IBLIS: MUSUH YANG SERING KITA IKUTI

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 50

“IBLIS: MUSUH YANG SERING KITA IKUTI”

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah…

Kita telah sampai pada QS. Al-Kahf ayat 50.

Ayat sebelumnya berbicara tentang hari kiamat, kitab amal, dan pertanggungjawaban manusia.

Sekarang Allah membawa kita kepada akar persoalan yang sangat penting:

Siapa musuh manusia yang sejak awal berusaha menyeret manusia menuju kebinasaan?

Jawabannya:

Iblis dan bala tentaranya dari kalangan setan.

Allah berfirman:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا

“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah Iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim.”

QS. Al-Kahf: 50

[diam]

Jamaah…

Ayat ini seolah-olah mengatakan kepada kita:

“Wahai manusia, kamu sedang membaca sejarah musuhmu. Jangan sampai kamu mengulang kesalahan musuhmu.”


1. KETAATAN PARA MALAIKAT DAN PEMBANGKANGAN IBLIS

Allah berfirman:

اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا

“Sujudlah kalian kepada Adam, maka mereka pun bersujud.”

Semua malaikat taat.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada:

“Kenapa harus Adam?”

Tidak ada:

“Saya lebih baik.”

Tidak ada:

“Menurut saya perintah ini tidak cocok.”

Mereka tunduk kepada perintah Allah.

Kemudian:

إِلَّا إِبْلِيسَ

“Kecuali Iblis.”

Di sinilah tragedi itu dimulai.

Iblis bukan tidak tahu Allah.

Iblis bukan tidak mengenal Allah.

Masalahnya bukan kurang informasi.

Masalahnya adalah kesombongan.

Ia mengetahui perintah Allah tetapi menolak tunduk.


2. IBLIS ADALAH DARI GOLONGAN JIN

Allah secara tegas berfirman:

كَانَ مِنَ الْجِنِّ

“Dia adalah dari golongan jin.”

Ini penting untuk dipahami.

Iblis bukan malaikat menurut keterangan eksplisit Al-Qur’an dalam ayat ini.

Ibnu Katsir menjelaskan:

أَيْ أَصْلُهُ مِنَ الْجِنِّ، خُلِقَ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Yakni asalnya dari golongan jin; ia diciptakan dari nyala api.”[^1]

Ibnu Katsir juga menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri:

مَا كَانَ إِبْلِيسُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ طَرْفَةَ عَيْنٍ قَطُّ، وَإِنَّهُ لَأَصْلُ الْجِنِّ، كَمَا أَنَّ آدَمَ أَصْلُ الْبَشَرِ

“Iblis tidak pernah menjadi bagian dari malaikat walaupun sekejap mata. Sesungguhnya dia adalah asal dari bangsa jin, sebagaimana Adam adalah asal manusia.”[^1]

Imam Al-Baghawi juga menukil dua pendapat, tetapi menyebut pendapat Al-Hasan bahwa Iblis berasal dari jin dan merupakan asal jin sebagaimana Adam merupakan asal manusia.

Maka yang pasti bagi kita adalah apa yang Allah nyatakan:

Iblis dari golongan jin.


3. JIN DICIPTAKAN DARI API

Rasulullah ﷺ menjelaskan asal penciptaan makhluk:

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian.”

HR. Muslim no. 2996.

Jadi terdapat perbedaan asal penciptaan:

Malaikat — dari cahaya.

Jin — dari nyala api.

Adam — dari apa yang telah Allah jelaskan dalam wahyu.

Namun yang perlu diperhatikan:

asal penciptaan bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah.


4. KESOMBONGAN IBLIS: “AKU LEBIH BAIK DARINYA”

Mengapa Iblis tidak mau sujud?

Al-Qur’an menjelaskan dengan sangat jelas.

Allah berfirman:

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗ قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’”

QS. Al-A‘raf: 12.

Perhatikan kalimat Iblis:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

“Aku lebih baik darinya.”

Inilah akar kesombongan:

“Aku lebih baik.”

Jamaah…

Berapa banyak penyakit manusia yang dimulai dari kalimat semacam ini?

“Saya lebih pintar.”

“Saya lebih kaya.”

“Saya lebih senior.”

“Saya lebih alim.”

“Saya lebih berjasa.”

“Saya lebih pantas.”

“Saya lebih layak.”

“Saya lebih baik.”

Hati-hati.

Karena Iblis jatuh bukan karena tidak memiliki amal.

Iblis jatuh karena kesombongan terhadap perintah Allah.


5. KESOMBONGAN BUKAN SEKADAR SOAL MERASA TINGGI

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Seseorang tidak akan masuk surga apabila di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.”

Kemudian seorang sahabat bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus.

Nabi ﷺ menjelaskan:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

HR. Muslim no. 91.

Perhatikan definisinya:

بَطَرُ الْحَقِّ

Menolak kebenaran.

Dan:

غَمْطُ النَّاسِ

Meremehkan manusia.

Jadi seseorang bisa berpakaian bagus tanpa sombong.

Bisa kaya tanpa sombong.

Bisa memiliki jabatan tanpa sombong.

Yang menjadi masalah adalah ketika hati mengatakan:

“Saya lebih tinggi daripada orang lain.”


6. IBLIS TIDAK HANYA MENOLAK — IA MEMBANGUN LOGIKA UNTUK PEMBANGKANGANNYA

Jamaah…

Ini menarik.

Iblis tidak sekadar mengatakan:

“Saya tidak mau.”

Dia membuat argumentasi:

“Aku dari api.”

“Adam dari tanah.”

“Api lebih tinggi daripada tanah.”

“Maka aku lebih baik.”

Secara lahiriah seperti sebuah argumentasi.

Tetapi argumentasi itu salah.

Mengapa?

Karena dia menggunakan ukuran yang dia buat sendiri untuk menolak perintah Allah.

Ini pelajaran besar:

Tidak semua argumentasi yang terdengar logis itu benar.

Sebab kebenaran bukan sekadar apakah kita bisa membuat alasan.

Kebenaran adalah:

apakah alasan itu tunduk kepada wahyu Allah?


7. KETAATAN KEPADA ALLAH DI ATAS EGO

Jamaah…

Kadang Allah memerintahkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita.

Kita taat.

Mudah.

Tetapi ujian sebenarnya terjadi ketika perintah Allah bertemu dengan ego kita.

Ketika:

Allah menyuruh memaafkan, ego ingin membalas.

Allah menyuruh jujur, kepentingan ingin berdusta.

Allah menyuruh menundukkan pandangan, hawa nafsu ingin melihat.

Allah melarang riba, keuntungan ingin mengambilnya.

Allah melarang ghibah, lidah ingin membicarakannya.

Allah menyuruh menjaga salat, rasa malas berkata:

“Nanti saja.”

Di situlah kita diuji.

Siapa yang menjadi pemimpin: wahyu atau hawa nafsu?


8. “فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ”

Iblis Keluar dari Ketaatan

Allah berfirman:

فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Maka dia mendurhakai perintah Tuhannya.”

Kata فَسَقَ bermakna keluar dari ketaatan.

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

فَخَرَجَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ، وَعَدَلَ عَنْهُ وَمَالَ

“Dia keluar dari perintah Tuhannya, menyimpang darinya dan berpaling darinya.”[^2]

Jamaah…

Perhatikan urutannya:

Sombong → menolak perintah → keluar dari ketaatan.

Ini sering menjadi pola dosa manusia.

Awalnya:

“Ah, saya tahu.”

Kemudian:

“Saya punya alasan.”

Kemudian:

“Tidak apa-apa.”

Kemudian:

“Semua orang juga melakukan.”

Akhirnya:

dosa menjadi kebiasaan.


9. IBLIS ADALAH MUSUH, BUKAN TEMAN

Kemudian Allah bertanya:

أَفَتَتَّخِذُونَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗ أَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu?”

Ini pertanyaan yang sangat tajam.

Musuh kok dijadikan wali?

Musuh kok diikuti?

Musuh kok dipercaya?

Musuh kok dituruti?

Musuh kok dijadikan panutan?

Allah mengatakan:

وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Padahal mereka adalah musuh kalian.”

Imam As-Sa‘di berkata:

فَتَبَيَّنَ بِهَذَا عَدَاوَتُهُ لِلَّهِ وَلِأَبِيكُمْ وَلَكُمْ

“Dengan demikian jelaslah permusuhannya kepada Allah, kepada bapak kalian (Adam), dan kepada kalian.”[^3]

Kemudian beliau berkata:

وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ الْحَثُّ عَلَى اتِّخَاذِ الشَّيْطَانِ عَدُوًّا

“Dalam ayat ini terdapat dorongan agar menjadikan setan sebagai musuh.”[^3]


10. ALLAH SUDAH MENGUMUMKAN PERANGKAT MUSUH KITA

Allah berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah dia sebagai musuh. Sesungguhnya dia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

QS. Fatir: 6

Perhatikan:

Allah tidak mengatakan:

“Kenali dia saja.”

Tetapi:

فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Jadikanlah dia sebagai musuh.”

Artinya kita harus sadar bahwa perjuangan melawan setan adalah bagian dari kehidupan seorang mukmin.


11. SETAN TIDAK SELALU MENGAJAK KITA LANGSUNG KEPADA DOSA BESAR

Jamaah…

Setan sangat cerdas dalam menggoda manusia.

Dia tidak selalu mengatakan:

“Ayo berbuat dosa besar.”

Kadang dimulai dari:

“Sedikit saja.”

“Nanti taubat.”

“Tidak ada yang tahu.”

“Cuma sekali.”

“Kamu pantas membalas.”

“Dia memang layak dipermalukan.”

“Orang lain juga begitu.”

“Allah Maha Pengampun.”

Kalimat terakhir bahkan bisa benar secara lafaz tetapi disalahgunakan untuk membenarkan dosa.

Allah memang Maha Pengampun.

Tetapi jangan menjadikan rahmat Allah sebagai alasan untuk sengaja bermaksiat.


12. SETAN MENJANJIKAN KEMISKINAN DAN MENDORONG KEKIKIRAN

Allah berfirman:

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

QS. Al-Baqarah: 268

Setan berkata:

“Kalau sedekah, nanti miskin.”

Allah berkata:

“Aku menjanjikan ampunan dan karunia.”

Setan berkata:

“Kalau kamu jujur, kamu rugi.”

Allah berkata:

“Aku bersama orang-orang yang bertakwa.”

Setan berkata:

“Kalau kamu meninggalkan yang haram, kamu kehilangan keuntungan.”

Allah mengajarkan:

rezeki tidak pernah keluar dari kekuasaan Allah.


13. CARA SETAN MENGGODA: WAS-WAS

Allah berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ۝ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ۝ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Dari kejahatan pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.”

QS. An-Nas: 4–6

Setan bekerja dengan waswas.

Membisik.

Tidak memaksa manusia.

Mengajak.

Membujuk.

Menghias keburukan.

Membuat dosa terlihat indah.

Allah berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ

“Setan menjadikan perbuatan mereka terlihat indah bagi mereka.”

QS. An-Nahl: 63


14. SETAN TIDAK MEMILIKI KEKUASAAN MUTLAK

Ini penting.

Jangan sampai kita berpikir:

“Setan bisa membuat saya melakukan apa saja.”

Tidak.

Allah berfirman tentang Iblis:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka, kecuali orang-orang sesat yang mengikutimu.”

QS. Al-Hijr: 42

Setan menggoda.

Tetapi manusia tetap memiliki pilihan dan tanggung jawab.

Karena itu jangan berkata:

“Setan yang membuat saya.”

Pada hari kiamat, Iblis sendiri akan mengatakan:

وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي

“Aku tidak memiliki kekuasaan terhadapmu, kecuali aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku.”

QS. Ibrahim: 22

Maka setan bukan alasan untuk melepaskan tanggung jawab.


15. SETAN BERUSAHA MEMECAH BELAH MANUSIA

Jamaah…

Salah satu pekerjaan setan adalah membuat manusia bertengkar.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ

“Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu.”

QS. Al-Ma’idah: 91

Maka ketika suami istri mulai saling menghina…

ketika saudara saling bermusuhan…

ketika teman saling menjatuhkan…

ketika umat saling membenci…

kita harus waspada.

Jangan sampai kita sibuk bertengkar satu sama lain sementara setan tertawa karena berhasil memecah kita.


16. RASULULLAH ﷺ MENGINGATKAN TENTANG DEKATNYA GODAAN SETAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti mengalirnya darah.”

HR. Bukhari no. 7171.

Hadis ini menunjukkan betapa dekatnya godaan setan terhadap manusia.

Karena itu seorang mukmin tidak boleh merasa:

“Saya sudah aman.”

Justru orang yang merasa aman dari godaan bisa menjadi lengah.


17. JANGAN MEMBERI SETAN PINTU MASUK

Maka kita harus membangun perlindungan.

Pertama: Dzikir kepada Allah.

Kedua: Membaca Al-Qur'an.

Ketiga: Menjaga salat.

Keempat: Menjaga pandangan.

Kelima: Menjaga lisan.

Keenam: Menjauhi lingkungan yang menyeret kepada maksiat.

Ketujuh: Segera bertaubat ketika jatuh dalam dosa.

Kedelapan: Membaca isti‘adzah ketika muncul waswas.

Allah berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika setan benar-benar menggodamu dengan suatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

QS. Fussilat: 36

Ucapkan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”


18. PERTANYAAN ALLAH: “APAKAH KALIAN MENJADIKANNYA WALI?”

Allah berfirman:

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي

“Apakah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai wali selain Aku?”

Makna أَوْلِيَاءَ di sini berkaitan dengan menjadikan mereka sebagai pihak yang diikuti, ditaati dan dijadikan pelindung/pemimpin dalam menggantikan ketaatan kepada Allah.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan:

بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا أَيْ بَئْسَ إِبْلِيسُ بَدَلًا مِنَ اللَّهِ

“Seburuk-buruk pengganti bagi orang-orang zalim adalah Iblis sebagai pengganti dari Allah.”[^4]

Ini bukan berarti manusia secara harfiah menyembah setan setiap kali melakukan dosa.

Tetapi setiap kali seseorang mengikuti ajakan setan dalam menentang Allah, dia sedang memberi setan ruang sebagai pihak yang ditaati.


19. SIAPA WALI KITA?

Allah memberikan pilihan yang jelas:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Adapun orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah tagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.”

QS. Al-Baqarah: 257

Ada dua arah:

Wilayah Allah → menuju cahaya.

Mengikuti setan/tagut → menuju kegelapan.

Maka kehidupan seorang mukmin sebenarnya adalah perjuangan memilih:

siapa yang akan saya ikuti?


20. IBLIS MENGINGINKAN KITA MELUPAKAN TUJUAN HIDUP

Jamaah…

Setan tidak hanya ingin kita melakukan dosa.

Lebih jauh:

setan ingin kita lupa kepada Allah.

Allah berfirman:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ

“Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.”

QS. Al-Mujadilah: 19

Maka salah satu tanda bahaya bukan hanya:

“Apakah saya melakukan dosa?”

Tetapi:

“Apakah hati saya semakin jauh dari Allah?”

Karena dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang membuat kita tidak lagi merasa bersalah.


21. IBLIS JATUH KARENA SOMBONG, ADAM DISELAMATKAN DENGAN TAUBAT

Ini pelajaran yang sangat indah.

Adam juga pernah melakukan kesalahan.

Tetapi ketika Adam melakukan kesalahan, Adam bertaubat.

Allah berfirman:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’”

QS. Al-A‘raf: 23

Apa perbedaan sikap Adam dan Iblis?

Iblis:

sombong.

Adam:

mengakui kesalahan dan memohon ampun.

Iblis:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

“Aku lebih baik darinya.”

Adam:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا

“Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami.”

Maka ketika kita jatuh dalam dosa, jangan menjadi seperti Iblis dengan mencari pembenaran.

Jadilah seperti Adam:

akui kesalahan, bertaubat, lalu kembali kepada Allah.


22. JANGAN SAMPAI AYAT INI HANYA MENJADI CERITA

Jamaah yang dirahmati Allah…

Ayat ini bukan hanya cerita masa lalu.

Ini adalah peringatan untuk kita hari ini.

Ketika kita marah:

Siapa yang sedang kita ikuti?

Ketika kita ingin membalas dendam:

Siapa yang sedang membisikkan?

Ketika kita ingin berbuat maksiat:

Siapa yang sedang menghiasinya?

Ketika kita ingin meninggalkan salat:

Siapa yang mengatakan “nanti saja”?

Ketika kita hendak bersedekah:

Siapa yang mengatakan “nanti miskin”?

Ketika kita hendak memaafkan:

Siapa yang mengatakan “jangan, dia harus dihukum”?

Ketika kita hendak memperbaiki diri:

Siapa yang mengatakan “kamu sudah terlalu banyak dosa”?

Kenali suaranya.

Karena bisa jadi kita sedang mendengar bisikan musuh.


23. MUSUH KITA BUKAN MANUSIA

Jamaah…

Ini penting.

Setan adalah musuh.

Tetapi jangan menjadikan manusia yang berbeda dengan kita sebagai sasaran kebencian hanya karena ayat ini berbicara tentang musuh.

Allah mengajarkan kita memerangi keburukan dan setan, bukan membenci manusia secara membabi buta.

Setan bisa menggoda siapa pun.

Bahkan kita sendiri.

Maka ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, jangan merasa:

“Saya lebih baik.”

Karena kalimat “saya lebih baik” justru merupakan kalimat yang dahulu menghancurkan Iblis.

Lebih baik mengatakan:

“Ya Allah, selamatkan saya dari dosa dan berikan hidayah kepada saudara saya.”


24. PENUTUP: JANGAN JADIKAN MUSUH SEBAGAI PEMIMPIN

Jamaah yang dirahmati Allah…

Mari kita kembali kepada firman Allah:

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu?”

Kemudian Allah menutup:

بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

“Seburuk-buruk pengganti bagi orang-orang yang zalim.”

Jamaah…

Iblis sudah menyatakan permusuhannya.

Allah sudah memberitahukan kepada kita.

Nabi ﷺ sudah memperingatkan.

Al-Qur’an sudah mengajarkan cara melawannya.

Maka jangan sampai kita mengetahui musuh kita…

tetapi justru mengikuti jalannya.

Jangan sampai kita tahu setan mengajak kepada ghibah…

tetapi kita ikut ghibah.

Kita tahu setan mengajak kepada kesombongan…

tetapi kita tetap sombong.

Kita tahu setan mengajak kepada permusuhan…

tetapi kita tetap memelihara dendam.

Kita tahu setan mengajak meninggalkan salat…

tetapi kita tetap menunda.

Kita tahu setan menjanjikan kemiskinan…

tetapi kita takut bersedekah.

[diam]

Jamaah…

Musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang berhasil membuat kita mengira bahwa dia adalah teman.

Dan itulah sebabnya Allah mengingatkan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh.”

Maka mulai hari ini:

Jangan ikuti bisikan setan.

Ikuti petunjuk Allah.

Jangan tunduk kepada hawa nafsu.

Tunduklah kepada Rabbul ‘Alamin.

Dan ketika hati kita tergoda, ucapkan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Kemudian kembali kepada Allah.

Karena kemenangan terbesar bukanlah mampu mengalahkan orang lain.

Kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil mengalahkan godaan setan dan hawa nafsu dalam diri kita sendiri.


🤲 DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ قُلُوبَنَا مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيَاطِينِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الشَّيْطَانَ عَدُوًّا لَنَا، وَلَا تَجْعَلْ لَهُ عَلَيْنَا سُلْطَانًا.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَالرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ وَالْإِخْلَاصَ وَالطَّاعَةَ.

اللَّهُمَّ إِذَا زَلَلْنَا فَرُدَّنَا إِلَيْكَ، وَإِذَا أَخْطَأْنَا فَاغْفِرْ لَنَا، وَإِذَا ضَعُفْنَا فَقَوِّنَا، وَإِذَا وَسْوَسَ لَنَا الشَّيْطَانُ فَاحْفَظْنَا مِنْهُ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَالطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِأَهْلِنَا وَلِمُعَلِّمِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


📚 CATATAN KAKI DAN RUJUKAN

[^1]: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 50. Ibnu Katsir menegaskan bahwa Iblis berasal dari jin dan menukil penjelasan Al-Hasan Al-Bashri tentang hal tersebut.

[^2]: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 50. Ath-Thabari menjelaskan فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ dengan makna keluar, menyimpang dan berpaling dari perintah Allah.

[^3]: ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf: 50. As-Sa‘di menjelaskan permusuhan Iblis terhadap Adam dan keturunannya serta dorongan ayat agar manusia menjadikan setan sebagai musuh.

[^4]: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 50. Al-Qurthubi menjelaskan makna أَوْلِيَاءَ dan بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا, serta membahas makna “keturunan Iblis”. Untuk rincian tentang cara reproduksi jin/setan, beliau menukil berbagai pendapat tetapi juga menyatakan bahwa tata cara tersebut tidak dapat dipastikan tanpa riwayat yang sahih; karena itu rincian spekulatif tersebut tidak dijadikan materi akidah di sini.

[^5]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2996, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang penciptaan malaikat dari cahaya, jin dari nyala api, dan Adam dari apa yang telah dijelaskan dalam wahyu.

[^6]: Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 7171, hadis tentang setan yang mengalir pada manusia seperti aliran darah.

Dalil utama yang menjadi fondasi materi

QS. Al-Kahf: 50 — Iblis berasal dari jin, mendurhakai perintah Allah, dan merupakan musuh manusia.

QS. Al-A‘raf: 12 — alasan kesombongan Iblis:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ
“Aku lebih baik darinya.”

QS. Fatir: 6 — perintah Allah untuk menjadikan setan sebagai musuh.

QS. An-Nas: 4–6 — setan membisikkan waswas.

QS. Al-Baqarah: 268 — setan menakut-nakuti dengan kemiskinan dan mendorong kekejian.

QS. Al-Hijr: 42 — setan tidak mempunyai kekuasaan mutlak atas hamba Allah.

QS. Ibrahim: 22 — Iblis sendiri mengakui bahwa ia hanya menyeru, sedangkan manusia yang mengikutinya memilih untuk mengikuti.

QS. Al-A‘raf: 23 — Adam mengajarkan jalan keluar dari dosa: mengakui kesalahan, memohon ampun, dan kembali kepada Allah.

Tidak ada komentar