KETIKA SEMUA YANG DIANDALKAN TIDAK LAGI MENJAWAB
🌿 MATERI CERAMAH
“KETIKA SEMUA YANG DIANDALKAN TIDAK LAGI MENJAWAB”
Tadabbur QS. Al-Kahf Ayat 52
وَيَوْمَ يَقُوْلُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ...
Pembukaan
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ...
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sebenar-benar takwa.
Karena pada akhirnya, akan datang sebuah hari ketika seluruh sandaran manusia runtuh.
Hari ketika harta tidak bisa berbicara.
Keluarga tidak bisa menyelamatkan.
Jabatan tidak bisa melindungi.
Teman tidak bisa menolong.
Bahkan sesuatu yang dahulu dipuja, diandalkan, dimintai pertolongan, dan dianggap mampu menjadi perantara keselamatan...
tidak akan menjawab.
Dan gambaran yang sangat kuat tentang keadaan itu Allah abadikan dalam QS. Al-Kahf ayat 52.
1. AYAT UTAMA: PANGGILLAH SEKUTU-SEKUTU YANG KALIAN ANGGAP ITU
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَيَوْمَ يَقُوْلُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيْبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَّوْبِقًا
Artinya:
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Dia berfirman, ‘Panggillah olehmu sekutu-sekutu-Ku yang kamu anggap itu.’ Mereka lalu memanggilnya, tetapi mereka (sekutu-sekutu) tidak membalas (seruan) mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).”
(QS. Al-Kahf [18]: 52)
Perhatikan kalimat Allah:
نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ
“Panggillah sekutu-sekutu-Ku yang kalian anggap itu.”
Ini bukan berarti Allah benar-benar mempunyai sekutu.
Allah menyebut mereka sebagai “sekutu-Ku” berdasarkan klaim mereka:
الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ
“yang kalian anggap.”
Mereka yang menganggap.
Mereka yang mengklaim.
Mereka yang membangun keyakinan itu.
Mereka yang dahulu mengatakan, “Ini akan menolong kami.”
Tetapi pada hari kiamat...
semuanya dibongkar.
2. MEREKA DIBERI KESEMPATAN UNTUK MEMANGGIL
Allah berfirman:
فَدَعَوْهُمْ
“Maka mereka memanggilnya.”
Bayangkan suasananya.
Dahulu ketika di dunia mereka merasa mempunyai banyak sandaran.
Ketika sakit, mereka mencari siapa yang dianggap mampu menyembuhkan.
Ketika takut, mereka mencari siapa yang dianggap mampu melindungi.
Ketika kesulitan, mereka mencari siapa yang dianggap mampu memberikan pertolongan.
Tetapi hari kiamat bukan dunia.
Di dunia manusia masih bisa tertipu oleh penampilan.
Di dunia manusia masih bisa tertipu oleh kekuasaan.
Di dunia manusia masih bisa tertipu oleh jumlah pengikut.
Tetapi di akhirat...
semuanya menjadi nyata.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ...
“Dan sungguh, kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali, dan kamu tinggalkan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu di belakangmu...”
(QS. Al-An‘am [6]: 94)
Kemudian Allah berfirman:
وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan Kami tidak melihat pemberi syafaat besertamu yang dahulu kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu dalam urusanmu. Sungguh, telah terputuslah hubungan antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).”
(QS. Al-An‘am [6]: 94)
Inilah yang disebut terputusnya seluruh sandaran batil.
3. “MEREKA TIDAK MENJAWAB”
Allah berfirman:
فَلَمْ يَسْتَجِيْبُوا لَهُمْ
“Tetapi mereka tidak menjawab seruan mereka.”
Ini adalah bagian yang sangat menggetarkan.
Mereka memanggil.
Tetapi tidak dijawab.
Mereka meminta pertolongan.
Tidak datang pertolongan.
Mereka mencari perlindungan.
Tidak ada perlindungan.
Mereka berharap syafaat.
Tidak ada syafaat yang mereka klaim.
Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang orang-orang musyrik pada hari kiamat: mereka diperintahkan memanggil apa yang dahulu mereka anggap sebagai sekutu Allah agar menolong dan melindungi mereka dari azab, tetapi ketika mereka memanggilnya, sesembahan itu tidak memberikan pertolongan.[^1]
Al-Qur'an memberikan penjelasan yang sangat tegas:
إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.”
(QS. Fathir [35]: 14)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan bahwa apa yang diseru selain Allah tidak mampu memberikan manfaat; bahkan pada hari kiamat mereka akan berlepas diri dari orang-orang yang menyembah mereka.
4. MENGAPA MEREKA TIDAK MENJAWAB?
Karena mereka memang tidak memiliki kekuasaan yang mereka klaim.
Allah berfirman:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيْلًا
“Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Dia! Mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.’”
(QS. Al-Isra' [17]: 56)
Perhatikan:
لَا يَمْلِكُونَ
“Mereka tidak memiliki kekuasaan.”
Manusia boleh memiliki banyak kekuasaan di dunia.
Tetapi kekuasaan itu terbatas.
Seorang dokter bisa berusaha, tetapi tidak menentukan ajal.
Seorang pejabat bisa membuat keputusan, tetapi tidak menguasai takdir seluruh manusia.
Orang kaya bisa membeli banyak hal, tetapi tidak bisa membeli tambahan satu detik kehidupan ketika ajal datang.
Karena itu Allah mengingatkan:
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendakinya.”
(QS. Al-Insan [76]: 30)
5. KESALAHAN BESAR: MENCARI PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH
Allah berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya di samping Allah.”
(QS. Al-Jinn [72]: 18)
Ath-Thabari menjelaskan:
فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
أَيْ: ... وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ فِيهَا شَيْئًا، وَلَكِنْ أَفْرِدُوا لَهُ التَّوْحِيدَ، وَأَخْلِصُوا لَهُ الْعِبَادَةَ.
Maknanya: jangan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun dalam ibadah, tetapi khususkan tauhid hanya kepada-Nya dan murnikan ibadah hanya untuk-Nya.[^2]
Imam as-Sa‘di bahkan menjelaskan:
فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
أَيْ: لَا دُعَاءَ عِبَادَةٍ، وَلَا دُعَاءَ مَسْأَلَةٍ.
Maknanya: janganlah berdoa kepada selain Allah, baik doa dalam bentuk ibadah maupun doa permintaan.[^3]
6. “KAMI JADIKAN DI ANTARA MEREKA مَوْبِقًا”
Allah menutup ayat:
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَّوْبِقًا
“Dan Kami adakan di antara mereka tempat kebinasaan.”
Apa arti مَوْبِقًا – maubiq?
Para ulama tafsir menjelaskan beberapa makna yang saling berdekatan.
Pertama: kebinasaan
Ath-Thabari menukil dari Qatadah:
مَوْبِقًا: هَلَاكًا
“Maubiq berarti kebinasaan.”
Ibnu Zaid juga menjelaskan bahwa maubiq adalah sesuatu yang membinasakan mereka.[^1]
Kedua: lembah di neraka
Al-Qurthubi menukil beberapa pendapat ulama, di antaranya riwayat dari Anas bin Malik bahwa maubiq adalah sebuah lembah di Jahannam yang berisi sesuatu yang mengerikan, dan ada pula pendapat bahwa ia merupakan pemisah antara pihak-pihak tersebut.[^4]
Jadi gambaran ayat ini sangat dahsyat:
orang yang dahulu menyembah dan yang disembah dipisahkan.
Tidak ada lagi hubungan.
Tidak ada lagi kerja sama.
Tidak ada lagi saling menolong.
Tidak ada lagi klaim:
“Dia akan menyelamatkan saya.”
Yang tersisa hanyalah kenyataan.
7. DAHULU MEREKA MENGATAKAN: “KAMI HANYA INGIN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH”
Ini penting.
Karena sering kali kebatilan tidak datang dengan kalimat:
“Saya ingin melawan Allah.”
Tidak.
Kadang seseorang membungkus kesalahan dengan alasan yang terdengar indah.
Allah menceritakan alasan kaum musyrikin:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’”
(QS. Az-Zumar [39]: 3)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka menjadikan sesembahan tersebut sebagai sarana yang menurut mereka dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat. Namun Allah membantah konsep tersebut dan menegaskan bahwa ibadah harus dimurnikan bagi-Nya.[^5]
Al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa alasan yang mereka kemukakan adalah agar sesembahan itu memberikan kedekatan dan syafaat bagi mereka.[^6]
Maka pelajaran pentingnya:
Dalam ibadah, niat baik saja tidak cukup.
Harus benar pula cara ibadahnya.
8. RASULULLAH ﷺ SENDIRI TIDAK MENJANJIKAN KESELAMATAN BERDASARKAN HUBUNGAN KELUARGA
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ memperingatkan keluarganya sendiri.
Ketika turun ayat:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
(QS. Asy-Syu‘ara [26]: 214)
Nabi ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ اللَّهِ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، سَلِينِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتِ، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا.
Artinya:
“Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari Allah. Aku tidak dapat memberi kalian manfaat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, aku tidak dapat memberi kalian manfaat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muththalib, aku tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepadamu di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepadamu di hadapan Allah. Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, tetapi aku tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepadamu di hadapan Allah.”
(HR. al-Bukhari, no. 2753; juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dengan nomor lain sesuai penomoran.)
Perhatikan, jamaah...
Fatimah adalah putri Rasulullah ﷺ.
Tetapi Nabi ﷺ mengajarkan:
Jangan mengandalkan hubungan.
Jangan mengandalkan nasab.
Jangan mengandalkan kedekatan dengan orang saleh.
Yang menjadi keselamatan adalah iman, tauhid, dan amal saleh dengan rahmat Allah.
9. HADIS YANG SANGAT TEGAS: JANGAN MENJADIKAN TANDINGAN BAGI ALLAH
Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
وَقُلْتُ أَنَا: مَنْ مَاتَ وَهُوَ لَا يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Artinya:
“Barang siapa meninggal dalam keadaan menyeru selain Allah sebagai tandingan bagi Allah, ia masuk neraka. Dan aku (Ibnu Mas‘ud) berkata: barang siapa meninggal dalam keadaan tidak menyeru tandingan bagi Allah, ia masuk surga.”
(HR. al-Bukhari no. 4497; Muslim juga meriwayatkannya dengan lafaz yang berdekatan.)
Hadis ini sangat erat hubungannya dengan QS. Al-Kahf ayat 52.
Ayat mengatakan:
نَادُوا شُرَكَائِيَ
“Panggillah sekutu-sekutu-Ku.”
Hadis mengatakan:
يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا
“Menyeru selain Allah sebagai tandingan.”
Maka persoalannya bukan sekadar:
“Siapa yang kita cintai?”
Tetapi:
“Kepada siapa ibadah kita diarahkan?”
10. SYAFAAT ITU BENAR, TETAPI BUKAN SEPERTI YANG DIBAYANGKAN MANUSIA
Ada satu hal yang perlu diluruskan.
Islam memang mengajarkan adanya syafaat.
Tetapi syafaat bukan berarti seseorang mempunyai kekuasaan independen di hadapan Allah.
Allah berfirman:
مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 255)
Allah juga berfirman:
وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
“Dan syafaat di sisi-Nya tidak bermanfaat kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan.”
(QS. Saba' [34]: 23)
Jadi syafaat adalah hak Allah.
Allah yang mengizinkan.
Allah yang menentukan siapa yang memberi syafaat.
Allah yang menentukan kepada siapa syafaat diberikan.
Karena itu seorang mukmin tidak menggantungkan keselamatannya kepada makhluk.
Ia menggantungkan hatinya kepada Allah.
11. APA YANG TERJADI PADA HARI KIAMAT?
Allah menggambarkan:
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ
“Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.”
(QS. Fathir [35]: 14)
Kata:
يَكْفُرُونَ
di sini bermakna mereka berlepas diri dan mengingkari perbuatan penyembahan tersebut.
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini mencakup sesembahan yang berupa benda mati, dan juga makhluk yang memiliki akal seperti malaikat, jin, atau nabi yang disembah tanpa hak; mereka tidak membenarkan bahwa mereka memerintahkan manusia untuk menyembah mereka.
Karena itu Allah menggambarkan dialog yang sangat menakutkan:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
“Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua, kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, ‘Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?’ Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada mereka.’”
(QS. Saba' [34]: 40–41)
Maka di akhirat...
yang disembah tidak selalu menjadi pembela penyembahnya.
Bahkan bisa menjadi pihak yang berlepas diri.
12. JANGAN SALAH MEMAHAMI “BERGANTUNG KEPADA ALLAH”
Jamaah rahimakumullah...
Bergantung kepada Allah bukan berarti kita tidak boleh meminta bantuan manusia dalam perkara yang memang mampu dilakukan manusia.
Kalau kita sakit, kita boleh berobat kepada dokter.
Kalau rumah rusak, kita boleh meminta tukang memperbaikinya.
Kalau kendaraan mogok, kita boleh meminta mekanik.
Kalau kita membutuhkan bantuan dalam perkara duniawi yang berada dalam kemampuan manusia, itu bagian dari sebab.
Yang harus dijaga adalah keyakinan hati:
sebab bukan Tuhan.
Dokter adalah sebab.
Obat adalah sebab.
Pekerjaan adalah sebab.
Orang tua adalah sebab.
Guru adalah sebab.
Pemimpin adalah sebab.
Tetapi yang menentukan hasil akhirnya adalah Allah.
Allah berfirman:
وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
“Dan pertolongan itu hanyalah dari Allah.”
(QS. Ali 'Imran [3]: 126)
13. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEBELUM DATANG HARI ITU?
Inilah inti ceramah kita.
Jangan menunggu hari ketika semua sandaran terputus untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah sekarang.
Saat masih hidup.
Saat pintu taubat masih terbuka.
Saat kita masih bisa mengucapkan:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Saat kita masih bisa memperbaiki salat.
Saat kita masih bisa memperbaiki tauhid.
Saat kita masih bisa meninggalkan dosa.
Saat kita masih bisa meminta ampun.
Karena nanti akan datang hari ketika manusia ingin kembali.
Allah berfirman:
وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada neraka, mereka berkata, ‘Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami dan kami akan menjadi orang-orang yang beriman.’”
(QS. Al-An‘am [6]: 27)
Tetapi kesempatan itu sudah habis.
14. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA
[Diam sejenak]
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Apa yang selama ini paling kita andalkan?
Apakah Allah?
Ataukah manusia?
Apakah doa?
Ataukah hanya strategi?
Apakah tawakal?
Ataukah hanya kemampuan diri?
Apakah akhirat?
Ataukah dunia?
Kita boleh memiliki harta.
Kita boleh memiliki jabatan.
Kita boleh mempunyai banyak teman.
Kita boleh mempunyai keluarga yang mencintai kita.
Kita boleh mempunyai guru yang membimbing kita.
Kita boleh memiliki banyak ilmu.
Tetapi jangan sampai semua itu menggantikan Allah di dalam hati.
Karena semua makhluk akan sampai pada satu titik:
tidak berdaya.
Allah berfirman:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
“Segala sesuatu akan binasa kecuali Dia.”
(QS. Al-Qashash [28]: 88)
15. KETIKA SEMUA PINTU TERTUTUP, PINTU ALLAH TIDAK PERNAH TERTUTUP
Ada satu perbedaan besar antara makhluk dan Allah.
Manusia bisa berkata:
“Saya tidak punya waktu.”
Allah membuka pintu.
Manusia bisa berkata:
“Saya tidak mampu.”
Allah Maha Mampu.
Manusia bisa meninggalkan kita.
Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang kembali kepada-Nya.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar [39]: 53)
Maka jangan tunggu sampai:
فَلَمْ يَسْتَجِيْبُوا لَهُمْ
“mereka tidak menjawab seruan mereka.”
Kita sekarang masih memiliki kesempatan untuk berseru:
يَا اللهُ
“Ya Allah...”
Dan Allah Maha Mendengar.
16. PESAN UTAMA QS. AL-KAHF AYAT 52
Jamaah rahimakumullah...
Setidaknya ada lima pelajaran besar dari ayat ini.
Pertama: Jangan menyandarkan ibadah kepada selain Allah
Allah satu-satunya yang berhak menerima ibadah.
Kedua: Jangan tertipu oleh sandaran dunia
Sesuatu yang tampak kuat di dunia belum tentu mampu menolong kita di akhirat.
Ketiga: Syafaat adalah milik Allah
Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan independen di hadapan Allah.
Keempat: Semua kebatilan akan terbongkar
Apa yang dahulu dianggap benar bisa terlihat sebagai kesalahan ketika manusia melihat hakikat akhirat.
Kelima: Bangun hubungan dengan Allah sebelum kematian
Jangan sampai kita baru mengenal Allah ketika seluruh sandaran dunia telah runtuh.
17. PENUTUP: SIAPA YANG AKAN MENJAWAB KITA?
[Suara diperlambat]
Jamaah rahimakumullah...
Akan datang satu hari...
ketika kita dipanggil.
Bukan dipanggil oleh manusia.
Tetapi dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Hari ketika kita tidak membawa jabatan.
Tidak membawa rumah.
Tidak membawa kendaraan.
Tidak membawa rekening.
Tidak membawa popularitas.
Kita datang seorang diri.
Allah berfirman:
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
“Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.”
(QS. Maryam [19]: 95)
Maka sejak sekarang...
carilah Allah.
Ketika senang, ingat Allah.
Ketika susah, ingat Allah.
Ketika mendapatkan nikmat, bersyukur kepada Allah.
Ketika kehilangan sesuatu, tetap percaya kepada Allah.
Ketika sakit, berobat sambil bertawakal kepada Allah.
Ketika punya masalah, mencari solusi sambil meminta pertolongan Allah.
Ketika manusia meninggalkan kita...
Allah tetap ada.
Ketika semua pintu tertutup...
pintu Allah tetap terbuka.
Dan ketika seluruh sandaran palsu tidak lagi menjawab...
hanya satu pertanyaan yang sangat penting:
Apakah selama hidup kita telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang kita sembah, kita cintai, kita takuti, kita harapkan dan kita mintai pertolongan?
[Diam]
Semoga ketika hari itu datang...
kita bukan termasuk orang yang diperintahkan:
نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ
“Panggillah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kalian anggap itu.”
Tetapi kita termasuk orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.
Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu‘ara [26]: 88–89)
🤲 DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا صَادِقًا، وَتَوْحِيدًا خَالِصًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا أَحَدًا أَعْظَمَ مِنْكَ، وَلَا أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْكَ، وَلَا أَرْجَى عِنْدَنَا مِنْ رَحْمَتِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ، وَأَهْلِ الْإِخْلَاصِ، وَأَهْلِ السُّنَّةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ.
اللَّهُمَّ لَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
📚 Catatan kaki dan rujukan
[1] Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 52. Ath-Thabari menukil beberapa penafsiran maubiq, termasuk “هلاك” (kebinasaan), dan memilih makna al-muhlik—sesuatu yang membinasakan.
[2] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Al-Jinn [72]: 18. Beliau menjelaskan perintah mengesakan Allah dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.
[3] ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Jinn [72]: 18.
[4] Abu ‘Abdillah al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 52. Al-Qurthubi menyebut beberapa pendapat salaf mengenai makna maubiq, termasuk makna lembah di Jahannam dan makna pemisah/penghalang.
[5] Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Az-Zumar [39]: 3. Ibnu Katsir menjelaskan alasan kaum musyrikin bahwa sesembahan mereka dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meminta syafaat, kemudian menjelaskan bantahan Al-Qur’an terhadap keyakinan tersebut.
[6] Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Az-Zumar [39]: 3.
[7] Muhammad bin Isma‘il al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb at-Tafsīr, hadis no. 4497, dari ‘Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه: «مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ...». Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dengan lafaz yang berdekatan.
[8] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 2753, dari Abu Hurairah رضي الله عنه mengenai seruan Rasulullah ﷺ kepada keluarga terdekatnya: «لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا».
Catatan ilmiah
Untuk istilah مَوْبِقًا, tafsir salaf yang dinukil ath-Thabari memang memiliki beberapa riwayat: kebinasaan, tempat/lembah di Jahannam, dan penjelasan lain yang berdekatan maknanya. Karena itu dalam ceramah lebih aman mengatakan “tempat kebinasaan/pemisah yang menjadi sebab kebinasaan”, kemudian menyebut pendapat tentang lembah di Jahannam sebagai salah satu tafsiran ulama, bukan memastikan satu makna secara mutlak.
Post a Comment