ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PENOLONG

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 51

“ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PENOLONG”

Meneguhkan Tauhid dan Tidak Menjadikan Setan sebagai Wali

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sebenar-benar takwa. Karena sesungguhnya kehidupan kita ini bukan milik kita. Tubuh kita milik Allah. Napas kita milik Allah. Rezeki kita milik Allah. Kekuatan kita milik Allah. Bahkan kemampuan kita untuk beribadah pun adalah pertolongan dari Allah.

Pada kesempatan ini kita melanjutkan tadabbur kita terhadap QS. Al-Kahf ayat 51.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

مَآ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْ ۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا ۝٥١

Artinya:

“Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”[1]

Perhatikan, jamaah...

Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang Iblis.

Ayat ini sedang menghancurkan sebuah cara berpikir:

Bagaimana mungkin makhluk yang tidak menciptakan apa pun dianggap memiliki kedudukan seperti Tuhan?

Bagaimana mungkin makhluk yang tidak menciptakan langit, tidak menciptakan bumi, bahkan tidak menciptakan dirinya sendiri, kemudian manusia menggantungkan ibadah kepadanya?

Bagaimana mungkin makhluk yang tidak mempunyai kekuasaan atas penciptaan, justru dijadikan tempat bergantung?


1. ALLAH ADALAH SATU-SATUNYA PENCIPTA

Allah berfirman:

مَآ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْ

“Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri.”

Ada sebuah pertanyaan penting:

Siapa yang menciptakan langit?

Allah.

Siapa yang menciptakan bumi?

Allah.

Siapa yang menciptakan manusia?

Allah.

Siapa yang menciptakan jin?

Allah.

Siapa yang menciptakan malaikat?

Allah.

Bahkan Iblis sendiri adalah makhluk Allah.

Iblis bukan pencipta.

Iblis adalah ciptaan.

Setan bukan Tuhan.

Setan adalah makhluk.

Maka tidak pantas makhluk mengambil kedudukan yang hanya pantas bagi Sang Khaliq.


2. PENJELASAN IMAM ATH-THABARI

Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan ayat ini:

مَا أَحْضَرْتُ إِبْلِيسَ وَذُرِّيَّتَهُ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ فَأَسْتَعِينَ بِهِمْ عَلَى خَلْقِهِمَا، وَلَا أَشْهَدْتُ بَعْضَهُمْ عَلَى خَلْقِ بَعْضٍ، بَلْ تَفَرَّدْتُ بِخَلْقِ جَمِيعِ ذَلِكَ بِغَيْرِ مُعِينٍ وَلَا ظَهِيرٍ.

Artinya:

“Aku tidak menghadirkan Iblis dan keturunannya ketika menciptakan langit dan bumi sehingga Aku meminta bantuan mereka dalam penciptaannya. Aku juga tidak menghadirkan sebagian mereka ketika menciptakan sebagian yang lain. Bahkan Aku sendirilah yang menciptakan semuanya tanpa bantuan dan tanpa penolong.”[2]

Jamaah yang dimuliakan Allah,

kalimat ini sangat kuat:

بِغَيْرِ مُعِينٍ وَلَا ظَهِيرٍ

“Tanpa bantuan dan tanpa penolong.”

Allah tidak membutuhkan asisten.

Allah tidak membutuhkan konsultan.

Allah tidak membutuhkan sekretaris.

Allah tidak membutuhkan pasukan untuk menciptakan alam semesta.

Ketika Allah menghendaki sesuatu, Allah cukup berfirman:

كُنْ

“Jadilah!”

Maka terjadilah.


3. ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN SIAPA PUN

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۖوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)

Kita membutuhkan Allah.

Allah tidak membutuhkan kita.

Kita membutuhkan udara.

Allah tidak membutuhkan udara.

Kita membutuhkan makanan.

Allah tidak membutuhkan makanan.

Kita membutuhkan tidur.

Allah tidak tidur.

Kita membutuhkan pertolongan.

Allah tidak membutuhkan pertolongan.

Kita membutuhkan orang lain.

Allah tidak membutuhkan siapa pun.

Karena itu, jangan pernah membalik posisi.

Jangan sampai kita sebagai hamba justru menggantungkan hati kepada makhluk, sementara Allah kita tinggalkan.


4. ALLAH TIDAK PERNAH MENGANGKAT SETAN SEBAGAI PEMBANTU

Allah berfirman:

وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا

“Dan Aku tidak menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”

Kata عَضُدًا (عَضُدًا) berkaitan dengan makna penolong, pembantu, penguat, atau pihak yang dijadikan sandaran.

Allah mengatakan:

Aku tidak menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai pembantu.

Maka ada pelajaran besar:

Jangan mencari pertolongan dari jalan yang Allah larang.

Jangan mencari ketenangan melalui maksiat.

Jangan mencari kesuksesan melalui cara haram.

Jangan mencari perlindungan dengan meminta kepada selain Allah dalam perkara yang hanya Allah mampu melakukannya.

Jangan mencari keberuntungan melalui perdukunan, ramalan, sihir, atau praktik kesyirikan.

Mengapa?

Karena sesuatu yang sejak awal dibangun di atas jalan setan tidak akan menjadi jalan keselamatan.


5. AYAT INI DILANJUTKAN DENGAN QS. SABA' AYAT 22

Allah berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۚ لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ ۝٢٢

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki kekuasaan seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’”
(QS. Saba': 22)

Ayat ini memberikan tiga bantahan yang sangat kuat terhadap kesyirikan.

Pertama:

لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

Mereka tidak memiliki kekuasaan sebesar zarah sekalipun.

Kedua:

وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ

Mereka tidak mempunyai saham atau bagian dalam penciptaan langit dan bumi.

Ketiga:

وَمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ

Allah tidak mempunyai pembantu dari mereka.

Jadi, Allah tidak membutuhkan partner.

Tidak membutuhkan sekutu.

Tidak membutuhkan penolong.

Tidak membutuhkan wakil dalam menciptakan alam.


6. TAFSIR IBN KATSIR: ALLAH SENDIRIAN DALAM MENCIPTAKAN

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:

أَنَا الْمُسْتَقِلُّ بِخَلْقِ الْأَشْيَاءِ كُلِّهَا، وَمُدَبِّرُهَا وَمُقَدِّرُهَا وَحْدِي، لَيْسَ مَعِيَ فِي ذَلِكَ شَرِيكٌ وَلَا وَزِيرٌ وَلَا مُشِيرٌ وَلَا نَظِيرٌ.

Artinya:

“Aku sendirilah yang menciptakan seluruh sesuatu, mengaturnya dan menentukannya. Tidak ada bersama-Ku dalam hal itu sekutu, pembantu, penasihat, maupun yang menyamai.”[3]

Subhanallah.

Ini inti tauhid:

Allah satu dalam penciptaan.

Allah satu dalam pengaturan.

Allah satu dalam kekuasaan.

Allah satu dalam ibadah.


7. KALAU ALLAH SATU-SATUNYA PENCIPTA, MAKA ALLAH SATU-SATUNYA YANG BERHAK DISEMBAH

Inilah hubungan antara tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.

Allah adalah Rabb karena Dia menciptakan, memiliki, mengatur dan memelihara.

Karena Dia Rabb, maka Dia satu-satunya yang berhak menjadi Ilah, satu-satunya yang berhak menerima ibadah.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۝٢١

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)

Perhatikan urutannya:

اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ

“Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu.”

Karena Dia yang menciptakan kita, maka kepada-Nya kita beribadah.


8. TUJUAN PENCIPTAAN KITA ADALAH BERIBADAH KEPADA ALLAH

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jamaah yang dirahmati Allah,

kita sering bertanya:

“Untuk apa saya hidup?”

Allah sudah memberikan jawabannya.

Bukan sekadar untuk kaya.

Bukan sekadar untuk mempunyai jabatan.

Bukan sekadar untuk membangun rumah.

Bukan sekadar untuk mempunyai kendaraan.

Bukan sekadar untuk menikah.

Bukan sekadar untuk mempunyai anak.

Semua itu boleh menjadi bagian kehidupan.

Tetapi tujuan tertinggi kehidupan adalah:

لِيَعْبُدُونِ

“Agar mereka beribadah kepada-Ku.”


9. RISIKO TERBESAR: MANUSIA MENJADIKAN SETAN SEBAGAI WALI

Ayat sebelumnya, QS. Al-Kahf ayat 50, telah mengatakan:

اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۗ

“Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu?”

Kemudian ayat 51 menjelaskan:

Mereka tidak menciptakan apa pun.

Mereka bukan pembantu Allah.

Mereka bukan penguasa alam.

Mereka adalah makhluk.

Lalu mengapa manusia mengikuti mereka?


10. SETAN TIDAK MENCIPTAKAN MANUSIA, TETAPI IA INGIN MENGUASAI ARAH HIDUP MANUSIA

Jamaah,

setan tidak mempunyai kekuasaan mutlak terhadap manusia.

Ia menggoda.

Ia membisikkan.

Ia menghiasi keburukan.

Ia mengajak.

Tetapi keputusan tetap berada pada manusia.

Allah menggambarkan pengakuan Iblis pada hari kiamat:

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۖ فَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۖ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗ اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۝٢٢

“Dan setan berkata ketika perkara telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, sedangkan aku telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaanku terhadapmu melainkan sekadar aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencela aku, tetapi celalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat memenuhi permintaan pertolonganmu dan kamu pun tidak dapat memenuhi permintaan pertolonganku. Sesungguhnya sejak dahulu aku mengingkari perbuatanmu mempersekutukan aku dengan Allah.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim mendapat siksaan yang pedih.”
(QS. Ibrahim: 22)

Perhatikan pengakuan Iblis:

وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ

Ia tidak mengatakan:

“Aku memaksa kalian.”

Tetapi:

إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي

“Aku hanya mengajak kalian, lalu kalian memenuhi ajakanku.”

Ini sangat penting.

Jangan mengatakan:

“Setan membuat saya berbuat dosa.”

Setan memang menggoda.

Tetapi kita tetap mempunyai pilihan dan tanggung jawab.


11. APAKAH SETAN MEMILIKI KEKUATAN?

Kita harus memahami secara seimbang.

Setan mempunyai kemampuan menggoda, membisikkan dan menyesatkan.

Namun ia tidak memiliki kekuasaan mutlak.

Allah berfirman:

إِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ ۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ وَكِيْلًا ۝٦٥

“Sesungguhnya terhadap hamba-hamba-Ku, kamu tidak mempunyai kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.”
(QS. Al-Isra': 65)

Maka seorang mukmin tidak boleh takut kepada setan melebihi takutnya kepada Allah.

Kita berlindung kepada Allah dari setan.

Kita tidak menyembah setan.

Kita tidak meminta perlindungan kepada setan.

Kita tidak mengikuti jalan setan.


12. HADIS TENTANG ASAL PENCIPTAAN MALAIKAT, JIN, DAN ADAM

Rasulullah ﷺ bersabda:

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

Artinya:

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian.”
(HR. Muslim no. 2996)

Tetapi perbedaan asal penciptaan tidak pernah membuat salah satu makhluk menjadi Tuhan.

Semuanya tetap:

مَخْلُوقٌ

Makhluk.

Dan makhluk tidak berhak menerima ibadah.


13. ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN SETAN UNTUK MENGATUR ALAM

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۚ لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ

“Katakanlah, ‘Serulah mereka yang kamu anggap sebagai tuhan selain Allah! Mereka tidak memiliki kekuasaan seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam keduanya, dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’”
(QS. Saba': 22)

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ، يَقُولُ: وَمَا لِلَّهِ مِنَ الْآلِهَةِ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مُعِينٌ عَلَى خَلْقِ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَلَا عَلَى حِفْظِهِ.

Artinya:

“Tidak ada bagi Allah dari sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain-Nya seorang pembantu dalam menciptakan sesuatu pun dari semua itu, dan tidak pula dalam menjaganya.”[4]


14. IBNU KATSIR: SEMUA MAKHLUK ADALAH FAKIR KEPADA ALLAH

Ibnu Katsir menjelaskan:

بَلِ اللَّهُ الْمُسْتَقِلُّ بِالْأَمْرِ وَحْدَهُ، مِنْ غَيْرِ مُشَارِكٍ وَلَا مُنَازِعٍ وَلَا مُعَارِضٍ.

Artinya:

“Allah-lah yang berdiri sendiri dalam mengatur seluruh perkara, tanpa sekutu, tanpa pihak yang menandingi dan tanpa pihak yang menentang.”[5]

Maka jangan menggantungkan hati kepada makhluk.

Kita boleh meminta bantuan manusia dalam perkara yang memang manusia mampu lakukan.

Guru membantu murid.

Dokter membantu pasien.

Orang tua membantu anak.

Teman membantu temannya.

Tetapi hati tetap yakin:

المُعِينُ حَقِيقَةً هُوَ اللَّهُ

“Penolong yang hakiki adalah Allah.”

Manusia hanyalah sebab.

Allah adalah Musabbib al-Asbab, Zat yang menciptakan dan mengatur sebab.


15. AS-SA'DI: MENGAPA MENJADIKAN SETAN SEBAGAI WALI?

Syaikh As-Sa'di رحمه الله mengatakan:

فَكَيْفَ يَجْعَلُ لَهُ شُرَكَاءَ مِنَ الشَّيَاطِينِ، يُوَالُونَ وَيُطَاعُونَ، كَمَا يُطَاعُ اللَّهُ، وَهُمْ لَمْ يَخْلُقُوا وَلَمْ يُشَاهِدُوا خَلْقًا وَلَمْ يُعَاوِنُوا اللَّهَ تَعَالَى؟

Artinya:

“Bagaimana mungkin mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu dari kalangan setan, yang mereka loyal kepada dan mereka taati sebagaimana Allah ditaati, padahal mereka tidak menciptakan sesuatu, tidak menyaksikan penciptaan, dan tidak membantu Allah sedikit pun?”[6]

Ini teguran yang sangat dalam.

Setan tidak menciptakan kita.

Setan tidak memberikan rezeki kepada kita.

Setan tidak memberikan kehidupan kepada kita.

Setan tidak mengampuni dosa kita.

Setan tidak menentukan surga dan neraka.

Lalu mengapa kita menaati setan ketika Allah memerintahkan sesuatu?


16. HAK ALLAH ATAS HAMBA-NYA ADALAH IBADAH HANYA KEPADA-NYA

Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه:

يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ؟

Mu'adz menjawab:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya:

“Tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba?”

Mu'adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda:

“Yaitu mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
(HR. Bukhari no. 7373; Muslim no. 30b)

Jamaah yang dirahmati Allah,

inilah inti QS. Al-Kahf ayat 51.

Allah menciptakan.

Allah mengatur.

Allah memberi rezeki.

Allah menghidupkan.

Allah mematikan.

Allah memiliki seluruh kerajaan.

Maka:

Allah pula satu-satunya yang berhak menerima ibadah.


17. JANGAN SAMPAI KITA MENGIKUTI SETAN DALAM HAL YANG KITA TAHU SALAH

Kadang-kadang kita tidak menyembah patung.

Tidak menyembah berhala.

Tidak bersujud kepada setan.

Tetapi tanpa sadar kita mengikuti jalan setan.

Allah berfirman:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا ۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ ۝٦

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
(QS. Fathir: 6)

Maka pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah saya menyembah setan?”

Tetapi:

“Apakah saya sedang mengikuti jalan yang setan sukai?”

Ketika seseorang meninggalkan salat karena malas, siapa yang senang?

Ketika seseorang memutus silaturahmi karena dendam, siapa yang senang?

Ketika seseorang membuka aurat dan mempertontonkan maksiat, siapa yang senang?

Ketika seseorang mengambil harta haram, siapa yang senang?

Ketika seseorang menyebarkan fitnah, siapa yang senang?

Ketika seseorang menghina orang lain, siapa yang senang?

Ketika seseorang sombong dan merendahkan orang lain, siapa yang senang?

Maka kita harus waspada.


18. PERLINDUNGAN TERBESAR BUKAN PADA KEKUATAN KITA, TETAPI PADA ALLAH

Allah mengajarkan:

وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۝٩٧ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ۝٩٨

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.’”
(QS. Al-Mu'minun: 97–98)

Perhatikan:

أَعُوذُ بِكَ

“Aku berlindung kepada-Mu.”

Bukan:

“Aku berlindung kepada kekuatanku.”

Bukan:

“Aku berlindung kepada kemampuan pikiranku.”

Tetapi:

أَعُوذُ بِكَ يَا رَبِّ

“Ya Rabb, aku berlindung kepada-Mu.”


19. JANGAN TAKUT KEPADA SETAN, TAKUTLAH KEPADA ALLAH

Allah berfirman:

اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١٧٥

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti pengikut-pengikutnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Ali 'Imran: 175)

Setan ingin membuat manusia takut.

Takut miskin.

Takut kehilangan.

Takut tidak punya masa depan.

Takut tidak diterima manusia.

Takut meninggalkan maksiat karena khawatir kehilangan kesenangan.

Padahal seorang mukmin berkata:

Allah cukup bagiku.


20. ADA PERBEDAAN ANTARA MEMINTA BANTUAN MANUSIA DAN MEMPERSEKUTUKAN ALLAH

Ini juga penting agar kita tidak salah memahami ayat.

Islam tidak melarang manusia saling membantu.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)

Jadi:

meminta dokter mengobati — boleh.

meminta guru mengajarkan — boleh.

meminta teman membantu pekerjaan — boleh.

meminta orang tua mendoakan — boleh.

Tetapi keyakinan hati tetap:

Semua sebab tidak akan bekerja kecuali dengan izin Allah.

Dokter bukan Tuhan.

Obat bukan Tuhan.

Pekerjaan bukan Tuhan.

Atasan bukan Tuhan.

Uang bukan Tuhan.

Jabatan bukan Tuhan.

Semua hanyalah sebab.

Allah-lah yang menentukan hasilnya.


21. TIGA PERTANYAAN UNTUK MENGUJI TAUHID KITA

Jamaah yang dirahmati Allah,

setelah membaca QS. Al-Kahf ayat 51, mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Pertanyaan pertama:

Siapa yang menciptakan saya?

Jawab:

Allah.

Pertanyaan kedua:

Siapa yang memberikan rezeki kepada saya?

Jawab:

Allah.

Pertanyaan ketiga:

Kalau demikian, kepada siapa saya harus beribadah?

Jawab:

Allah.

Inilah tauhid.


22. JANGAN MENJADIKAN MAKHLUK SEBAGAI TUJUAN AKHIR HATI

Ada manusia yang hidupnya seluruhnya untuk manusia.

Ia bekerja agar dipuji.

Ia bersedekah agar disebut dermawan.

Ia mengajar agar disebut guru hebat.

Ia berbuat baik agar dipandang.

Ia beribadah agar dipuji.

Akhirnya manusia menjadi tujuan.

Padahal manusia hanyalah makhluk.

Allah mengajarkan:

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۝١٦٢ لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۖ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ ۝١٦٣

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang yang pertama berserah diri.’”
(QS. Al-An'am: 162–163)

Subhanallah.

Bukan hanya salat yang untuk Allah.

Hidup pun untuk Allah.


23. PELAJARAN BESAR DARI QS. AL-KAHF AYAT 51

Mari kita simpulkan.

Pertama:

Allah adalah satu-satunya Pencipta.

Kedua:

Allah menciptakan tanpa membutuhkan bantuan siapa pun.

Ketiga:

Iblis dan setan hanyalah makhluk.

Keempat:

Setan tidak memiliki saham dalam penciptaan alam.

Kelima:

Setan bukan penolong Allah.

Keenam:

Setan adalah musuh manusia.

Ketujuh:

Karena Allah satu-satunya Pencipta dan Penguasa, maka hanya Allah yang berhak menerima ibadah.

Kedelapan:

Kita boleh menggunakan sebab dan meminta bantuan manusia, tetapi hati tidak boleh bergantung secara mutlak kepada makhluk.

Kesembilan:

Jangan mengikuti setan karena ia hanya mengajak, sementara manusia tetap bertanggung jawab atas pilihannya.

Kesepuluh:

Tauhid bukan hanya ucapan “Allah itu satu”, tetapi menyerahkan ibadah, ketundukan, cinta tertinggi, rasa takut, harapan dan tawakal kepada Allah.


PENUTUP

Jamaah yang dimuliakan Allah...

QS. Al-Kahf ayat 51 seakan-akan bertanya kepada kita:

Kalau Iblis tidak menciptakan langit...

Kalau Iblis tidak menciptakan bumi...

Kalau Iblis tidak menciptakan dirinya sendiri...

Kalau Iblis bukan penolong Allah...

Kalau Iblis justru musuh manusia...

Lalu mengapa manusia mau mengikuti Iblis?

[diam sejenak]

Mengapa kita meninggalkan perintah Allah demi mengikuti bisikan hawa nafsu?

Mengapa kita rela kehilangan ridha Allah demi mendapatkan pujian manusia?

Mengapa kita memilih jalan maksiat padahal kita tahu ujungnya adalah penyesalan?

Padahal Allah yang menciptakan kita.

Allah yang memberi kita kehidupan.

Allah yang memberikan mata.

Allah yang memberikan telinga.

Allah yang memberikan keluarga.

Allah yang memberikan rezeki.

Allah yang memberikan kesempatan untuk bertaubat.

Maka jangan tukar Allah dengan makhluk.

Jangan tukar akhirat dengan dunia.

Jangan tukar ketaatan dengan kesenangan sesaat.

Dan jangan tukar jalan Allah dengan jalan setan.

Karena pada akhirnya manusia akan kembali kepada Allah.

Mari kita tanamkan dalam hati:

اللَّهُ رَبِّي، وَاللَّهُ خَالِقِي، وَاللَّهُ مَعْبُودِي، وَاللَّهُ وَحْدَهُ أَسْتَعِينُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ.

“Allah adalah Rabb-ku. Allah adalah Penciptaku. Allah adalah satu-satunya yang aku sembah. Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan dan kepada-Nya aku kembali.”

DOA

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ.

“Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الشِّرْكِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيَاطِينِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نَتَّبِعَ الْهَوَى وَنَتْرُكَ الْهُدَى.

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesyirikan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan setan. Dan kami berlindung kepada-Mu agar tidak mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan petunjuk-Mu.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُوَحِّدِينَ، الْمُخْلِصِينَ، الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ.

“Ya Allah, jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertauhid, ikhlas dan bertawakal kepada-Mu.”

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا تَعَلُّقًا بِغَيْرِكَ، وَلَا رَجَاءً فِي غَيْرِكَ، وَلَا خَوْفًا مِنْ غَيْرِكَ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُعَلَّقَةً بِكَ وَحْدَكَ.

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan hati kami bergantung kepada selain-Mu, jangan Engkau jadikan harapan kami kepada selain-Mu, dan jangan Engkau jadikan ketakutan kami kepada selain-Mu. Jadikan hati kami hanya bergantung kepada-Mu.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”
(QS. Ali 'Imran: 8)

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI / RUJUKAN

[^1]: Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 51.

[^2]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 51. Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah tidak menghadirkan Iblis dan keturunannya ketika penciptaan langit dan bumi untuk meminta bantuan mereka; Allah menciptakan semuanya tanpa mu‘īn dan zhahīr.

[^3]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 51. Ibn Katsir menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya yang independen dalam menciptakan, mengatur dan menentukan segala sesuatu.

[^4]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Saba' [34]: 22. Ath-Thabari menjelaskan bahwa tidak ada sesembahan selain Allah yang memiliki bagian dalam kerajaan langit dan bumi ataupun menjadi pembantu Allah dalam penciptaan dan pemeliharaannya.

[^5]: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Saba' [34]: 22. Beliau menegaskan bahwa Allah berdiri sendiri dalam pengaturan, tanpa sekutu, tandingan ataupun pembantu.

[^6]: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 51. As-Sa'di menekankan bahwa tidak masuk akal menjadikan setan sebagai sekutu Allah dalam ketaatan, karena mereka tidak menciptakan apa pun dan tidak membantu Allah dalam penciptaan.

[^7]: Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 51. Al-Qurthubi menyebut beberapa kemungkinan cakupan dhamir dalam ayat, namun konteksnya menunjukkan bantahan terhadap anggapan bahwa Iblis dan keturunannya memiliki peran dalam penciptaan atau layak dijadikan wali selain Allah.

[^8]: Muslim bin al-Hajjaj, Shahīh Muslim, no. 2996, hadis tentang penciptaan malaikat dari cahaya, jin dari nyala api, dan Adam dari unsur yang telah dijelaskan dalam wahyu.

[^9]: Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, no. 7373; Muslim, Shahīh Muslim, no. 30b, hadis Mu'adz bin Jabal tentang hak Allah atas hamba, yaitu agar mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya.

Tidak ada komentar