Adab Seorang Murid: Merendahkan Hati untuk Mendapatkan Ilmu

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 66

“Adab Seorang Murid: Merendahkan Hati untuk Mendapatkan Ilmu”

QS. AL-KAHF AYAT 66

قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Artinya:

“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?’”

Jamaah yang dirahmati Allah...

Perhatikan siapa yang berbicara dalam ayat ini.

Musa ‘alaihissalam.

Seorang nabi.

Seorang rasul.

Seorang yang Allah pilih.

Tetapi ketika bertemu dengan seorang hamba Allah yang diberi ilmu khusus, Musa tidak berkata:

“Saya ini nabi. Saya lebih tinggi kedudukannya.”

Tidak.

Musa justru berkata:

هَلْ أَتَّبِعُكَ

“Bolehkah aku mengikutimu?”

Subhanallah...

Inilah adab seorang pencari ilmu.

Orang yang benar-benar berilmu tidak malu menjadi murid.


1. ILMU DIMULAI DARI KERENDAHAN HATI

Jamaah...

Kalau seseorang merasa dirinya sudah tahu semuanya, maka sebenarnya ia telah menutup pintu ilmu.

Tetapi kalau seseorang berkata:

“Saya belum tahu.”

maka pintu ilmu terbuka.

Musa mengajarkan kepada kita:

Sebelum seseorang menjadi orang berilmu, ia harus terlebih dahulu menjadi pencari ilmu.

Dan pencari ilmu membutuhkan satu sifat:

التَّوَاضُعُ

Tawadhu.


2. MUSA MENGAJARKAN ADAB DENGAN SATU KATA: “هَلْ”

Musa berkata:

هَلْ أَتَّبِعُكَ

Secara sederhana:

“Bolehkah aku mengikutimu?”

Perhatikan Musa tidak memerintah:

“Ajari saya!”

Tidak pula berkata:

“Saya akan mengikuti Anda.”

Tetapi bertanya dengan lembut:

هَلْ

“Bolehkah?”

Imam Ibnu Katsir memberikan penjelasan yang sangat indah:

هَلْ أَتَّبِعُكَ سُؤَالٌ بِتَلَطُّفٍ، لَا عَلَى وَجْهِ الْإِلْزَامِ وَالْإِجْبَارِ، وَهَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ سُؤَالُ الْمُتَعَلِّمِ مِنَ الْعَالِمِ

Artinya:

“‘Bolehkah aku mengikutimu?’ adalah pertanyaan yang disampaikan dengan kelembutan, bukan dengan cara memaksa atau mewajibkan. Demikianlah seharusnya pertanyaan seorang pelajar kepada orang berilmu.”[1]

Subhanallah.

Musa mengajarkan adab bertanya.

Bukan hanya apa yang ditanyakan.

Tetapi bagaimana cara bertanya.


3. BERTANYA ITU BUKAN KEHINAAN

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Ada orang malu bertanya karena takut dianggap bodoh.

Padahal orang yang tidak tahu memang harus bertanya.

Allah berfirman:

QS. An-Nahl: 43

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Allah tidak mengatakan:

“Jangan bertanya karena nanti dianggap bodoh.”

Justru Allah mengatakan:

فَاسْأَلُوا

“Maka bertanyalah.”

Maka jangan malu mengatakan:

“Saya belum paham.”

“Mohon dijelaskan kembali.”

“Apa maksudnya?”

“Bagaimana dalilnya?”

Itu bukan tanda kebodohan.

Itu adalah jalan menuju ilmu.


4. ADAB MUSA: MURID DATANG KEPADA GURU

Musa berkata:

أَتَّبِعُكَ

“Aku mengikutimu.”

Artinya Musa bersedia menemani dan belajar.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

أَتَّبِعُكَ أَيْ أَصْحَبُكَ وَأُرَافِقُكَ

Artinya:

“‘Aku mengikutimu’ maksudnya aku menemanimu dan menyertaimu.”[2]

Ini menunjukkan bahwa ilmu tidak selalu diperoleh hanya dengan membaca.

Ada ilmu yang diperoleh melalui:

صحبة العلماء

“menemani orang-orang berilmu.”

Kita belajar bukan hanya dari apa yang guru katakan.

Kita juga belajar dari:

  • akhlaknya,
  • kesabarannya,
  • cara bicaranya,
  • cara menjawab pertanyaan,
  • cara menghadapi perbedaan,
  • cara menghormati orang lain,
  • dan cara mengamalkan ilmu.

5. ILMU BUKAN HANYA UNTUK MENGETAHUI, TETAPI UNTUK MENDAPATKAN “RUSYD”

Perhatikan bagian akhir ayat:

مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk.”

Musa tidak mengatakan:

“Ajari saya supaya saya menjadi lebih pintar.”

Tidak.

Musa meminta:

رُشْدًا

Rusyd.

Yaitu petunjuk, kelurusan, kematangan dalam memilih jalan yang benar.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

أَيْ مِمَّا عَلَّمَكَ اللَّهُ شَيْئًا أَسْتَرْشِدُ بِهِ فِي أَمْرِي، مِنْ عِلْمٍ نَافِعٍ وَعَمَلٍ صَالِحٍ

Artinya:

“Yaitu sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu, yang dengannya aku mendapatkan petunjuk dalam urusanku, berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.”[3]

Ini luar biasa.

Ilmu yang dicari Musa adalah ilmu yang membawa kepada petunjuk dan amal.


6. JANGAN HANYA BERTANYA: “APA ILMUNYA?”

Tanyakan juga:

“Apa yang harus saya lakukan dengan ilmu ini?”

Karena ada orang yang banyak tahu tetapi sedikit berubah.

Banyak hafalan, tetapi sedikit pengamalan.

Banyak membaca, tetapi sedikit memperbaiki akhlak.

Banyak bicara tentang sabar, tetapi mudah marah.

Banyak bicara tentang tawadhu, tetapi mudah merendahkan orang lain.

Maka ilmu yang kita cari harus membawa:

عِلْمٌ نَافِعٌ

ilmu yang bermanfaat,

dan:

عَمَلٌ صَالِحٌ

amal yang saleh.


7. ILMU YANG BERMANFAAT ADALAH JALAN MENUJU SURGA

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”[4]

Perhatikan:

سَلَكَ طَرِيقًا

“menempuh suatu jalan.”

Ini sesuai dengan kisah Musa.

Musa benar-benar berjalan mencari ilmu.

Jadi menuntut ilmu membutuhkan:

  • perjalanan,
  • waktu,
  • kesabaran,
  • pengorbanan,
  • dan ketekunan.

8. ILMU TIDAK DATANG KEPADA ORANG YANG MALAS

Jamaah...

Kadang kita ingin anak kita pintar.

Tetapi tidak mau membaca.

Ingin memahami Al-Qur'an.

Tetapi jarang membuka Al-Qur'an.

Ingin menjadi ulama.

Tetapi tidak mau belajar.

Ingin memiliki anak saleh.

Tetapi tidak memberikan lingkungan ilmu.

Musa memberikan contoh:

mencari ilmu harus dengan kesungguhan.

Allah berfirman:

QS. Al-'Ankabut: 69

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya:

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

Kesungguhan membuka jalan.


9. MUSA TIDAK MERASA MALU BELAJAR KEPADA ORANG YANG MEMILIKI ILMU YANG TIDAK IA MILIKI

Ini pelajaran yang sangat dalam.

Allah memberi Musa ilmu.

Allah juga memberi Khidr ilmu.

Tetapi jenis dan cakupan ilmu mereka tidak sama.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberi Khidr ilmu yang tidak diberikan kepada Musa, sebagaimana Allah memberi Musa ilmu yang tidak diberikan kepada Khidr.

Maka:

jangan merasa seseorang harus mengetahui segala sesuatu hanya karena ia ahli dalam satu bidang.

Seorang guru matematika tidak harus menjadi ahli tafsir.

Seorang ahli tafsir tidak harus ahli teknologi.

Seorang dokter tidak harus ahli fikih.

Seorang ahli fikih tidak harus ahli kedokteran.

Allah membagi kemampuan manusia.


10. IMAM AL-QURTHUBI: MURID MENGIKUTI GURU DALAM PROSES BELAJAR

Imam al-Qurthubi mengatakan:

فِي الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُتَعَلِّمَ تَبَعٌ لِلْعَالِمِ وَإِنْ تَفَاوَتَتِ الْمَرَاتِبُ

Artinya:

“Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa seorang pelajar mengikuti orang berilmu, meskipun tingkatan keduanya berbeda.”[5]

Namun al-Qurthubi juga memberikan catatan penting:

Belajar kepada seseorang tidak otomatis berarti orang yang menjadi guru dalam satu ilmu lebih utama dalam segala hal.

Ini penting.

Musa belajar kepada Khidr dalam hal tertentu.

Tetapi hal itu tidak berarti Khidr lebih tinggi daripada Musa dalam seluruh kedudukan.

Jadi:

belajar kepada seseorang bukan berarti menganggapnya sempurna.


11. GURU JUGA MANUSIA

Jamaah...

Murid harus menghormati guru.

Tetapi guru juga manusia.

Guru bisa salah.

Ustaz bisa keliru.

Kiai bisa lupa.

Dosen bisa salah memahami.

Maka penghormatan kepada guru tidak boleh berubah menjadi pengkultusan.

Kita menghormati guru.

Kita mengambil ilmu yang benar.

Dan kebenaran tertinggi tetap kembali kepada:

Al-Qur'an dan Sunnah.


12. MUSA MENUNJUKKAN TAWADHU MESKIPUN IA SEORANG NABI

Ini yang sangat menggetarkan.

Musa tidak merasa:

“Saya sudah nabi.”

Tidak merasa:

“Saya sudah menerima wahyu.”

Tidak merasa:

“Saya tidak membutuhkan siapa pun.”

Justru Musa berkata:

هَلْ أَتَّبِعُكَ

“Bolehkah aku mengikutimu?”

Kalau seorang nabi saja mau merendahkan hati untuk mendapatkan ilmu...

bagaimana dengan kita?

Kalau guru masih mau belajar...

Bagaimana mungkin kita berkata:

“Saya sudah tahu semuanya.”

Kalau orang tua masih mau belajar...

Bagaimana anak merasa tidak perlu belajar?

Kalau ulama terus membaca kitab...

Bagaimana kita yang baru membaca sedikit merasa sudah paling benar?


13. RASULULLAH ﷺ JUGA DIAJARI UNTUK MEMOHON TAMBAHAN ILMU

Allah berfirman:

QS. Thaha: 114

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

Artinya:

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”

Ini luar biasa.

Allah tidak memerintahkan:

“Mintalah tambahan harta.”

Tetapi:

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

Maka seorang Muslim tidak boleh berhenti belajar.


14. ADAB BERTANYA: SOPAN, JELAS, DAN BERTUJUAN

Musa berkata:

هَلْ أَتَّبِعُكَ

“Bolehkah aku mengikutimu?”

Kemudian:

عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ

“Agar engkau mengajarkan kepadaku.”

Kemudian:

مِمَّا عُلِّمْتَ

“Sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu.”

Dan:

رُشْدًا

“yang membawa kepada petunjuk.”

Ada empat adab di sini:

Pertama: Meminta izin.

هَلْ أَتَّبِعُكَ

Kedua: Mengakui bahwa guru memiliki ilmu yang ingin dipelajari.

مِمَّا عُلِّمْتَ

Ketiga: Tidak menuntut semua ilmu.

مِمَّا

“sebagian dari...”

Keempat: Menentukan tujuan belajar.

رُشْدًا

“petunjuk.”


15. “MIMMA” — BELAJAR SECARA BERTAHAP

Musa tidak berkata:

“Ajarkan kepadaku semua ilmu yang engkau miliki.”

Tetapi:

مِمَّا عُلِّمْتَ

“Sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu.”

Ini juga merupakan metode pendidikan.

Ilmu dipelajari:

sedikit demi sedikit,

bertahap,

sesuai kemampuan.

Jangan memaksakan semua sekaligus.

Anak tidak bisa memahami seluruh ilmu dalam sehari.

Pemula tidak bisa menguasai kitab besar dalam satu malam.

Orang yang baru belajar Al-Qur'an tidak langsung dituntut menguasai seluruh tafsir.

Maka:

التَّدَرُّجُ

belajar secara bertahap,

adalah bagian dari hikmah pendidikan.


16. ILMU YANG DICARI MUSA ADALAH “RUSYD”, BUKAN SEKADAR INFORMASI

Ada perbedaan antara:

مَعْلُومَات

informasi,

dan:

رُشْد

petunjuk yang melahirkan pilihan benar.

Seseorang bisa memiliki banyak informasi tetapi belum tentu memiliki rusyd.

Misalnya seseorang tahu:

“Marah itu buruk.”

Tetapi tetap mudah marah.

Ia tahu:

“Ghibah itu haram.”

Tetapi masih bergosip.

Ia tahu:

“Salat itu wajib.”

Tetapi meninggalkannya.

Maka ilmu yang sempurna harus membawa kepada perubahan.


17. ILMU YANG TIDAK DIAMALKAN

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahaya ilmu yang tidak membawa kepada kebaikan.

Dalam doa beliau ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”[6]

Doa ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim.

Maka jangan hanya meminta:

“Ya Allah, tambahkan ilmuku.”

Tetapi juga:

“Ya Allah, jadikan ilmuku bermanfaat.”


18. ADAB MURID KEPADA GURU

Dari ayat ini kita dapat menyusun beberapa adab:

1. Datang dengan niat yang benar.

Bukan untuk pamer.

2. Meminta izin.

Tidak memaksa.

3. Rendah hati.

Tidak merasa paling tahu.

4. Mendengarkan.

Tidak sibuk memotong pembicaraan.

5. Bersabar.

Karena proses belajar tidak selalu mudah.

6. Menghormati guru.

Tetapi tanpa mengkultuskan.

7. Mengamalkan ilmu.

Karena tujuan ilmu adalah rusyd.


19. ADAB GURU KEPADA MURID

Ayat ini bukan hanya berbicara kepada murid.

Guru juga harus belajar dari kisah ini.

Khidr nanti tidak langsung mengatakan:

“Baik, ikutlah saya.”

Ia justru menjelaskan keterbatasan Musa:

إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”

Kemudian:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Bagaimana engkau akan dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui?”

Guru harus memahami:

tidak semua murid belajar dengan cara yang sama.

Guru harus membimbing sesuai kemampuan murid.


20. ILMU DAN KESABARAN

Ayat 66 juga menjadi pintu menuju ayat 67:

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Dia berkata, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.’”

Artinya:

menuntut ilmu membutuhkan kesabaran.

Kadang penjelasan guru belum langsung kita pahami.

Kadang harus membaca berulang kali.

Kadang harus bertanya lagi.

Kadang harus praktik.

Kadang harus salah dahulu.

Jangan cepat berkata:

“Saya tidak bisa.”

Katakan:

“Saya belum bisa.”

Ada perbedaan besar antara:

“Saya tidak bisa.”

dan:

“Saya belum bisa.”

Kalimat kedua membuka pintu pertumbuhan.


21. PELAJARAN UNTUK GURU

Bapak/Ibu guru...

Mari kita bercermin kepada Musa.

Jika seorang nabi datang kepada seseorang untuk belajar dengan penuh adab, maka seorang guru harus semakin menghargai amanah ilmu.

Jangan gunakan ilmu untuk:

  • merendahkan murid,
  • mempermalukan murid,
  • menunjukkan bahwa guru paling hebat,
  • mematikan pertanyaan,
  • atau membuat murid takut belajar.

Sebaliknya:

buat murid berani bertanya.

Karena pertanyaan yang baik adalah pintu ilmu.


22. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA

Ayah dan Bunda...

Anak yang bertanya jangan langsung dimarahi.

Kalau anak bertanya:

“Kenapa harus salat?”

Jangan langsung:

“Pokoknya!”

Ajari.

Jelaskan.

Dampingi.

Kalau tidak tahu, katakan:

“Ayah belum tahu. Mari kita cari jawabannya.”

Kalimat:

“Ayah belum tahu”

bukan kelemahan.

Itu justru mengajarkan kejujuran ilmiah kepada anak.


23. PELAJARAN UNTUK PARA SANTRI DAN PELAJAR

Wahai anak-anak yang dirahmati Allah...

Jangan belajar hanya karena ujian.

Jangan belajar hanya karena ingin nilai tinggi.

Jangan belajar hanya karena takut dimarahi guru.

Belajarlah karena Allah.

Belajarlah agar ilmu itu menjadi:

رُشْدًا

petunjuk.

Ketika belajar IPS:

jadilah manusia yang memahami masyarakat.

Ketika belajar agama:

jadilah manusia yang semakin dekat kepada Allah.

Ketika belajar matematika:

latih ketelitian dan kejujuran.

Ketika belajar bahasa:

gunakan lisan untuk kebaikan.

Semua ilmu yang benar dapat menjadi jalan kebaikan apabila diarahkan kepada Allah.


24. JANGAN MENJADIKAN ILMU SEBAGAI ALAT KESOMBONGAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Artinya:

“Barang siapa mencari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, untuk mendebat orang-orang bodoh, atau agar manusia mengarahkan wajah mereka kepadanya, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”

Riwayat ini terdapat dalam Sunan at-Tirmidzi.

Maka hati-hati.

Ilmu yang sama dapat menjadi:

jalan menuju surga

atau

sebab kehancuran,

tergantung niat dan amal.


25. JANGAN BERHENTI BELAJAR KARENA MERASA SUDAH TUA

Jamaah...

Ada yang berkata:

“Saya sudah tua.”

Belajar tetap bisa.

Ada yang berkata:

“Saya sibuk.”

Belajar bisa disesuaikan.

Ada yang berkata:

“Saya tidak pintar.”

Musa mengajarkan:

yang penting mau belajar.

Ada yang berkata:

“Saya malu bertanya.”

Musa mengajarkan:

bertanyalah dengan adab.


26. JANGAN BERHENTI BELAJAR KARENA PERNAH SALAH

Orang yang sedang belajar pasti pernah salah.

Jangan takut salah.

Yang berbahaya bukan salah.

Yang berbahaya adalah:

salah tetapi tidak mau dikoreksi.

Murid yang baik berkata:

“Mohon koreksi saya.”

Orang berilmu berkata:

“Jika saya salah, tunjukkan dalilnya.”

Inilah budaya ilmu.


27. MUSA MENJADI TELADAN PARA PENCARI ILMU

Jamaah yang dirahmati Allah...

Mari kita bayangkan adegan ini.

Seorang nabi datang.

Setelah perjalanan panjang.

Setelah mencari.

Setelah menelusuri jejak.

Akhirnya bertemu dengan seorang hamba Allah.

Lalu Musa tidak berkata:

“Saya nabi.”

Tetapi:

هَلْ أَتَّبِعُكَ

“Bolehkah aku mengikutimu?”

Tidak ada kesombongan.

Tidak ada gengsi.

Tidak ada merasa paling tahu.

Hanya ada satu tujuan:

مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Ajarkan kepadaku ilmu yang menjadi petunjuk.”

Subhanallah...


28. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA

Sekarang mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Apakah kita masih mau belajar?

Ketika anak kita mengoreksi kita, apakah kita mau mendengar?

Ketika murid bertanya, apakah kita mau menjawab dengan sabar?

Ketika orang lain menunjukkan kesalahan kita, apakah kita langsung marah?

Ketika membaca dalil yang berbeda dengan pemahaman kita, apakah kita mau meneliti?

Ketika kita tidak tahu, apakah kita berani mengatakan:

“Saya tidak tahu”?

Inilah adab ilmu.


29. KALIMAT YANG HARUS DIMILIKI ORANG BERILMU

Biasakan tiga kalimat:

“Saya belum tahu.”

لَا أَعْلَمُ

“Saya akan mempelajarinya.”

سَأَتَعَلَّمُ

“Jika saya salah, saya akan memperbaikinya.”

Ini bukan tanda kelemahan.

Ini tanda bahwa hati masih hidup.


30. PENUTUP: CARILAH ILMU UNTUK MENDAPATKAN RUSYD

Jamaah yang dirahmati Allah...

QS. Al-Kahf ayat 66 mengajarkan bahwa:

Musa adalah nabi, tetapi tetap belajar.

Musa berilmu, tetapi tetap rendah hati.

Musa mengetahui banyak hal, tetapi tidak merasa mengetahui segala sesuatu.

Musa bertanya, tetapi bertanya dengan sopan.

Musa mengikuti guru, tetapi tujuannya bukan kultus kepada guru.

Tujuannya jelas:

رُشْدًا

“Petunjuk.”

Maka mulai hari ini mari kita ubah cara kita memandang ilmu.

Jangan berkata:

“Saya belajar supaya pintar.”

Katakan:

“Saya belajar supaya mendapat petunjuk.”

Jangan berkata:

“Saya belajar supaya bisa menang debat.”

Katakan:

“Saya belajar supaya semakin benar dalam perkataan dan perbuatan.”

Jangan berkata:

“Saya belajar supaya dihormati.”

Katakan:

“Saya belajar supaya semakin menjadi hamba Allah.”

Karena ilmu yang paling indah bukan ilmu yang membuat manusia berkata:

“Lihatlah betapa hebatnya saya.”

Tetapi ilmu yang membuat seorang hamba berkata:

“Ya Allah, ternyata aku masih sangat membutuhkan-Mu.”


DOA

اللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.

“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”

اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا أَدَبَ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَالتَّوَاضُعَ لِلْحَقِّ، وَالصَّبْرَ عَلَى التَّعَلُّمِ، وَالْعَمَلَ بِمَا عَلَّمْتَنَا.

“Ya Allah, karuniakan kepada kami adab dalam menuntut ilmu, kerendahan hati terhadap kebenaran, kesabaran dalam belajar, dan kemampuan mengamalkan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.”

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبَنَا قَلْبًا خَاشِعًا، وَلَا تَجْعَلْ عِلْمَنَا سَبَبًا لِلْكِبْرِ وَالْغُرُورِ.

“Ya Allah, jadikan ilmu kami ilmu yang bermanfaat, amal kami amal yang saleh, hati kami hati yang khusyuk, dan jangan Engkau jadikan ilmu kami sebagai sebab kesombongan dan tipu daya diri.”

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


INTISARI QS. AL-KAHF AYAT 66

هَلْ أَتَّبِعُكَ
→ Belajar dimulai dengan adab.

أَتَّبِعُكَ
→ Bersedia mengikuti proses pembelajaran.

تُعَلِّمَنِ
→ Guru memiliki amanah untuk mengajarkan.

مِمَّا عُلِّمْتَ
→ Ilmu adalah karunia Allah.

رُشْدًا
→ Tujuan ilmu adalah petunjuk dan kematangan dalam memilih kebenaran.

Rumus sederhana ayat ini:

ADAB → BELAJAR → ILMU → RUSYD → AMAL

Bukan:

ILMU → SOMBONG → DEBAT → MERENDAHKAN ORANG.


FOOTNOTE / RUJUKAN

[1] Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, tafsir QS. Al-Kahf [18]:66. Ibn Kathir menjelaskan bahwa pertanyaan Musa merupakan pertanyaan dengan kelembutan dan bukan paksaan; beliau menjadikannya sebagai adab bagi seorang murid ketika bertanya kepada orang berilmu.

[2] Ibid., tafsir QS. Al-Kahf [18]:66. Kata أَتَّبِعُكَ dijelaskan sebagai menemani dan menyertai guru dalam proses belajar.

[3] Ibid., tafsir QS. Al-Kahf [18]:66. Ibn Kathir menjelaskan رُشْدًا sebagai sesuatu yang dengannya Musa memperoleh petunjuk dalam urusannya, berupa ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.

[4] Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-'Ilm. Rasulullah ﷺ bersabda: وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

[5] Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:66. Al-Qurthubi menjadikan ayat ini sebagai dasar bahwa seorang pelajar mengikuti orang berilmu dalam proses belajar, sekaligus menjelaskan bahwa belajar kepada seseorang tidak otomatis berarti orang tersebut lebih utama dalam seluruh tingkatan.

[6] Muslim, Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr wa ad-Du'a', hadis tentang doa Nabi ﷺ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ — “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

[7] QS. An-Nahl [16]:43 — perintah bertanya kepada ahli ilmu ketika tidak mengetahui.

[8] QS. Al-'Ankabut [29]:69 — Allah menjanjikan petunjuk bagi orang yang bersungguh-sungguh.

[9] QS. Thaha [20]:114 — وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.

[10] QS. Al-Kahf [18]:65–70 — rangkaian kisah pertemuan Musa dan Khidr, khususnya adab Musa sebelum proses pembelajaran dimulai.

Tidak ada komentar