BERSABAR BERSAMA ORANG SALEH, JANGAN TERPEDAYA PERHIASAN DUNIA

CERAMAH QS. AL-KAHF AYAT 28

“BERSABAR BERSAMA ORANG SALEH, JANGAN TERPEDAYA PERHIASAN DUNIA”

Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada kesempatan ini kita akan merenungkan sebuah ayat yang sangat penting, terutama di zaman ketika status sosial, kekayaan, jabatan, penampilan dan popularitas sering dijadikan ukuran kemuliaan manusia.

Allah justru mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ:

Tetaplah bersama orang-orang yang mengingat Allah, sekalipun mereka miskin dan sederhana. Jangan berpaling dari mereka demi mengejar perhiasan dunia.


1. AYAT UTAMA: QS. AL-KAHF AYAT 28

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

Artinya:

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”

Ada beberapa pesan besar dalam ayat ini.


2. PESAN PERTAMA: PILIHLAH LINGKUNGAN YANG MENGINGATKAN KITA KEPADA ALLAH

Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya.”

Ini adalah perintah untuk membersamai orang-orang saleh.

Mengapa?

Karena manusia sangat mudah dipengaruhi lingkungan.

Kalau kita bergaul dengan orang yang rajin shalat, kita akan terdorong menjaga shalat.

Kalau kita bergaul dengan orang yang senang membaca Al-Qur'an, kita akan terdorong membaca Al-Qur'an.

Kalau kita bergaul dengan orang yang menjaga lisannya, kita akan belajar menjaga lisan.

Sebaliknya, jika lingkungan kita penuh dengan:

  • ghibah,
  • maksiat,
  • kesombongan,
  • materialisme,
  • pamer,
  • dan mengejar dunia,

maka hati kita perlahan-lahan dapat ikut berubah.


3. RASULULLAH ﷺ MENGGAMBARKAN PENGARUH TEMAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

Artinya:

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pembawa minyak kesturi dan pandai besi.”[^1]

Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pembawa minyak kesturi bisa memberikan minyak tersebut, kita dapat membelinya, atau setidaknya mendapatkan aroma yang harum.

Sedangkan pandai besi dapat membakar pakaian kita atau kita mendapatkan bau yang tidak menyenangkan.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Pesannya jelas:

Teman tidak selalu mengubah kita dengan nasihat. Kadang kita berubah hanya karena terlalu lama berada di lingkungan mereka.

Maka jangan hanya bertanya:

“Apakah teman saya orang baik?”

Tetapi tanyakan:

“Setelah berteman dengannya, apakah saya semakin dekat kepada Allah?”


4. ULASAN IMAM IBNU KATSIR

Ketika menjelaskan ayat:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk duduk bersama hamba-hamba Allah yang beribadah dan berdzikir kepada-Nya, baik mereka kaya maupun miskin.[^2]

Beliau juga mengaitkan ayat ini dengan peristiwa ketika sebagian pembesar Quraisy menginginkan agar orang-orang mukmin yang miskin disingkirkan dari majelis Rasulullah ﷺ.

Di sinilah tampak kemuliaan Islam.

Islam tidak berkata:

“Yang kaya lebih layak didengar.”

Islam tidak berkata:

“Yang berpangkat lebih mulia.”

Islam tidak berkata:

“Yang terkenal lebih dekat kepada Allah.”

Ukuran kemuliaan adalah iman dan takwa.


5. UKURAN KEMULIAAN BUKAN HARTA, TETAPI TAKWA

Allah berfirman:

QS. Al-Hujurat: 13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Allah tidak mengatakan:

أَكْرَمُكُمْ أَغْنَاكُمْ

“Yang paling mulia adalah yang paling kaya.”

Tidak.

Allah berfirman:

أَتْقَاكُمْ

“Yang paling bertakwa.”


6. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN BAHWA ALLAH MELIHAT HATI DAN AMAL

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”[^3]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Jamaah rahimakumullah,

Manusia sering melihat:

“Mobilnya apa?”

“Rumahnya bagaimana?”

“Jabatannya apa?”

“Pakaiannya bagaimana?”

“Pengikut media sosialnya berapa?”

Tetapi Allah melihat:

bagaimana hatinya.

Allah melihat:

bagaimana amalnya.


7. JANGAN MEREMEHKAN ORANG MISKIN

Inilah salah satu pesan paling kuat dari ayat ini.

Orang-orang miskin yang berada di sekitar Rasulullah ﷺ tidak boleh disingkirkan hanya karena keadaan ekonomi mereka.

Allah berfirman:

QS. Al-An‘am: 52

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ ۗمَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ وَّمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُوْنَ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya:

“Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim.”

Betapa keras teguran Allah!

Mereka mungkin miskin di mata manusia.

Tetapi mereka mulia di sisi Allah karena:

يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Mereka mengharapkan wajah/keridaan-Nya.”


8. KISAH KAUM NABI NUH

Sikap merendahkan orang miskin ternyata bukan penyakit baru.

Kaum Nabi Nuh عليه السلام juga berkata:

QS. Asy-Syu‘ara’: 111

قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْاَرْذَلُوْنَ ۗ

Artinya:

“Mereka berkata, ‘Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu adalah orang-orang yang hina?’”

Mereka mengukur kebenaran berdasarkan status sosial pengikut Nabi Nuh.

Seolah-olah:

“Kalau pengikutmu orang miskin, berarti ajaranmu tidak layak.”

Padahal Allah membalik cara pandang tersebut.

Orang miskin bisa sangat mulia.

Orang kaya bisa sangat mulia.

Yang membedakan adalah:

iman dan takwa.


9. PESAN KEDUA: IKHLASLAH DALAM BERIBADAH

Allah menggambarkan orang-orang saleh itu:

يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ

“Mereka mengharapkan keridaan-Nya.”

Inilah inti ibadah:

ikhlas.

Mereka tidak beribadah agar terkenal.

Tidak agar dipuji.

Tidak agar disebut ustaz.

Tidak agar disebut orang saleh.

Tidak agar mendapatkan kedudukan.

Mereka menginginkan:

وَجْهَ اللَّهِ

Keridaan Allah.

Allah berfirman:

QS. Al-Bayyinah: 5

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ ۗ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ ۗ

Artinya:

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”


10. ULASAN IMAM ATH-THABARI TENTANG “MENGHARAP WAJAH ALLAH”

Imam ath-Thabari menjelaskan:

يُرِيدُونَ وَجْهَهُ، يَقُولُ: يُرِيدُونَ بِطَاعَتِهِ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُرَاءُونَ بِذَلِكَ أَحَدًا مِنْ خَلْقِهِ.

Artinya:

“Mereka menginginkan wajah-Nya, maksudnya mereka menginginkan dengan ketaatan mereka hanya Allah semata, dan tidak melakukan riya dengan ketaatan tersebut kepada seorang pun dari makhluk-Nya.”[^4]

Inilah keikhlasan.

Orang yang ikhlas tidak terlalu sibuk memikirkan:

“Apakah manusia melihat amal saya?”

Karena pikirannya tertuju kepada:

“Apakah Allah menerima amal saya?”


11. PESAN KETIGA: JANGAN MENUKAR ORANG SALEH DENGAN PERHIASAN DUNIA

Allah berfirman:

وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.”

Ini sangat dalam.

Allah seakan-akan mengingatkan:

Jangan sampai matamu terlalu terpukau dengan dunia sehingga kamu lupa melihat kemuliaan orang-orang saleh.

Hari ini kita mengenal istilah:

social status.

Siapa yang punya jabatan?

Siapa yang punya uang?

Siapa yang punya rumah besar?

Siapa yang punya kendaraan mahal?

Siapa yang terkenal?

Tetapi Islam mengajarkan:

Jangan biarkan kilauan dunia membuat kita kehilangan pandangan terhadap kemuliaan iman.


12. DUNIA HANYALAH PERHIASAN

Allah berfirman:

QS. Al-Kahf: 46

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Artinya:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Perhatikan kata:

زِيْنَةُ

“Perhiasan.”

Perhiasan itu indah.

Tetapi perhiasan bukan tujuan akhir.

Harta indah.

Anak-anak adalah nikmat.

Rumah adalah nikmat.

Kendaraan adalah nikmat.

Jabatan adalah amanah.

Tetapi semuanya hanya:

perhiasan kehidupan dunia.


13. RASULULLAH ﷺ MENGINGATKAN TENTANG DUNIA

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»

Artinya:

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”[^5]

Maksudnya bukan bahwa seorang mukmin tidak boleh menikmati dunia.

Tetapi seorang mukmin memahami bahwa kenikmatan dunia terbatas dan sementara, sedangkan kenikmatan akhirat adalah kekal.

Karena itu jangan sampai dunia menjadi:

tujuan hidup.

Dunia adalah:

sarana menuju akhirat.


14. PESAN KEEMPAT: JANGAN MENGIKUTI ORANG YANG HATINYA LALAI

Allah berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا

“Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.”

Ini bukan berarti kita harus membenci semua orang yang berbeda atau belum baik.

Tidak.

Islam tetap mengajarkan dakwah dengan kasih sayang.

Tetapi ayat ini mengajarkan:

Jangan menjadikan orang yang lalai dari Allah sebagai pemimpin hati kita.

Jangan sampai kita menjadikan:

  • orang yang suka maksiat sebagai idola;
  • orang yang gemar pamer sebagai panutan;
  • orang yang sombong sebagai teladan;
  • orang yang jauh dari Allah sebagai standar kesuksesan.

15. EMPAT CIRI ORANG YANG DIPERINGATKAN DALAM AYAT

Allah menyebutkan beberapa karakter:

1. أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا

“Hatinya lalai dari mengingat Kami.”

2. وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

“Dia mengikuti hawa nafsunya.”

3. وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Urusannya melampaui batas.”

Maka penyakit hati itu berawal dari:

lalai → mengikuti hawa nafsu → hidup melampaui batas.


16. BAHAYA MENGIKUTI HAWA NAFSU

Allah berfirman:

QS. Al-Jatsiyah: 23

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشَاوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Orang seperti ini bukan berarti menyembah hawa nafsu dengan sujud.

Tetapi hawa nafsunya menjadi penguasa keputusan hidupnya.

Ketika hawa nafsu berkata:

“Lakukan!”

Dia lakukan.

Ketika syariat berkata:

“Jangan!”

Dia tetap lakukan.


17. ULASAN IMAM AS-SA‘DI

Imam as-Sa‘di رحمه الله menjelaskan bagian:

وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

bahwa orang tersebut menjadikan hawa nafsunya sebagai sesuatu yang diikuti, sehingga hawa nafsunya menghalangi dirinya dari mengikuti petunjuk Allah.[^6]

Beliau menjelaskan:

فصار هواه إمامه وقائده، يقدم رضاه على رضا الله.

Artinya:

“Hawa nafsunya menjadi imam dan pemimpinnya; ia mendahulukan keridaan hawa nafsunya daripada keridaan Allah.”[^6]

Inilah bahaya terbesar.

Bukan sekadar memiliki hawa nafsu—karena manusia memang memilikinya.

Tetapi:

ketika hawa nafsu menjadi pemimpin.


18. HADIS TENTANG HATI

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya:

“Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”[^7]

Karena itu perjuangan terbesar seorang mukmin bukan hanya memperbaiki penampilan.

Tetapi:

memperbaiki hati.


19. BAGAIMANA CARA MENJAGA HATI?

Dari QS. Al-Kahf ayat 28, ada beberapa cara.

Pertama: Perbanyak dzikir

Allah menyebut:

يَدْعُونَ رَبَّهُمْ

“Mereka menyeru Tuhan mereka.”

Kedua: Bersama orang saleh

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ

“Bersabarlah bersama orang-orang…”

Ketiga: Jaga pandangan dari gemerlap dunia

وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ

“Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka…”

Keempat: Jangan menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin

وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

“Dia mengikuti hawa nafsunya.”


20. SIAPA SAHABAT KITA?

Jamaah rahimakumullah,

Coba kita evaluasi.

Siapa yang paling sering kita hubungi?

Siapa yang paling sering kita dengarkan?

Siapa yang menjadi tempat kita meminta nasihat?

Siapa yang menjadi idola anak-anak kita?

Siapa yang paling sering muncul di layar HP kita?

Karena apa yang sering kita lihat dan dengar akan memengaruhi hati.

Maka pilihlah teman yang ketika kita bersamanya, kita menjadi lebih baik.

Bukan teman yang membuat kita:

malas shalat,

berani maksiat,

gemar ghibah,

suka pamer,

dan semakin cinta dunia.


21. JANGAN HANYA MENCARI TEMAN YANG MENGHIBUR, CARI TEMAN YANG MENYELAMATKAN

Teman terbaik bukan selalu orang yang mengatakan:

“Kamu benar.”

Teman terbaik terkadang berkata:

“Itu salah. Tinggalkan.”

Teman terbaik bukan yang selalu mengikuti keinginan kita.

Tetapi yang membantu kita mengikuti kebenaran.

Teman terbaik bukan yang membuat kita semakin terkenal.

Tetapi yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.


22. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA

Ayat ini juga menjadi pelajaran bagi orang tua.

Jangan hanya memilih sekolah berdasarkan:

  • gedung yang megah;
  • fasilitas yang lengkap;
  • gengsi;
  • popularitas.

Perhatikan juga:

Bagaimana lingkungan agamanya?

Siapa teman anak kita?

Siapa gurunya?

Apa yang anak lihat setiap hari?

Karena pendidikan bukan hanya transfer ilmu.

Pendidikan juga:

transfer nilai dan pembentukan karakter.


23. PELAJARAN UNTUK GURU DAN PENDIDIK

Guru juga harus belajar dari ayat ini.

Jangan membeda-bedakan siswa karena:

  • kaya atau miskin;
  • pintar atau kurang pintar;
  • anak pejabat atau anak rakyat biasa;
  • berprestasi atau belum berprestasi.

Semua anak memiliki kehormatan sebagai manusia.

Dan mungkin saja:

anak yang hari ini kita anggap biasa-biasa saja, justru kelak menjadi orang yang paling dekat dengan Allah.

Tugas guru adalah membantu mereka tumbuh.

Bukan merendahkan.


24. PELAJARAN UNTUK MASYARAKAT

Jangan membuat masjid hanya nyaman bagi orang kaya.

Jangan membuat majelis hanya nyaman bagi orang berpangkat.

Jangan membuat kegiatan agama hanya untuk orang-orang tertentu.

Masjid adalah rumah Allah.

Majelis ilmu adalah tempat orang belajar.

Orang yang baru belajar agama harus diterima.

Orang miskin harus dihormati.

Orang sederhana harus dimuliakan.

Karena kita tidak tahu:

siapa yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.


25. RENUNGAN: JANGAN SAMPAI KITA SALAH MEMILIH “ORANG PENTING”

Manusia punya daftar orang penting.

Orang penting menurut manusia mungkin:

  • pejabat;
  • pengusaha;
  • orang kaya;
  • artis;
  • tokoh terkenal.

Tetapi orang penting menurut Allah adalah orang yang:

يَدْعُونَ رَبَّهُمْ

“Menyeru Tuhannya.”

dan:

يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Mengharapkan keridaan-Nya.”

Maka jangan sampai kita mengejar orang kaya sampai mengorbankan orang saleh.

Jangan mengejar popularitas sampai kehilangan keikhlasan.

Jangan mengejar dunia sampai meninggalkan akhirat.


26. KESIMPULAN

Jamaah rahimakumullah,

QS. Al-Kahf ayat 28 mengajarkan kepada kita lima prinsip besar:

1. BERSABARLAH BERSAMA ORANG SALEH

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ

Jangan bosan berada di majelis ilmu dan dzikir.

2. UKUR MANUSIA DENGAN IMAN DAN TAKWA

Bukan dengan harta, jabatan dan penampilan.

3. JAGA KEIKHLASAN

يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Beribadahlah untuk Allah.

4. JANGAN TERPEDAYA PERHIASAN DUNIA

تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Dunia hanya sementara.

5. JANGAN BIARKAN HAWA NAFSU MEMIMPIN

وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

Jadikan wahyu sebagai pemimpin hidup.


PENUTUP

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mari kita pulang dengan satu pertanyaan:

“Siapa orang-orang yang selama ini paling banyak memengaruhi hati saya?”

Kalau mereka membuat kita semakin dekat kepada Allah, pertahankan.

Kalau mereka membuat kita semakin jauh dari Allah, evaluasi.

Dan mari kita berdoa:

“Ya Allah, dekatkan kami dengan orang-orang saleh.”

“Ya Allah, jauhkan kami dari kesombongan karena harta.”

“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami.”

“Ya Allah, bersihkan hati kami dari riya, sombong dan cinta dunia.”

“Ya Allah, jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup kami.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang disebut dalam ayat:

يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharapkan keridaan-Nya.”

DOA

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى، وَارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَحُبِّ الدُّنْيَا.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَذْكُرُونَكَ وَيَشْكُرُونَكَ وَيُحْسِنُونَ عِبَادَتَكَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا سَلِيمًا، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَخَاتِمَةً حَسَنَةً.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI / RUJUKAN KITAB

[1] Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb adh-Dhabā’iḥ waṣ-Ṣayd, Bāb al-Misk, hadis no. 5534; Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr waṣ-Ṣilah, hadis no. 2628.

[2] Ismā‘īl bin ‘Umar Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:28. Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan perintah Allah agar Rasulullah ﷺ tetap bersama kaum mukmin yang berdzikir kepada Allah dan tidak mengutamakan pembesar karena status sosial mereka.

[3] Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr waṣ-Ṣilah wa al-Ādāb, hadis no. 2564.

[4] Muḥammad bin Jarīr aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:28. Penjelasan beliau berkaitan dengan makna يُرِيدُونَ وَجْهَهُ, yaitu mengikhlaskan ketaatan hanya untuk Allah.

[5] Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zuhd war-Raqā’iq, hadis no. 2956.

[6] ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:28.

[7] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Īmān, hadis no. 52; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Musāqāh, hadis no. 1599.

[8] Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:28. Al-Qurthubi membahas larangan berpaling dari orang-orang yang ikhlas beribadah karena menginginkan kemuliaan atau kedudukan duniawi.

KITAB RUJUKAN UTAMA

  1. Al-Qur’ān al-Karīm
  2. Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
  3. Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān
  4. Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
  5. As-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān
  6. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
  7. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim

Tidak ada komentar