KETIKA KITAB AMAL DIBUKA: TIDAK ADA YANG TERLUPAKAN
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 49
“KETIKA KITAB AMAL DIBUKA: TIDAK ADA YANG TERLUPAKAN”
وَوُضِعَ الْكِتَابُ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah…
Pada pertemuan sebelumnya kita membahas QS. Al-Kahf ayat 48.
Manusia dikumpulkan.
Manusia dihadapkan kepada Allah.
Manusia berdiri dalam barisan.
Dan Allah mengingatkan:
لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Sungguh, kamu telah datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali.”
Sekarang ayat 49 membawa kita kepada adegan berikutnya.
Kalau ayat 48 menggambarkan manusia berdiri di hadapan Allah, maka ayat 49 menggambarkan dibukanya kitab amal manusia.
Allah berfirman:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang ada di dalamnya dan mereka berkata, ‘Betapa celakanya kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya.’ Dan mereka dapati semua yang telah mereka kerjakan hadir di hadapan mereka. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”
QS. Al-Kahf: 49
[diam]
Jamaah…
Coba bayangkan.
Bukan lagi orang lain yang menceritakan tentang kehidupan kita.
Kita sendiri yang melihat catatan kehidupan kita.
Bukan lagi:
“Katanya saya pernah melakukan itu.”
Tetapi:
“Ini saya.”
Bukan lagi:
“Katanya saya pernah berkata demikian.”
Tetapi:
“Ini perkataan saya.”
Bukan lagi:
“Katanya saya pernah menyakiti orang.”
Tetapi:
“Ini yang saya lakukan.”
Dan di situlah manusia mengatakan:
يَا وَيْلَتَنَا
“Celakalah kami!”
1. “وَوُضِعَ الْكِتَابُ”
Ketika Kitab Amal Diletakkan
Allah memulai:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ
“Dan diletakkanlah kitab.”
Apa kitab itu?
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kitab catatan amal manusia.
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
يَقُولُ عَزَّ ذِكْرُهُ: وَوَضَعَ اللَّهُ يَوْمَئِذٍ كِتَابَ أَعْمَالِ عِبَادِهِ فِي أَيْدِيهِمْ
“Allah Yang Mahamulia menyebutkan bahwa pada hari itu Allah meletakkan kitab amal perbuatan hamba-hamba-Nya di tangan mereka.”[^1]
Beliau kemudian menjelaskan bahwa ada yang menerima dengan tangan kanan dan ada yang menerima dengan tangan kiri.[^1]
Jamaah…
Di dunia kita mempunyai banyak catatan.
Ada rapor sekolah.
Ada catatan keuangan.
Ada catatan administrasi.
Ada rekam medis.
Ada rekaman kamera.
Ada arsip.
Tetapi semua itu terbatas.
Manusia bisa lupa.
Kamera bisa rusak.
Dokumen bisa hilang.
File bisa terhapus.
Tetapi catatan amal di sisi Allah tidak demikian.
Allah berfirman:
وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ
“Dan segala sesuatu yang kecil maupun yang besar telah tertulis.”
QS. Al-Qamar: 53
Ibnu Katsir menjelaskan:
أَيْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ، مَجْمُوعٌ عَلَيْهِمْ وَمُسَطَّرٌ فِي صَحَائِفِهِمْ، لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا.
“Yang dimaksud adalah amal-amal mereka. Semuanya dikumpulkan dan dituliskan dalam lembaran-lembaran mereka; tidak ada yang kecil dan tidak pula yang besar kecuali dicatat.”[^2]
2. “فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ”
Mereka Ketakutan Melihat Isi Kitab
Allah mengatakan:
فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ
“Maka engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang terdapat di dalamnya.”
Kata:
مُشْفِقِينَ
mengandung makna takut, cemas, khawatir dan gentar.
Mengapa?
Karena mereka tahu apa yang ada di dalamnya.
Imam As-Sa‘di berkata:
فَحِينَئِذٍ تُحْضَرُ كُتُبُ الْأَعْمَالِ الَّتِي كَتَبَتْهَا الْمَلَائِكَةُ الْكِرَامُ، فَتَطِيرُ لَهَا الْقُلُوبُ، وَتَعْظُمُ مِنْ وَقْعِهَا الْكُرُوبُ.
“Pada saat itu dihadirkan kitab-kitab amal yang ditulis oleh para malaikat yang mulia. Hati menjadi bergetar karenanya dan kesusahan menjadi sangat berat akibat apa yang terdapat di dalamnya.”[^3]
Jamaah…
Kenapa orang yang berdosa takut?
Karena selama hidup dia mungkin berhasil menyembunyikan dosa dari manusia.
Tetapi tidak dari Allah.
3. Ada Malaikat yang Mencatat
Allah berfirman:
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia dan yang mencatat amal perbuatan, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
QS. Al-Infitar: 10–12
Jamaah…
Ada perbuatan yang manusia tidak tahu.
Tetapi malaikat mencatat.
Ada perkataan yang kita ucapkan diam-diam.
Dicatat.
Ada pesan yang kita kirim ketika tidak ada orang lain.
Dicatat.
Ada penghinaan yang kita lontarkan.
Dicatat.
Ada kebaikan yang kita lakukan tanpa diketahui manusia.
Dicatat.
Ada sedekah yang kita sembunyikan.
Dicatat.
Ada air mata yang jatuh ketika kita berdoa sendirian.
Allah mengetahuinya.
Karena itu jangan pernah berpikir:
“Tidak ada yang melihat.”
Kalimat yang benar adalah:
“Tidak ada manusia yang melihat, tetapi Allah melihat.”
4. “لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً”
Tidak Ada yang Terlewat
Ini bagian yang paling menggetarkan.
Allah berfirman:
لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا
“Tidak ada yang ditinggalkan, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan semuanya dihitung dan dicatat.”
Imam Ibnu Katsir berkata:
أَيْ لَا يَتْرُكُ ذَنْبًا صَغِيرًا وَلَا كَبِيرًا، وَلَا عَمَلًا وَإِنْ صَغُرَ، إِلَّا أَحْصَاهَا، أَيْ ضَبَطَهَا وَحَفِظَهَا.
“Tidak ada dosa kecil maupun besar, dan tidak ada amal meskipun kecil, kecuali dicatat; yakni dihitung dan dijaga.”[^4]
Perhatikan kalimatnya:
وَلَا عَمَلًا وَإِنْ صَغُرَ
“Tidak ada amal meskipun kecil.”
Artinya bukan hanya dosa yang dicatat.
Kebaikan juga dicatat.
5. Jangan Meremehkan Dosa Kecil
Jamaah yang dirahmati Allah…
Kadang manusia berkata:
“Ah, cuma bohong sedikit.”
“Ah, cuma melihat sebentar.”
“Ah, cuma ngomong begitu.”
“Ah, cuma mengejek.”
“Ah, cuma mengambil sedikit.”
“Ah, cuma telat salat.”
“Ah, cuma sekali.”
Masalahnya bukan hanya ukuran dosa.
Masalahnya adalah:
Kepada siapa kita bermaksiat?
Kita bermaksiat kepada Allah.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
يَا عَائِشَةُ، إِيَّاكِ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا
“Wahai Aisyah, jauhilah dosa-dosa yang dianggap remeh, karena dosa-dosa itu memiliki penuntut dari Allah.”
Riwayat ini disebutkan oleh Imam Ahmad dan juga diriwayatkan melalui jalur lain oleh An-Nasa’i dan Ibnu Majah; Ibnu Katsir menukilkannya ketika menjelaskan QS. Al-Qamar: 53.[^5]
Ath-Thabari juga menukil nasihat Qatadah ketika menjelaskan ayat ini:
فَإِيَّاكُمْ وَالْمُحَقَّرَاتِ مِنَ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهَا تَجْتَمِعُ عَلَى صَاحِبِهَا حَتَّى تُهْلِكَهُ
“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap remeh, karena dosa-dosa itu dapat berkumpul pada seseorang sampai akhirnya membinasakannya.”[^6]
Bayangkan satu batang kayu.
Satu batang kecil tidak terasa berat.
Tetapi jika dikumpulkan terus-menerus…
menjadi tumpukan.
Demikian dosa.
6. Tetapi Jangan Salah Paham: Dosa yang Dicatat Bukan Berarti Tidak Ada Ampunan
Jamaah…
Ayat ini jangan membuat kita salah memahami rahmat Allah.
Allah mencatat dosa.
Tetapi Allah juga membuka pintu taubat.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
QS. Az-Zumar: 53
Maka selama kita masih hidup:
jangan merasa aman dari dosa, tetapi juga jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Takut membuat kita berhenti dari dosa.
Harapan membuat kita kembali kepada Allah.
7. “وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا”
Mereka Menemukan Apa yang Mereka Kerjakan Hadir di Hadapan Mereka
Allah berfirman:
وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا
“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan hadir di hadapan mereka.”
Ini lebih menggetarkan daripada sekadar:
“Semua tercatat.”
Karena Allah tidak mengatakan sekadar mereka membaca laporan.
Mereka akan menemukan apa yang telah mereka kerjakan hadir.
Imam As-Sa‘di menjelaskan:
لَا يَقْدِرُونَ عَلَى إِنْكَارِهِ
“Mereka tidak mampu mengingkarinya.”[^3]
Jamaah…
Di dunia kita masih bisa berkata:
“Saya tidak melakukan.”
“Bukan saya.”
“Saya lupa.”
“Saya tidak tahu.”
Tetapi di akhirat…
catatannya ada.
Bukti ada.
Dan Allah Maha Mengetahui.
8. Bahkan Perbuatan yang Kita Lupakan Tidak Dilupakan Allah
Allah berfirman:
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا
“Pada hari ketika setiap jiwa mendapatkan segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadapkan kepadanya, begitu juga keburukan yang telah dikerjakannya; dia berharap sekiranya antara dia dan keburukan itu ada jarak yang jauh.”
QS. Ali ‘Imran: 30
Jamaah…
Kita lupa.
Allah tidak lupa.
Kita mungkin lupa kepada orang yang pernah kita bantu.
Allah tidak lupa.
Kita mungkin lupa sedekah yang pernah kita keluarkan.
Allah tidak lupa.
Kita mungkin lupa dosa yang kita lakukan bertahun-tahun lalu.
Allah tidak lupa.
Tetapi jangan hanya takut pada dosa.
Bersyukurlah bahwa kebaikan yang manusia lupakan tidak pernah hilang dari catatan Allah.
9. Bahkan Kebaikan yang Sangat Kecil Tidak Hilang
Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya.”
QS. Az-Zalzalah: 7–8
Perhatikan:
ذَرَّةٍ
Seberat zarah.
Sangat kecil.
Tetapi Allah tidak menghilangkannya.
Maka jangan berkata:
“Amal saya kecil.”
Mungkin kecil menurut manusia.
Tetapi bisa besar di sisi Allah karena ikhlasnya.
Begitu pula jangan berkata:
“Dosanya kecil.”
Bisa menjadi berat jika dilakukan terus-menerus dan diremehkan.
10. “وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا”
Allah Tidak Pernah Menzalimi Siapa Pun
Ini adalah penutup ayat yang sangat penting:
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”
Allah Mahaadil.
Allah tidak menghukum orang karena dosa yang tidak dia lakukan.
Allah tidak mengurangi pahala orang yang berbuat baik.
Allah tidak salah menghitung.
Allah tidak salah menilai.
Allah tidak salah mengambil keputusan.
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا، فَلَا يَجَازِي بِالْإِحْسَانِ إِلَّا أَهْلَ الْإِحْسَانِ، وَلَا بِالسَّيِّئَةِ إِلَّا أَهْلَ السَّيِّئَةِ، وَذَلِكَ هُوَ الْعَدْلُ.
“Rabbmu tidak menzalimi seorang pun. Dia tidak membalas kebaikan kecuali kepada orang yang berbuat kebaikan, dan tidak membalas keburukan kecuali kepada orang yang berbuat keburukan. Itulah keadilan.”[^7]
Jamaah…
Kalau manusia salah menilai kita…
Allah tidak.
Kalau manusia salah memahami kita…
Allah tidak.
Kalau manusia tidak melihat perjuangan kita…
Allah melihat.
Kalau manusia tidak menghargai kebaikan kita…
Allah tidak menyia-nyiakannya.
11. Keadilan Allah dan Luasnya Rahmat Allah
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Keadilan Allah tidak berarti bahwa Allah memperlakukan semua orang secara sama tanpa memperhatikan amal.
Allah berfirman:
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ
“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Dan jika ada amal seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”
QS. Al-Anbiya: 47
Perhatikan:
فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا
“Tidak ada satu jiwa pun yang dizalimi sedikit pun.”
12. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Betapa Besarnya Rahmat Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal itu. Barang siapa berniat melakukan kebaikan tetapi tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat lalu mengerjakannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan berlipat ganda banyak. Barang siapa berniat melakukan keburukan tetapi tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat dan mengerjakannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Perhatikan, jamaah…
Allah sangat teliti dalam keadilan-Nya.
Tetapi dalam memberikan pahala, Allah membuka pintu pelipatgandaan.
Dalam mencatat dosa, Allah tidak menjadikan satu dosa menjadi sepuluh dosa.
Dalam memberikan pahala, satu kebaikan dapat dilipatgandakan berkali-kali.
Maka jangan hanya takut kepada kitab amal.
Berharaplah kepada rahmat Allah.
13. Orang Beriman Juga Akan Melihat Kitab Amal
Jamaah…
Jangan sampai kita mengira ayat ini hanya berbicara tentang orang kafir.
Orang beriman juga akan melihat catatan amalnya.
Allah berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ
“Maka adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku ini. Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.’ Maka dia berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi.”
QS. Al-Haqqah: 19–22
Perhatikan perkataan orang beriman:
إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ
“Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menghadapi hisabku.”
Keyakinan terhadap akhirat membuat seseorang berhati-hati dalam kehidupan dunia.
Dia tahu:
Setiap kata ada pertanggungjawabannya.
Setiap amanah ada pertanggungjawabannya.
Setiap harta ada pertanggungjawabannya.
Setiap jabatan ada pertanggungjawabannya.
14. Orang yang Menerima Kitab dari Kiri
Sebaliknya Allah berfirman:
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ
“Dan adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kirinya, maka dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kitabku ini tidak diberikan kepadaku, sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Telah hilang kekuasaanku dariku.’”
QS. Al-Haqqah: 25–29
[diam]
Perhatikan kalimat:
مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ
“Hartaku tidak berguna bagiku.”
Dulu dia bangga dengan harta.
Sekarang harta tidak bisa menyelamatkan.
Dulu dia bangga dengan kekuasaan.
Sekarang kekuasaan hilang.
Dulu dia bangga dengan pengikut.
Sekarang semuanya tidak berdaya.
15. Apa yang Paling Menakutkan dari Kitab Amal?
Jamaah…
Yang paling menakutkan bukan hanya bahwa dosa kita tertulis.
Tetapi kita akan melihat dosa yang selama ini kita lupakan.
Kita mungkin sudah lupa kepada sebuah perkataan.
Tetapi perkataan itu tercatat.
Kita mungkin lupa kepada sebuah penghinaan.
Tetapi penghinaan itu tercatat.
Kita mungkin lupa pernah mengambil hak seseorang.
Tetapi hak itu tercatat.
Kita mungkin lupa pernah menyakiti hati orang tua.
Tetapi semuanya tercatat.
Namun ada kabar yang menggembirakan:
Taubat juga dicatat.
Istighfar juga dicatat.
Sedekah juga dicatat.
Salat juga dicatat.
Membantu orang juga dicatat.
Memaafkan juga dicatat.
Menahan marah juga dicatat.
Mendidik anak juga dicatat.
Mengajarkan ilmu juga dicatat.
Maka jangan berhenti berbuat baik hanya karena merasa amal kita sedikit.
16. Jangan Meremehkan Amal Kecil
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.”
HR. Muslim.
Mungkin senyum kita bagi manusia hanya beberapa detik.
Tetapi bisa menjadi pahala.
Mungkin kita memberikan air minum.
Mungkin kita membantu seseorang membawa barang.
Mungkin kita mengajarkan satu ayat.
Mungkin kita mendoakan orang lain tanpa dia tahu.
Jangan remehkan.
Karena kita tidak pernah tahu:
amal mana yang menjadi sebab Allah menyelamatkan kita.
17. Tetapi Ada Satu Hal yang Harus Diperhatikan: Hak Manusia
Jamaah…
Kalau dosa kepada Allah, kita bertaubat kepada Allah.
Tetapi kalau kita mengambil hak manusia, jangan hanya mengucapkan:
“Ya Allah, ampuni saya.”
Kita juga harus berusaha mengembalikan hak tersebut.
Karena ada perkara yang berkaitan dengan ḥuqūqul-‘ibād — hak-hak manusia.
Hutang.
Harta yang diambil.
Fitnah.
Kezaliman.
Penghinaan.
Pengkhianatan.
Menyakiti orang.
Maka sebelum kitab amal dibuka…
selesaikan urusan kita dengan manusia.
Kalau punya hutang, bayar.
Kalau pernah menzalimi, minta maaf dengan cara yang tepat.
Kalau mengambil hak orang, kembalikan.
Kalau pernah menyakiti, perbaiki.
Jangan menunggu sampai akhirat.
18. Pesan Praktis: Mulai Membuat “Audit Amal” Setiap Hari
Jamaah yang dirahmati Allah…
Kalau nanti Allah akan membuka kitab amal kita…
maka alangkah baiknya sebelum kitab itu dibuka di hadapan Allah, kita membuka catatan diri kita sendiri di dunia.
Setiap malam, sebelum tidur, tanyakan:
1. Apa dosa saya hari ini?
2. Siapa yang saya sakiti hari ini?
3. Apakah salat saya terjaga?
4. Apakah ada perkataan saya yang menyakiti orang?
5. Apakah rezeki saya hari ini halal?
6. Apakah saya telah menunaikan kewajiban saya kepada keluarga?
7. Apakah hari ini saya membaca Al-Qur'an?
8. Apakah hari ini saya bersedekah?
9. Apakah hari ini saya menolong seseorang?
10. Apakah kalau hari ini kitab amal saya dibuka, saya siap melihatnya?
[diam]
Inilah muhasabah.
19. Jangan Tunggu Kitab Amal Dibuka di Akhirat
Umar bin al-Khattab radhiyallāhu ‘anhu dikenal dengan perkataan:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang.”
Perkataan ini masyhur dinukil dalam kitab-kitab zuhud dan muhasabah.[^8]
Maksudnya sangat dalam.
Hisab di dunia lebih mudah daripada hisab di akhirat.
Kalau hari ini kita menemukan dosa:
hapus dengan taubat.
Kalau menemukan kesalahan:
perbaiki.
Kalau menemukan hutang:
bayar.
Kalau menemukan permusuhan:
damai.
Kalau menemukan kelalaian:
kembali kepada Allah.
Tetapi ketika ajal sudah datang…
kesempatan memperbaiki catatan sudah selesai.
20. Penutup: “Kitab Apakah Ini?”
Jamaah yang dirahmati Allah…
Ayat ini menggambarkan sebuah kalimat yang sangat menyayat:
يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ
“Betapa celakanya kami, kitab apakah ini?”
Mereka melihat.
Mereka membaca.
Mereka mengenali.
Tidak ada yang asing.
Karena semuanya adalah kehidupan mereka sendiri.
[diam]
Jamaah…
Kitab itu bukan kitab orang lain.
Itu kitab kita.
Isinya bukan kehidupan orang lain.
Itu kehidupan kita.
Tanggalnya bukan tanggal orang lain.
Itu umur kita.
Nama-nama yang ada di sana…
adalah orang-orang yang pernah kita temui.
Perkataan yang tertulis…
adalah perkataan yang pernah keluar dari mulut kita.
Perbuatan yang tertulis…
adalah perbuatan tangan kita.
Maka sebelum hari itu datang…
mari kita perbaiki kitab kita.
Kalau ada dosa, hapus dengan taubat.
Kalau ada hak manusia, kembalikan.
Kalau ada permusuhan, damaikan.
Kalau ada kewajiban yang tertinggal, tunaikan.
Kalau ada kebaikan yang bisa dilakukan, segera lakukan.
Karena Allah berfirman:
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”
Allah tidak akan mengurangi satu kebaikan pun.
Dan Allah tidak akan menzalimi satu manusia pun.
Maka jangan takut kepada keadilan Allah.
Takutlah jika kita datang kepada Allah tanpa persiapan.
Dan berharaplah kepada rahmat-Nya.
🤲 DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ حَاسِبْنَا حِسَابًا يَسِيرًا.
اللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنَا بِذُنُوبِنَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا صَغَائِرَ ذُنُوبِنَا وَكَبَائِرَهَا.
اللَّهُمَّ امْحُ عَنَّا خَطَايَانَا، وَاكْتُبْ لَنَا حَسَنَاتِنَا، وَضَاعِفْ لَنَا أَجْرَنَا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ كِتَابَنَا فِي شِمَالِنَا، وَلَا مِنْ وَرَاءِ ظُهُورِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ كِتَابَنَا فِي أَيْمَانِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُولُونَ:
هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسَّرْتَ حِسَابَهُ، وَثَقَّلْتَ مِيزَانَهُ، وَغَفَرْتَ ذَنْبَهُ، وَرَحِمْتَهُ، وَأَدْخَلْتَهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِأَهْلِنَا وَلِمُعَلِّمِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
📚 CATATAN KAKI / RUJUKAN
[^1]: Muḥammad bin Jarīr ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 49. Ath-Thabari menjelaskan الكتاب sebagai kitab amal yang diberikan kepada manusia dan menerangkan ketakutan orang-orang yang melihat catatan dosa mereka.
[^2]: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Qamar: 53. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa amal kecil dan besar dikumpulkan dan dituliskan dalam lembaran amal.
[^3]: ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf: 49. Beliau menggambarkan ketakutan manusia ketika kitab amal mereka dihadirkan dan seluruh amal mereka tercatat.
[^4]: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 49. Beliau menjelaskan bahwa kitab tersebut tidak meninggalkan dosa kecil maupun besar dan mencatat amal sekecil apa pun.
[^5]: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Qamar: 53, ketika menukil hadis tentang مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ.
[^6]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Al-Kahf: 49, penjelasan Qatadah tentang bahaya meremehkan dosa-dosa kecil.
[^7]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Al-Kahf: 49, penjelasan makna وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا sebagai kesempurnaan keadilan Allah.
[^8]: Perkataan Umar bin al-Khattab رضي الله عنه, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا dinukil dalam sejumlah kitab tentang zuhud dan muhasabah. Maknanya selaras dengan prinsip Al-Qur’an tentang hisab dan pertanggungjawaban amal.
Rujukan Tafsir Utama
- Jāmi‘ al-Bayān — Imam ath-Thabari.
- Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Imam Ibnu Katsir.
- Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — Imam al-Qurthubi.
- Tafsīr al-Baghawi — Imam al-Baghawi.
- Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — Syaikh as-Sa‘di.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhāri.
- Ṣaḥīḥ Muslim.
Post a Comment