BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR’AN DAN BERLINDUNG HANYA KEPADA ALLAH

MATERI CERAMAH QS. AL-KAHF AYAT 27

“BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR’AN DAN BERLINDUNG HANYA KEPADA ALLAH”

Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Pada kesempatan ini kita akan merenungkan firman Allah dalam Surah Al-Kahf ayat 27. Ayat ini mengandung pesan yang sangat penting bagi kehidupan seorang muslim: jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, jangan mengubah ajaran Allah mengikuti hawa nafsu, dan hanya kepada Allah kita mencari perlindungan.


A. AYAT UTAMA: QS. AL-KAHF AYAT 27

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَاتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ ۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ ۗ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا

Artinya:

“Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.”

Ayat ini dimulai dengan perintah:

وَاتْلُ

“Bacakanlah!”

Tetapi makna tilawah dalam konteks ini tidak berhenti pada membaca dengan lisan.

Al-Qur’an harus:

dibaca → dipahami → diyakini → diamalkan → diajarkan → disampaikan.

Jadi, hubungan seorang muslim dengan Al-Qur’an bukan sekadar menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan, tetapi menjadikannya pedoman kehidupan.


B. PERINTAH ALLAH: “BACAKANLAH APA YANG DIWAHYUKAN”

Allah berfirman:

وَاتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu.”

Rasulullah ﷺ mempunyai tugas menyampaikan wahyu.

Allah berfirman:

QS. Al-Ma’idah: 67

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗ وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya:

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Rasulullah ﷺ telah melaksanakan amanah tersebut dengan sempurna.

Tidak ada wahyu yang disembunyikan.

Tidak ada hukum Allah yang sengaja disembunyikan.

Tidak ada bagian agama yang beliau ubah untuk menyenangkan manusia.


C. RASULULLAH ﷺ TIDAK BERBICARA DARI HAWA NAFSU

Allah berfirman:

QS. An-Najm: 3–4

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى

Artinya:

“Dan tidaklah dia berbicara menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Ayat ini menunjukkan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai penyampai wahyu Allah.

Karena itu, agama tidak boleh dibangun berdasarkan:

  • hawa nafsu;
  • selera manusia;
  • tradisi yang bertentangan dengan syariat;
  • pendapat pribadi yang melawan dalil;
  • atau keinginan untuk mendapatkan pujian manusia.

D. AL-QUR’AN BUKAN SEKADAR UNTUK DIBACA

Jamaah rahimakumullah,

Ada orang yang sangat rajin membaca Al-Qur’an, tetapi belum menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Padahal Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah: 2

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Perhatikan:

هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

“Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”

Al-Qur’an adalah hidayah.

Maka pertanyaan pentingnya bukan hanya:

“Berapa kali kita khatam Al-Qur’an?”

Tetapi juga:

“Seberapa jauh Al-Qur’an mengubah kehidupan kita?”

Apakah setelah membaca Al-Qur’an kita semakin jujur?

Semakin menjaga shalat?

Semakin berbakti kepada orang tua?

Semakin menjaga lisan?

Semakin meninggalkan maksiat?

Semakin peduli kepada sesama?

Kalau iya, berarti Al-Qur’an sedang hidup dalam diri kita.


E. KEUTAMAAN ORANG YANG MEMBACA DAN MEMPELAJARI AL-QUR’AN

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”[^1]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Perhatikan kata:

تَعَلَّمَ

“mempelajari”

dan:

عَلَّمَهُ

“mengajarkannya.”

Jadi seorang muslim idealnya mempunyai dua hubungan dengan Al-Qur’an:

1. Belajar Al-Qur’an.

2. Mengajarkan Al-Qur’an.

Orang tua mengajarkan kepada anak.

Guru mengajarkan kepada murid.

Orang yang memiliki ilmu mengajarkannya kepada masyarakat.


F. ULASAN IMAM AS-SA‘DI

Imam Abdurrahman as-Sa‘di رحمه الله ketika menafsirkan:

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

menjelaskan bahwa perintah tersebut mencakup membaca lafaz Al-Qur’an sekaligus mengikuti apa yang terkandung di dalamnya.

Beliau mengatakan:

أي: اتبع ما أوحينا إليك من الكتاب، فإن فيه الهدى والنور والشفاء، فاتباعه هو الفوز والسعادة.

Artinya:

“Maksudnya: ikutilah apa yang Kami wahyukan kepadamu berupa Kitab. Di dalamnya terdapat petunjuk, cahaya dan kesembuhan. Maka mengikuti Al-Qur’an itulah kemenangan dan kebahagiaan.”[^2]

Maka jangan sampai Al-Qur’an hanya berada:

di rak rumah,

tetapi tidak berada:

di dalam hati dan kehidupan.


G. “TIDAK ADA YANG DAPAT MENGUBAH KALIMAT-KALIMAT ALLAH”

Allah berfirman:

لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ

“Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.”

Ini merupakan penegasan tentang kekuasaan dan kesempurnaan firman Allah.

Manusia dapat mengubah pendapatnya.

Manusia dapat mengubah hukum buatannya.

Manusia dapat mengubah peraturan sesuai kepentingannya.

Tetapi manusia tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah kebenaran yang Allah tetapkan.

Allah berfirman:

QS. Al-An‘am: 115

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًا ۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Artinya:

“Dan telah sempurna firman Tuhanmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Al-Qur’an membawa:

صِدْقًا

kebenaran,

dan:

عَدْلًا

keadilan.

Maka apa yang Allah tetapkan adalah kebenaran dan keadilan.


H. AL-QUR’AN TERJAGA DARI PERUBAHAN

Allah memberikan jaminan:

QS. Al-Hijr: 9

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Artinya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

Inilah salah satu keistimewaan Al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dan Allah pula yang menjaganya.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
أي: نحن أنزلنا الذكر وهو القرآن، ونحن له لحافظون من أن يزاد فيه أو ينقص منه أو يبدل.

Artinya:

“Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr, yaitu Al-Qur’an, dan Kamilah yang menjaganya dari penambahan, pengurangan, maupun perubahan.”[^3]

Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan karya manusia.


I. JANGAN MENGUBAH AGAMA MENGIKUTI KEINGINAN MANUSIA

Jamaah rahimakumullah,

Ayat ini juga memberikan pelajaran agar kita jangan menjadikan hawa nafsu sebagai hakim terhadap agama.

Jangan sampai ketika syariat sesuai dengan keinginan kita, kita mengatakan:

“Ini benar.”

Tetapi ketika syariat tidak sesuai dengan keinginan kita, kita berusaha mencari alasan untuk menolaknya.

Allah berfirman:

QS. Al-Jatsiyah: 23

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشَاوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Maka seorang mukmin harus mengatakan:

“Saya tunduk karena Allah berfirman.”

Bukan:

“Saya menerima ayat ini kalau sesuai dengan keinginan saya.”


J. SUNNAH RASULULLAH ﷺ TIDAK BOLEH DITINGGALKAN

Al-Qur’an tidak boleh dipisahkan dari Sunnah Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

QS. Al-Hasyr: 7

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Artinya:

“Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah erat-erat Sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham.”[^4]

Hadis ini mengajarkan keteguhan memegang Sunnah ketika banyak manusia mulai meninggalkannya.


K. AL-QUR’AN DAN SUNNAH ADALAH PEDOMAN KEHIDUPAN

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ketika seseorang menghadapi persoalan hidup, jangan hanya bertanya:

“Apa kata manusia?”

Tetapi tanyakan:

“Apa kata Allah dan Rasul-Nya?”

Ketika mendidik anak:

Apa petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah?

Ketika berdagang:

Apa hukum Allah?

Ketika menjadi pemimpin:

Apa amanah yang Allah berikan?

Ketika menjadi guru:

Bagaimana Rasulullah ﷺ mendidik umat?

Ketika menghadapi masalah keluarga:

Bagaimana Al-Qur’an mengajarkan penyelesaian?

Inilah makna menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.


L. PELAJARAN BERIKUTNYA: HANYA KEPADA ALLAH TEMPAT BERLINDUNG

Allah berfirman:

وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا

Artinya:

“Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.”

Kata:

مُلْتَحَدًا

bermakna tempat berlindung, tempat mencari perlindungan atau tempat kembali.

Manusia boleh memiliki:

  • keluarga;
  • teman;
  • guru;
  • dokter;
  • pengacara;
  • pemimpin;
  • harta;
  • jabatan.

Tetapi semuanya hanyalah sebab.

Pelindung yang sebenarnya adalah Allah.


M. ALLAH ADALAH SEBAIK-BAIK PELINDUNG

Allah berfirman:

QS. Ali ‘Imran: 173

حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

Artinya:

“Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika menghadapi ancaman.

Mereka tidak mengatakan:

“Kami tidak memiliki masalah.”

Tetapi mereka mengatakan:

حَسْبُنَا اللَّهُ

“Cukuplah Allah bagi kami.”

Inilah tawakal.


N. HADIS TENTANG MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA ALLAH

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Abbas رضي الله عنهما:

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Artinya:

“Wahai anak muda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.”[^5]

Hadis ini sangat indah.

Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang lemah.

Tetapi beliau mengajarkan:

kuatkan hubungan dengan Allah.

Berusaha tetap harus.

Bekerja tetap harus.

Berobat tetap harus.

Belajar tetap harus.

Bermusyawarah tetap harus.

Tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.


O. ULASAN ULAMA TENTANG “MULṬAHAD”

Imam ath-Thabari رحمه الله menjelaskan makna:

مُلْتَحَدًا

sebagai tempat berlindung atau tempat berpaling selain Allah.

Beliau menjelaskan:

وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا، يَقُولُ: وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِ رَبِّكَ مَلْجَأً تَلْجَأُ إِلَيْهِ.

Artinya:

“Engkau tidak akan mendapatkan selain Tuhanmu suatu tempat berlindung yang engkau jadikan tempat berlindung.”[^6]

Sedangkan Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa apabila Allah menghendaki sesuatu, tidak ada tempat bagi seorang hamba untuk melarikan diri dari ketetapan dan kekuasaan-Nya.[^7]

Maka tempat kembali kita pada akhirnya hanya:

Allah.


P. KETIKA MENGHADAPI MASALAH, KEMBALILAH KEPADA AL-QUR’AN

Jamaah rahimakumullah,

Ada orang ketika mendapatkan masalah, ia mencari semua jalan kecuali Allah.

Ketika gelisah, ia mencari hiburan.

Ketika sedih, ia mencari pelampiasan.

Ketika takut, ia mencari perlindungan kepada manusia.

Padahal Allah telah berfirman:

QS. Ar-Ra‘d: 28

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk dibaca ketika ada acara.

Al-Qur’an adalah obat bagi hati.

Allah berfirman:

QS. Al-Isra’: 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

Artinya:

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang zalim Al-Qur’an itu hanya akan menambah kerugian.”


Q. EMPAT KEWAJIBAN KITA TERHADAP AL-QUR’AN

Dari QS. Al-Kahf ayat 27, kita dapat mengambil empat kewajiban.

1. Membaca Al-Qur’an

Jangan biarkan satu hari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.

Walaupun hanya beberapa ayat.

2. Memahami Al-Qur’an

Jangan hanya membaca hurufnya.

Pelajari maknanya.

3. Mengamalkan Al-Qur’an

Al-Qur’an harus terlihat dalam:

  • akhlak;
  • ibadah;
  • keluarga;
  • pekerjaan;
  • pendidikan;
  • muamalah.

4. Mengajarkan dan menyampaikan Al-Qur’an

Allah berfirman:

QS. An-Nahl: 125

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Menyampaikan Al-Qur’an harus dengan:

hikmah,

ilmu,

kesabaran,

dan:

akhlak yang baik.


R. JANGAN MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI OBJEK PERDEBATAN

Salah satu penyakit umat adalah banyak berbicara tentang agama tetapi sedikit mengamalkannya.

Allah berfirman:

QS. Muhammad: 24

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Artinya:

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Tujuan Al-Qur’an bukan agar kita menjadi orang yang paling banyak berdebat.

Tujuannya agar kita menjadi:

orang yang paling tunduk kepada Allah.


S. AL-QUR’AN AKAN MENJADI HUJJAH BAGI KITA ATAU MELAWAN KITA

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Artinya:

“Al-Qur’an adalah hujah yang membela untukmu atau menjadi hujah yang memberatkanmu.”[^8]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Jika kita membaca Al-Qur’an lalu mengamalkannya, Al-Qur’an menjadi hujah yang membela kita.

Tetapi jika kita membaca Al-Qur’an, mengetahui perintah Allah, lalu sengaja meninggalkannya, maka pengetahuan tersebut dapat menjadi hujah atas diri kita.


T. KAITANNYA DENGAN ASHABUL KAHF

Jamaah rahimakumullah,

Sangat indah hubungan ayat ini dengan kisah Ashabul Kahf.

Para pemuda Ashabul Kahf menghadapi tekanan masyarakat.

Mereka memilih:

iman daripada kenyamanan.

Mereka memilih:

tauhid daripada popularitas.

Mereka memilih:

Allah daripada manusia.

Kemudian Allah menjaga mereka.

Maka setelah kisah mereka, Allah mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ:

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

“Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu.”

Seolah-olah ada pesan:

Jika ingin selamat menghadapi fitnah zaman, peganglah wahyu Allah.


U. RELEVANSI UNTUK ORANG TUA DAN PENDIDIK

Ayat ini sangat penting bagi orang tua dan guru.

Jangan hanya berharap anak:

pandai matematika,

pandai bahasa,

pandai teknologi,

mendapat nilai tinggi.

Tetapi pastikan mereka juga:

mengenal Al-Qur’an.

Ajarkan kepada anak:

  • membaca Al-Qur’an;
  • menghafalnya;
  • memahami maknanya;
  • mencintainya;
  • mengamalkannya;
  • menjadikannya pedoman hidup.

Karena kecerdasan tanpa iman dapat membuat manusia semakin jauh dari Allah.

Tetapi ilmu yang dibimbing wahyu dapat menjadi jalan menuju kebaikan.


V. RELEVANSI DI ERA DIGITAL

Jamaah rahimakumullah,

Hari ini kita hidup di zaman informasi.

Dalam satu menit kita bisa menerima:

  • berita;
  • video;
  • komentar;
  • pendapat;
  • fatwa;
  • potongan ceramah.

Tetapi tidak semuanya benar.

Maka QS. Al-Kahf ayat 27 mengajarkan:

Kembalikan ukuran kebenaran kepada wahyu Allah.

Jangan menjadikan:

viral

sebagai ukuran kebenaran.

Jangan menjadikan:

banyak pengikut

sebagai ukuran kebenaran.

Jangan menjadikan:

banyak yang menyukai

sebagai ukuran kebenaran.

Ukuran kebenaran adalah:

Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman yang benar.


W. TIGA PESAN UTAMA QS. AL-KAHF AYAT 27

Jika ceramah ini harus diringkas, maka ada tiga pesan besar:

PESAN 1

PEGANGLAH AL-QUR’AN

وَاتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

Baca, pahami dan amalkan.

PESAN 2

JANGAN MENGUBAH KEBENARAN ALLAH

لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ

Jangan menjadikan hawa nafsu sebagai hakim terhadap wahyu.

PESAN 3

BERLINDUNGLAH KEPADA ALLAH

وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا

Dalam segala keadaan, Allah adalah tempat kembali dan perlindungan yang hakiki.


PENUTUP

Jamaah rahimakumullah,

QS. Al-Kahf ayat 27 bukan sekadar perintah kepada Rasulullah ﷺ untuk membaca Al-Qur’an.

Ayat ini juga merupakan pesan kepada kita semua:

Bacalah Al-Qur’an.

Pelajarilah Al-Qur’an.

Amalkan Al-Qur’an.

Ajarkan Al-Qur’an.

Pertahankan kebenaran Al-Qur’an.

Dan ketika menghadapi kesulitan:

kembalilah kepada Allah.

Karena manusia dapat meninggalkan kita.

Harta dapat habis.

Jabatan dapat hilang.

Kekuatan dapat melemah.

Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang benar-benar bertawakal kepada-Nya.

Allah berfirman:

QS. At-Talaq: 2–3

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ۝ وَيَرْزُقْهٗ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Maka marilah kita jadikan semboyan hidup kita:

مَعَ الْقُرْآنِ نَحْيَا، وَبِاللَّهِ نَسْتَعِينُ

“Dengan Al-Qur’an kita hidup, dan kepada Allah kita meminta pertolongan.”

Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hati kita, petunjuk kehidupan kita, pembela kita di akhirat, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang membaca, memahami, mengamalkan, dan mengajarkannya.

DOA

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا، وَذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّيْنَا، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ وَتَدَبُّرَهُ وَالْعَمَلَ بِهِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ إِيمَانَنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْنَا جَمِيعًا مِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ بِكِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.


CATATAN KAKI DAN RUJUKAN KITAB

[1] Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān, Bāb Khairukum man Ta‘allama al-Qur’āna wa ‘Allamahu, hadis no. 5027.

[2] ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:27. Makna yang beliau tekankan adalah mengikuti wahyu karena di dalamnya terdapat petunjuk, cahaya dan sebab kebahagiaan.

[3] Ismā‘īl bin ‘Umar Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Ḥijr [15]:9. Beliau menjelaskan penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an dari penambahan, pengurangan dan perubahan.

[4] Abū Dāwūd, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb as-Sunnah, hadis no. 4607; at-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī, Kitāb al-‘Ilm, hadis no. 2676. Hadis ini dikenal sebagai hadis tentang berpegang teguh kepada Sunnah dan Sunnah Khulafā’ ar-Rāsyidīn.

[5] At-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah, hadis no. 2516. Hadis ini juga diriwayatkan melalui beberapa jalur dan masyhur sebagai hadis “Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu.”

[6] Muḥammad bin Jarīr aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:27.

[7] Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:27.

[8] Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb aṭ-Ṭahārah, hadis no. 223. Sabda Nabi ﷺ: وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ — “Al-Qur’an adalah hujah yang membela untukmu atau menjadi hujah yang memberatkanmu.”

DAFTAR KITAB RUJUKAN

  1. Al-Qur’ān al-Karīm.
  2. Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
  3. Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.
  4. Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.
  5. As-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān.
  6. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
  7. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.
  8. Abū Dāwūd, Sunan Abī Dāwūd.
  9. At-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī.

Tidak ada komentar