Ketika Rahmat dan Ilmu Bertemu: Belajar Menjadi Hamba Allah
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 65
“Ketika Rahmat dan Ilmu Bertemu: Belajar Menjadi Hamba Allah”
QS. AL-KAHF AYAT 65
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
Artinya:
“Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
PEMBUKAAN
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ayat ini pendek.
Hanya satu ayat.
Tetapi di dalamnya Allah menyimpan dua kata yang sangat besar:
رَحْمَةً
dan
عِلْمًا
Rahmat.
Dan ilmu.
Allah berfirman:
اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا
“Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami.”
Kemudian:
وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
“Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Seolah-olah ayat ini ingin mengajarkan:
Ilmu tanpa rahmat bisa menjadi keras.
Dan:
Rahmat tanpa ilmu bisa menjadi salah arah.
Tetapi ketika ilmu dan rahmat bertemu, lahirlah seorang hamba yang dekat dengan Allah.
1. ALLAH MEMULAI DENGAN KATA “HAMBA”
Perhatikan bagaimana Allah memperkenalkan Khidr.
Allah tidak mengatakan:
“Musa bertemu seorang manusia yang sangat terkenal.”
Allah tidak mengatakan:
“Musa bertemu seorang tokoh besar.”
Allah tidak mengatakan:
“Musa bertemu seorang ahli ilmu yang paling hebat.”
Tetapi Allah berfirman:
عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا
“Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami.”
Subhanallah.
Identitas yang pertama disebut adalah:
HAMBA.
Bukan gelar.
Bukan jabatan.
Bukan popularitas.
Bukan kekayaan.
Bukan banyaknya pengikut.
Tetapi:
عَبْدًا
“Hamba.”
Ini adalah pendidikan tauhid.
2. KEMULIAAN TERTINGGI ADALAH MENJADI HAMBA ALLAH
Allah juga menyebut Rasulullah ﷺ dengan gelar “hamba” dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman:
QS. Al-Isra': 1
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا
Artinya:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa...”
Perhatikan:
Ketika Allah menceritakan perjalanan Isra yang sangat agung, Nabi Muhammad ﷺ disebut:
بِعَبْدِهِ
“hamba-Nya.”
Ini menunjukkan bahwa menjadi ‘abdullah, hamba Allah, bukan kehinaan.
Justru itulah kemuliaan.
3. ILMU TIDAK BOLEH MEMBUAT KITA SOMBONG
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Semakin banyak seseorang mengetahui, seharusnya semakin sadar bahwa pengetahuannya terbatas.
Inilah salah satu pesan utama kisah Musa dan Khidr.
Musa adalah seorang nabi.
Musa adalah seorang rasul.
Musa termasuk ulul 'azmi.
Namun Allah mempertemukannya dengan seorang hamba yang memiliki pengetahuan tertentu yang tidak diberikan kepada Musa.
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Musa pernah ditanya apakah ada orang yang lebih berilmu darinya.
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
إِنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ
Artinya:
“Sesungguhnya ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku di tempat bertemunya dua laut yang lebih mengetahui darimu.”
Hadis ini terdapat dalam Shahih Muslim dalam kisah Musa dan Khidr.
Pelajarannya sangat besar:
Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui segala sesuatu.
4. ILMU ADALAH PEMBERIAN ALLAH
Ayat ini menggunakan kata:
اٰتَيْنٰهُ
“Kami telah memberinya.”
Kemudian:
عَلَّمْنٰهُ
“Kami telah mengajarinya.”
Perhatikan subjeknya.
Allah.
Maka ketika kita memiliki ilmu, jangan berkata dalam hati:
“Saya hebat.”
Tetapi katakan:
“Allah yang mengajarkan saya.”
Allah berfirman:
QS. Al-'Alaq: 5
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya:
“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ilmu adalah karunia.
Kemampuan memahami adalah karunia.
Guru adalah karunia.
Kesempatan belajar adalah karunia.
Bahkan kemampuan mengingat ayat Al-Qur'an adalah karunia.
Maka ilmu seharusnya melahirkan:
syukur,
bukan kesombongan.
5. DUA PEMBERIAN ALLAH: RAHMAT DAN ILMU
Allah mengatakan:
اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا
“Kami memberikan kepadanya rahmat dari sisi Kami.”
Lalu:
وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
“Kami mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Mengapa rahmat disebut sebelum ilmu?
Para ulama menjelaskan bahwa rahmat Allah kepada Khidr terkait dengan pemberian kebaikan dan kemampuan melakukan kebaikan, sementara ilmu diberikan kepadanya sebagai karunia khusus.
Ath-Thabari menjelaskan:
وَهَبْنَا لَهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا، وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ عِنْدِنَا أَيْضًا عِلْمًا
Artinya:
“Kami menganugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan Kami juga mengajarinya ilmu dari sisi Kami.”
Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا bermakna ilmu yang berasal dari sisi Allah.
6. ILMU HARUS MELAHIRKAN RAHMAT
Jamaah...
Ini sangat penting bagi kita.
Kalau seseorang belajar agama tetapi semakin kasar...
Ada yang perlu diperbaiki.
Kalau seseorang semakin banyak ilmu tetapi semakin mudah menghina...
Ada yang perlu diperbaiki.
Kalau seseorang semakin banyak membaca kitab tetapi semakin merendahkan orang lain...
Ada yang perlu diperbaiki.
Karena ilmu yang benar seharusnya mendekatkan manusia kepada Allah dan memperbaiki akhlaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya lalu memberikan fatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Tetapi ilmu harus berada di tangan orang yang takut kepada Allah.
7. APA MAKNA “ILMU DARI SISI KAMI”?
Allah berfirman:
وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
“Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Istilah yang sering digunakan untuk membahasnya adalah:
عِلْمٌ لَدُنِّيٌّ
“Ilmu ladunni.”
Tetapi jamaah perlu berhati-hati.
Jangan sampai istilah ilmu ladunni digunakan untuk membenarkan setiap klaim seseorang yang berkata:
“Saya mendapat ilmu langsung dari Allah.”
Islam tidak mengajarkan setiap perasaan batin otomatis menjadi wahyu.
8. WAHYU DAN ILHAM TIDAK BOLEH DISAMAKAN
Allah berfirman:
QS. Asy-Syura: 51
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗ اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
Artinya:
“Tidaklah mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, dari belakang tabir, atau dengan mengutus utusan lalu mewahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.”
Wahyu kenabian bukan sesuatu yang bisa diklaim sembarang manusia.
Nabi Muhammad ﷺ adalah khatam an-nabiyyin.
Allah berfirman:
QS. Al-Ahzab: 40
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
Artinya:
“Muhammad bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Maka setelah Rasulullah ﷺ, tidak ada nabi baru yang membawa wahyu syariat.
9. LALU APAKAH ILHAM ADA?
Ada.
Al-Qur'an menyebut adanya ilham dalam konteks tertentu.
Allah berfirman:
QS. Asy-Syams: 7–8
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَا فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا
Artinya:
“Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya.”
Ini menunjukkan bahwa konsep ilham dikenal dalam Al-Qur'an.
Namun ilham bukan wahyu kenabian.
Dan ilham pribadi tidak boleh digunakan untuk membatalkan Al-Qur'an dan Sunnah.
Kalau seseorang berkata:
“Saya mendapat ilham bahwa salat tidak wajib.”
Maka ilham itu tidak dapat dijadikan hujah.
Karena bertentangan dengan wahyu yang telah tetap.
Kalau seseorang berkata:
“Saya mendapat ilmu khusus yang membuat saya tidak perlu mengikuti syariat.”
Maka klaim itu harus ditolak.
10. ILMU LADUNNI TIDAK BERARTI BOLEH MENINGGALKAN SYARIAT
Ini pelajaran sangat penting dari kisah Khidr.
Nanti Khidr melakukan beberapa tindakan yang secara lahiriah tampak bertentangan dengan hukum yang dipahami Musa.
Namun pada akhir kisah Khidr menjelaskan:
QS. Al-Kahf: 82
وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
Artinya:
“Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Itulah penjelasan terhadap apa yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”
Perhatikan:
وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ
“Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
Inilah titik penting.
Tindakan Khidr dalam kisah tersebut memiliki dasar dari Allah.
Maka kisah Khidr tidak boleh dijadikan dalih bagi seseorang untuk mengatakan:
“Saya boleh melakukan apa saja karena saya punya ilmu ladunni.”
Tidak!
Kisah Khidr adalah kisah khusus dengan bimbingan Allah.
11. SIAPAKAH KHIDR?
Al-Qur'an tidak menyebut nama Khidr dalam ayat 65.
Al-Qur'an hanya menyebut:
عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا
“Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami.”
Nama Khidr ditegaskan dalam hadis-hadis sahih.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا سُمِّيَ الْخَضِرُ أَنَّهُ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاءَ، فَإِذَا هِيَ تَهْتَزُّ مِنْ خَلْفِهِ خَضْرَاءَ
Artinya:
“Sesungguhnya ia dinamai al-Khadr karena ia duduk di atas tanah yang putih, kemudian tanah itu bergerak menghijau di belakangnya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, no. 3402.
Maka yang kuat adalah:
nama Khidr berasal dari hadis Nabi ﷺ.
Adapun rincian seperti nama asli Balya bin Malkan, tidak perlu kita pastikan sebagai fakta karena tidak ditegaskan oleh sumber utama yang sahih.
12. MENGAPA DISEBUT “KHIDR”?
Hadis tadi menunjukkan hubungan nama tersebut dengan kehijauan.
Tetapi pelajaran yang lebih penting bukan sekadar nama.
Yang penting adalah:
Allah menjadikan kisahnya sebagai bagian dari pendidikan Nabi Musa.
Khidr menjadi bagian dari perjalanan ilmu Musa.
Dan di sinilah kita belajar:
Kadang Allah mengirimkan seseorang ke dalam perjalanan hidup kita bukan untuk menjadi murid kita, tetapi justru untuk mengajarkan sesuatu kepada kita.
13. MUSA TETAP MULIA MESKIPUN BELAJAR KEPADA KHIDR
Ini luar biasa.
Musa adalah nabi.
Namun Musa belajar kepada Khidr.
Artinya:
Belajar kepada orang lain tidak mengurangi kemuliaan kita.
Guru yang sudah puluhan tahun mengajar masih boleh belajar.
Kepala sekolah masih boleh belajar.
Ustaz masih boleh belajar.
Dosen masih boleh belajar.
Orang tua masih boleh belajar.
Bahkan orang yang sudah tua tetap harus belajar.
Allah berfirman:
QS. Thaha: 114
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
Jangan pernah merasa:
“Saya sudah cukup ilmu.”
Selama hidup, kita adalah pembelajar.
14. IMAM AS-SA'DI: RAHMAT MENAMBAH ILMU DAN AMAL
Imam as-Sa'di menjelaskan:
آتيناه رحمة من عندنا أي: أعطاه الله رحمة خاصة بها زاد علمه وحسن عمله
Artinya:
“Kami memberinya rahmat dari sisi Kami, yakni Allah memberinya rahmat khusus yang dengannya bertambah ilmunya dan menjadi baik amalnya.”
Ini sangat indah.
Rahmat Allah bukan hanya membuat seseorang merasa nyaman.
Rahmat Allah juga dapat membuat:
ilmunya bertambah,
amalnya membaik,
akhlaknya menjadi lebih baik.
Maka kalau kita ingin ilmu kita menjadi rahmat, tanyakan:
Apakah ilmu saya membuat amal saya lebih baik?
Apakah ilmu saya membuat akhlak saya lebih lembut?
Apakah ilmu saya membuat saya lebih takut kepada Allah?
15. IMAM ATH-THABARI: ILMU ITU DARI ALLAH
Ath-Thabari mengatakan:
وَهَبْنَا لَهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا
“Kami menganugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami.”
Dan:
وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ عِنْدِنَا أَيْضًا عِلْمًا
“Dan Kami juga mengajarinya ilmu dari sisi Kami.”
Beliau juga menukil penjelasan Qatadah tentang:
مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
yaitu:
أَيْ مِنْ عِنْدِنَا عِلْمًا
“Yakni, ilmu dari sisi Kami.”
Maka sumber hakiki ilmu adalah Allah.
Guru hanya perantara.
Buku hanya perantara.
Sekolah hanya perantara.
Akal adalah alat.
Pengalaman adalah sarana.
Tetapi Allah-lah yang membuka pemahaman.
16. ILMU LADUNNI MENURUT AL-GHAZALI
Al-Ghazali membahas konsep pengetahuan yang datang dari Allah dalam ar-Risalah al-Ladunniyyah.
Dalam kajian terhadap karya tersebut, ilmu dibahas melalui dua sumber besar:
pertama, sumber insaniyyah, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui usaha manusia, termasuk pengamatan, akal, dan proses belajar;
kedua, sumber rabbaniyyah, yaitu pengetahuan yang berasal dari Allah melalui wahyu atau ilham.
Namun kita harus memahami perbedaannya dengan benar.
Wahyu kenabian memiliki kedudukan yang berbeda dan menjadi hujah agama.
Sedangkan pengalaman batin atau ilham seseorang tidak boleh disamakan dengan wahyu dan tidak boleh menjadi sumber syariat baru.
17. JANGAN TERJEBAK KLAIM “SAYA PUNYA ILMU RAHASIA”
Jamaah...
Ada orang yang berkata:
“Saya mendapat ilmu langsung.”
“Saya mendapat pesan gaib.”
“Saya tidak perlu belajar karena hati saya sudah dibuka.”
Hati-hati.
Islam justru mengajarkan:
العلم يُطْلَبُ
Ilmu harus dicari.
Allah berfirman:
QS. An-Nahl: 43
فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini adalah pendidikan agar orang yang tidak tahu:
bertanya.
Bukan mengarang.
Bukan mengklaim.
Bukan merasa paling tahu.
18. ILMU YANG BENAR MELAHIRKAN TAWADHU
Semakin kita mengetahui luasnya ilmu Allah, semakin kita sadar betapa sedikitnya ilmu kita.
Allah berfirman:
QS. Al-Isra': 85
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya:
“Tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit.”
Perhatikan.
Manusia boleh menjadi profesor.
Boleh menjadi ulama.
Boleh menguasai berbagai disiplin ilmu.
Tetapi dibandingkan ilmu Allah:
sedikit.
Maka tidak ada tempat bagi kesombongan.
19. KISAH MUSA DAN KHIDR MENGAJARKAN ADAB MURID
Ayat berikutnya menunjukkan bagaimana Musa berbicara kepada Khidr.
QS. Al-Kahf: 66
قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya:
“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu berupa petunjuk?’”
Lihat adab Musa.
Musa tidak berkata:
“Ajari saya!”
Dengan nada memerintah.
Tetapi:
هَلْ أَتَّبِعُكَ
“Bolehkah aku mengikutimu?”
Kemudian:
أَنْ تُعَلِّمَنِ
“Agar engkau mengajarkan kepadaku.”
Dan:
مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu berupa petunjuk.”
Subhanallah.
Ini adab seorang murid.
20. ILMU YANG DICARI ADALAH ILMU YANG MEMBAWA KEPADA RUSYD
Musa tidak berkata:
“Ajari aku supaya aku lebih hebat.”
Tidak.
Musa meminta:
رُشْدًا
“Petunjuk yang lurus.”
Inilah tujuan ilmu.
Bukan sekadar banyak hafalan.
Bukan sekadar bisa berdebat.
Bukan sekadar bisa mengutip kitab.
Tetapi:
rasyad — kemampuan berjalan menuju kebenaran.
21. KHIDR BUKAN LEBIH TINGGI DARIPADA MUSA DALAM SEGALA ILMU
Ini juga penting.
Kisah ini tidak berarti Khidr lebih tinggi daripada Musa dalam segala aspek.
As-Sa'di menjelaskan bahwa Khidr diberi ilmu tertentu yang tidak diberikan kepada Musa, sementara Musa tetap lebih luas dalam banyak ilmu, khususnya ilmu keimanan dan ilmu-ilmu pokok karena Musa termasuk rasul ulul 'azmi.
Maka:
seseorang bisa unggul dalam satu bidang tanpa unggul dalam segala bidang.
Seorang ahli fikih belum tentu ahli astronomi.
Seorang ahli tafsir belum tentu ahli kedokteran.
Seorang guru agama belum tentu ahli teknologi.
Seorang ahli teknologi belum tentu ahli fikih.
Maka jangan menjadikan kelebihan pada satu bidang sebagai alasan untuk merasa paling mengetahui segala sesuatu.
22. PERBEDAAN ILMU MUSA DAN KHIDR
Al-Qurthubi memberikan pembahasan penting mengenai perbedaan pengetahuan Musa dan Khidr.
Beliau menyebut bahwa ilmu Khidr berkaitan dengan pengetahuan terhadap sisi batin dari perkara-perkara yang Allah wahyukan kepadanya, sedangkan Musa menjalankan hukum berdasarkan apa yang tampak.
Ini sangat penting.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering hanya mengetahui:
apa yang terlihat.
Kita tidak mengetahui:
apa yang ada di dalam hati seseorang.
Karena itu jangan mudah menghukum niat orang.
Jangan berkata:
“Dia pasti sombong.”
“Dia pasti riya.”
“Dia pasti ingin menjatuhkan saya.”
Kita tidak mengetahui hati manusia.
Allah yang mengetahui.
23. JANGAN MENGGUNAKAN “ILMU BATIN” UNTUK MELANGGAR HUKUM LAHIR
Karena itu para ulama sangat berhati-hati.
Kisah Khidr tidak berarti seseorang boleh meninggalkan hukum syariat karena mengaku mengetahui rahasia batin.
Khidr sendiri berkata:
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي
“Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
Ini adalah kunci.
Apa yang dilakukan Khidr dalam kisah tersebut bukan hasil hawa nafsunya.
Bukan eksperimen pribadi.
Bukan kebebasan tanpa batas.
Tetapi bagian dari perkara yang Allah ajarkan kepadanya.
24. TIGA HAL YANG HARUS DIMILIKI ORANG BERILMU
Dari ayat ini kita dapat merumuskan tiga perkara:
1. RAHMAT
رَحْمَةً
Ilmu harus membuat hati lembut.
2. ILMU
عِلْمًا
Kebaikan harus dibangun di atas pengetahuan.
3. UBUDIYAH
عَبْدًا
Ilmu dan rahmat harus membuat seseorang semakin menjadi hamba Allah.
Jadi:
Ilmu → Rahmat → Ubudiyah.
Bukan:
Ilmu → Kesombongan → Merendahkan orang lain.
25. UNTUK PARA GURU
Bapak/Ibu guru yang dirahmati Allah...
Ayat ini sangat dalam untuk dunia pendidikan.
Guru bukan sumber ilmu yang mutlak.
Guru adalah wasilah.
Allah-lah sumber ilmu.
Maka sebelum mengajar, mari tanamkan dalam hati:
“Ya Allah, jadikan apa yang saya ajarkan sebagai ilmu yang bermanfaat.”
Dan setelah mengajar:
“Ya Allah, jika ada kebenaran dalam pelajaran saya, itu karena taufik-Mu. Jika ada kekeliruan, tunjukkan kepada saya agar dapat saya perbaiki.”
Guru yang baik bukan hanya membuat muridnya pintar.
Tetapi membuat murid:
lebih beriman,
lebih berakhlak,
lebih rendah hati,
dan
lebih dekat kepada Allah.
26. UNTUK PARA PELAJAR
Wahai anak-anak yang dirahmati Allah...
Jangan merasa malu menjadi murid.
Nabi Musa saja belajar.
Jangan malu bertanya.
Jangan malu mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Kalimat:
“Saya belum tahu”
lebih mulia daripada memberikan jawaban yang salah dengan penuh kesombongan.
Kalau belum tahu:
bertanya.
Kalau belum paham:
belajar lagi.
Kalau salah:
perbaiki.
Kalau lupa:
ingat kembali.
27. UNTUK PARA ORANG TUA
Ayah dan Bunda...
Ajarkan kepada anak bahwa ilmu bukan alat untuk menyombongkan diri.
Jangan hanya berkata:
“Kamu harus pintar.”
Tambahkan:
“Kamu harus menjadi anak yang berilmu dan berakhlak.”
Karena kepintaran tanpa akhlak dapat menjadi masalah.
Tetapi ilmu yang disertai rahmat dapat menjadi manfaat bagi banyak manusia.
28. RENUNGAN: APAKAH ILMU KITA SUDAH MENJADI RAHMAT?
Mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Setelah belajar Al-Qur'an, apakah kita menjadi lebih sabar?
Setelah belajar hadis, apakah lisan kita menjadi lebih terjaga?
Setelah belajar fikih, apakah ibadah kita menjadi lebih baik?
Setelah belajar akidah, apakah tawakal kita semakin kuat?
Setelah membaca tafsir, apakah hati kita semakin takut kepada Allah?
Kalau jawabannya iya...
alhamdulillah.
Tetapi jika semakin banyak ilmu justru semakin mudah menghina...
Mari kita periksa kembali hati kita.
Karena tujuan ilmu bukan sekadar memenuhi kepala.
Ilmu harus turun:
dari kepala → ke hati → lalu ke amal.
29. JANGAN MENCARI ILMU UNTUK DIPUJI
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Artinya:
“Barang siapa mencari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, untuk mendebat orang-orang bodoh, atau agar manusia mengarahkan wajah mereka kepadanya, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”
Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.
Maka niat mencari ilmu harus dijaga.
Bukan untuk:
pamer.
Bukan untuk:
menang debat.
Bukan untuk:
mencari popularitas.
Tetapi:
untuk mencari ridha Allah dan memperbaiki diri.
30. PENUTUP: MENJADI HAMBA YANG DIBERI RAHMAT DAN ILMU
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ayat ini dimulai dengan:
عَبْدًا
“Seorang hamba.”
Kemudian Allah menyebut:
رَحْمَةً
“Rahmat.”
Kemudian:
عِلْمًا
“Ilmu.”
Seakan-akan Allah sedang mengajarkan kepada kita sebuah urutan.
Jadilah hamba terlebih dahulu.
Kemudian mintalah rahmat.
Kemudian carilah ilmu.
Dan setelah mendapatkan ilmu:
jangan sombong.
Karena ilmu itu pemberian Allah.
Jangan merasa paling tinggi.
Karena masih banyak yang tidak kita ketahui.
Jangan merasa paling tahu.
Karena Allah berfirman:
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
“Tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit.”
Maka marilah kita berdoa:
رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
Bukan hanya:
“Ya Allah, tambahkan ilmuku.”
Tetapi:
“Ya Allah, jadikan ilmuku bermanfaat.”
Bukan hanya:
“Ya Allah, buat aku pintar.”
Tetapi:
“Ya Allah, jadikan kepintaranku sebagai jalan untuk taat.”
Bukan hanya:
“Ya Allah, jadikan aku orang berilmu.”
Tetapi:
“Ya Allah, jadikan aku hamba yang Engkau beri rahmat dan ilmu.”
DOA
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا.
Artinya:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan rezeki yang baik.”
اللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
Artinya:
“Ya Allah, ajarkan kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, berilah kami manfaat dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu.”
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا رَحْمَةً، وَاجْعَلْ عَمَلَنَا صَالِحًا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا خَاشِعَةً لَكَ.
Artinya:
“Ya Allah, jadikan ilmu kami sebagai rahmat, jadikan amal kami sebagai amal yang saleh, dan jadikan hati kami tunduk kepada-Mu.”
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ عِلْمَنَا سَبَبًا لِلْكِبْرِ وَالْغُرُورِ، وَلَا لِاحْتِقَارِ النَّاسِ، بَلِ اجْعَلْهُ سَبَبًا لِقُرْبِنَا مِنْكَ وَخَوْفِنَا مِنْكَ وَحُبِّنَا لَكَ.
Artinya:
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan ilmu kami sebagai sebab kesombongan dan tipu daya diri, serta bukan pula sebab merendahkan manusia. Tetapi jadikanlah ilmu itu sebab kami semakin dekat kepada-Mu, semakin takut kepada-Mu, dan semakin mencintai-Mu.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
INTI PESAN QS. AL-KAHF AYAT 65
عَبْدًا
→ Jadilah hamba Allah.
رَحْمَةً
→ Mintalah rahmat Allah.
عِلْمًا
→ Teruslah mencari ilmu.
مِنْ لَدُنَّا
→ Sadari bahwa Allah adalah sumber segala ilmu.
عِلْمٌ بِلَا رَحْمَةٍ
→ Bisa melahirkan kekerasan dan kesombongan.
رَحْمَةٌ بِلَا عِلْمٍ
→ Bisa melahirkan kebaikan yang tidak terarah.
عِلْمٌ وَرَحْمَةٌ وَعُبُوْدِيَّةٌ
→ Inilah jalan menjadi hamba yang bermanfaat.
FOOTNOTE / RUJUKAN
[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]:65.
[2] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya', Bab Hadits al-Khadr ma'a Musa, hadis no. 3402. Hadis Abu Hurairah menjelaskan asal penyebutan al-Khadr.
[3] Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, Bab min Fadha'il al-Khadr, hadis no. 2380. Hadis tersebut memuat kisah Musa mencari seorang hamba Allah yang memiliki ilmu yang tidak diberikan kepada Musa.
[4] Ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:65. Ath-Thabari menjelaskan مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا sebagai ilmu yang berasal dari sisi Allah.
[5] Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:65. Al-Qurthubi membahas identitas Khidr dan perbedaan pendapat mengenai kenabiannya; beliau memilih pendapat bahwa Khidr adalah nabi.
[6] As-Sa'di, Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, tafsir QS. Al-Kahf [18]:65. As-Sa'di menjelaskan rahmat sebagai karunia khusus yang menambah ilmu dan memperbaiki amal; beliau memilih pendapat bahwa Khidr adalah hamba saleh, bukan nabi.
[7] Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, tafsir QS. Al-Kahf [18]:65. Ibn Kathir mengidentifikasi hamba tersebut sebagai Khidr berdasarkan hadis-hadis sahih dan membahas kisah Musa yang mencari ilmu.
[8] Al-Ghazali, Ar-Risalah al-Ladunniyyah. Pembahasan mengenai sumber pengetahuan insaniyyah dan rabbaniyyah serta konsep wahyu dan ilham dikaji dalam literatur tentang karya tersebut.
[9] QS. Al-Isra' [17]:1.
[10] QS. Al-'Alaq [96]:5.
[11] QS. Asy-Syura [42]:51.
[12] QS. Al-Ahzab [33]:40.
[13] QS. Asy-Syams [91]:7–8.
[14] QS. Thaha [20]:114.
[15] QS. An-Nahl [16]:43.
[16] QS. Al-Isra' [17]:85.
[17] QS. Al-Kahf [18]:66 dan [18]:82.
Post a Comment