KETIKA NASIHAT ALLAH DIBALAS DENGAN PERDEBATAN

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 54

“KETIKA NASIHAT ALLAH DIBALAS DENGAN PERDEBATAN”

Belajar Membedakan Diskusi untuk Mencari Kebenaran dan Debat untuk Mempertahankan Ego


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.


JAMA'AH YANG DIRAHMATI ALLAH

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى.

Kita lanjutkan tadabbur kita terhadap Surah Al-Kahf.

Setelah Allah menjelaskan tentang:

  • orang-orang yang menjadikan setan sebagai wali,
  • hari kiamat,
  • catatan amal,
  • orang-orang yang melihat neraka,
  • dan tidak menemukan jalan untuk berpaling darinya,

sekarang Allah menjelaskan salah satu penyakit manusia:

MANUSIA BANYAK MEMBANTAH.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ اَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا ۝٥٤

Artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah.”
(QS. Al-Kahf: 54)

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Ayat ini sebenarnya mengandung dua gambaran manusia.

Gambaran pertama:

Allah sangat banyak memberikan penjelasan.

Gambaran kedua:

Manusia sering kali tetap membantah.

Allah sudah menjelaskan...

Manusia berdebat.

Allah sudah memberi perumpamaan...

Manusia mencari alasan.

Allah sudah memberikan peringatan...

Manusia berkata:

“Kenapa harus begitu?”

Allah sudah memberikan perintah...

Manusia berkata:

“Nanti dulu.”

Allah memberikan larangan...

Manusia berkata:

“Bukankah cuma sekali?”

Allah memberikan nasihat...

Manusia berkata:

“Saya punya alasan.”


1. “وَلَقَدْ صَرَّفْنَا”

Allah berfirman:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا

“Dan sungguh Kami telah menjelaskan berulang-ulang.”

Kata صَرَّفْنَا memberikan gambaran bahwa Allah menyampaikan berbagai penjelasan dengan beragam cara.

Kadang melalui perintah.

Kadang melalui larangan.

Kadang melalui kisah.

Kadang melalui perumpamaan.

Kadang melalui janji.

Kadang melalui ancaman.

Kadang melalui kabar gembira.

Kadang melalui peristiwa sejarah.

Kadang melalui gambaran surga.

Kadang melalui gambaran neraka.

Kadang Allah berbicara tentang manusia.

Kadang Allah mengajak manusia memperhatikan langit.

Kadang bumi.

Kadang gunung.

Kadang hujan.

Kadang tumbuhan.

Kadang hewan.

Kadang bahkan makhluk yang sangat kecil.

Semua itu agar manusia berpikir.


2. AL-QUR'AN BUKAN SEKADAR DIBACA, TETAPI UNTUK DIAMBIL PELAJARAN

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ ۝٤٣

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
(QS. Al-'Ankabut: 43)

Perumpamaan dalam Al-Qur'an bukan sekadar cerita.

Ada pelajaran di baliknya.

Ketika Allah menceritakan Qarun, jangan hanya berpikir:

“Dulu ada orang kaya bernama Qarun.”

Tanyakan:

Apa penyakit Qarun yang bisa masuk ke hati saya?

Ketika Allah menceritakan Fir'aun, jangan hanya berpikir:

“Dulu ada raja yang sombong.”

Tanyakan:

Apakah ada kesombongan Fir'aun dalam diri saya?

Ketika Allah menceritakan Iblis, jangan hanya berpikir:

“Iblis adalah makhluk yang durhaka.”

Tanyakan:

Apakah saya pernah menolak kebenaran karena ego?

Ketika Allah menceritakan dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf, jangan hanya berpikir:

“Dahulu ada dua orang yang mempunyai kebun.”

Tanyakan:

Apakah harta membuat saya lupa kepada Allah?

Itulah tadabbur.


3. ATH-THABARI: ALLAH MEMBERIKAN HUJJAH AGAR MANUSIA KEMBALI

Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan ayat ini:

وَلَقَدْ مَثَّلْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ، وَوَعَظْنَاهُمْ فِيهِ مِنْ كُلِّ عِظَةٍ، وَاحْتَجَجْنَا عَلَيْهِمْ فِيهِ بِكُلِّ حُجَّةٍ، لِيَتَذَكَّرُوا فَيُنِيبُوا، وَيَعْتَبِرُوا فَيَتَّعِظُوا.

Artinya:

“Kami telah memberikan berbagai perumpamaan kepada manusia dalam Al-Qur'an ini, memberikan kepada mereka berbagai nasihat, dan menegakkan kepada mereka berbagai hujah, agar mereka mengambil pelajaran lalu kembali kepada Allah, serta mengambil ibrah lalu menerima nasihat.”[1]

Perhatikan kalimat:

لِيَتَذَكَّرُوا فَيُنِيبُوا

“Agar mereka mengambil pelajaran lalu kembali.”

Tujuan ilmu bukan hanya menang dalam pembicaraan.

Tujuan ilmu adalah:

kembali kepada Allah.


4. ILMU YANG TIDAK MENGUBAH HATI BISA MENJADI HUJJAH ATAS DIRI SENDIRI

Jamaah...

Seseorang bisa hafal banyak ayat.

Bisa hafal banyak hadis.

Bisa membaca banyak kitab.

Bisa pandai berbicara.

Bisa memenangkan diskusi.

Tetapi kalau setelah semua itu ia semakin sombong...

Semakin merendahkan orang lain...

Semakin sulit menerima nasihat...

Semakin sulit mengakui kesalahan...

maka ada masalah dalam cara ia menggunakan ilmunya.

Ilmu seharusnya membuat kita semakin takut kepada Allah.

Allah berfirman:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Semakin berilmu...

seharusnya semakin tawadhu.


5. “وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا”

Kemudian Allah mengatakan:

وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”

Ath-Thabari menjelaskan:

وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ مِرَاءً وَخُصُومَةً، لَا يُنِيبُ لِحَقٍّ، وَلَا يَنْزَجِرُ عَنْ بَاطِلٍ.

Artinya:

“Manusia adalah makhluk yang paling banyak berdebat dan berselisih; ia tidak mau kembali kepada kebenaran dan tidak mau berhenti dari kebatilan.”[1]

Ini bukan berarti setiap manusia pasti seperti itu.

Tetapi Allah memperingatkan kecenderungan manusia untuk mempertahankan pendapatnya.


6. IBN KATSIR: BANYAK BERDEBAT DENGAN KEBATILAN

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

الْإِنْسَانُ كَثِيرُ الْمُجَادَلَةِ وَالْمُخَاصَمَةِ وَالْمُعَارَضَةِ لِلْحَقِّ بِالْبَاطِلِ، إِلَّا مَنْ هَدَاهُ اللَّهُ وَبَصَّرَهُ لِطَرِيقِ النَّجَاةِ.

Artinya:

“Manusia banyak melakukan perdebatan, pertengkaran dan penentangan terhadap kebenaran dengan kebatilan, kecuali orang yang Allah beri petunjuk dan Allah perlihatkan kepadanya jalan keselamatan.”[2]

Perhatikan pengecualian:

إِلَّا مَنْ هَدَاهُ اللَّهُ

“Kecuali orang yang Allah beri petunjuk.”

Berarti masalahnya bukan pada kemampuan manusia untuk berpikir.

Islam tidak memusuhi akal.

Islam justru mengajak manusia berpikir.

Masalahnya adalah ketika akal digunakan untuk melawan kebenaran yang sudah jelas, bukan untuk mencari kebenaran.


7. TIDAK SEMUA DEBAT ITU TERCELA

Ini penting.

Jangan memahami ayat ini sebagai:

“Islam melarang berpikir.”

Tidak.

Jangan pula:

“Islam melarang bertanya.”

Tidak.

Bertanya untuk memahami adalah baik.

Diskusi untuk mencari kebenaran adalah baik.

Musyawarah adalah baik.

Mempelajari dalil adalah baik.

Bahkan Allah memerintahkan dakwah dengan argumentasi yang baik.

Allah berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۝١٢٥

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl: 125)

Jadi ada jadal yang baik.

Dan ada jadal yang tercela.


8. APA PERBEDAANNYA?

Diskusi yang baik bertanya:

“Apa yang benar?”

Debat karena ego bertanya:

“Bagaimana caranya agar saya dianggap benar?”

Ini dua hal yang berbeda.

Orang yang mencari kebenaran berkata:

“Kalau dalilnya benar, saya siap memperbaiki pendapat saya.”

Orang yang dikuasai ego berkata:

“Pokoknya pendapat saya harus menang.”

Orang yang mencari ilmu berkata:

“Saya belum tahu.”

Orang yang dikuasai ego berkata:

“Saya harus terlihat tahu.”

Orang yang mencari kebenaran berkata:

“Terima kasih sudah mengoreksi.”

Orang yang dikuasai ego berkata:

“Siapa kamu mengoreksi saya?”

Inilah penyakit جَدَل ketika ia berubah menjadi pembelaan terhadap ego.


9. HADIS NABI ﷺ TENTANG “MANUSIA PALING BANYAK MEMBANTAH”

Yang sangat menarik, Rasulullah ﷺ sendiri pernah mengucapkan ayat ini dalam sebuah peristiwa.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menceritakan:

طَرَقَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَيْلَةً، فَقَالَ: أَلَا تُصَلِّيَانِ؟

“Rasulullah ﷺ datang mengetuk pintu rumahku dan Fatimah pada suatu malam. Beliau bertanya, ‘Tidakkah kalian berdua salat malam?’”

Ali رضي الله عنه menjawab:

فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا

“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya jiwa kami berada di tangan Allah. Jika Dia menghendaki membangunkan kami, tentu Dia akan membangunkan kami.’”

Kemudian Ali melanjutkan:

فَانْصَرَفَ حِينَ قُلْتُ ذَلِكَ، وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا، ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ وَهُوَ يَقُولُ: وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“Beliau pun pergi ketika aku mengatakan hal itu dan tidak menjawabku. Kemudian aku mendengar beliau ketika berpaling memukul pahanya sambil mengatakan, ‘Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.’”[3]

Hadis ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari, antara lain no. 1127, 7347 dan 7465.


10. APA YANG TERJADI PADA ALI رضي الله عنه?

Jamaah...

Ali رضي الله عنه sebenarnya tidak sedang mengingkari salat.

Jawabannya berkaitan dengan takdir:

“Jiwa kami berada di tangan Allah.”

Secara makna, pernyataan itu benar.

Tetapi pertanyaan Nabi ﷺ adalah:

أَلَا تُصَلِّيَانِ؟

“Tidakkah kalian salat?”

Seharusnya jawaban seorang hamba terhadap ajakan kebaikan adalah:

“Baik, insya Allah.”

Bukan sibuk mencari alasan.

Ini pelajaran yang sangat dalam.

Kadang-kadang manusia tidak menolak kebenaran secara langsung.

Ia hanya mencari alasan agar tidak melaksanakannya.


11. CONTOH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Ketika azan berkumandang:

“Shalat dulu.”

Jawab:

“Nanti.”

Ketika dinasihati:

“Jangan berbohong.”

Jawab:

“Kalau saya jujur, saya rugi.”

Ketika dikatakan:

“Jangan mengambil hak orang.”

Jawab:

“Semua orang juga begitu.”

Ketika dikatakan:

“Jaga lisan.”

Jawab:

“Saya cuma bercanda.”

Ketika dikatakan:

“Jangan membuka aib orang.”

Jawab:

“Saya hanya menyampaikan fakta.”

Ketika dikatakan:

“Bertaubatlah.”

Jawab:

“Nanti kalau sudah tua.”

Jamaah...

Kadang yang menghalangi manusia dari kebaikan bukan karena ia tidak tahu.

Tetapi karena ia pandai mencari alasan.


12. HADIS: ORANG YANG PALING DIBENCI ALLAH KARENA DEBAT YANG BATIL

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

Artinya:

“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam permusuhan/perdebatan.”
(HR. Bukhari no. 2457 dan 7188)

Kata:

الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

menggambarkan orang yang sangat keras dalam perdebatan dan terus-menerus mempertahankan permusuhan.

Bukan berarti setiap orang yang berbeda pendapat otomatis tercela.

Yang tercela adalah sikap keras kepala dalam mempertahankan kebatilan dan permusuhan.


13. AL-QUR'AN SENDIRI MENGAJARKAN CARA BERDEBAT

Allah berfirman:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.”
(QS. Al-'Ankabut: 46)

Perhatikan:

Allah tidak mengatakan:

“Jangan pernah berdiskusi.”

Tetapi:

إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Kecuali dengan cara yang paling baik.”

Ibnu Katsir menjelaskan tentang QS. An-Nahl: 125:

فَلْيَكُنْ بِالْوَجْهِ الْحَسَنِ بِرِفْقٍ وَلِينٍ وَحُسْنِ خِطَابٍ

Artinya:

“Jika membutuhkan perdebatan, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan ucapan yang baik.”[4]

Jadi seorang muslim bukan hanya bertanggung jawab atas apa yang ia katakan, tetapi juga bagaimana ia mengatakannya.


14. ADA ORANG YANG KALAH DALAM ARGUMEN, TETAPI MENANG DI HADAPAN ALLAH

Ini pelajaran penting.

Kita sering ingin menang dalam diskusi.

Padahal belum tentu orang yang kalah dalam perdebatan adalah orang yang kalah di hadapan Allah.

Bisa jadi seseorang berkata:

“Saya salah. Saya akan memperbaikinya.”

Secara debat ia “kalah”.

Tetapi secara akhlak ia menang.

Sebaliknya, seseorang bisa mempunyai kemampuan berbicara luar biasa.

Ia bisa membuat lawannya diam.

Ia bisa menguasai forum.

Tetapi jika tujuannya adalah kesombongan, maka kemenangan argumentasi tidak otomatis menjadi kemuliaan di sisi Allah.


15. JANGAN MENJADIKAN ILMU SEBAGAI SENJATA UNTUK MERENDAHKAN ORANG

Ada orang yang belajar agama kemudian semakin lembut.

Ada pula yang belajar agama tetapi semakin mudah menyalahkan.

Ada orang belajar fikih kemudian semakin menghargai perbedaan dalam masalah yang memang diperselisihkan.

Ada orang belajar sedikit kemudian merasa dirinya paling benar.

Ada orang belajar tafsir kemudian semakin takut kepada Allah.

Ada pula yang belajar tafsir kemudian sibuk mengoreksi manusia.

Maka mari kita tanyakan:

Apakah ilmu kita membuat kita semakin tawadhu atau semakin sombong?


16. PERUMPAMAAN AL-QUR'AN ADALAH CERMIN

Jamaah...

Allah mengatakan:

مِنْ كُلِّ مَثَلٍ

“Dengan berbagai macam perumpamaan.”

Maka ketika kita membaca Al-Qur'an, jangan hanya mencari:

“Siapa yang salah?”

Tetapi tanyakan:

“Di mana saya?”

Ketika membaca kisah Iblis:

“Apakah ada kesombongan Iblis dalam diri saya?”

Ketika membaca kisah Qarun:

“Apakah saya merasa harta saya berasal dari kemampuan saya sendiri?”

Ketika membaca kisah Fir'aun:

“Apakah saya sulit menerima nasihat?”

Ketika membaca kisah orang-orang yang mendustakan rasul:

“Apakah saya suka mencari alasan ketika diperintah?”

Itulah cara Al-Qur'an bekerja di dalam hati.


17. PERUMPAMAAN DAPAT MENJADI HUJJAH YANG SANGAT KUAT

Allah berfirman:

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ۝٢٧

“Dan sungguh, Kami telah membuat berbagai perumpamaan bagi manusia dalam Al-Qur'an ini agar mereka mendapat pelajaran.”
(QS. Az-Zumar: 27)

Tujuannya:

لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Agar mereka mengambil pelajaran.”

Bukan:

لَعَلَّهُمْ يَجْدَلُونَ

“Agar mereka berdebat.”

Al-Qur'an diturunkan agar hati tunduk kepada Allah.


18. JANGAN SAMPAI KITA MENJADI ORANG YANG HANYA MENGUMPULKAN DALIL UNTUK MENANG

Ini penyakit yang halus.

Seseorang mendengar nasihat.

Alih-alih bertanya:

“Apa yang harus saya perbaiki?”

Ia berpikir:

“Dalil apa yang bisa saya pakai untuk membantah?”

Ada masalah keluarga.

Bukan mencari solusi.

Tetapi masing-masing mencari dalil untuk membuktikan bahwa dirinya benar.

Ada perbedaan pendapat.

Bukan mencari kebenaran.

Tetapi mencari kemenangan.

Akhirnya:

ilmu tidak lagi menjadi jalan menuju Allah, tetapi menjadi senjata untuk memuaskan ego.


19. ORANG BERIMAN MEMILIKI SIKAP “سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا”

Allah menggambarkan sikap orang beriman:

اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝٥١

“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nur: 51)

Inilah akhlak seorang mukmin.

Bukan berarti tidak boleh bertanya.

Bukan berarti tidak boleh belajar.

Bukan berarti tidak boleh memahami dalil.

Tetapi ketika kebenaran sudah jelas:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Kami dengar dan kami taat.”


20. KAPAN KITA HARUS BERTANYA?

Bertanyalah ketika belum tahu.

Allah berfirman:

فَاسْأَلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٤٣

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)

Ini bukan debat.

Ini belajar.

Orang yang bertanya:

“Ustadz, saya belum memahami dalil ini. Mohon dijelaskan.”

itu berbeda dengan:

“Ustadz, saya akan mencari kesalahan Anda sampai Anda tidak bisa menjawab.”

Yang pertama mencari ilmu.

Yang kedua mencari kemenangan.


21. TANDA-TANDA DEBAT SUDAH MENJADI PENYAKIT

Mari kita muhasabah.

Debat mulai menjadi penyakit ketika:

  1. Kita lebih senang menang daripada menemukan kebenaran.
  2. Kita sulit mengatakan, “Saya salah.”
  3. Kita memotong pembicaraan orang.
  4. Kita menggunakan kata-kata kasar.
  5. Kita menyerang pribadi, bukan membahas masalah.
  6. Kita memilih-milih dalil hanya untuk mendukung ego.
  7. Kita tetap mempertahankan pendapat meskipun dalil yang kuat telah jelas.
  8. Kita merasa malu mengakui kebenaran karena berasal dari orang yang tidak kita sukai.
  9. Kita menjadikan ilmu untuk merendahkan orang lain.
  10. Setelah diskusi selesai, hubungan persaudaraan justru rusak.

Jika tanda-tanda ini ada dalam diri kita...

mari berhenti sejenak.

Tarik napas.

Istighfar.

Dan tanyakan:

“Saya sedang mencari kebenaran atau sedang mempertahankan ego?”


22. SETAN SENANG KETIKA ILMU MENJADI PERMUSUHAN

Allah berfirman:

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ ۚ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ ۝٩١

“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan judi serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat; maka tidakkah kamu mau berhenti?”
(QS. Al-Ma'idah: 91)

Ayat ini berbicara tentang khamar dan judi, tetapi prinsip besarnya perlu kita waspadai:

setan senang melihat hubungan manusia rusak.

Maka jangan sampai perbedaan pendapat yang seharusnya ilmiah berubah menjadi permusuhan.


23. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN MENINGGALKAN PERDEBATAN YANG TIDAK BERMANFAAT

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Artinya:

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar; dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bercanda; dan sebuah rumah di bagian tertinggi surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud no. 4800; dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis).

Perhatikan:

وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Walaupun dia berada di pihak yang benar.”

Mengapa?

Karena tidak semua kebenaran harus dipaksakan melalui pertengkaran.

Ada saatnya menjelaskan.

Ada saatnya berdiskusi.

Ada saatnya diam.

Ada saatnya pergi dari perdebatan yang tidak membawa manfaat.


24. MENJADI BENAR TIDAK BERARTI HARUS MENANG DALAM PERDEBATAN

Jamaah...

Ini kalimat yang perlu kita simpan:

“Tujuan ilmu bukan membuat kita menang dalam perdebatan, tetapi membuat kita tunduk kepada kebenaran.”

Kalau kita benar dan orang lain menerima, bersyukurlah.

Kalau kita salah lalu dikoreksi, bersyukurlah.

Karena keduanya membawa kita kepada kebenaran.

Yang berbahaya adalah ketika:

kita salah tetapi tidak mau dikoreksi.


25. HUBUNGAN AYAT 54 DENGAN AYAT 55

Setelah Allah mengatakan:

وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Allah melanjutkan:

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا ۝٥٥

Artinya:

“Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali mereka menunggu datangnya ketetapan terhadap umat-umat terdahulu atau datangnya azab kepada mereka dengan nyata.”
(QS. Al-Kahf: 55)

Maka ada hubungan yang sangat kuat.

Ayat 54:

Allah sudah menjelaskan.

Ayat 55:

Tetapi manusia masih menunda iman dan istighfar.

Ayat 56:

Bahkan mereka membantah dengan kebatilan.

Allah berfirman:

وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ

“Dan orang-orang kafir membantah dengan yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan bantahan itu.”
(QS. Al-Kahf: 56)

Maka jelas:

yang Allah cela bukan kemampuan berdiskusi, tetapi penggunaan perdebatan untuk menolak kebenaran.


26. PELAJARAN UNTUK GURU DAN PENDIDIK

Jamaah...

Ayat ini sangat penting bagi para guru.

Ketika murid bertanya:

“Mengapa, Ustadz?”

Jangan langsung marah.

Bisa jadi ia sedang belajar.

Jelaskan.

Beri kesempatan.

Gunakan perumpamaan.

Gunakan contoh.

Gunakan bahasa yang mereka pahami.

Karena Al-Qur'an sendiri menggunakan:

مِنْ كُلِّ مَثَلٍ

“Berbagai macam perumpamaan.”

Tetapi guru juga perlu membedakan:

Bertanya untuk memahami

dengan

membantah untuk menghindari kewajiban.

Keduanya berbeda.


27. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA

Ketika anak melakukan kesalahan, jangan hanya berkata:

“Pokoknya karena saya orang tua!”

Ajarkan alasan.

Berikan hikmah.

Berikan contoh.

Bantu anak memahami.

Tetapi ketika anak mulai mencari alasan untuk membenarkan kesalahan, orang tua perlu mengajarkan:

“Tidak semua alasan membuat sesuatu menjadi benar.”


28. PELAJARAN UNTUK KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

Berapa banyak rumah tangga rusak bukan karena tidak ada solusi?

Tetapi karena:

masing-masing ingin menang.

Suami ingin menang.

Istri ingin menang.

Akhirnya rumah tangga kalah.

Padahal dalam keluarga:

Yang dicari bukan siapa yang menang.

Yang dicari:

Apa yang benar?

Dan:

Apa yang membawa keluarga lebih dekat kepada Allah?


29. EMPAT PERTANYAAN SEBELUM MEMBANTAH

Sebelum kita membalas seseorang, mari bertanya:

Pertama:

Apakah saya benar-benar memahami apa yang dia katakan?

Kedua:

Apakah saya memiliki ilmu tentang masalah ini?

Ketiga:

Apakah tujuan saya mencari kebenaran atau mempertahankan harga diri?

Keempat:

Apakah jawaban saya akan membawa kebaikan?

Jika jawabannya tidak...

diam mungkin lebih selamat.


30. KETIKA DITEGUR, JANGAN LANGSUNG MEMBELA DIRI

Ini salah satu latihan jiwa.

Ketika seseorang berkata:

“Ada kesalahan dalam ucapan Anda.”

Jangan langsung:

“Tidak!”

Berhenti.

Dengar.

Periksa.

Kalau benar:

“Jazakallahu khairan, terima kasih sudah mengingatkan.”

Kalau ternyata tidak benar:

jelaskan dengan lembut.

Itulah akhlak ilmu.


31. ORANG BESAR BUKAN ORANG YANG TIDAK PERNAH SALAH

Tetapi orang besar adalah orang yang ketika salah:

mau mengakui.

Ketika tidak tahu:

mau mengatakan tidak tahu.

Ketika dikoreksi:

mau menerima.

Ketika menemukan dalil yang lebih kuat:

mau mengikuti.

Inilah tawadhu.


32. PENUTUP RENUNGAN

[Jamaah... mari kita diam sejenak.]

Allah sudah menjelaskan.

Allah sudah memperingatkan.

Allah sudah memberikan perumpamaan.

Allah sudah mengutus para nabi.

Allah sudah menurunkan Al-Qur'an.

Allah sudah menjelaskan surga.

Allah sudah menjelaskan neraka.

Allah sudah menjelaskan kehidupan dunia.

Allah sudah menjelaskan kematian.

Allah sudah menjelaskan hari kiamat.

Allah sudah menjelaskan dosa.

Allah sudah menjelaskan taubat.

Allah sudah menjelaskan jalan keselamatan.

Lalu pertanyaannya:

Apa yang masih kita tunggu?

Apakah kita masih mencari alasan?

Apakah kita masih suka membantah?

Apakah kita masih berkata:

“Nanti...”

“Besok...”

“Kalau sudah tua...”

“Kalau sudah punya waktu...”

Padahal kita tidak tahu kapan ajal datang.

Jamaah...

Jangan sampai Al-Qur'an yang seharusnya menjadi petunjuk justru kita jadikan bahan untuk memenangkan perdebatan.

Jangan sampai kita hafal banyak ayat tetapi sedikit berubah.

Jangan sampai kita mengetahui banyak hadis tetapi sulit menerima nasihat.

Jangan sampai kita pandai menjelaskan kesalahan orang lain tetapi tidak mampu melihat kesalahan diri sendiri.

Karena hakikat ilmu adalah:

أنْ يَدُلَّكَ عَلَى اللَّهِ

“Mengantarkanmu kepada Allah.”


KALIMAT PENUTUP

Maka mari kita berdoa:

“Ya Allah, ketika Engkau memberikan kami kebenaran, jangan biarkan ego kami menolaknya.”

“Ya Allah, ketika Engkau menunjukkan kesalahan kami, berikan kami kerendahan hati untuk memperbaikinya.”

“Ya Allah, jadikan Al-Qur'an bukan sekadar sesuatu yang kami baca dengan lisan, tetapi cahaya yang mengubah hati dan kehidupan kami.”

“Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang banyak berbicara tetapi sedikit berubah.”

“Jangan jadikan kami orang-orang yang pandai berdebat tetapi miskin ketundukan.”


DOA

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.

“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah manfaat kepada kami dari ilmu yang Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالْمِرَاءِ وَالْجَدَلِ بِغَيْرِ حَقٍّ.

“Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kesombongan, ujub, perdebatan yang sia-sia, dan perdebatan tanpa kebenaran.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِكَ لَمْ يَسْتَكْبِرُوا عَنْهَا.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ketika diingatkan dengan ayat-ayat-Mu tidak menyombongkan diri darinya.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI / RUJUKAN

[^1]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 54. Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah memberikan berbagai perumpamaan, nasihat, dan hujah agar manusia mengambil pelajaran dan kembali kepada Allah; sedangkan manusia banyak melakukan mirā’ dan khushūmah serta tidak mau tunduk kepada kebenaran.

[^2]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 54. Ibn Katsir menjelaskan bahwa manusia banyak melakukan perdebatan, pertengkaran dan penentangan terhadap kebenaran dengan kebatilan, kecuali orang yang mendapat petunjuk Allah.

[^3]: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, Kitab al-I‘tisam bil-Kitab was-Sunnah, hadis no. 7347. Hadis Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه tentang Rasulullah ﷺ yang mengingatkan Ali dan Fatimah untuk salat malam, kemudian membaca QS. Al-Kahf: 54. Riwayat ini juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari no. 1127 dan 7465.

[^4]: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. An-Nahl [16]: 125. Ibn Katsir menjelaskan bahwa jika terjadi perdebatan dalam dakwah, hendaknya dilakukan dengan cara terbaik, kelembutan, dan ucapan yang baik.

[^5]: Al-Husain bin Mas‘ud al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 54. Al-Baghawi menjelaskan جَدَلًا sebagai perselisihan/perdebatan dalam kebatilan; beliau juga menyebut adanya pendapat yang mengkhususkan ayat kepada orang-orang kafir dan pendapat yang menjadikannya umum, yang beliau nilai lebih kuat.

[^6]: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 54. Pembahasan Al-Qurthubi mengenai makna jadal menunjukkan sisi perdebatan manusia dalam mempertahankan pendapat dan hujjah.

[^7]: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, hadis no. 7188, dari Aisyah رضي الله عنها: أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ — “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam permusuhan/perdebatan.”

[^8]: Al-Qur'an, QS. An-Nahl [16]: 125; lihat juga penjelasan Ibn Katsir mengenai وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ.

[^9]: Al-Qur'an, QS. Al-'Ankabut [29]: 46, yang memerintahkan agar dialog dengan Ahli Kitab dilakukan dengan cara yang paling baik.

[^10]: Hadis tentang meninggalkan mirā’ meskipun seseorang berada di pihak yang benar diriwayatkan oleh Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 4800. Hadis ini dikenal dalam pembahasan akhlak dan meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat.

Tidak ada komentar