
“Yang tidak mempunyai anak.”
Ini adalah penegasan tauhid dan bantahan terhadap berbagai keyakinan yang menisbatkan anak kepada Allah.
Allah berfirman:
QS. Al-Ikhlāṣ ayat 1–4
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ ١
اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ ٢
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ ٣
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ٤
Artinya:
“Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’”
Mengapa Allah tidak mempunyai anak?
Karena Allah berbeda secara mutlak dari makhluk.
Makhluk membutuhkan pasangan untuk memiliki keturunan. Makhluk mengalami kelemahan, membutuhkan penerus, dan memiliki keterbatasan.
Sedangkan Allah:
الصَّمَدُ
Al-Ṣamad — Dzat Yang menjadi tempat bergantung seluruh makhluk dan Dia tidak bergantung kepada siapa pun.
E. HADIS TENTANG KEAGUNGAN TAUHID
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ
Artinya:
“Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu.”
Kemudian:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Artinya:
“Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh itu pula.”
HR. at-Tirmiżī.[^2]
Pesan penting
Perhatikan kalimat:
لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا
“Tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun.”
Tauhid adalah perkara yang sangat agung.
F. PELAJARAN KETIGA: ALLAH TIDAK MEMPUNYAI SEKUTU DALAM KERAJAAN-NYA
Allah berfirman:
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ
“Dan Dia tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya.”
Ini adalah tauhid rubūbiyyah.
Allah adalah satu-satunya:
- Pencipta,
- Pemilik,
- Pengatur,
- Penguasa,
- dan Pengendali alam semesta.
Allah berfirman:
QS. Al-Fātiḥah ayat 2–4
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ٢
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ ٣
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۗ ٤
Artinya:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan.”
G. JIKA ADA DUA TUHAN, AKAN TERJADI KERUSAKAN
Allah memberikan argumentasi yang sangat kuat:
QS. Al-Anbiyā’ ayat 22
لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
Artinya:
“Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah, Tuhan yang memiliki Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.”
Penjelasan sederhana
Bayangkan sebuah kerajaan mempunyai dua penguasa yang sama-sama mutlak.
Yang satu memerintahkan:
“Lakukan!”
Yang lain berkata:
“Jangan lakukan!”
Siapa yang harus ditaati?
Jika salah satunya selalu kalah, berarti dia bukan Tuhan yang Mahakuasa.
Jika keduanya saling mengalahkan, berarti tidak ada yang memiliki kekuasaan mutlak.
Tetapi alam semesta berjalan dengan keteraturan yang luar biasa.
Maka Tuhan Yang haq adalah satu.
H. PELAJARAN KEEMPAT: ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PENOLONG
Allah berfirman:
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ
“Dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan.”
Allah tidak membutuhkan pelindung karena Dia lemah.
Sebaliknya, semua makhluk membutuhkan perlindungan Allah.
Allah berfirman:
QS. Fāṭir ayat 15
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
Artinya:
“Wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”
Perhatikan
Allah:
الْغَنِيُّ
Yang Mahakaya, tidak membutuhkan siapa pun.
Kita:
الْفُقَرَاءُ إِلَى اللّٰهِ
Selalu membutuhkan Allah.
I. JANGAN SOMBONG: KITA SEPENUHNYA MEMBUTUHKAN ALLAH
Kita tidak bisa menjamin:
- jantung terus berdetak,
- tubuh tetap sehat,
- rezeki tetap ada,
- keluarga tetap bersama,
- iman tetap kuat,
- kehidupan tetap berlangsung.
Semuanya berada di bawah kehendak Allah.
Karena itu seorang Muslim selalu mengucapkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Qais:
يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟ فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Artinya:
“Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu simpanan dari simpanan-simpanan surga?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah: lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.”
HR. al-Bukhārī dan Muslim.[^3]
J. PELAJARAN KELIMA: “وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا”
Allah menutup ayat dengan perintah:
وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا
“Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”
Ini bukan sekadar perintah mengucapkan:
اللّٰهُ أَكْبَرُ
tetapi mengandung makna membesarkan Allah dalam hati, ucapan, dan seluruh kehidupan.
K. APA ARTINYA “ALLAHU AKBAR”?
اللّٰهُ أَكْبَرُ
bukan hanya berarti:
“Allah lebih besar.”
Tetapi mengandung makna bahwa Allah Mahabesar di atas segala sesuatu, sehingga tidak pantas bagi seorang hamba mendahulukan sesuatu di atas perintah Allah.
Kalau Allah berkata:
“Shalatlah.”
Maka kita shalat.
Kalau Allah berkata:
“Jangan berzina.”
Maka kita meninggalkannya.
Kalau Allah berkata:
“Jangan memakan riba.”
Maka kita meninggalkannya.
Kalau Allah memerintahkan:
“Berbuat adillah.”
Maka kita berusaha adil.
Itulah konsekuensi:
وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا
L. ALLAH LEBIH BESAR DARIPADA DUNIA
Kadang manusia mengucapkan:
الله أكبر
tetapi dalam hatinya:
- uang lebih besar daripada Allah,
- jabatan lebih besar daripada Allah,
- pekerjaan lebih besar daripada Allah,
- popularitas lebih besar daripada Allah,
- komentar manusia lebih penting daripada perintah Allah.
Ini harus kita evaluasi.
Ketika muazin mengatakan:
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
maka kita meninggalkan kesibukan menuju salat.
Mengapa?
Karena kita mengakui:
الله أكبر
Allah lebih besar daripada segala kesibukan kita.
M. PARA ULAMA TENTANG MAKNA TAKBIR
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa takbir menunjukkan pengagungan Allah yang ditempatkan di atas segala sesuatu dalam hati seorang hamba.
Di antara ungkapan beliau:
فَالتَّكْبِيرُ يَقْتَضِي تَعْظِيمَ الْمُتَكَبِّرِ وَتَكْبِيرَهُ فِي الْقَلْبِ
“Takbir mengandung pengagungan terhadap Dzat yang Mahabesar dan membesarkan-Nya di dalam hati.”
Rujukan: Ibnul Qayyim, Madarij as-Sālikīn, pembahasan tentang maqām at-ta‘ẓīm (pengagungan).[^4]
Maknanya
Takbir yang benar harus mengubah perilaku.
Jika kita mengatakan:
الله أكبر
tetapi masih takut kepada manusia sehingga berani melanggar perintah Allah, berarti pengagungan kita kepada Allah perlu diperbaiki.
N. MENGAGUNGKAN ALLAH DALAM EMPAT PERKARA
Berdasarkan kandungan ayat dan penjelasan para ulama, pengagungan kepada Allah mencakup:
1. Mengagungkan Allah dalam hati
Meyakini bahwa Allah:
- Maha Esa,
- Mahasempurna,
- Mahakuasa,
- Maha Mengetahui,
- Maha Mendengar,
- Maha Melihat.
2. Mengagungkan Allah dengan lisan
Banyak mengucapkan:
سُبْحَانَ اللّٰهِ
“Mahasuci Allah.”
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
“Segala puji bagi Allah.”
اللّٰهُ أَكْبَرُ
“Allah Mahabesar.”
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
“Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.”
3. Mengagungkan Allah dengan ibadah
Mendirikan:
- salat,
- puasa,
- zakat,
- membaca Al-Qur'an,
- dzikir,
- doa,
- sedekah.
4. Mengagungkan Allah dengan meninggalkan maksiat
Ini yang sering terlupakan.
Ketika kita meninggalkan dosa padahal tidak ada manusia yang melihat, kita sedang membuktikan:
Allah أكبر
“Allah lebih besar daripada keinginan hawa nafsuku.”
O. ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN MAKHLUK
Allah berfirman:
QS. Asy-Syūrā ayat 11
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Ini merupakan prinsip penting dalam mengenal Allah:
Kita menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
Allah punya sifat ilmu, tetapi ilmu Allah tidak seperti ilmu manusia.
Allah Maha Mendengar, tetapi pendengaran Allah tidak seperti pendengaran makhluk.
Allah Maha Melihat, tetapi penglihatan Allah tidak seperti penglihatan makhluk.
P. PERKATAAN ULAMA: IBN KATSĪR
Ketika menafsirkan ayat:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ
Ibn Kathīr رحمه الله menjelaskan:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، أَيْ لَا يُشْبِهُهُ أَحَدٌ مِنْ خَلْقِهِ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya; yakni tidak seorang pun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya.”
Kemudian beliau menegaskan bahwa Allah adalah:
السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Asy-Syūrā: 11.[^5]
Q. ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN MAKHLUK, TETAPI MAKHLUK MEMBUTUHKAN ALLAH
Allah berfirman dalam hadis qudsi:
يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي
Artinya:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu memberikan mudarat kepada-Ku sehingga kalian dapat memudaratkan-Ku, dan kalian tidak akan mampu memberikan manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberikan manfaat kepada-Ku.”
HR. Muslim.[^6]
Renungan
Kalau seluruh manusia taat kepada Allah:
kerajaan Allah tidak bertambah.
Kalau seluruh manusia bermaksiat:
kerajaan Allah tidak berkurang.
Tetapi manusia sendiri yang mendapatkan akibatnya.
R. PUJIAN KEPADA ALLAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Ketika mendapat nikmat:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
Ketika melihat keindahan ciptaan Allah:
سُبْحَانَ اللّٰهِ
Ketika menyaksikan kebesaran Allah:
اللّٰهُ أَكْبَرُ
Ketika mendapat ujian:
حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
“Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Ketika mendapat musibah:
إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Semua itu menunjukkan hati yang mengenal Rabb-nya.
S. JANGAN HANYA MEMUJI ALLAH KETIKA MENDAPAT NIKMAT
Allah mengajarkan:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
bukan hanya ketika mendapat sesuatu yang kita sukai.
Seorang mukmin juga belajar mengucapkan hamdalah ketika menghadapi takdir yang berat, karena dia yakin:
Allah Maha Bijaksana.
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah ayat 216
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
T. HUBUNGAN AYAT 110 DAN 111
Sangat indah jika kita melihat dua ayat terakhir Surah Al-Isrā’.
Ayat 110:
فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Dia mempunyai nama-nama yang terbaik.”
Ayat 111:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
“Segala puji bagi Allah.”
Kemudian:
وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا
“Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”
Artinya:
Kenali Allah → puji Allah → tauhidkan Allah → agungkan Allah → taati Allah.
Inilah jalan seorang hamba menuju kehidupan yang benar.
U. KESALAHAN YANG HARUS DIHINDARI
1. Memuji makhluk secara berlebihan
Manusia boleh dipuji atas kebaikannya, tetapi jangan sampai pujian membuat kita memberikan sifat yang hanya milik Allah.
2. Menganggap makhluk memiliki kekuasaan mutlak
Tidak ada manusia yang memiliki kekuasaan mutlak.
3. Menggantungkan hati kepada selain Allah
Sebab makhluk itu lemah dan terbatas.
4. Mengucapkan “Allahu Akbar” tetapi tidak menaati Allah
Takbir harus memiliki konsekuensi dalam kehidupan.
5. Hanya mengenal Allah secara lisan
Ma‘rifatullah harus menghasilkan iman, takut, cinta, tawakal, ibadah, dan akhlak.
V. RENUNGAN UNTUK KITA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Ketika uang hilang, apakah saya merasa Allah masih mencukupi saya?
Ketika jabatan hilang, apakah saya masih merasa mulia bersama Allah?
Ketika manusia menolak saya, apakah saya masih yakin Allah bersama saya?
Ketika mendapat ujian, apakah saya masih mampu mengatakan “Alhamdulillah”?
Ketika hawa nafsu mengajak kepada dosa, apakah saya mampu mengatakan “Allahu Akbar” dan meninggalkannya?
Di situlah tauhid kita diuji.
W. KESIMPULAN CERAMAH
Dari QS. Al-Isrā’: 111 kita mendapatkan 7 pelajaran utama:
1. الْحَمْدُ لِلّٰهِ
Segala pujian sempurna hanya milik Allah.
2. لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا
Allah tidak mempunyai anak.
3. لَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ
Allah tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya.
4. لَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ
Allah tidak membutuhkan penolong karena kelemahan.
5. Kita semua adalah makhluk yang faqīr dan membutuhkan Allah.
6. Pengagungan kepada Allah harus dilakukan dengan hati, lisan, dan amal.
7. وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا
Jadikan Allah yang paling besar dalam hati kita.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ.
“Ya Allah, kami memuji-Mu dan menyanjung-Mu, kami beriman kepada-Mu dan bertawakal kepada-Mu.”
اللَّهُمَّ عَظِّمْكَ فِي قُلُوْبِنَا، وَاجْعَلْكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ.
“Ya Allah, agungkanlah Engkau dalam hati kami dan jadikanlah Engkau lebih kami cintai daripada segala sesuatu.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُوَحِّدِيْنَ، الْمُخْلِصِيْنَ، الْمُتَوَكِّلِيْنَ عَلَيْكَ، وَالْمُعَظِّمِيْنَ لِأَمْرِكَ وَنَهْيِكَ.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mentauhidkan-Mu, ikhlas, bertawakal kepada-Mu, dan mengagungkan perintah serta larangan-Mu.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرًا لَنَا مِنَ الدُّنْيَا.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak pengetahuan kami. Jadikan akhirat lebih baik bagi kami daripada dunia.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
CATATAN RUJUKAN DAN FOOTNOTE
[^1]: Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah wa al-Ādāb, hadis no. 2577, hadis qudsi tentang “Yā ‘Ibādī…”.
[^2]: Muḥammad bin ‘Īsā at-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī, Kitāb ad-Da‘awāt, hadis tentang keutamaan tauhid dan ampunan Allah. Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur lain.
[^3]: Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Jihād wa as-Siyar; Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb aż-Żikr wa ad-Du‘ā’ wa at-Taubah wa al-Istighfār, tentang keutamaan لا حول ولا قوة إلا بالله.
[^4]: Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn baina Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, pembahasan Manzilat at-Ta‘ẓīm dan pengagungan Allah.
[^5]: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Asy-Syūrā [42]: 11.
[^6]: Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah wa al-Ādāb, hadis qudsi no. 2577.
Kitab tafsir utama yang dapat dijadikan rujukan kajian QS. Al-Isrā’: 111
- Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān — Imām ath-Ṭabarī.
- Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Imām Ibn Kathīr.
- Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — Imām al-Qurṭubī.
- Mafātīḥ al-Ghaib — Fakhruddīn ar-Rāzī.
- Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — ‘Abdurraḥmān as-Sa‘dī.
- Adwā’ al-Bayān — Muḥammad al-Amīn asy-Syanqīṭī.
- Madārij as-Sālikīn — Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.
- Kitāb at-Tawḥīd — Muḥammad bin ‘Abdil-Wahhāb.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī — Imām al-Bukhārī.
- Ṣaḥīḥ Muslim — Imām Muslim.
- Sunan at-Tirmiżī — Imām at-Tirmiżī.
Inti pesan QS. Al-Isrā’: 111:
“Jangan hanya mengucapkan Allahu Akbar dengan lisan. Jadikan Allah benar-benar yang terbesar dalam hati, sehingga perintah-Nya lebih kita dahulukan daripada hawa nafsu, harta, jabatan, dan penilaian manusia.”
Post a Comment