JANGAN MENUNGGU AZAB UNTUK BERIMAN DAN BERTOBAT
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 55
JANGAN MENUNGGU AZAB UNTUK BERIMAN DAN BERTOBAT
QS. AL-KAHF AYAT 55
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ اَنْ يُّؤْمِنُوْٓا اِذْ جَاۤءَهُمُ الْهُدٰى وَيَسْتَغْفِرُوْا رَبَّهُمْ اِلَّآ اَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْاَوَّلِيْنَ اَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا
Artinya:
"Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali keinginan menanti datangnya hukum Allah yang telah berlaku pada umat-umat terdahulu atau datangnya azab kepada mereka dengan nyata."
PEMBUKAAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Pada ayat sebelumnya Allah berfirman:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ اَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
"Dan sungguh, Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan berbagai macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah."
Kemudian ayat 55 seakan-akan bertanya:
Setelah begitu banyak penjelasan diberikan, apa lagi yang menghalangi manusia untuk beriman?
Allah menjawab:
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى...
"Apakah kurang penjelasan?"
Tidak.
"Apakah kurang bukti?"
Tidak.
"Apakah kurang nasihat?"
Tidak.
"Apakah Allah menutup pintu ampunan?"
Tidak.
Justru Allah mengatakan:
وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ
"Dan agar mereka memohon ampun kepada Tuhan mereka."
Masalahnya adalah manusia sering menunda.
Menunda beriman.
Menunda berubah.
Menunda salat.
Menunda meninggalkan maksiat.
Menunda meminta maaf.
Menunda bertaubat.
Sampai kapan?
Sampai datang azab?
Sampai kematian?
Sampai tidak ada lagi kesempatan?
Inilah salah satu pesan paling keras dari ayat ini.
I. PETUNJUK SUDAH DATANG, TETAPI MANUSIA MASIH MENUNDA
Allah berfirman:
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى
"Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka..."
Perhatikan kata:
إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى
"Ketika petunjuk telah datang kepada mereka."
Artinya, persoalannya bukan tidak ada petunjuk.
Allah telah mengutus para rasul.
Allah menurunkan kitab.
Allah memberikan akal.
Allah memberikan hati.
Allah memberikan kesempatan.
Allah mengirimkan nasihat.
Allah memperlihatkan berbagai tanda kebesaran-Nya.
Dan puncaknya, Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk.
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 2
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."
Jadi jangan sampai kita mengatakan:
"Saya belum tahu jalan yang benar."
Padahal Al-Qur'an ada.
Jangan berkata:
"Saya tidak tahu bagaimana cara menjadi baik."
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengajarkan.
Jangan berkata:
"Saya belum tahu bagaimana cara bertaubat."
Padahal Allah sendiri membuka pintu taubat.
Yang sering menjadi masalah bukan kurangnya petunjuk, tetapi kurangnya kemauan untuk tunduk kepada petunjuk.
II. PETUNJUK TIDAK CUKUP HANYA UNTUK DIKETAHUI, TETAPI HARUS DIIKUTI
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Ada orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengikutinya.
Ia tahu salat itu wajib, tetapi meninggalkannya.
Ia tahu riba itu haram, tetapi tetap melakukannya.
Ia tahu ghibah itu dosa, tetapi tetap membicarakan saudaranya.
Ia tahu durhaka kepada orang tua adalah dosa, tetapi lisannya tetap menyakiti.
Ia tahu aurat harus ditutup, tetapi tetap meremehkannya.
Ia tahu kematian pasti datang, tetapi hidup seolah-olah tidak akan pernah mati.
Masalahnya bukan tidak tahu.
Masalahnya adalah tidak mau tunduk.
Karena itu, ilmu yang tidak diikuti amal dapat menjadi hujjah atas seseorang.
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 59
بَلٰى قَدْ جَاۤءَتْكَ اٰيٰتِيْ فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
"Benar, sungguh ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu, tetapi kamu mendustakannya dan menyombongkan diri, dan kamu termasuk orang-orang kafir."
Maka jangan sampai Al-Qur'an hanya sering kita baca dengan lisan, tetapi jarang kita ikuti dengan kehidupan.
III. ALLAH MENGGABUNGKAN IMAN DENGAN ISTIGHFAR
Ayat ini sangat indah.
Allah tidak hanya mengatakan:
أَنْ يُؤْمِنُوا
"Agar mereka beriman."
Tetapi Allah melanjutkan:
وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ
"Dan agar mereka memohon ampun kepada Tuhan mereka."
Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin bukan manusia yang merasa dirinya tidak pernah berdosa.
Seorang mukmin adalah orang yang ketika berdosa, segera kembali kepada Allah.
Karena itu jangan berkata:
"Saya sudah terlalu banyak dosa, apakah Allah masih mau menerima saya?"
Jawabannya: dengarkan firman Allah.
QS. Az-Zumar: 53
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"
Ayat ini bukan izin untuk terus berbuat dosa.
Ayat ini adalah panggilan agar orang yang berdosa kembali kepada Allah.
IV. JANGAN MENUNDA TAUBAT
Jamaah yang dirahmati Allah...
Salah satu penyakit manusia adalah kalimat:
"Nanti."
Nanti saya salat.
Nanti saya belajar Al-Qur'an.
Nanti saya berhenti maksiat.
Nanti saya minta maaf.
Nanti saya berubah.
Nanti saya bertaubat.
Masalahnya adalah kita tidak pernah diberi jaminan bahwa kata "nanti" masih menjadi milik kita.
Hari ini milik kita.
Besok belum tentu.
Malam ini kita bisa tidur.
Besok belum tentu kita bangun.
Hari ini kita masih bisa bersujud.
Besok mungkin tubuh sudah terbujur.
Hari ini kita masih bisa mengatakan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Besok mungkin lisan sudah tidak mampu bergerak.
V. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN AGAR SEGERA BERTOBAT
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang melakukan dosa pada siang hari bertaubat, dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang melakukan dosa pada malam hari bertaubat, sampai matahari terbit dari barat."
(HR. Muslim no. 2759)
Perhatikan kasih sayang Allah.
Malam berbuat dosa?
Allah masih membuka pintu taubat.
Siang berbuat dosa?
Allah masih membuka pintu taubat.
Bahkan kesempatan itu terus ada sampai batas yang Allah tetapkan.
Maka sungguh aneh apabila seseorang berkata:
"Saya takut datang kepada Allah karena dosa saya terlalu banyak."
Justru karena dosamu banyak, datanglah kepada Allah!
VI. ALLAH GEMBIRA KETIKA HAMBA-NYA BERTOBAT
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ...
"Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba-Nya daripada kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali kendaraan yang hilang di padang pasir, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya."
(HR. Muslim no. 2747)
Bayangkan seseorang berada di padang pasir.
Kendaraannya hilang.
Di atas kendaraan itu ada makanan.
Ada minuman.
Tanpa itu ia bisa mati.
Ia mencari ke sana kemari.
Tidak ditemukan.
Ia putus asa.
Kemudian ia duduk di bawah pohon.
Tiba-tiba kendaraan itu muncul di hadapannya.
Betapa bahagianya dia!
Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa kegembiraan Allah terhadap taubat hamba-Nya lebih besar daripada kegembiraan orang tersebut.
Maka jangan lari dari Allah karena dosa.
LARILAH MENUJU ALLAH KARENA DOSA.
VII. JANGAN MENUNGGU AZAB BARU MAU PERCAYA
Allah berfirman:
إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ
"Kecuali mereka menunggu datangnya sunnah umat-umat terdahulu."
Apa maksudnya?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ketetapan Allah terhadap umat-umat yang mendustakan para rasul: ketika mereka terus-menerus menolak kebenaran dan tidak mau kembali, datanglah hukuman Allah kepada mereka.
Penjelasan Imam Ath-Thabari
Ath-Thabari menjelaskan bahwa orang-orang musyrik telah mengetahui kebenaran dakwah Rasul, tetapi tetap menolak dan menunggu datangnya ketetapan Allah terhadap umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul.
Beliau menjelaskan:
وَعَلِمُوا صِحَّةَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ وَحَقِيقَتَهُ
"Mereka mengetahui kebenaran dan hakikat apa yang engkau serukan kepada mereka."[^1]
Ini pelajaran penting:
Mengetahui kebenaran belum tentu membuat seseorang tunduk kepada kebenaran.
VIII. MEREKA BAHKAN MENANTANG AZAB
Allah menceritakan sikap sebagian orang musyrik:
QS. Al-Anfal: 32
وَاِذْ قَالُوا اللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ هٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَاَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ اَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ
"Dan ingatlah ketika mereka berkata, 'Ya Allah, jika Al-Qur'an ini benar-benar kebenaran dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.'"
Astaghfirullah...
Ini bukan lagi sekadar tidak percaya.
Ini adalah kesombongan yang telah mencapai tingkat menantang azab Allah.
Ibn Kathir ketika menjelaskan Al-Kahf ayat 55 menghubungkan ayat ini dengan berbagai contoh sikap orang-orang terdahulu yang meminta agar azab segera didatangkan kepada mereka.
Jamaah...
Jangan sampai kita memiliki bentuk lain dari perilaku tersebut.
Bukan dengan mengatakan:
"Ya Allah, turunkan azab."
Tetapi dengan perilaku:
"Saya tahu ini haram, tetapi saya tetap melakukannya."
"Saya tahu ini dosa, tetapi saya tidak peduli."
"Saya tahu Allah melarang, tetapi saya ingin tetap menikmati."
Secara lisan mungkin kita tidak menantang Allah.
Tetapi terkadang perbuatan kita seolah-olah sedang menantang perintah Allah.
IX. APA MAKNA "أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا"?
Allah berfirman:
أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا
"Atau datang kepada mereka azab secara nyata."
Para ulama tafsir menjelaskan beberapa makna kata قُبُلًا.
Di antaranya:
عيانًا
"Secara nyata, terlihat di hadapan."
Al-Qurthubi menyebut salah satu maknanya adalah azab yang datang secara langsung dan dapat disaksikan. Beliau juga menyebut beberapa penjelasan ulama salaf mengenai makna kata tersebut.[^2]
Ath-Thabari juga menyebut dua penafsiran yang dikenal dari salaf: azab datang secara tiba-tiba atau datang secara nyata dan dapat disaksikan.[^3]
Pesannya sangat dalam:
Jangan menunggu sesuatu terlihat oleh mata baru mau percaya kepada Allah.
Karena ketika azab sudah terlihat, kesempatan untuk membuktikan iman dengan pilihan dan amal bisa telah tertutup.
X. IMAN KEPADA YANG GAIB ADALAH UJIAN
Allah tidak meminta manusia beriman hanya setelah melihat semua perkara akhirat dengan mata kepala.
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 3
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
"Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
Iman diuji ketika kita belum melihat.
Kita percaya kepada surga sebelum melihat surga.
Kita percaya kepada neraka sebelum melihat neraka.
Kita percaya kepada malaikat meskipun tidak melihat malaikat.
Kita percaya kepada hari kiamat meskipun belum mengalaminya.
Mengapa?
Karena kita percaya kepada Allah yang memberitakan semuanya.
XI. JANGAN MENUNGGU KEMATIAN UNTUK BERTOBAT
Allah berfirman:
QS. An-Nisa': 17
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُونَ السُّوْءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Sesungguhnya taubat yang diterima Allah hanyalah bagi orang-orang yang melakukan keburukan karena ketidaktahuan, kemudian mereka segera bertaubat. Mereka itulah yang Allah terima taubatnya. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."
Para ulama menjelaskan bahwa "segera" di sini menunjukkan agar seseorang tidak sengaja menunda taubat sampai datang kematian.[^4]
Karena itu, jangan katakan:
"Nanti kalau sudah tua saya akan rajin ibadah."
Siapa yang menjamin umur sampai tua?
Jangan katakan:
"Nanti setelah pensiun saya akan banyak membaca Al-Qur'an."
Siapa yang menjamin kita sampai pensiun?
Jangan katakan:
"Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah."
Boleh jadi kita kaya, tetapi hati kita semakin cinta dunia.
Taubat tidak membutuhkan usia tua.
Taubat membutuhkan kesadaran.
XII. JANGAN MENUNGGU HATI MENJADI SEMPURNA UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH
Kadang-kadang seseorang berkata:
"Saya belum bisa berubah total."
Tidak masalah.
Mulailah.
Kalau belum bisa meninggalkan semua dosa sekaligus, tinggalkan dosa yang mampu ditinggalkan.
Kalau belum mampu membaca Al-Qur'an satu juz sehari, mulailah beberapa halaman.
Kalau belum mampu tahajud setiap malam, mulailah semampunya.
Kalau selama ini jauh dari masjid, datanglah.
Kalau selama ini jarang beristighfar, mulai dengan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Kalau pernah menyakiti orang tua:
datangi orang tua.
Cium tangannya.
Minta maaf.
Kalau pernah mengambil hak orang:
kembalikan.
Kalau pernah memfitnah:
perbaiki fitnah itu.
Taubat bukan sekadar ucapan.
Taubat adalah kembali kepada Allah dengan memperbaiki kehidupan.
XIII. JANGAN BERPUTUS ASA KARENA MASA LALU
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ada dua jenis manusia yang sama-sama berbahaya.
Pertama:
Orang yang merasa tidak berdosa.
Kedua:
Orang yang merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.
Keduanya keliru.
Orang pertama sombong.
Orang kedua putus asa.
Islam mengajarkan kita berada di antara khauf dan raja':
takut kepada dosa dan azab Allah, tetapi berharap kepada rahmat dan ampunan-Nya.
Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah."
Maka jangan jadikan dosa sebagai alasan untuk semakin jauh.
Jadikan dosa sebagai alasan untuk semakin dekat kepada Allah.
XIV. IBRAH DARI UMAT-UMAT TERDAHULU
Allah menyebut:
سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ
"Ketetapan yang berlaku pada umat-umat terdahulu."
Artinya, sejarah bukan sekadar cerita.
Sejarah adalah peringatan.
Allah menceritakan kaum Nuh.
Allah menceritakan kaum 'Ad.
Allah menceritakan kaum Tsamud.
Allah menceritakan Fir'aun.
Allah menceritakan Qarun.
Allah menceritakan orang-orang yang sombong terhadap para rasul.
Mengapa?
Supaya kita berkata:
"Ya Allah, jangan jadikan aku mengulangi kesalahan mereka."
Allah berfirman:
QS. Al-Anfal: 25
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
"Dan takutlah kamu terhadap fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya."
Maka jangan menjadi orang yang baru sadar setelah melihat kehancuran.
XV. PELAJARAN TERBESAR: JANGAN MENUNGGU "BUKTI TERAKHIR"
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ada orang berkata:
"Kalau saya melihat tanda kiamat, baru saya percaya."
Padahal ketika tanda-tanda besar yang mengakhiri masa ujian telah datang, persoalannya bukan lagi seperti sebelumnya.
Allah ingin kita beriman sebelum melihat seluruh perkara akhirat dengan mata kepala.
Inilah mengapa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
"Barang siapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah akan menerima taubatnya."
(HR. Muslim no. 2703)
Perhatikan:
sebelum.
Sebelum terlambat.
Sebelum kesempatan tertutup.
Sebelum manusia menyaksikan sesuatu yang membuatnya tidak lagi bisa memilih sebagaimana ketika masih berada dalam kehidupan dunia.
XVI. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SETELAH MEMBACA AYAT INI?
Ada lima langkah praktis.
1. Jangan tunda salat
Kalau sudah mendengar azan, jangan berkata:
"Sebentar lagi."
Latih diri untuk segera menjawab panggilan Allah.
2. Segera bertaubat dari dosa yang diketahui
Ucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
"Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya."
3. Tinggalkan lingkungan yang menarik kita kepada maksiat
Taubat bukan hanya menangis.
Taubat juga mengubah lingkungan.
4. Perbaiki hak manusia
Kalau pernah mengambil hak orang lain, kembalikan.
Kalau pernah menyakiti, minta maaf.
Kalau pernah memfitnah, luruskan.
5. Jangan menunggu menjadi sempurna
Datanglah kepada Allah dalam keadaan masih banyak kekurangan.
Karena kita tidak mendekat kepada Allah karena kita sudah sempurna.
Kita mendekat kepada Allah agar Allah memperbaiki kita.
XVII. RENUNGAN UNTUK DIRI SENDIRI
Jamaah...
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing.
Sudah berapa kali kita mendengar ayat tentang taubat?
Sudah berapa kali kita mendengar ceramah?
Sudah berapa kali kita membaca hadis tentang kematian?
Sudah berapa kali kita menghadiri pengajian?
Tetapi apakah kehidupan kita berubah?
Jangan sampai kita menjadi orang yang banyak mendengar tetapi sedikit berubah.
Jangan sampai Al-Qur'an hanya mengalir di telinga, tetapi tidak turun ke hati.
Jangan sampai kita hafal ayat tentang taubat tetapi terus menunda taubat.
Jangan sampai kita menangis ketika mendengar kematian, tetapi setelah keluar dari masjid kita kembali hidup seolah-olah tidak akan mati.
Saudaraku...
Mungkin malam ini adalah kesempatan terakhir bagi seseorang di antara kita untuk mengatakan:
يَا رَبِّ، تُبْتُ إِلَيْكَ
"Ya Rabb, aku bertaubat kepada-Mu."
Mungkin hari ini adalah hari terakhir seseorang untuk meminta maaf kepada orang tuanya.
Mungkin hari ini adalah hari terakhir seseorang untuk meninggalkan dosa.
Mungkin hari ini adalah hari terakhir seseorang untuk memperbaiki salatnya.
Kita tidak tahu.
Karena itu:
Jangan tunggu besok untuk kembali kepada Allah.
XVIII. PENUTUP: PINTU ALLAH MASIH TERBUKA
Jamaah yang dirahmati Allah...
QS. Al-Kahf ayat 55 memang membawa peringatan yang keras.
Tetapi perhatikan satu hal:
Allah tidak hanya mengatakan bahwa manusia akan mendapat azab.
Allah terlebih dahulu menyebut:
وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ
"Dan agar mereka memohon ampun kepada Tuhan mereka."
Ini menunjukkan bahwa sebelum azab, Allah menawarkan jalan keselamatan.
Sebelum hukuman, ada kesempatan.
Sebelum kematian, ada taubat.
Sebelum catatan amal ditutup, masih ada istighfar.
Sebelum bertemu Allah, masih ada kesempatan memperbaiki diri.
Maka jangan sia-siakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ
"Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya."
(HR. Muslim)
Maka malam ini...
Bukan waktunya mengatakan:
"Saya terlalu banyak dosa."
Tetapi katakan:
"Saya akan kembali kepada Allah."
Bukan:
"Nanti saya berubah."
Tetapi:
"Saya mulai sekarang."
Bukan:
"Besok saya bertaubat."
Tetapi:
"Ya Allah, saya bertaubat hari ini."
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْرِفُونَ الْحَقَّ وَلَا يَتَّبِعُونَهُ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُؤَخِّرُونَ التَّوْبَةَ حَتَّى يَفُوتَ وَقْتُهَا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدَيْنَا، وَلِأَهْلِنَا، وَلِمُعَلِّمِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.
اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَارْحَمْنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ حَتَّى نَلْقَاكَ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN KAKI / RUJUKAN
[^1]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf [18]:55. Ath-Thabari menjelaskan bahwa mereka mengetahui kebenaran dakwah tetapi tetap menolak dan menunggu ketetapan azab bagi umat-umat pendusta terdahulu.
[^2]: Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf [18]:55. Al-Qurthubi menjelaskan makna سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ sebagai ketetapan Allah dalam membinasakan umat yang mendustakan, sedangkan قُبُلًا antara lain bermakna azab yang datang secara nyata/terlihat.
[^3]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, Tafsir QS. Al-Kahf [18]:55. Beliau menyebut riwayat tafsir dari Mujahid bahwa قُبُلًا dapat bermakna datang secara tiba-tiba, sedangkan dari Ibn Zaid bermakna datang secara nyata dan disaksikan.
[^4]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Tafsir QS. An-Nisa' [4]:17. Ayat tersebut menunjukkan diterimanya taubat orang yang segera kembali kepada Allah sebelum datangnya keadaan yang tidak memungkinkan lagi untuk bertaubat.
[^5]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb at-Taubah, no. 2747. Hadis tentang kegembiraan Allah terhadap taubat hamba-Nya.
[^6]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb at-Taubah, no. 2759. Hadis tentang luasnya kesempatan taubat siang dan malam sampai matahari terbit dari barat.
[^7]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2703. Hadis tentang diterimanya taubat sebelum matahari terbit dari barat.
INTI PESAN QS. AL-KAHF AYAT 55
Petunjuk sudah datang.
Pintu taubat sudah dibuka.
Istighfar masih diterima.
Jangan menunggu azab untuk percaya.
Jangan menunggu kematian untuk bertaubat.
Kembalilah kepada Allah selagi kesempatan masih ada.
Post a Comment