ALLAH LEBIH MENGETAHUI : BELAJAR MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN ILMU ALLAH
CERAMAH QS. AL-KAHF AYAT 26
“ALLAH LEBIH MENGETAHUI: BELAJAR MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN ILMU ALLAH”
Mukadimah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma ba‘du.
Jamaah rahimakumullah,
Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan salah satu ayat yang sangat dalam maknanya, yaitu Surah Al-Kahf ayat 26.
1. AYAT UTAMA: ALLAH LEBIH MENGETAHUI
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Kahf: 26
قُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوْا ۚ لَهٗ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَبْصِرْ بِهٖ وَاَسْمِعْۗ مَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّۗ وَلَا يُشْرِكُ فِيْ حُكْمِهٖٓ اَحَدًا
Artinya:
“Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.’”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat ini merupakan penutup dari pembahasan mengenai Ashabul Kahf.
Pada ayat sebelumnya disebutkan:
وَلَبِثُوْا فِيْ كَهْفِهِمْ ثَلٰثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَازْدَادُوْا تِسْعًا
“Mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”
Kemudian Allah mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ dan kepada kita semua:
قُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوْا
“Katakanlah: Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal.”
Seakan-akan Allah sedang mengajarkan sebuah adab ilmu:
Ketika kita tidak mengetahui sesuatu secara pasti, jangan malu mengatakan: “Allah lebih mengetahui.”
Ini bukan tanda kebodohan.
Justru “Allahu a‘lam” adalah tanda kerendahan hati seorang yang berilmu.
2. PELAJARAN PERTAMA: ILMU MANUSIA TERBATAS, ILMU ALLAH TIDAK TERBATAS
Allah berfirman:
لَهٗ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
“Milik-Nya semua yang gaib di langit dan di bumi.”
Manusia mempunyai ilmu, tetapi ilmu manusia sangat terbatas.
Kita mengetahui apa yang Allah izinkan untuk kita ketahui.
Allah mengetahui:
- apa yang telah terjadi;
- apa yang sedang terjadi;
- apa yang akan terjadi;
- apa yang tersembunyi;
- bahkan apa yang ada di dalam hati manusia.
Allah berfirman:
QS. Al-An‘am: 59
وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Artinya:
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata.”
Bayangkan!
Satu daun jatuh di hutan yang tidak dilihat manusia.
Allah mengetahuinya.
Satu tetes air jatuh ke lautan.
Allah mengetahuinya.
Satu bisikan yang hanya kita ucapkan dalam hati.
Allah mengetahuinya.
Bahkan sesuatu yang belum terjadi dan belum diketahui manusia, semuanya berada dalam ilmu Allah.
3. ULASAN IBNU KATSIR: JANGAN BERBICARA TANPA ILMU
Imam Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan ayat:
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
Beliau berkata:
أَيْ إِذَا سُئِلْتَ عَنْ لَبْثِهِمْ وَلَيْسَ عِنْدَكَ عِلْمٌ فِي ذَلِكَ وَتَوْقِيفٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَتَقَدَّمْ فِيهِ بِشَيْءٍ، بَلْ قُلْ فِي مِثْلِ هَذَا: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا.
Artinya:
“Apabila engkau ditanya tentang berapa lama mereka tinggal, sedangkan engkau tidak memiliki ilmu tentang hal itu dan tidak ada penjelasan dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka janganlah engkau mendahului dengan mengatakan sesuatu. Akan tetapi katakanlah dalam perkara seperti ini: ‘Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal.’”[^1]
Perhatikan nasihat ini.
Nabi ﷺ sendiri diajarkan untuk tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak diberikan ilmunya oleh Allah.
Maka kita sebagai manusia biasa seharusnya lebih berhati-hati.
Jangan karena kita pernah membaca satu artikel, menonton satu video, mendengar ceramah, atau membaca sebuah pesan WhatsApp, kemudian kita langsung berkata:
“Ini pasti benar!”
Padahal belum tentu.
4. JANGAN SEMUA YANG DIDENGAR LANGSUNG DISEBARKAN
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas.
Hadis Riwayat Muslim
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
Artinya:
“Cukuplah seseorang disebut berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.”[^2]
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang.
Betapa mudahnya seseorang menerima informasi:
“Katanya…”
“Menurut berita…”
“Saya dapat dari grup…”
“Ada yang mengatakan…”
Kemudian langsung diteruskan kepada orang lain.
Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Cukuplah seseorang disebut berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.”
Artinya, orang yang menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya dapat terjatuh ke dalam kedustaan, walaupun ia sendiri tidak merasa sedang berdusta.
5. AL-QUR'AN JUGA MENGAJARKAN: JANGAN MENGIKUTI SESUATU TANPA ILMU
Allah berfirman:
QS. Al-Isra’: 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Ayat ini mengajarkan tabayyun ilmiah.
Sebelum berbicara, tanyakan:
- Apakah saya benar-benar mengetahui?
- Dari mana sumbernya?
- Apakah dalilnya sahih?
- Apakah ulama menjelaskan demikian?
- Apakah informasi tersebut memang benar?
Kalau tidak tahu, maka mengatakan:
اللَّهُ أَعْلَمُ
adalah lebih selamat.
6. PELAJARAN KEDUA: ALLAH MENGETAHUI YANG GAIB
Allah berfirman:
لَهٗ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
“Milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi.”
Allah juga berfirman:
QS. Luqman: 34
اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۖ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya:
“Sesungguhnya hanya Allah yang mengetahui tentang hari Kiamat; Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya besok, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Jamaah rahimakumullah,
Kita sering membuat rencana:
“Besok saya akan begini.”
“Bulan depan saya akan begitu.”
“Tahun depan pasti seperti ini.”
Padahal manusia hanya bisa merencanakan.
Yang mengetahui hasil akhirnya hanyalah Allah.
Karena itu kita diajarkan mengatakan:
إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Jika Allah menghendaki.”
7. PELAJARAN KETIGA: ALLAH MAHA MELIHAT DAN MAHA MENDENGAR
Allah berfirman:
أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ
“Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya.”
Ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah.
Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari penglihatan Allah.
Tidak ada suara yang luput dari pendengaran Allah.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
أَيْ إِنَّهُ لَبَصِيرٌ بِهِمْ سَمِيعٌ لَهُمْ.
Artinya:
“Sesungguhnya Dia benar-benar Maha Melihat mereka dan Maha Mendengar mereka.”[^3]
Ibnu Jarir ath-Thabari juga menjelaskan makna ayat tersebut sebagai bentuk penegasan kesempurnaan penglihatan dan pendengaran Allah; tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya.[^4]
Maka jangan merasa aman ketika melakukan maksiat di tempat yang tidak dilihat manusia.
Karena mungkin manusia tidak melihat.
Tetapi Allah melihat.
Jangan berkata:
“Tidak ada yang tahu.”
Karena Allah tahu.
Jangan berkata:
“Tidak ada yang mendengar.”
Karena Allah mendengar.
8. ALLAH MELIHAT APA YANG TIDAK DILIHAT MANUSIA
Allah berfirman:
QS. Al-Mulk: 13–14
وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖ ۗاِنَّهٗ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Artinya:
“Rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Kemudian Allah berfirman:
اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
Artinya:
“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”
Maka seorang mukmin memiliki muraqabah: merasa selalu diawasi Allah.
Ketika sendirian, dia tetap takut kepada Allah.
Ketika tidak ada manusia yang melihat, dia tetap menjaga dirinya.
Karena dia yakin:
Allah melihat saya.
9. PELAJARAN KEEMPAT: ALLAH ADALAH WALI DAN PELINDUNG KITA
Allah berfirman:
مَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ
“Tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia.”
Ini sangat penting.
Ashabul Kahf meninggalkan masyarakat mereka demi mempertahankan iman.
Mereka masuk ke dalam gua.
Secara manusiawi, gua terlihat seperti tempat yang penuh keterbatasan.
Tidak ada istana.
Tidak ada pasukan.
Tidak ada kekuasaan.
Tidak ada kemewahan.
Tetapi ketika mereka berlindung kepada Allah, Allah menjaga mereka.
Allah berfirman sebelumnya:
QS. Al-Kahf: 16
وَاِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ فَأْوٗٓا اِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِّنْ اَمْرِكُمْ مِّرْفَقًا
Artinya:
“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.”
Perhatikan:
Mereka meninggalkan sesuatu karena Allah.
Allah memberikan:
رَحْمَةً
“Rahmat.”
Dan:
مِرْفَقًا
“kemudahan/pertolongan dalam urusan mereka.”
Ini mengajarkan:
Orang yang menjaga agamanya karena Allah tidak akan disia-siakan oleh Allah.
10. PELAJARAN KELIMA: JANGAN TAKUT KEPADA MANUSIA LEBIH DARIPADA KEPADA ALLAH
Ashabul Kahf adalah para pemuda.
Mereka hidup di tengah masyarakat yang menyimpang dalam akidah.
Namun mereka berani mempertahankan tauhid.
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf: 13
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
Artinya:
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
Mereka masih muda, tetapi memiliki iman yang kuat.
Ini menjadi pelajaran bagi para pemuda:
Usia muda bukan alasan untuk jauh dari Allah.
Justru masa muda harus menjadi masa membangun iman, ilmu dan amal.
11. PELAJARAN KEENAM: ALLAH TIDAK MEMILIKI SEKUTU DALAM MENETAPKAN HUKUM
Bagian terakhir ayat berbunyi:
وَلَا يُشْرِكُ فِيْ حُكْمِهٖٓ اَحَدًا
“Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.”
Imam as-Sa‘di رحمه الله memberikan penjelasan yang sangat penting:
وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا، وَهَذَا يَشْمَلُ الْحُكْمَ الْكَوْنِيَّ الْقَدَرِيَّ، وَالْحُكْمَ الشَّرْعِيَّ الدِّينِيَّ.
Artinya:
“Dan Dia tidak menyekutukan seorang pun dalam keputusan-Nya. Ini mencakup hukum kauni-qadari dan hukum syar‘i-dini.”[^5]
Maksudnya, Allah adalah penguasa mutlak atas:
Pertama, hukum kauni-qadari
Allah mengatur:
- kehidupan dan kematian;
- sehat dan sakit;
- kelahiran;
- rezeki;
- pergantian siang dan malam;
- peristiwa yang terjadi di alam semesta.
Kedua, hukum syar‘i
Allah menetapkan:
- apa yang halal;
- apa yang haram;
- apa yang wajib;
- apa yang sunnah;
- apa yang dilarang.
Karena itu seorang muslim tidak hanya berkata:
“Saya percaya Allah sebagai Pencipta.”
Tetapi juga harus menerima:
Allah adalah satu-satunya Rabb yang berhak menetapkan syariat.
12. ALLAH MENGETAHUI, MAKA KITA HARUS TUNDUK
Allah berfirman:
QS. Al-An‘am: 57
اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفٰصِلِيْنَ
Artinya:
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia adalah pemberi keputusan yang terbaik.”
Jamaah rahimakumullah,
Kalau kita benar-benar yakin Allah Maha Mengetahui, maka ketika Allah menetapkan sesuatu, kita percaya bahwa ketetapan-Nya pasti mengandung hikmah.
Kadang akal kita belum memahami.
Tetapi keterbatasan akal kita tidak berarti hukum Allah salah.
Yang terbatas adalah ilmu kita, bukan ilmu Allah.
13. PELAJARAN KETUJUH: JANGAN TERLALU SIBUK DENGAN HAL YANG TIDAK BERMANFAAT
Kisah Ashabul Kahf juga mengajarkan kepada kita untuk tidak tenggelam dalam perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Sebelumnya Allah berfirman tentang orang-orang yang memperdebatkan jumlah Ashabul Kahf.
QS. Al-Kahf: 22
سَيَقُوْلُوْنَ ثَلٰثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْۚ وَيَقُوْلُوْنَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًاۢ بِالْغَيْبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ سَبْعَةٌ وَّثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْۗ قُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَّا يَعْلَمُهُمْ اِلَّا قَلِيْلٌۗ فَلَا تُمَارِ فِيْهِمْ اِلَّا مِرَاۤءً ظَاهِرًا وَّلَا تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِّنْهُمْ اَحَدًاۖ
Artinya:
“Mereka akan berkata, ‘(Jumlah mereka) tiga, yang keempat adalah anjingnya,’ dan (yang lain) mengatakan, ‘Mereka lima, yang keenam adalah anjingnya,’ sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, ‘Mereka tujuh, yang kedelapan adalah anjingnya.’ Katakanlah, ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu janganlah engkau memperdebatkan mereka kecuali dalam hal yang jelas dan jangan engkau menanyakan tentang mereka kepada siapa pun.”
Perhatikan ungkapan:
رَجْمًا بِالْغَيْبِ
“Menebak-nebak perkara gaib.”
Ini adalah peringatan.
Jangan mengubah agama menjadi arena spekulasi.
14. JANGAN MERASA PALING TAHU
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu penyakit ilmu adalah:
merasa paling tahu.
Semakin seseorang berilmu seharusnya semakin rendah hati.
Imam Ibn Katsir menukil bahwa dalam ayat ini seseorang tidak boleh mendahului dengan perkataan tanpa ilmu, tetapi mengatakan:
اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
“Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal.”[^1]
Maka kita harus membiasakan tiga kalimat:
1. “Saya tahu.”
Kalau memang berdasarkan ilmu.
2. “Saya belum tahu.”
Kalau memang belum mengetahui.
3. “Allahu a‘lam.”
Kalau perkara itu tidak kita ketahui secara pasti.
Itulah adab seorang mukmin.
15. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN AGAR KITA TIDAK BERLEBIHAN DALAM BERBICARA
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”[^6]
Hadis ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Maka sebelum berbicara tentang:
- agama;
- orang lain;
- berita;
- sejarah;
- politik;
- kesehatan;
- masalah keluarga;
- urusan masyarakat;
tanyakan:
“Apakah saya mempunyai ilmu?”
Kalau tidak, lebih baik diam.
16. PELAJARAN KEDELAPAN: WAKTU KITA SINGKAT
Ashabul Kahf tinggal selama ratusan tahun.
Kita?
Mungkin hidup hanya 60 tahun.
Mungkin 70 tahun.
Mungkin kurang.
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Umar رضي الله عنهما:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Artinya:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”[^7]
Ibnu Umar رضي الله عنهما kemudian berkata:
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Artinya:
“Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu datangnya pagi. Jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu datangnya sore. Manfaatkan kesehatanmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkan hidupmu sebelum datang kematianmu.”[^7]
Betapa banyak waktu kita habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat.
Berjam-jam melihat media sosial.
Berjam-jam berdebat.
Berjam-jam membicarakan kehidupan orang lain.
Tetapi hanya sedikit waktu untuk:
- membaca Al-Qur'an;
- berdzikir;
- menuntut ilmu;
- mendidik anak;
- membantu orang lain;
- memperbaiki diri.
Padahal waktu adalah umur.
Dan umur tidak akan kembali.
17. INTI BESAR AYAT: “ALLAHU A‘LAM”
Jamaah rahimakumullah,
Kalau kita renungkan, ayat ini mengajarkan setidaknya 8 sikap hidup:
1. Rendah hati dalam ilmu
Jangan merasa paling pintar.
2. Berani mengatakan “tidak tahu”
Tidak tahu bukan aib.
Berbicara tanpa ilmu justru berbahaya.
3. Menjaga lisan
Jangan menyebarkan semua yang kita dengar.
4. Meyakini ilmu Allah
Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.
5. Merasa diawasi Allah
Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.
6. Bertawakal kepada Allah
Tidak ada wali dan pelindung yang hakiki selain Allah.
7. Tunduk kepada hukum Allah
Allah tidak memiliki sekutu dalam menetapkan hukum.
8. Menggunakan waktu dengan baik
Hidup ini sementara dan kematian pasti datang.
18. RENUNGAN UNTUK KITA
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Ketika tidak tahu, apakah kita berani mengatakan “Allahu a‘lam”?
Ketika mendapat berita, apakah kita melakukan tabayyun?
Ketika sendirian, apakah kita merasa diawasi Allah?
Ketika mendapat ujian, apakah kita berlindung kepada Allah?
Ketika Allah menetapkan hukum, apakah kita tunduk?
Ketika diberikan umur, apakah kita menggunakannya untuk kebaikan?
Inilah pesan besar dari QS. Al-Kahf ayat 26.
PENUTUP
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ashabul Kahf mengajarkan kita tentang iman.
Ayat 25 mengajarkan kita tentang waktu.
Sedangkan ayat 26 mengajarkan kita tentang ilmu Allah dan keterbatasan ilmu manusia.
Karena itu jangan sombong dengan ilmu yang kita miliki.
Semakin kita mengetahui luasnya ciptaan Allah, semakin kita sadar betapa sedikit ilmu kita.
Allah berfirman:
QS. Al-Isra’: 85
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit.”
Maka biasakanlah mengatakan:
اللَّهُ أَعْلَمُ
“Allah lebih mengetahui.”
Dan ketika kita tidak tahu:
لاَ أَعْلَمُ
“Saya tidak tahu.”
Itulah kejujuran.
Itulah kerendahan hati.
Itulah adab orang berilmu.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang berilmu, tetapi tetap rendah hati; mengetahui banyak hal, tetapi tetap sadar bahwa ilmu Allah jauh lebih luas; dan menggunakan umur kita untuk beribadah kepada-Nya.
Doa
اللَّهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا عَمَلًا صَالِحًا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَوَاضِعِينَ، وَأَعِذْنَا مِنَ الْقَوْلِ عَلَيْكَ بِغَيْرِ عِلْمٍ.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَأَوْقَاتِنَا، وَصِحَّتِنَا، وَأَعْمَالِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN KAKI / RUJUKAN KITAB
[1] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:26. Ibnu Katsir menegaskan bahwa apabila seseorang tidak memiliki ilmu tentang suatu perkara, ia tidak boleh mendahuluinya dengan perkataan; hendaknya mengatakan “Allah lebih mengetahui.”
[2] Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Muqaddimah, Bāb an-Nahy ‘an al-Ḥadīth bi Kulli Mā Sumi‘, hadis no. 5/6 menurut penomoran edisi. Teks hadis: كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.
[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:26: أَيْ إِنَّهُ لَبَصِيرٌ بِهِمْ سَمِيعٌ لَهُمْ — “Dia benar-benar Maha Melihat mereka dan Maha Mendengar mereka.”
[4] Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:26. Ath-Thabari menjelaskan أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ sebagai bentuk penegasan kesempurnaan penglihatan dan pendengaran Allah, bahwa tidak ada sesuatu yang luput dari-Nya.
[5] Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:26. As-Sa‘di menjelaskan bahwa وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا mencakup hukum kauni-qadari dan hukum syar‘i-dini.
[6] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Adab, hadis no. 6018; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 47: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
[7] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab ar-Riqaq, Bab قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ, hadis no. 6416.
[8] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:26. Beliau membahas beberapa kemungkinan makna قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا dan menjelaskan makna أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ, serta bahwa Allah adalah wali yang mengurus dan menjaga mereka.
Rujukan utama
- Al-Qur'an al-Karim.
- Tafsir al-Qur'an al-'Azhim — Ibnu Katsir.
- Jami' al-Bayan — Imam ath-Thabari.
- Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an — Imam al-Qurthubi.
- Taysir al-Karim ar-Rahman — Syaikh as-Sa'di.
- Shahih al-Bukhari.
- Shahih Muslim.
Post a Comment