ALLAH MAHA PENGAMPUN, TETAPI JANGAN TERTIPU DENGAN PENANGGUHAN

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 58

“ALLAH MAHA PENGAMPUN, TETAPI JANGAN TERTIPU DENGAN PENANGGUHAN”

QS. Al-Kahf: 58

وَرَبُّكَ الْغَفُوْرُ ذُو الرَّحْمَةِۗ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوْا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَۗ بَلْ لَّهُمْ مَّوْعِدٌ لَّنْ يَّجِدُوْا مِنْ دُوْنِهٖ مَوْىِٕلًا

Artinya:

“Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. Jika Dia hendak menyiksa mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat siksa) yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya.”


PEMBUKAAN

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah...

Ada satu sifat Allah yang membuat kita berani pulang kepada-Nya meskipun kita membawa dosa.

Ada satu sifat Allah yang membuat orang yang pernah jatuh masih mempunyai harapan untuk bangkit.

Ada satu sifat Allah yang membuat seorang pendosa tidak boleh mengatakan:

"Saya sudah terlalu jauh."

"Dosa saya terlalu banyak."

"Saya sudah terlalu kotor untuk kembali kepada Allah."

Sifat itu adalah:

الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

Allah Maha Pengampun dan Pemilik rahmat yang luas.

Tetapi jamaah sekalian...

Ayat ini juga mengandung peringatan yang sangat keras.

Allah memang mengampuni.

Allah memang merahmati.

Allah tidak selalu langsung menghukum.

Tetapi...

jangan pernah mengira bahwa tertundanya hukuman berarti dosa kita tidak ada nilainya.

Jangan mengira ketika seseorang masih sehat setelah bermaksiat, berarti Allah merestui maksiatnya.

Jangan mengira ketika seseorang masih kaya setelah melakukan dosa, berarti Allah membenarkan jalannya.

Jangan mengira ketika azab belum datang, berarti azab itu tidak akan datang.

Karena Allah berfirman:

بَلْ لَّهُمْ مَّوْعِدٌ لَّنْ يَّجِدُوْا مِنْ دُوْنِهٖ مَوْىِٕلًا

“Bahkan mereka mempunyai waktu yang telah ditetapkan, yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung darinya.”

Maka ayat ini mengajarkan kepada kita dua hal sekaligus:

Jangan berputus asa dari rahmat Allah.

Tetapi juga:

Jangan merasa aman dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.


1. ALLAH MEMPERKENALKAN DIRI-NYA DENGAN AMPUNAN DAN RAHMAT

Allah memulai ayat dengan:

وَرَبُّكَ الْغَفُوْرُ ذُو الرَّحْمَةِ

“Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang.”

Perhatikan jamaah...

Allah tidak langsung mengatakan:

“Dan Tuhanmu Yang Maha Menghukum.”

Tetapi Allah memperkenalkan:

الْغَفُورُ

Yang Maha Mengampuni.

Kemudian:

ذُو الرَّحْمَةِ

Pemilik rahmat.

Ini menunjukkan betapa luasnya pintu rahmat Allah.

Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:

أَيْ رَبُّكَ يَا مُحَمَّدُ غَفُورٌ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ

Artinya:

“Wahai Muhammad, Tuhanmu adalah Yang Maha Pengampun, memiliki rahmat yang sangat luas.”

Ibn Katsir kemudian menghubungkan ayat ini dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah tidak segera menghukum manusia atas seluruh dosa mereka.[^1]

Jamaah yang dirahmati Allah...

Kalau setiap dosa langsung dibalas saat itu juga, siapa di antara kita yang masih berdiri?

Kalau setiap kesalahan langsung dibalas dengan hukuman, siapa yang masih bisa hidup?

Karena itu, jangan hanya menghitung nikmat Allah yang terlihat.

Ada nikmat Allah yang sering kita lupakan:

nikmat bahwa dosa kita tidak langsung dihukum.

Kita berbuat salah...

Allah masih memberi waktu.

Kita lalai...

Allah masih memberi kesempatan.

Kita lupa kepada-Nya...

Allah masih memberi umur.

Kita jauh dari-Nya...

Allah masih membuka pintu taubat.

Itulah rahmat.


2. KALAU ALLAH LANGSUNG MENGHUKUM SEMUA DOSA, MANUSIA TIDAK AKAN MAMPU BERTAHAN

Allah berfirman:

لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ

“Jika Dia hendak menyiksa mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka.”

Ayat ini memiliki makna yang sangat dalam.

Allah mempunyai kekuasaan untuk langsung menghukum.

Tetapi Allah menangguhkan.

Allah memberi kesempatan.

Allah memberi waktu.

Allah membuka pintu kembali.

Hal ini ditegaskan dalam QS. Fathir ayat 45:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

Artinya:

“Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka kerjakan, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk yang bergerak di atas bumi, tetapi Dia menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Kemudian apabila waktu yang ditentukan itu telah tiba, sungguh Allah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya.”[^2]

Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:

ثُمَّ أَخْبَرَ أَنَّهُ يَحْلُمُ وَيَسْتُرُ وَيَغْفِرُ

“Allah kemudian memberitahukan bahwa Dia bersifat penyantun, menutupi kesalahan dan mengampuni.”

Tetapi Ibn Katsir melanjutkan bahwa orang yang terus-menerus berada dalam kesesatan tidak boleh merasa aman, karena akan ada hari ketika keputusan Allah datang dan tidak dapat dihindari.[^1]


3. PENUNDAAN HUKUMAN BUKAN BERARTI ALLAH RIDHA TERHADAP DOSA

Ini pelajaran yang sangat penting.

Kadang manusia salah memahami rahmat Allah.

Dia berkata:

"Saya sudah bertahun-tahun melakukan dosa, tetapi Allah masih memberikan rezeki."

"Saya masih sehat."

"Bisnis saya masih lancar."

"Keluarga saya baik-baik saja."

Lalu dia menyimpulkan:

"Berarti Allah tidak masalah dengan perbuatan saya."

Tidak demikian.

Allah berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya:

“Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa Kami memberikan tenggang waktu kepada mereka itu baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberikan tenggang waktu kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”
(QS. Ali 'Imran: 178)

Maka:

ditunda bukan berarti dibatalkan.

diberi waktu bukan berarti dibenarkan.

belum dihukum bukan berarti aman.

Jamaah...

Allah memberi kesempatan agar manusia bertobat, bukan agar manusia menambah dosa.


4. RAHMAT ALLAH SEHARUSNYA MEMBUAT KITA SEGERA BERTOBAT

Allah tidak mengatakan:

“Karena Aku Maha Pengampun, silakan terus berbuat dosa.”

Justru rahmat Allah seharusnya membuat kita malu untuk terus bermaksiat.

Allah berfirman:

QS. Az-Zumar: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Perhatikan panggilannya:

يَا عِبَادِيَ

“Wahai hamba-hamba-Ku.”

Bahkan kepada orang yang telah melampaui batas, Allah masih memanggil:

“hamba-hamba-Ku.”

Maka jangan mengatakan:

"Saya terlalu kotor untuk kembali kepada Allah."

Tidak!

Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.


5. NABI ﷺ MENJELASKAN BETAPA LUASNYA RAHMAT ALLAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Demi Allah, sungguh Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khattab رضي الله عنه.[^3]

Kisahnya sangat menyentuh.

Rasulullah ﷺ melihat seorang ibu di antara para tawanan yang sedang mencari anaknya. Ketika menemukan anaknya, ia langsung memeluk dan menyusuinya.

Lalu Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat:

أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟

“Apakah kalian mengira wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?”

Para sahabat menjawab:

لَا وَاللَّهِ

“Tidak, demi Allah.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.”[^3]

[diam sejenak]

Jamaah...

Kalau kasih sayang seorang ibu saja membuatnya tidak tega melihat anaknya menderita...

Bagaimana dengan rahmat Allah?

Karena itu...

jangan putus asa!


6. RAHMAT ALLAH JAUH LEBIH LUAS DARIPADA YANG KITA BAYANGKAN

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ

“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Dia menyimpan sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling menyayangi...”
(HR. Bukhari)[^4]

Bayangkan...

Kasih sayang yang kita lihat di dunia ini:

kasih sayang ibu kepada anak,

kasih sayang ayah kepada keluarga,

kasih sayang guru kepada murid,

kasih sayang manusia kepada sesama,

bahkan kasih sayang binatang kepada anaknya...

Semua itu berasal dari satu bagian rahmat.

Sembilan puluh sembilan bagian masih berada di sisi Allah.

Maka betapa luasnya rahmat Allah!


7. TETAPI RAHMAT TIDAK BOLEH MEMBUAT KITA MERASA AMAN DARI AZAB

Inilah keseimbangan iman.

Kita tidak boleh hanya takut sampai putus asa.

Tetapi kita juga tidak boleh hanya berharap sampai merasa aman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْأَسْ مِنَ الْجَنَّةِ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ

“Seandainya orang kafir mengetahui seluruh rahmat yang ada di sisi Allah, dia tidak akan berputus asa dari surga; dan seandainya seorang mukmin mengetahui seluruh azab yang ada di sisi Allah, dia tidak akan merasa aman dari neraka.”
(HR. Bukhari)[^5]

Ini keseimbangan seorang mukmin:

خَوْفٌ وَرَجَاءٌ

Takut dan berharap.

Berharap rahmat Allah membuat kita terus bangkit.

Takut kepada azab Allah membuat kita tidak berani bermain-main dengan dosa.


8. “بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ” — ADA WAKTU YANG TELAH DITETAPKAN

Allah berfirman:

بَلْ لَّهُمْ مَّوْعِدٌ

“Bahkan bagi mereka ada waktu yang telah ditentukan.”

Ada batas.

Ada ajal.

Ada hari pengadilan.

Ada waktu ketika semua penundaan berakhir.

Imam As-Sa'di رحمه الله berkata:

وَلَكِنَّهُ تَعَالَى حَلِيمٌ لَا يُعَاجِلُ بِالْعُقُوبَةِ، بَلْ يُمْهِلُ وَلَا يُهْمِلُ

“Namun Allah Maha Penyantun; Dia tidak menyegerakan hukuman. Dia memberi tenggang waktu, tetapi tidak mengabaikan.”

Kemudian beliau menjelaskan:

فَإِنْ تَابُوا وَأَنَابُوا غَفَرَ لَهُمْ وَرَحِمَهُمْ، وَإِلَّا... أَنْزَلَ بِهِمْ بَأْسَهُ

“Jika mereka bertobat dan kembali kepada Allah, Allah mengampuni dan merahmati mereka. Tetapi jika tidak, maka ketika waktu yang ditetapkan tiba, Allah menimpakan hukuman-Nya kepada mereka.”[^6]

Perhatikan kalimat:

يُمْهِلُ وَلَا يُهْمِلُ

“Allah memberi tenggang waktu, tetapi bukan berarti mengabaikan.”

Ini kalimat yang sangat dalam.

Allah melihat.

Allah mengetahui.

Allah mencatat.

Allah memberi waktu.

Dan Allah tidak pernah lalai.


9. “مَوْئِلًا” — TIDAK ADA TEMPAT BERLINDUNG

Allah menutup ayat:

لَّنْ يَّجِدُوْا مِنْ دُوْنِهٖ مَوْىِٕلًا

“Mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya.”

Kata مَوْئِلًا menunjukkan tempat berlindung, tempat menyelamatkan diri, tempat melarikan diri.

Hari itu manusia tidak bisa berkata:

“Ya Allah, saya punya uang.”

Tidak.

Tidak bisa berkata:

“Saya punya jabatan.”

Tidak.

Tidak bisa berkata:

“Saya punya keluarga yang kuat.”

Tidak.

Tidak bisa berkata:

“Saya punya pengaruh.”

Tidak.

Semua sebab dunia yang dahulu dibanggakan tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari keputusan Allah.

Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan:

لَنْ يَجِدُوا ... مَلْجَأً يَلْجَؤُونَ إِلَيْهِ، وَمَنْجًى يَنْجُونَ بِهِ

“Mereka tidak akan menemukan tempat berlindung untuk berlindung kepadanya, dan tidak menemukan tempat keselamatan untuk menyelamatkan diri dengannya.”[^7]

Ath-Thabari juga menyebutkan salah satu penafsiran tentang “موعد” dalam konteks ayat ini sebagai waktu hukuman yang telah ditetapkan; beliau menyebut pendapat yang mengaitkannya dengan peristiwa Badr.[^7]

Sementara Ibn Katsir menekankan makna umumnya: ketika waktu yang Allah tetapkan datang, tidak ada jalan untuk menghindar atau melarikan diri dari keputusan tersebut.[^1]


10. AL-QUR'AN MENEGASKAN: ALLAH MEMBERI WAKTU AGAR KITA KEMBALI

Allah berfirman:

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلْمِهِمْ ۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sungguh, Tuhanmu sangat keras siksaan-Nya.”
(QS. Ar-Ra'd: 6)[^8]

Lihat keseimbangannya:

مَغْفِرَةٍ

Ampunan.

Tetapi:

شَدِيدُ الْعِقَابِ

Sangat keras hukuman-Nya.

Artinya:

Islam tidak mengajarkan kita hanya mengenal Allah sebagai Zat yang menghukum.

Tetapi Islam juga tidak mengajarkan kita mengenal Allah hanya sebagai Zat yang mengampuni tanpa pertanggungjawaban.

Allah adalah:

الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

dan juga:

شَدِيدُ الْعِقَابِ

Karena itu, hati seorang mukmin berjalan di antara raja' dan khauf:

berharap kepada Allah,

takut kepada Allah.


11. JANGAN MENUNDA TAUBAT

Jamaah yang dirahmati Allah...

Salah satu jebakan terbesar manusia adalah:

“Nanti saja.”

Nanti kalau sudah tua.

Nanti kalau sudah pensiun.

Nanti kalau anak-anak sudah besar.

Nanti kalau sudah tidak sibuk.

Nanti kalau sudah puas menikmati dunia.

Nanti saya akan berubah.

Padahal siapa yang menjamin kita mempunyai “nanti”?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang melakukan dosa pada siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang melakukan dosa pada malam hari bertobat, sampai matahari terbit dari barat.”
(HR. Muslim no. 2759)[^9]

Subhanallah...

Malam datang:

Allah membuka pintu taubat.

Siang datang:

Allah membuka pintu taubat.

Bukan karena Allah membutuhkan taubat kita.

Tetapi karena Allah memberi kesempatan kepada kita.

Maka kalau hari ini kita masih hidup:

itu kesempatan.

Kalau malam ini kita masih bisa bersujud:

itu kesempatan.

Kalau hati kita masih tersentuh ketika mendengar Al-Qur'an:

itu kesempatan.

Kalau kita masih merasa bersalah ketika berbuat dosa:

itu kesempatan.

Jangan tunggu hati mati baru ingin kembali.


12. TIGA PESAN BESAR QS. AL-KAHF AYAT 58

PERTAMA: JANGAN PUTUS ASA

Kalau dosa kita banyak, jangan berkata:

"Allah tidak akan mengampuni saya."

Allah berfirman:

لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)[^10]

Selama seseorang benar-benar bertobat kepada Allah, pintu ampunan terbuka.


KEDUA: JANGAN MERASA AMAN

Kalau dosa belum dibalas, jangan berkata:

"Berarti Allah ridha."

Tidak.

Allah memberi tenggang waktu.

يُمْهِلُ وَلَا يُهْمِلُ

Allah menangguhkan, bukan mengabaikan.


KETIGA: GUNAKAN WAKTU SEBELUM WAKTU HABIS

Kita tidak tahu berapa lama lagi umur kita.

Maka jangan menunda:

taubat,

shalat,

membaca Al-Qur'an,

meminta maaf,

mengembalikan hak orang,

meninggalkan maksiat,

memperbaiki hubungan dengan Allah.

Karena Allah berfirman:

بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَّنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا

“Bahkan mereka mempunyai waktu yang telah ditetapkan, yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung darinya.”


13. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA

[Jamaah diajak diam sejenak]

Mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Sudah berapa lama Allah memberi kita kesempatan?

Sudah berapa banyak dosa yang Allah tutupi?

Sudah berapa banyak kesalahan yang tidak diketahui manusia?

Sudah berapa kali kita berbuat salah lalu Allah masih memberi kita pagi?

Masih memberi kita malam?

Masih memberi kesehatan?

Masih memberi keluarga?

Masih memberi rezeki?

Masih memberi kesempatan untuk bersujud?

[diam]

Jamaah...

Mungkin ada dosa yang kita lakukan bertahun-tahun lalu.

Tidak ada seorang pun yang tahu.

Tetapi Allah tahu.

Namun Allah tidak langsung menghukum kita.

Mengapa?

Bisa jadi itu adalah kesempatan untuk kembali.

Maka jangan jadikan kesabaran Allah sebagai alasan untuk terus bermaksiat.

Jadikan kesabaran Allah sebagai alasan untuk berkata:

“Ya Allah, saya ingin pulang.”


14. TAUBAT BUKAN SEKADAR MENANGIS

Taubat bukan hanya menangis.

Taubat bukan hanya mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

tetapi setelah itu kembali melakukan dosa yang sama tanpa usaha memperbaiki diri.

Taubat yang benar harus melahirkan perubahan.

Meninggalkan dosa.

Menyesal.

Berusaha tidak kembali.

Dan jika dosa berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus dikembalikan atau diselesaikan dengan cara yang benar.

Maka jangan hanya berkata:

“Allah Maha Pengampun.”

Tetapi buktikan bahwa kita benar-benar ingin kembali kepada Allah.


15. PENUTUP: JANGAN MENUNGGU AZAB UNTUK MENGENAL RAHMAT

Jamaah yang dirahmati Allah...

QS. Al-Kahf ayat 58 adalah ayat yang membuat kita berharap sekaligus waspada.

Allah berfirman:

وَرَبُّكَ الْغَفُوْرُ ذُو الرَّحْمَةِ

“Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang.”

Maka:

jangan putus asa.

Tetapi Allah juga berfirman:

بَلْ لَّهُمْ مَّوْعِدٌ

“Bahkan mereka mempunyai waktu yang telah ditentukan.”

Maka:

jangan merasa aman.

Dan Allah menutup:

لَّنْ يَّجِدُوْا مِنْ دُوْنِهٖ مَوْىِٕلًا

“Mereka tidak akan menemukan tempat berlindung darinya.”

Maka:

jangan menunda taubat.

[suara perlahan]

Mungkin selama ini kita merasa:

“Allah belum menghukum saya.”

Ubahlah cara berpikir itu menjadi:

“Allah masih memberi saya kesempatan.”

Mungkin selama ini kita berkata:

“Dosa saya terlalu banyak.”

Ubahlah menjadi:

“Rahmat Allah lebih luas daripada dosa saya.”

Tetapi jangan berhenti di sana.

Katakan:

“Karena Allah masih memberi saya kesempatan, maka hari ini saya akan kembali.”


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رَحْمَتَكَ وَمَغْفِرَتَكَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَضَبِكَ وَعَذَابِكَ.

“Ya Allah, kami memohon rahmat dan ampunan-Mu, dan kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan dan azab-Mu.”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَسَتْرْ عُيُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah aib-aib kami, terimalah taubat kami, dan rahmatilah kami dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang.”

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ أَمْهَلْتَهُمْ فَاغْتَرُّوا، وَلَا مِمَّنْ أَنْظَرْتَهُمْ فَأَصَرُّوا، وَلَكِنِ اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا أَذْنَبُوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا عَصَوْكَ تَابُوا، وَإِذَا ذُكِّرُوا تَذَكَّرُوا.

“Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang Engkau beri waktu lalu mereka tertipu, jangan jadikan kami orang-orang yang Engkau beri kesempatan lalu mereka terus-menerus dalam dosa. Jadikanlah kami orang-orang yang ketika berdosa segera memohon ampun, ketika bermaksiat segera bertobat, dan ketika diberi nasihat segera mengambil pelajaran.”

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

“Ya Allah, tutuplah kehidupan kami dengan iman dan ketaatan. Jadikan amal terbaik kami adalah amal-amal penutup kehidupan kami, dan jadikan hari terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE

[^1]: Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:58. Ibn Kathir menjelaskan keluasan ampunan dan rahmat Allah serta bahwa Allah tidak menyegerakan hukuman kepada manusia.

[^2]: Al-Qur'an, QS. Fathir [35]:45. Ayat ini menjadi penjelas kuat bahwa penangguhan hukuman merupakan bagian dari ketentuan Allah sampai waktu yang telah ditentukan.

[^3]: Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb at-Tawbah, no. 2754. Hadis tentang Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.

[^4]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, no. 6000. Hadis tentang Allah menjadikan rahmat seratus bagian dan menurunkan satu bagian ke bumi.

[^5]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, no. 6469. Hadis tentang keseimbangan antara harapan terhadap rahmat Allah dan rasa takut terhadap azab-Nya.

[^6]: As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:58. As-Sa'di menegaskan bahwa Allah memberi tenggang waktu tetapi tidak mengabaikan perbuatan manusia.

[^7]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:58. Ath-Thabari menjelaskan makna maw'il sebagai tempat berlindung atau keselamatan dari hukuman Allah.

[^8]: Al-Qur'an, QS. Ar-Ra'd [13]:6. Ayat ini menggabungkan dua sifat yang harus menghadirkan keseimbangan dalam hati: ampunan Allah dan kerasnya hukuman-Nya.

[^9]: Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb at-Tawbah, no. 2759. Hadis tentang terbukanya pintu taubat siang dan malam sampai matahari terbit dari barat.

[^10]: Al-Qur'an, QS. Az-Zumar [39]:53. Ayat yang menjadi salah satu ayat terbesar dalam membuka harapan bagi orang yang ingin kembali kepada Allah.

Inti pesan QS. Al-Kahf ayat 58:

اللَّهُ يُمْهِلُ لِيَتُوبَ الْعَبْدُ، وَلَا يُهْمِلُ مَا عَمِلَ الْعَبْدُ.

“Allah memberi tenggang waktu agar seorang hamba bertobat, tetapi Allah tidak mengabaikan apa yang telah dikerjakan seorang hamba.”

Maka selama masih ada umur, jangan menunda taubat. Dan selama Allah masih memberi kesempatan, jangan jadikan kesempatan itu untuk menambah dosa.

Tidak ada komentar